NovelToon NovelToon
Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
​Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
​Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Mak Lampir Nyasar di Kampung Naga

Guntur lagi asyik nongkrong di depan rumahnya yang sederhana, cuma pakai sarung kotak-kotak sama kaos oblong putih yang sudah agak tipis. Di tangannya ada segelas kopi hitam dan sebatang rokok yang baru saja dia beli di toko tadi. Hidup sederhana begini rasanya jauh lebih tenang daripada harus pusing mikirin saham perusahaan atau dihina mertua nggak jadi.

​Tiba-tiba, sebuah mobil sedan merah mewah berhenti mendadak di depan pagarnya. Debu jalanan kampung langsung beterbangan. Guntur sampai batuk-batuk kecil. "Walah, siapa sih ini? Pagi-pagi sudah pamer knalpot," gerutu Guntur. Begitu pintu mobil terbuka, keluarlah seorang wanita cantik dengan setelan jas kantor yang sangat rapi. Wajahnya cantik, tapi judesnya minta ampun.

​Wanita itu melepas kacamata hitamnya, lalu matanya melotot tajam ke arah Guntur yang lagi garuk-garuk perut di atas kursi bambu. Keduanya sama-sama terdiam selama beberapa detik. Guntur kaget, tapi wanita itu jauh lebih kaget. "Lho... Kamu?! Ngapain kamu di sini?!" teriak wanita itu yang ternyata adalah Vanesha, CEO yang terkenal galak kayak Mak Lampir.

​Guntur hampir tersedak kopinya sendiri. "Loh, Mbak Vanesha? Nggeh saya yang harusnya tanya, sampeyan ngapain nyasar ke kampung saya? Mau cari alamat apa mau narik setoran?" jawab Guntur santai tapi mukanya kelihatan konyol. Vanesha melangkah mendekat dengan sepatu hak tingginya yang bunyi tuk-tuk-tuk di atas tanah kering. "Jangan panggil saya Mbak! Saya tanya, kenapa kamu penampilannya begini? Kamu kan..."

​Vanesha menggantung kalimatnya, dia memperhatikan Guntur dari ujung rambut yang acak-acakan sampai jempol kaki yang cuma pakai sandal jepit swallow. "Guntur, jangan bilang kamu ini sebenarnya cuma pengangguran yang hobi dandan gembel ya? Padahal kemarin di kantor gayanya sok jagoan banget!" bentak Vanesha dengan nada tinggi yang bikin tetangga sebelah mulai mengintip dari jendela.

​Guntur cuma nyengir kuda, dia membetulkan ikatan sarungnya yang hampir melorot. "Walah, Mak Lampir eh... Mbak V, jangan keras-keras toh bicaranya. Ini rumah saya, nggeh saya bebas mau pakai daster atau pakai sarung. Di sini saya bukan siapa-siapa, cuma Guntur si ojek paling ramah se-Sidoarjo," jawab Guntur dengan gaya sengkleknya yang bikin Vanesha makin emosi.

​"Ojek?! Jadi selama ini saya bicara sama tukang ojek?!" Vanesha merasa harga dirinya jatuh ke lantai. Dia melihat ke sekeliling rumah Guntur yang kecil tapi asri, penuh dengan jemuran baju dan pohon mangga. "Gila ya! Bisa-bisanya saya nyasar ke tempat kumuh kayak begini gara-gara GPS sialan ini! Cepat kamu kasih tahu saya jalan keluar, saya ada rapat penting!"

​Guntur bukannya takut, malah makin senang ngerjain CEO galak ini. Dia menyesap kopinya pelan-pelan sambil pasang muka tanpa dosa. "Sabar toh, Mbak V. Sampeyan kalau marah-marah terus nanti cantiknya hilang, beneran jadi Mak Lampir lho. Jalan keluar itu lewat depan, tapi kalau mobil mewah sampeyan lewat sana, bisa-bisa nyangkut di lobang bekas galian pipa. Mending duduk dulu, minum air putih biar nggak darah tinggi," goda Guntur

Vanesha makin emosi melihat Guntur yang cuma cengengesan nggak jelas. "Heh! Kamu denger nggak sih?! Cepat tunjukkan jalan keluar!" teriak Vanesha sambil menghentakkan kakinya. Tiba-tiba, pintu rumah terbuka. Bapak, Ibu, dan Bagas yang baru saja pulang dari rumah sakit keluar dengan muka bingung melihat keributan di depan pagar mereka.

​"Sopo, Le? Kok ada suara teriak-teriak kayak orang jualan obat?" tanya Bapaknya Guntur sambil membetulkan kacamatanya. Ibunya Guntur juga ikut melongok, tangannya masih memegang sutil dapur. Begitu melihat Vanesha yang cantik tapi mukanya merah padam, Ibunya langsung nyeletuk, "Walah, ada bidadari nyasar po, Le? Kok cantik banget tapi wajahnya kok galak gitu?"

​Guntur langsung menoleh ke arah keluarganya sambil tertawa ngakak. "Ini loh, Pak, Buk... ada Mak Lampir nyasar dari kota. Katanya CEO, tapi lihat maps aja nggak bisa sampai masuk ke gang buntu kita," ucap Guntur sambil memegang perutnya yang kaku karena tertawa. Bagas yang kepalanya masih diperban juga nggak kuat menahan tawa melihat kakaknya ngerjain wanita elit itu. "Hahaha, Mas Guntur... itu mbaknya mau pingsan tuh wajahnya sudah kayak kepiting rebus!"

​Vanesha merasa sangat terhina ditertawakan oleh satu keluarga sederhana itu. "Kalian... kalian semua bener-bener ya! Nggak punya sopan santun!" Vanesha mau balik masuk ke mobil, tapi tiba-tiba kakinya tersandung batu kecil dan hak sepatunya patah. KRAK! Dia hampir terjungkal kalau Guntur nggak sigap menangkap lengannya. "Eits! Sabar toh Mbak V, jangan atraksi di sini, nanti ubinnya pecah," goda Guntur.

​"Lepasin! Jangan sentuh saya dengan tangan bau ojek kamu itu!" bentak Vanesha sambil menjauhkan diri, meskipun jalannya jadi pincang-pincang. Ibunya Guntur yang kasihan akhirnya mendekat. "Nggeh pun, Mbak cantik... jangan marah-marah terus. Sampeyan duduk dulu di sini, biar kakinya nggak sakit. Mas Guntur ini memang sengklek, tapi dia pinter benerin barang rusak. Biar mobilnya dicek dulu," ucap Ibunya lembut.

​Vanesha terdiam, dia merasa malu sendiri karena sudah teriak-teriak di depan orang tua Guntur yang ternyata sangat sopan. Dia akhirnya duduk di kursi bambu dengan sangat terpaksa, sambil memegangi sepatunya yang patah. Bapak dan Bagas masih terus tertawa kecil di teras, melihat Guntur yang sekarang mulai beraksi membuka kap mobil mewah itu dengan gaya montir amatir.

​.

​"Tenang aja Mbak V, di sini aman kok. Nggak bakal ada yang nyolong mobil sampeyan, paling cuma dikencingi kucing lewat doang," celetuk Guntur sambil mengedipkan mata ke arah Bagas. Vanesha cuma bisa menutup wajahnya dengan tas mahalnya, merasa hari ini adalah hari paling sial sekaligus paling aneh dalam hidupnya. Sang Naga bener-bener tahu cara menjatuhkan mental seorang CEO hanya dengan sebuah sarung dan tawa keluarga kampungnya

Lagi asyik ngerjain mobil mewah Vanesha sambil sesekali nggoda Mak Lampir itu, tiba-tiba terdengar suara motor matic berhenti mendadak di depan pagar. Ternyata itu Sekar. Dia datang dengan napas memburu, niatnya mau minta maaf soal kelakuan ibunya kemarin, tapi pemandangan di depannya malah bikin matanya mau copot.

​Sekar melihat Guntur lagi jongkok di dekat Vanesha yang duduk manis di kursi bambu rumahnya. Apalagi posisi Guntur kelihatan dekat banget karena lagi benerin sepatu Vanesha yang patah. "Mas Guntur?! Jadi begini ya kelakuan sampeyan kalau aku nggak ada? Langsung bawa bidadari kota ke rumah?!" teriak Sekar dengan suara melengking sampai burung di pohon mangga pada terbang.

​Guntur kaget sampai kuncinya jatuh ke jempol kakinya sendiri. "Aduh! Loh, Sekar? Sampeyan kok sudah kayak intel, tiba-tiba muncul terus marah-marah," ucap Guntur sambil jingkrak-jingkrak kesakitan. Vanesha yang melihat Sekar datang dengan gaya "penguasa kampung" langsung pasang muka sombongnya lagi. "Siapa kamu? Berisik banget sih, ganggu orang lagi urusan penting aja!" sahut Vanesha ketus.

​Sekar makin panas. Dia maju, berdiri tepat di depan Vanesha sambil berkacak pinggang. "Urusan penting apa?! Mas Guntur itu calon... eh, maksud saya, dia ini orang baik-baik! Sampeyan mbak-mbak kota jangan mentang-mentang cantik terus mau godain tukang ojek saya ya!" bentak Sekar. Vanesha tertawa sinis, "Godain? Tolong ya, selera saya bukan tukang ojek sarungan kayak dia. Saya ini cuma nyasar!"

​Guntur yang ada di tengah-tengah cuma bisa garuk-garuk kepala yang nggak gatal. Dia melirik ke arah Bapak, Ibu, dan Bagas yang malah asyik nonton dari teras sambil makan gorengan. "Walah Kar, sampeyan jangan cemburu buta gitu toh. Nggeh saya tahu saya ini rebutan, tapi Mbak V ini cuma Mak Lampir nyasar yang bannya pecah. Jangan galak-galak, nanti cantiknya kalah sama knalpot motor," goda Guntur.

​"Nggak bisa, Mas! Tadi aku lihat sampeyan pegang-pegang kakinya!" Sekar nggak mau kalah, matanya sudah berkaca-kaca antara marah dan cemburu. Vanesha langsung berdiri meskipun jalannya pincang sebelah karena sepatunya patah. "Heh, cewek kampung! Jaga ya mulut kamu! Siapa juga yang mau dipegang-pegang sama dia!" Vanesha dan Sekar sekarang malah adu mulut, saling melotot seolah-olah mau cakar-cakaran.

​Guntur akhirnya berdiri di tengah-tengah mereka berdua, merentangkan tangan layaknya wasit tinju. "Nggeh pun, nggeh pun! Berhenti kabeh! Satu Mak Lampir kota, satu Macan kemayu, kalau kalian berantem terus, bisa roboh rumah saya," teriak Guntur dengan gaya sengkleknya. Dia menatap Sekar dengan lembut tapi bercanda. "Kar, katanya Ibuk sampeyan aku nggak pantes bersanding sama sampeyan? Kok sekarang sampeyan malah cemburu buta begini?"

​Sekar langsung terdiam, teringat ucapan pedas ibunya kemarin. Wajahnya langsung berubah jadi sedih sekaligus malu di depan Vanesha. Guntur yang nggak tega melihat Sekar sedih, langsung merangkul pundak Sekar pelan (tapi tetep jaga jarak depan Ibunya). "Sudah, jangan nangis. Mending sampeyan bantuin Ibuk di dapur, biar urusan Mak Lampir nyasar ini Guntur yang selesaikan. Nggeh?" Sekar cuma bisa cemberut, sementara Vanesha hanya bisa membuang muka, merasa terjebak di dalam drama komedi kampung yang nggak masuk akal ini.

1
Mairah Cileles
guntur ini kayanya sangat mirip ceritanyany sama si Gan... di tetangga sebelah
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Wah, ketahuan ya? Memang tipe jagoan yang 'sengklek' tapi sakti itu sudah jadi ciri khas tulisan saya. Guntur hadir dengan petualangan yang beda kok, meskipun jiwanya sama-sama nggak bisa diem. Terima kasih dukungannya ya! 🙌✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!