NovelToon NovelToon
My Baby Mafia

My Baby Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!

Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.

Hingga pria itu kembali.

Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.

Melainkan rencana.

Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MBM — BAB 19

AROMA YANG MENGGODA

Langkah kaki itu terdengar sebelum sosoknya muncul. Berat. Tenang. Tidak tergesa.

Lorenzo de Santis berdiri di ambang ruang tamu sayap kedua mansion. Kaos hitam polos melekat sempurna di tubuhnya yang lebar, dimasukkan rapi ke dalam celana panjang hitam. Sabuk kulit hitam melingkar ketat di pinggang, memberi garis tegas pada siluetnya. Di pergelangan kiri, arloji perak berkilat dingin. Warnanya sama persis dengan mata peraknya yang sekarang menatap dua wanita di sofa. Rambut hitamnya tersisir rapi ke belakang, beberapa helai jatuh di kening menutupi bekas luka yang sudah mengering. Tanpa jas, tanpa senyum, aura dominannya justru semakin jelas. Berbahaya dan menguasai ruangan.

Aria yang masih duduk langsung menegakkan punggung. Gugup dari semalam belum hilang, tapi amarah yang baru mendidih lebih kuat.

“Untuk apa aku memberitahumu?” Suara Lorenzo rendah, datar. Dia mengulang kalimat terakhir yang terpotong tadi, matanya mengunci Aria.

Aria berdiri. Tidak peduli lututnya sedikit gemetar. “Karena itu toko rotiku, Lorenzo. Toko keluargaku.” Suaranya bergetar, tapi tatapannya lurus. “Kau bilang kau yang menyuruh orang lain kelola. Kau bahkan tidak bilang apa-apa padaku.”

Lorenzo melangkah masuk. Tidak duduk. Dia berdiri di depan meja marmer, jaraknya cukup dekat untuk membuat Aria mencium samar aroma tembakau dan cologne-nya. “Toko itu tetap atas namamu. Uangnya masuk ke rekening keluargamu. Pegawainya digaji olehku. Lalu di mana masalahnya?”

“Ma-masalahnya...” bak kalah debat, Aria benar-benar tergagap dan entah kenapa dia masih terbayang-bayang oleh kegilaan Lorenzo semalam. “Masalahnya aku tidak mau diurus!” Aria mengepalkan tangan di sisi tubuh. “Itu toko nenekku. Ibu yang teruskan setelah nenek pergi. Sekarang aku. Aku yang harus di sana, bukan orang suruhanmu. Itu bukan sekadar bisnis, Tuan Lorenzo. Itu rumah.”

Rahang Lorenzo mengeras sepersekian detik. Dia menatap Aria seperti menilai lawan bicara dalam negosiasi. Dingin. Mengkalkulasi. “Kau sedang hamil. Kau.... Istriku.” kata Loren terdengar menekan semua kalimatnya. “Tempatmu di sini. Bukan di balik etalase menjual roti dari jam lima pagi, Mrs. De Santis.”

Aria langsung tercengang sejenak.

“Jadi aku harus diam saja? Duduk manis sambil menunggu perintah mu?”

“Ya.” Jawaban satu kata itu jatuh tanpa beban. Jujur sampai kejam.

Darah Aria mendidih. Dia ingin berteriak, tapi sadar percuma. Berdebat dengan tembok lebih masuk akal.

Seolah baru ingat ada orang ketiga di sana, Lorenzo akhirnya menoleh ke sepupunya. Nadanya sedikit melunak, hanya sedikit. Dan itu kesengajaan yang Loren lakukan untuk memancing amarah Aria. “Bagaimana kabarmu, Adriana?”

Adriana yang sejak tadi diam memperhatikan, tersenyum kecil. Dia berdiri, merapikan pakaiannya. “Aku baik, Loren. Seperti biasa. Mansion utama berisik, jadi aku kabur ke sini.” Matanya melirik Aria yang wajahnya merah padam menahan kesal, lalu kembali ke Lorenzo. “Tapi sepertinya kalian ada urusan yang harus diselesaikan.”

Dia mengambil tas kecilnya dari sofa. “Aku harus pergi mengurus butik. Ada pertemuan di sana.”

Lorenzo mengangguk sekali.

Adriana masih tersenyum ramah. Sebelum melangkah pergi, dia menepuk bahu Aria sekilas. “Jangan terlalu keras padanya. Dia baru belajar menjadi suami.” Bisiknya cukup hanya untuk Aria, lalu berlalu meninggalkan ruang tamu. Langkahnya ringan, tapi senyumnya menyimpan arti.

Pintu tertutup pelan. Hening kembali turun. Hanya tinggal Aria dan Lorenzo. Dan udara yang mendadak tipis.

Lorenzo menoleh. Mata perak itu menatap Aria tanpa kedip. “Aku juga harus pergi, kuharap kau tidak lagi membuat masalah di sini.”

Aria mengangkat dagu. Dia tidak akan mundur. Tidak kali ini. “Belum. Bahkan belum mulai.”

Sudut bibir Lorenzo terangkat. Bukan senyum. Lebih mirip seringai tipis yang berbahaya. “Bagus. Aku benci wanita yang penurut.”

Dia melangkah memutari meja, mendekati Aria yang refleks mundur sampai punggungnya menyentuh sandaran sofa. Terjepit.

“Toko itu akan tetap buka,” kata Lorenzo pelan. Dia berhenti tepat di depan Aria. Terlalu dekat. “Tapi kau tidak akan ke sana. Sampai anak ini lahir. Setelah itu, kita bicara lagi.”

“Dan kalau aku tetap pergi?” tantang Aria. Jantungnya berpacu kencang.

Jari Lorenzo terangkat, menyentuh dagu Aria. Mengangkatnya pelan agar mata mereka bertemu. Sentuhannya dingin dari arloji peraknya. “Maka kau terpaksa tidak akan lagi melihat toko itu berdiri di tempatnya.”

Nada bicaranya tenang. Hanya fakta yang membuat membuat kaki Aria lemas.

Di luar, matahari sudah tinggi. Di dalam sayap kedua mansion de Santis, perang baru saja dimulai. Dan Aria tahu, dia menikah dengan pria yang tidak pernah kalah.

Pria itu menyentuh pipi Aria, wajahnya begitu dekat, hingga Aria berpaling kesal. Dan Lorenzo berjalan menjauh meninggalkan wanita itu berdiri sendirian.

Sungguh, Aria merasa terjebak sendiri di dalam mansion ini. Hingga ia berkerut alis dan hidungnya mengendus-endus aroma yang begitu enak dan cocok untuk dirinya.

“Aroma makanan?” pikir Aria, namun dia yakin itu bukan aroma makanan. Itu seperti aroma parfum dari tubuh seseorang dan Aria sadar aroma itu adalah jejak aroma yang Lorenzo tinggalkan.

Ia tersenyum kecil. “Sangat wangi!”

Namun semua itu berakhir saat Lorenzo benar-benar pergi dari sana. Beberapa detik, aroma lain juga tercium oleh hidung Aria yang seketika cocok seperti milik Lorenzo. Namun kali ini lebih tajam.

Hingga Aria keluar dan iseng berjalan ke arah mansion utama dari belakang halaman. Lalu ia tak melihat keberadaan siapapun di sana selain para penjaga.

“Tuan Emilio tidak olahraga?” tanya basa-basi Aria pada penjaga di sana.

“Tidak, Nyonya. Tuan Emilio sibuk.”

Aria faham, hingga aroma itu tercium lagi lebih jelas, dan membawanya masuk ke rumah tersebut hingga menuju ke ruang belakang— kolam mansion de Santos.

Aria mengerutkan keningnya, memperhatikan sekelilingnya.

“Apa yang kau cari?”

Sontak Aria menoleh dan mengambil jarak saat suara itu begitu dekat di telinganya dari belakang. Dan saat ia berbalik, Aria terkejut akan keberadaan Matteo yang mengenakan bathrobe dan hendak berenang untuk menenangkan pikirannya.

“Sedang apa kau di sini? Lorenzo tidak marah?” tanya Matteo menyeringai menatap lekat Aria.

“Itu bukan urusannya.” kata Aria sedikit tegas, namun ia sadar satu hal, bahwasanya— aroma yang dia cari tadi begitu dekat dan itu milik Matteo.

Aria memperhatikan lekat pria tampan tadi yang kini menatapnya balik dengan heran.

“Kau butuh sesuatu? Katakan saja, aku juga menjadi keluarga mu kan.” kata iseng Matteo yang membuat Aria menggeleng meski dia masih ingin dekat dan mencium aroma wangi tadi.

Ia terdiam beberapa saat, hingga memberanikan diri berkata. “Ap-apa aku boleh meminta parfum mu?”

Tentu saja Matteo mengangkat satu alis dengan terheran. “Parfum?”

“Ya.”

Pria itu berjalan mendekatinya. “Untuk apa parfum ku? Jika bayimu suka dengan aroma ku, mendekat saja padaku, aku tidak masalah.” kata pria itu terus terang dan semakin dekat pada Aria.

Tentu saja Aria hendak menjauh, namun aroma itu benar-benar memabukkan seolah keinginan melekat sang bayi.

Saat jarak mereka berdua tinggal 1 langkah saja. Aria dapat mencium aroma Matteo yang sungguh membuatnya nagih. Hingga ia tersenyum tipis hampir tak terlihat.

Sementara Matteo memperhatikannya dengan seksama, seolah dia tahu bahwa Aria sedang dipengaruhi oleh keinginan janinnya.

“Apa kau ingin mendengar sesuatu? Kita belum sempat berkenalan, dan melihat mu... Rasanya sangat asing namun sangat memikat.” kata Matteo dengan heran, namun juga tersenyum licik.

“Jaga bicaramu.” tegas Aria memperingati.

Pria itu tersenyum kecil, menegakkan tubuhnya dan masih membiarkan Aria berada di sekitarnya.

“Semua orang di sini tahu, kau sedang hamil. Tapi jika kau ingin tahu sesuatu yang lain soal kehamilan mu, maka temui aku.” ujar Matteo yang benar-benar membuat Aria tak faham. Hingga pria itu melepaskan bathrobe nya begitu saja dan tentunya Aria langsung berpaling.

Pria itu langsung menceburkan dirinya di kolam dan berenang. Sementara Aria masih berkerut alis mencerna ucapan tadi. “Dasar aneh.”

Ia melangkah keluar dari sana, namun malah bertemu dengan Monica yang entah mau pergi kemana dengan pakaian elegan dan hedon.

“Mengintip pria lain saat sudah menikah apakah itu pantas di keluarga de Santos.” kata Monica, si wanita paruh baya yang memiliki tahi lalat kecil di tulang pipi kirinya itu.

Aria tak membalasnya, ia justru berkerut alis tak suka dengan aroma yang tercium di hidungnya.

“Maaf, Bibi... Aku tidak bisa berlama-lama di dekatmu, aroma mu sangat menyengat hidungku dan membuatku ingin muntah.” kata Aria yang seketika langsung pergi sembari menutup mulutnya.

Tentu saja, mendengar itu Monica langsung melotot kesal. “Dasar kurang ajar.” gertaknya benar-benar membuat pelayan yang saat itu lewat pun ikut merinding.

1
Tiara Bella
akhirnya ngobrol dr hati ke hati ini Aria sm Lorenzo... curhat soal ibu mereka berdua
Four.: iya juga 😁
total 1 replies
Kinara Widya
sebenarnya yg membunuh ibunya Loren... Emilio apa lorenzo,..atau jgn2 Monica...
Kinara Widya: lanjut kak...
total 2 replies
vnablu
sabarrr Lorenzo semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu 😌😌
Four.: ho, oh
total 1 replies
vnablu
udah bener kata Lorenzo di rumah aja duduk maniss😄
Four.: membosankan tau
total 1 replies
Tiara Bella
aku suka ceritanya bagus....Dar der dor....
Four.: tancuuuu 😘
total 1 replies
Tiara Bella
makanya Aria km gk ush keluar dr rmh ya itu diincer orang untuk dibunuh.....
Four.: enggak kok, GK sengaja
total 1 replies
Kinara Widya
habis tegang....eee lapar mereka.
Four.: biar GK tegang Mulu 😁
total 1 replies
Tiara Bella
vittorio ember bocor bngt ya.....
Four.: sangat berhati-hati harusnya
total 1 replies
vnablu
kamu salah tuan kan itu memang anak nya Lorenzo sebelum kalian semua punya rencana tersembunyi tapi Lorenzo sudah beberapa langkah di depan kalian semua 😌😌
Kinara Widya: selalu bikin penasaran ni kak four...❤️
total 4 replies
sleepyhead
Baru mendengar Namannya saja kalian sdh begitu khawatir, bagaimana jika dia ada dihadapan kalian 😁
Four.: auto 😱😱😱
total 1 replies
sleepyhead
Karena kau akan selalu aman jika pergi dengannya
sleepyhead: Teh celup lagi 😂
total 2 replies
sleepyhead
🤣🤣🤣🤣 kucing nakal
Four.: nakal banget 🤭
total 1 replies
sleepyhead
Terlalu lama dia dimanfaatkan oleh Papa nya dan Ibu gundiknya
Four.: ho,oh cuman menunggu 20 aja kurang 5 tahun lagi kok😁
total 1 replies
vnablu
semangat terus up nya thorr...aduh Lorenzo bilang aja kamu mau Deket" Aria 🤭🤭
Tiara Bella
Aria percaya deh sm suami km🤭
Four.: ho,oh
total 1 replies
Kinara Widya
makin seru ceritanya...lanjut kak
Four.: wokehhhh
total 1 replies
sleepyhead
wakakakakkk...
Four.: wahhh bahaya nihh orang😌
total 5 replies
sleepyhead
Pintar, gass...
Four.: harus donggg uyyy 😁
total 1 replies
vnablu
yang ada kamu tambah nyaman tidurnya karena ada Lorenzo di sebelah kamu 🤭🤭
Four.: iye juga 😁
total 1 replies
Tiara Bella
apakah Meraka berdua Aria sm Lorenzo akan bucin pd waktunya....
Four.: semoga aja 😌
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!