Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Jejak di Jalur Selatan
Fajar di lembah tersembunyi datang tanpa peringatan. Satu saat langit masih gelap berbintang, saat berikutnya cahaya keemasan sudah merembes melalui celah tebing, menyentuh permukaan kolam yang tenang.
Xiao Fan sudah bangun sejak lama. Ia berdiri di bawah air terjun, membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya. Bukan untuk membersihkan diri—itu hanya efek samping. Ia sedang menguji ketahanan fisiknya. Di kehidupan sebelumnya, ia bisa berdiri di bawah air terjun yang tingginya ratusan meter tanpa bergerak. Sekarang, air terjun setinggi dua puluh meter ini sudah cukup membuat otot-ototnya bergetar.
Masih jauh, pikirnya. Tapi perlahan mendekat.
Liu Ruyan terbangun saat matahari mulai hangat. Ia duduk, mengucek mata, lalu menatap sekeliling. Lembah ini terasa seperti mimpi—terlalu indah untuk menjadi tempat persembunyian dua buronan.
"Guru," panggilnya. "Kita berangkat sekarang?"
Xiao Fan melangkah keluar dari bawah air terjun, mengeringkan tubuhnya dengan aliran Qi tipis. "Ya. Makan dulu. Lalu kita cari jalan keluar ke selatan."
Mereka sarapan dengan sisa buah-buahan semalam. Liu Ruyan terlihat lebih segar, meski masih ada bekas kelelahan di matanya. Latihan kemarin menguras banyak tenaga, tapi hasilnya sepadan. Ia kini bisa memanggil Energi Kegelapan Sejati—sedikit, tidak stabil, tapi bisa.
"Sebelum berangkat," kata Xiao Fan, "tunjukkan lagi."
Liu Ruyan mengangguk. Ia menutup mata, berkonsentrasi. Kali ini lebih cepat—hanya beberapa detik, kilatan ungu sudah muncul di sekitar pupilnya. Ia mengangkat tangan, dan kabut ungu tipis menyelimuti jari-jarinya.
"Bagus. Sekarang tahan selama mungkin."
Gadis itu menahan napas. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Kabut ungu itu berkedip-kedip, lalu padam. Ia menghela napas kecewa.
"Tiga detik," kata Xiao Fan. "Kemarin hanya satu detik. Itu kemajuan."
Liu Ruyan tersenyum kecil. "Aku akan terus berlatih."
Mereka meninggalkan lembah saat matahari sudah lebih tinggi. Jalur keluar tidak mudah—mereka harus memanjat tebing kapur yang licin, mencari pijakan di antara akar-akar pohon. Xiao Fan di depan, Liu Ruyan di belakang, mengikuti setiap langkahnya dengan hati-hati.
Setelah satu jam mendaki, mereka mencapai punggungan yang lebih landai. Dari sini, mereka bisa melihat ke utara—ke arah Pegunungan Tulang Putih dan Kota Giok yang kini hanya titik kecil di kejauhan. Dan ke selatan, hamparan bukit-bukit kapur yang semakin rendah, berakhir di dataran pasir putih yang berkilau di bawah sinar matahari.
"Itu Kota Pasir Putih?" tanya Liu Ruyan.
"Masih jauh. Mungkin dua hari perjalanan." Xiao Fan menatap ke selatan. "Tapi kita tidak akan lewat jalur utama. Terlalu terbuka. Kita akan menyusuri lembah-lembah kecil di antara bukit."
Mereka melanjutkan perjalanan. Medannya tidak mudah—tanah kapur yang mudah longsor, semak berduri, dan jurang-jurang kecil yang harus dilompati. Tapi ini lebih aman daripada jalur utama yang pasti diawasi.
Sekitar tengah hari, Xiao Fan berhenti tiba-tiba. Tangannya terangkat, memberi isyarat diam.
Liu Ruyan langsung waspada. Ia memasang kuda-kuda, tangan di gagang pedang.
Dari balik bukit kapur di depan, terdengar suara langkah kaki. Banyak. Teratur. Bukan binatang.
Xiao Fan memberi isyarat pada Liu Ruyan untuk bersembunyi di balik batu besar. Ia sendiri melompat ke atas bukit, mengintip dari balik semak.
Di lembah kecil di bawah, serombongan orang berjalan ke arah utara. Mereka mengenakan jubah abu-abu seragam, tanpa lambang yang jelas. Jumlahnya sekitar dua puluh orang. Di tengah rombongan, sebuah tandu tertutup kain hitam, dipikul oleh empat orang.
[Analisis: Kelompok tidak dikenal. Kultivasi bervariasi—Fondasi Inti hingga Kondensasi Qi. Tidak ada identifikasi faksi.]
Xiao Fan mengamati lebih teliti. Tandu itu... ada sesuatu di dalamnya. Bukan manusia. Auranya aneh—seperti Qi Kematian, tapi lebih kacau. Lebih... gila.
Salah satu dari rombongan itu—seorang pria tinggi dengan bekas luka di leher—tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke arah bukit tempat Xiao Fan bersembunyi.
"Ada orang," katanya. Suaranya parau.
Rombongan itu berhenti. Tangan-tangan bergerak ke gagang senjata.
Xiao Fan mengutuk dalam hati. Pria itu pasti punya indra yang tajam. Mungkin Jalur Bayangan atau Jalur Angin.
Ia bisa melawan. Dua puluh orang, kebanyakan di bawah levelnya. Tapi itu akan menarik perhatian. Xue Lang mungkin sudah dekat. Pertarungan yang tidak perlu hanya akan memperlambat mereka.
Ia memutuskan untuk mundur diam-diam.
Tapi sebelum ia bergerak, Liu Ruyan—yang dari tempat persembunyiannya juga melihat rombongan itu—tiba-tiba menegang. Matanya membelalak, menatap tandu hitam itu.
"Guru," bisiknya, suaranya bergetar. "Aku... aku merasakan sesuatu dari tandu itu."
"Apa?"
"Seperti... seperti diriku. Energi Kegelapan. Tapi... sakit. Sangat sakit."
Xiao Fan menatap tandu itu lagi. Energi Kegelapan? Berarti isinya terkait dengan Putri Kegelapan atau garis keturunannya.
Pria tinggi itu masih menatap ke arah bukit. "Periksa," perintahnya pada dua anak buahnya.
Dua orang dari rombongan mulai mendaki bukit. Xiao Fan menghela napas. Tampaknya pertarungan tidak bisa dihindari.
Ia memberi isyarat pada Liu Ruyan untuk tetap bersembunyi, lalu melompat turun dari bukit. Mendarat tepat di depan dua orang yang sedang mendaki.
Mereka terkejut, tapi cepat bereaksi. Pedang terhunus.
"Kau siapa?" bentak salah satu.
"Pelancong. Tersesat." Xiao Fan bersikap santai. "Aku tidak mencari masalah."
Pria tinggi di bawah mendekat. Matanya menyipit menatap Xiao Fan. "Pelancong tidak mungkin sampai sejauh ini tanpa diketahui. Kau mata-mata?"
"Aku bahkan tidak tahu siapa kalian. Bagaimana mungkin aku mata-mata?"
Pria itu tidak terlihat yakin. Tapi sebelum ia bicara lagi, kain hitam penutup tandu itu bergerak. Semua orang menoleh.
Dari dalam tandu, terdengar suara rintihan. Lirih. Menyedihkan. Seperti anak kecil yang kesakitan.
Liu Ruyan, yang masih bersembunyi, tiba-tiba berdiri. Wajahnya pucat. "Guru... dia memanggilku."
"Liu Ruyan, jangan—"
Tapi gadis itu sudah melangkah turun dari persembunyiannya. Matanya yang tadi hitam, kini berkilat ungu redup.
Pria tinggi itu membelalak. "Matanya... itu..."
Rombongan itu gempar. Beberapa mundur. Beberapa mengangkat senjata.
"Putri Kegelapan," desis seseorang.
Xiao Fan menghela napas panjang. Situasi baru saja menjadi jauh lebih rumit.