NovelToon NovelToon
Rahim Bayaran Mafia Kaya

Rahim Bayaran Mafia Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.

Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.

Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.

Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Malam itu suasana di rumah besar terasa sangat hening dan mencekam. Setelah ledakan emosi dan pengungkapan rahasia besar di siang harinya, suasana menjadi canggung dan penuh dengan tembok penghalang yang terasa nyata.

Aluna mengurung diri di kamar tidurnya yang luas dan mewah itu. Namun, bagi gadis itu kamar itu terasa seperti penjara yang sangat dingin dan sepi. Ia duduk di tepi ranjang sambil memandangi bayangannya di cermin besar di depannya.

Matanya menatap lekat lekat wajah yang terpantul di kaca itu. "Jadi ini wajahku... wajah yang dikatakan mirip sekali dengan mendiang Aira..." gumam Aluna pelan dengan hati yang perih.

Selama ini ia berpikir mungkin ada keistimewaan tersendiri kenapa Arka memilihnya di antara ratusan pelamar.

Ia berharap mungkin karena sikapnya yang baik atau ketulusannya. Tapi ternyata tidak. Semua itu murni karena wajah.

Wajah yang bukan miliknya seutuhnya, wajah yang merupakan bayangan orang lain.

"Aluna cuma pengganti..." isak Aluna pelan air mata kembali menetes membasahi pipi.

"Tuan Arka sayang sama Aluna, perhatian sama Aluna, lindungi Aluna... itu semua karena Aluna jadi wadah buat anak yang nanti wajahnya mirip Aira kan?"

"Kalau Aluna tidak mirip sama dia... mungkin Tuan Arka tidak akan pernah menengok Aluna sedetik pun..."

Perasaan terasing dan tidak dihargai itu menyiksa batinnya luar biasa. Ia merasa seperti boneka pajangan atau patung yang dipajang karena kemiripannya dengan sosok yang sudah tiada.

Tiba tiba pintu kamar terbuka pelan. Ternyata Raka yang datang membawa sepiring buah potong dan segelas susu hangat.

"Aluna... belum tidur?" sapa Raka lembut lalu duduk di sebelah gadis itu.

Aluna segera mengusap air matanya cepat cepat. "I... iya Mas. Aluna cuma sedang merenung saja."

"Mas Raka..." panggil Aluna tiba tiba menatap pemuda itu.

"Boleh Aluna tanya sesuatu? Kenapa dulu waktu kita sering ketemu di warung dulu Mas Raka tidak pernah sadar atau bilang kalau wajah Aluna mirip sama Aira?"

"Kan Mas Raka tahu kan siapa Aira dan seperti apa wajahnya? Kenapa dulu Mas diam saja dan baru kaget baru sadar sekarang?"

Pertanyaan itu membuat Raka terdiam sejenak lalu menghela napas panjang mencoba mencari jawaban yang paling tepat.

"Begini Aluna... Dulu waktu kita ketemu di warung itu kan kita masih kecil kecil banget ya. Kamu masih SMP atau SMA awal kan?" ucap Raka pelan menjelaskan.

"Waktu itu kamu kan masih polos polos banget, rambut sering dikuncir dua, pakaiannya juga sederhana habis bantuin Ibu jualan. Wajahnya masih bulot gitu dan auranya masih sangat kekanak kanakan."

"Tapi sekarang... lihat dirimu sekarang. Kamu sudah dewasa, wajahmu lebih tirus dan matamu lebih teduh. Ditambah lagi kamu sedang hamil jadi ada aura keibuan yang lembut dan tenang yang memancar keluar," lanjut Raka menatap wajah Aluna.

"Perubahan itulah yang bikin kemiripannya jadi 100 persen persis sama Aira saat dia menjelang dewasa dulu. Dulu mungkin mirip, tapi belum sejelas dan seidentik sekarang. Makanya aku baru sadar penuh pas ketemu hari ini."

Aluna mengangguk pelan mengerti. Jadi memang karena waktu dan perubahan fisik yang membuatnya kini terlihat sangat sangat mirip dengan almarhumah adik majikannya itu.

"Terus menurut Mas Raka... apa Aluna salah kalau merasa sakit hati dan tersinggung dengan kenyataan ini?" tanya Aluna lagi.

"Aluna merasa seperti bukan diri sendiri lagi. Seolah Aluna cuma alat atau cermin buat mereka melihat orang yang sudah mati. Rasanya hancur sekali Mas..."

Raka tersenyum sedih lalu menepuk bahu Aluna pelan pelan.

"Aku mengerti perasaanmu Aluna. Pasti berat dan aneh rasanya. Tapi cobalah lihat dari sisi lain juga," ucapnya.

"Kakakku Arka itu orangnya dingin, keras, dan tidak pernah peduli pada siapa pun sejak Aira meninggal. Dunianya gelap dan hampa. Tapi sejak ada kamu... dia mulai ada tujuan hidup lagi. Dia mulai tersenyum, dia mulai peduli, dia mulai melindungi." Raka berusaha menenangkan Aluna.

"Mungkin awalnya memang karena kamu mirip Aira. Tapi percayalah... seiring berjalannya waktu, Kak Arka pasti akan bisa melihat dan mencintai kamu sebagai Aluna yang asli kok."

"Kamu itu unik Aluna. Kamu punya hati emas yang bahkan Aira pun belum tentu memilikinya karena latar belakang hidupmu yang berbeda."

Setelah mengobrol sebentar, Raka pamit undur diri memberi waktu untuk Aluna beristirahat. Tidak lama setelah Raka keluar pintu kamar kembali terbuka dan kali ini yang masuk adalah Arka.

Pria itu tampak kelelahan namun wajahnya tetap terlihat serius dan dingin seperti biasa. Ia berjalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang menatap Aluna yang langsung menunduk menghindari tatapan itu.

"Kenapa belum tidur? Sudah larut malam dan kamu butuh istirahat banyak," ucap Arka membuka pembicaraan dengan nada datar.

"Aluna belum ngantuk Tuan..." jawab Aluna lirih suaranya terdengar ketus dan kesal.

Arka menyadari perubahan sikap itu. Ia menghela napas panjang lalu menatap wajah gadis itu samping.

"Kamu masih marah dan tersinggung soal pembicaraan siang tadi kan?" tanya Arka to the point.

Aluna mengangkat wajahnya menatap mata pria itu tajam tajam. Untuk pertama kalinya ia berani menatap mata Arka dengan penuh emosi dan keberanian.

"Ya Aluna marah Tuan! Aluna sangat marah dan kecewa!" cetus Aluna tak mau kalah, air matanya sudah siap tumpah.

"Selama ini Aluna pikir Tuan memilih aku karena ada sesuatu yang baik di diri Aluna. Aluna pikir Tuan melihat ketulusan atau usaha Aluna. Tapi ternyata tidak! Ternyata semua itu cuma karena wajah Aluna mirip sama Aira!"

"Tuan pakai Aluna sebagai alat reproduksi supaya bisa dapat anak yang mirip sama orang yang Tuan sayangi! Aluna ini apa Tuan? Mesin pencetak anak atau boneka hidup pengganti almarhum?"

Suara Aluna meninggi terbawa emosi yang sudah dipendam sejak siang.

"Aluna juga manusia Tuan! Aluna juga punya hati yang bisa merasa sakit dan bisa merasa dikhianati!"

Arka diam mendengarkan luapan emosi itu tanpa memotong. Wajahnya tetap tenang namun matanya menyimpan banyak hal yang sulit dibaca.

Setelah Aluna selesai bicara dan mulai menangis tersedu sedan Arka baru angkat bicara dengan suara yang berat dan rendah.

"Kau pikir aku ini monster yang tidak punya hati selamanya memilihmu semata mata karena fisik?" tanya Arka balik. Ya memang benar... awal mula ketertarikanku padamu adalah karena kemiripan yang luar biasa itu. Itu fakta dan aku tidak akan menafikkan hal itu," terang Arka.

"Aira itu adikku satu satunya yang paling suci dan baik. Kehilangan dia membuat hidupku hancur dan gelap gulita. Saat melihatmu aku merasa seolah Tuhan mengembalikan separuh jiwaku yang hilang itu kembali ke hadapanku."

"Tapi dengar ini baik baik Aluna..." Arka memegang kedua tangan gadis itu menggenggamnya erat erat. "Aku memilihmu menjadi ibu dari anakku bukan hanya karena wajahmu yang mirip dia."

"Aku memilihmu karena aku tahu kamu wanita yang kuat, sabar, dan penuh kasih sayang. Aku melihat bagaimana kamu merawat ibumu yang sakit sakitan dulu dengan setia. Itu kualitas yang aku cari untuk menjadi ibu dari pewarisku."

"Wajah itu hanyalah bonus terindah yang Tuhan berikan. Jadi jangan pernah merendahkan dirimu dengan bilang dirimu cuma alat atau cuma boneka. Itu menghina pilihanku dan menghina takdir Tuhan."

"Tapi rasanya tetap sakit Tuan..." isak Aluna pelan. "Saat tahu bahwa semua perhatian Tuan selama ini murni karena bayangan orang lain..."

Arka mengusap air mata di pipi Aluna dengan ibu jarinya pelan pelan. Tatapannya kali ini terlihat lebih lembut dan dalam.

"Untuk saat ini mungkin aku masih belum bisa bilang kalau aku sudah jatuh cinta padamu melebihi sosok Aira," jawab Arka jujur apa adanya. "Luka di hatiku belum sembuh total dan bayangan Aira masih sangat kuat."

"Tapi percayalah satu hal. Sejak kamu ada di sini dan membawa anakku tumbuh di dalam sana... kamu sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupku."

"Kamu istimewa Aluna. Kamu istimewa dengan caramu sendiri. Dan aku berjanji... suatu saat nanti aku akan belajar mencintaimu sebagai dirimu sendiri. Bukan sebagai bayangan siapa siapa."

Kata kata itu terdengar tulus dan menenangkan. Aluna menatap wajah tampan itu dalam dalam. Ia tahu perjalanan untuk mendapatkan cinta seutuhnya masih sangat panjang dan berat.

Namun, setidaknya malam ini ia mendapatkan kepastian dan pengakuan yang jujur dari mulut pria itu sendiri.

Arka menarik tubuh Aluna ke dalam pelukannya erat sekali membiarkan gadis itu merasa aman dan terlindungi di dalam dadanya yang bidang.

"Tidurlah sekarang. Jangan pikirkan apa apa lagi. Besok adalah hari baru dan kita hadapi semuanya bersama sama," bisik Arka di telinga gadis itu.

Malam itu Aluna bisa tidur dengan perasaan yang sedikit lebih tenang dan damai. Meski luka di hati masih terasa perih, namun ia bertekad akan membuktikan pada Arka dan seluruh keluarga bahwa ia bukan hanya sekadar pengganti atau kembaran orang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!