Zhevanya Maharani Karasya (Vanya) selalu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh kedua orangtua nya, siapa sangka sifat nya yang ceria periang dan selalu berfikir positif itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang sangat menyiksa. Vanya yang selalu ingin menyerah oleh penyakit nya itu tak pernah menduga masa remaja nya akan terasa sangat berwarna.
Pertemuan nya dengan Nana, Farida, dan Irgi benar benar membuat masa remaja nya begitu berwarna, indah dan membuat banyak kenangan yang tak terlupakan, sampai pada akhirnya Semua terasa begitu sia sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CieMey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Orientasi
"Vanya bangun... Nanti kamu telat," Ratih berusaha membangunkan Vanya dengan sedikit menggoyangkan badan nya.
"Lima menit lagi ya ma," jawab Vanya sambil membalik badan.
Zhevanya Maharani Karasya adalah anak kedua dari keluarga Karasya. Vanya memiliki keluarga yang harmonis. Orangtuanya selalu mengumbar kemesraan. Raka Putra Karasya abang dari Zhevanya Maharani Karasya yang memiliki paras wajah tampan itu sangat menyayangi keluarganya. Raka sangat menyayangi adiknya. Ia tidak akan membiarkan satu orang pun menyakiti adiknya.
"Ini kan hari pertama kamu masuk sekolah, nanti kamu telat Vanya," kata Ratih yang masih berjuang membangunkan Vanya.
"Iya ma," jawab Vanya dengan malas.
Vanya berjalan menuju kamar mandi dengan gontai. Hari ini adalah hari pertama Vanya masuk ke SMP Permata. Tadi malam ia sibuk mempersiapkan seragam yang akan di gunakan hari ini dan barang barang yang akan ia bawa.
"Vanya nanti kamu berangkat sekolah bareng Abang kamu ya... Mama sama papa gabisa anterin kamu hari ini," kata Ratih yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
"Emg mama sama papa mau kemana?," Tanya Vanya yang sedang sibuk merapihkan pakaiannya.
"Papa sama Mama mau pergi kerumah teman dulu sayang," jawab Danu dengan suara yang sangat lembut.
"Iya sayang, teman mama mau ngadain pesta anniversary pernikahan," sahut Ratih.
"Kamu gapapa kan berangkat sama abang dulu?," Tanya Danu sambil mengusap lembut kepala Vanya.
"Iya, Vanya gapapa kok jalan sama Abang," jawab Vanya sambil tersenyum manis.
Raka yang baru saja bergabung langsung duduk di kursinya dan makan dengan lahap.
"Raka nanti kamu anterin Vanya ke sekolah dulu ya," kata Danu yang sedang menikmati makanan nya.
"Oke,"
Mereka menghabiskan sarapannya dengan lahap.
"Yaudah Vanya ayo berangkat, nanti Gue telat nih," kata Raka yang sedang sibuk merapihkan pakaiannya.
"Yaudah, papa mama Vanya berangkat sekolah dulu ya," pamit Vanya sambil mencium tangan kedua orangtuanya.
"Iya Sayang, hati-hati ya," Dengan senyum di wajah ratih sebagai tanda perpisahan.
"Raka bawa motornya jangan ngebut ya!," Kata Danu memperingati Raka.
"Siiap bos,"
Acungan jembol dari Danu mengakhiri sesi pamitan pagi ini.
Di perjalanan tak ada satu katapun yang keluar dari mulut Vanya. Ia hanya diam memperhatikan kondisi jalan yang lumayan ramai. Raka fokus mengendarai motornya, mencari celah untuk menyalip. Raka hanya berharap cepat sampai di sekolah adiknya dan kembali mengendarai motornya menuju sekolah.
"Nah udah sampai... Masuk sana nanti telat," kata Raka menyadarkan Vanya dari lamunannya.
"Iya bang, makasih ya... Hati hati di jalan," sambil tersenyum manis.
Vanya berjalan memasuki gerbang sekolah. Banyak peserta didik baru yang di antar oleh orangtuanya.
Dari ratusan siswa baru tidak ada satupun yang Vanya kenal. Terlebih Vanya adalah orang yang sangat introvert, mencari teman baru adalah ujian terberat baginya.
Dari ratusan siswa baru tidak ada satupun yang Vanya kenal. Terlebih Vanya adalah orang yang sangat introvert, mencari teman baru adalah ujian terberat baginya.
Bel berbunyi. Semua peserta didik baru berbaris di lapangan. Mereka sedang menunggu pembagian ruang kelas.
"Zhevanya Maharani Karasya," panggil seorang guru dengan pengeras suara.
"Saya Bu,"
"Silahkan masuk kelas 7c," kata guru tersebut dengan lantang.
"Baik Bu,"
Vanya memilih bangku di barisan tengah. Ia lebih nyaman ada di barisan tengah. Tidak terlalu dekat dengan guru dan tidak terlalu jauh dari papan tulis.
"Hai, apa disini kosong?," Tanya seorang gadis dengan senyuman yang sangat manis.
"Hah?," Jawab Vanya yang tidak terlalu mendengar perkataan gadis tersebut. Memang suara nya sangat lembut bahkan kelewat lembut hingga orang tidak bisa mendengar apa yang gadis itu katakan.
"Apa di sini kosong?," Gadis itu mengulang pertanyaannya.
"Oh, iya kosong," jawab Vanya sambil tersenyum.
"Boleh aku duduk disini?," Tanya gadis itu dengan suara yang lembut.
"Silahkan"
"Gadis ini sangat manis, pasti ia orang yang sangat baik," Kata Vanya dalam hati.
Vanya dan gadis itu sibuk dengan urusan mereka masing masing. Tak ada percakapan diantara mereka. Suasana di dalam kelas pun sangat berisik. Semua siswa sedang sibuk berkenalan.
"Oh iya, kita belum kenalan,"
Vanya yang tidak tahan dengan suasana sunyi itu akhirnya membuka suara terlebih dahulu.
"Nama gue Zhevanya Maharani Karasya, anak kedua sekaligus anak bontot dari keluarga Karasya panggil aja Vanya," kata Vanya memperkenalkan dirinya.
"Nama aku Farida," jawab Farida sambil tersenyum.
"Hanya Farida? Tidak ada nama panjangnya?," Tanya Vanya dengan wajah yang bingung.
Farida tersenyum manis "iya, hanya Farida,"
Mereka berdua sangat dekat. Vanya rasa Farida adalah teman yang cocok dengannya.
Mereka mempunyai banyak persamaan. Mereka sering belajar bersama.
Farida sangat pintar dalam matematika namun ia Kurang mengerti tentang komputer dan juga Agama. Sedangkan Vanya ia memahami semua pelajaran. Walaupun nilai matematika Vanya tidak sesempurna nilai Farida namun nilai matematika Vanya terhitung tinggi di kelasnya.
Vanya tidak terlalu suka dengan keramaian dikelasnya. ia hanya mengenal teman temannya saja tapi tidak pernah mengobrol dengan mereka. bahkan untuk menyapa mereka saja Vanya sangat malas.