NovelToon NovelToon
KALKULASI CINTA TUAN MUDA ELVANO

KALKULASI CINTA TUAN MUDA ELVANO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:19.5k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).

​Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."

​Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.

​Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.

​"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.

Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Pendekatan Nasi Liwet

​"Bapak jangan buru-buru emosi dulu, tarik napas panjang," ucap Aluna memecah keheningan yang mencekik setelah bunyi bantingan keras penutup laptop itu.

​Elvano menatap Aluna dengan alis menukik tajam, sangat tidak terima aset elektronik mahal miliknya diperlakukan kasar oleh seorang bawahan. Pak Broto yang tadinya sudah memegang erat gagang pintu ikut terhenti, menoleh dengan kening berkerut dalam menatap gadis muda itu.

​"Pak Broto, bosku ini memang pintar banget kalau disuruh baca grafik saham atau hitung bunga majemuk, tapi sayangnya dia agak kurang piknik ke dunia nyata," lanjut Aluna santai, mengabaikan tatapan membunuh dari arah Elvano. "Kami jauh-jauh terbang dari ibu kota bukan cuma buat debat kusir di ruangan pengap ini. Perut keroncongan bikin otak panas. Bapak tahu warung nasi liwet paling enak di daerah sini? Mari kita pindah tempat, kita ngobrol santai sambil makan siang."

​Pak Broto mendengus pelan, tapi genggamannya pada gagang pintu mulai mengendur. Urat tegang di lehernya sedikit menyusut. "Warung Nasi Liwet Bu Ning di pertigaan jalan sana itu yang paling juara se-kabupaten. Tapi bosmu ini mana mau makan di pinggir jalan. Biasanya dia makan daging sapi impor yang harganya jutaan kan?"

​"Siapa bilang tidak mau? Bosku ini merakyat banget aslinya," potong Aluna cepat, lalu menarik lengan kemeja Elvano secara paksa agar pria jangkung itu segera berdiri. "Ayo, Pak Bos. Kita makan siang."

​Elvano ingin protes keras, tapi cengkeraman Aluna di lengannya memberikan isyarat peringatan. Kalau kontrak bahan baku ini lepas, kerugian pabrik bisa menembus puluhan miliar rupiah. Elvano terpaksa membuang ego tingginya dan melangkah mengikuti langkah Pak Broto keluar dari kantor koperasi itu.

​Warung Nasi Liwet Bu Ning ternyata benar-benar warung tenda sederhana di pinggir jalan raya. Asap pembakaran kayu bakar dari dapur tradisional tercium kuat menyengat hidung. Elvano berdiri kaku di depan meja kayu panjang yang dilapisi taplak plastik motif bunga pudar. Matanya memindai sekeliling dengan tatapan horor yang tidak disembunyikan. Lalat beterbangan di sekitar gerobak, debu jalanan sesekali tertiup angin kencang, dan sebuah kipas angin usang berputar lambat berderit di sudut tenda.

​"Duduk, Pak," perintah Aluna sambil menarik kursi plastik warna biru pudar untuk Elvano.

​Elvano menolak duduk, dia melipat tangan di depan dada. "Ini tidak higienis, Aluna. Tempat ini tidak memenuhi standar sanitasi kelayakan konsumsi manusia. Lihat mangkuk air cuci tangan di atas meja itu. Itu tempat bersarangnya ribuan bakteri salmonella dan e-coli. Alat makannya juga pasti dicuci pakai air tampungan kotor."

​"Pak Broto sehat-sehat saja tuh makan di sini puluhan tahun. Malah badannya kekar begitu," balas Aluna sambil menunjuk Pak Broto yang sudah duduk santai dan mulai memesan makanan pada pelayan. "Duduk atau kontrak suplai kakao Bapak melayang ke pabrik saingan. Pilih mana? Uang atau bersih?"

​Mendengar kata kontrak melayang ke tangan pesaing, ego Elvano langsung hancur tak bersisa. Dia menghela napas pasrah, lalu terpaksa mendaratkan bokongnya di kursi plastik itu dengan gerakan kaku bak robot kekurangan pelumas mesin.

​Tiga porsi nasi liwet panas mengepul lengkap dengan ayam kampung goreng bumbu kuning, tahu, tempe, dan sambal terasi tersaji cepat di atas meja. Aromanya sangat menggugah selera, bahkan perut Elvano diam-diam berbunyi merespons bau sedap tersebut.

​"Mbak, minta sendok sama garpu satu set yang bersih," pinta Elvano cepat kepada pelayan warung yang lewat.

​Namun tangan Aluna langsung menahan lengan pelayan tersebut dengan sigap. "Tidak usah, Mbak. Bosku ini mau belajar kearifan lokal. Kami makan pakai tangan saja semua."

​Elvano melotot tajam ke arah Aluna, rahangnya mengeras. "Kamu gila? Tangan ini baru saja memegang gagang pintu kotor, laptop berdebu, dan kursi plastik sarang kuman ini. Ini sumber penyakit masuk ke sistem pencernaan!"

​"Cuci tangan pakai air jeruk nipis di mangkuk kobokan ini, Pak Bos. Kuman pasti mati dibunuh asam jeruk sampai ke anak cucunya," jawab Aluna santai sambil mencontohkan cara mencuci jari di mangkuk kecil berisi air dan irisan jeruk nipis. "Makan nasi liwet pakai sendok itu menyalahi kodrat kenikmatan hakiki. Benar kan, Pak Broto?"

​Pak Broto tertawa terbahak-bahak melihat interaksi bos dan asisten yang sangat kontras itu. Ketegangan sisa debat di kantor tadi menguap sepenuhnya. "Asistenmu ini pintar sekali mengambil hati orang daerah, Bos. Turuti saja. Sesekali jarimu kena sambal terasi pinggir jalan tidak bikin mati mendadak."

​Dengan berat hati dan wajah setengah jijik menahan siksaan batin, Elvano akhirnya mencelupkan jari-jarinya ke dalam mangkuk air cuci tangan itu. Dia mengelap tangannya dengan tisu, lalu mencoba mengambil sejumput nasi hangat berserta suwiran ayam goreng kecil. Begitu makanan itu menyentuh indra pengecapnya, mata Elvano sedikit melebar kaget. Bumbunya sangat meresap sempurna, nasinya gurih kaya rempah, dan sambalnya memberikan tendangan pedas yang luar biasa nikmat. Dia sama sekali tidak berkomentar, wajahnya tetap datar, tapi suapannya mulai melaju jauh lebih cepat dari sebelumnya.

​Melihat suasana mulai cair dan Pak Broto terlihat sangat menikmati makanannya, Aluna mulai melancarkan strategi utama negosiasi. Gadis itu tidak mengeluarkan laptop, apalagi menyajikan grafik membosankan yang bikin sakit kepala.

​"Ayam gorengnya juara banget ya, Pak Broto. Pantes Bapak awet muda, makanannya bergizi asli begini," puji Aluna membuka jalan komunikasi. "Ngomong-ngomong, cuaca belakangan memang lagi gila ya, Pak. Di kampungku sana, petani padi juga pada ngeluh gagal panen gara-gara hujan badai terus-terusan."

​Pak Broto mengangguk setuju sambil mengunyah tempe, raut wajahnya berubah dipenuhi empati tulus. "Nah, itu dia, Neng. Panen kakao kami bulan ini juga banyak yang buahnya kecil. Bukan kami sengaja bikin kualitas turun buat nipu pabrik, tapi alam yang lagi kurang bersahabat. Kalau bosmu terus memaksakan potongan lima belas persen sesuai kontrak standar, para petani kebun kami cuma bisa makan nasi pakai garam bulan ini. Bayar cicilan traktor juga pasti macet."

​Aluna menatap Pak Broto dengan penuh pengertian mendalam. "Aku paham banget, Pak. Petani itu tulang punggungnya luar biasa keras, kerjanya dari subuh sampai petang. Tapi di sisi lain, pabrik kami di ibu kota juga punya ribuan buruh yang harus digaji tepat waktu setiap akhir bulan. Kalau bahan baku kecil-kecil begini masuk mesin, mesin kami harus kerja dua kali lipat lebih lama, tagihan listrik bengkak. Kalau pabrik sampai bangkrut, ribuan buruh kami bisa kena pemutusan hubungan kerja. Anak istrinya mau makan apa besok?"

​Pak Broto terdiam mendengar penjelasan dari sudut pandang buruh pabrik. Selama ini Elvano hanya bicara soal persentase profit dan efisiensi mesin, tidak pernah menyinggung nasib sesama pekerja kecil.

​Aluna mengambil napas sejenak, menatap mata pria berkumis itu lekat-lekat. "Gini saja, Pak Broto. Gimana kalau kita cari jalan tengah biar sama-sama enak narik napas? Pabrik kami tetap jalan beroperasi normal, petani Bapak juga tetap bisa nyekolahin anak. Potongan lima belas persen memang terlalu kejam untuk kondisi panen memburuk. Bagaimana kalau sepuluh persen saja?"

​Pak Broto tampak menimbang-nimbang tawaran itu, jarinya mengetuk meja. "Tujuh persen. Tujuh persen petani kami masih bisa napas lega."

​"Sepuluh persen itu sudah sangat longgar loh, Pak. Bapak tidak perlu repot mencari pembeli baru yang belum tentu pembayarannya lancar seperti perusahaan kami," Aluna terus melobi dengan nada suara lembut namun meyakinkan. "Pak Elvano ini memang kaku kayak kanebo kering, tapi kalau soal bayar tagihan, dia tidak pernah telat sedetik pun. Betul kan, Pak?"

​"Betul juga. Bosmu ini memang pelit setengah mati, tapi bayarannya selalu tepat waktu turun dari bank. Tidak pernah kurang sepeser pun sejak zaman papanya," aku Pak Broto jujur. Pria paruh baya itu menenggak es teh manisnya perlahan, lalu menghela napas panjang tanda menyerah. "Baiklah. Delapan setengah persen. Angka pas. Aku tidak bisa turun lagi dari angka itu. Bagaimana?"

​Aluna langsung menoleh cepat ke arah Elvano yang sedang sibuk membersihkan jarinya dengan lembaran tisu. Gadis itu menendang pelan sepatu pantofel bosnya di bawah meja sebagai isyarat rahasia.

​Elvano menatap Aluna, lalu menatap Pak Broto. Otak jeniusnya langsung menghitung kilat kombinasi kerugian dan keuntungan. Delapan setengah persen masih masuk ke dalam rentang batas toleransi keuntungannya. Sangat masuk akal dan adil.

​"Sepakat. Delapan setengah persen," jawab Elvano singkat dan tegas.

​Pak Broto tersenyum lebar, kelegaan terpancar jelas dari wajah kasarnya. "Nah, begini kan enak! Negosiasi sambil makan nasi liwet jauh lebih manusiawi daripada ribut urat leher di depan layar kedap-kedip itu!"

​Suasana berubah menjadi sangat hangat dan penuh kekeluargaan. Kontrak bernilai miliaran rupiah itu akhirnya terselamatkan hanya dengan modal tiga porsi nasi liwet murah dan pendekatan obrolan sederhana ala ibu-ibu belanja di pasar tumpah.

​Setelah perjanjian lisan selesai dan Pak Broto pamit pulang duluan dengan perasaan puas, Elvano dan Aluna masih duduk tenang di kursi warung tenda tersebut.

​Aluna mengambil sebuah kerupuk bundar berukuran besar dari dalam kaleng blek di atas meja. Gadis itu menggigitnya dengan santai. Bunyi kriuk keras terdengar nyaring di telinga.

​Elvano sama sekali tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari gadis berpakaian kemeja sederhana di depannya ini. Matanya menatap lekat setiap gerakan rahang Aluna yang sedang asyik mengunyah kerupuk tersebut. Pria kaku itu mulai menyadari satu hal yang sangat krusial dalam hidupnya.

​Pendekatan logis matematis, data analitik rumit, dan grafik menukik ternyata tidak selalu bisa menyelesaikan masalah di lapangan. Ada variabel manusia yang fleksibel, yang tidak pernah masuk dalam rumus matematikanya selama ini.

​Aluna memiliki kemampuan luar biasa membaca situasi darurat, membangun empati tulus, dan menemukan jalan keluar tanpa merendahkan ego lawan bicara. Gadis ini bukan cuma sekadar auditor pengeluaran adiknya atau sekretaris pencatat jadwal.

​Elvano menyandarkan punggungnya perlahan di kursi plastik. Dia sadar sepenuhnya, gadis yang sedang asyik makan kerupuk ini adalah pelengkap kepingan puzzle bisnisnya yang selama ini hilang entah ke mana.

1
Nana Colen
Allohuakbar keluarga medit keked mengkene cap jahe
Nana Colen
ampuuun deh El 🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️.. kalau beneran ada di dunia nyata manusia seperti El 🤣🤣🤣🤣
Nana Colen
naaaah tahu rasa jan lhoooooo... satu kata MAMPUS 👎👎👎👎
Nana Colen
adik kakak sebelas duabelas.. cuman bertolak belakang
Nana Colen
ya jelas lah suka.... karena sesama orang perhitungan ya gitu 🤣🤣🤣🤣


pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Nana Colen
🤣🤣🤣🤣🤣 jawaban yang mantap
Hary Nengsih
akhirnya kelar jg nego nya🤣🤣
Murni Binti sulaiman
tuh kan baru sadar ya El... Aluna tuh paket lengkap 😁
Eli Rahma
jgn ditatap lama² nanti ada love merah jambu yg nyangkut..😂
Meliandriyani Sumardi
baru sadar dia🤣🤣 kutukan elora jadi kenyataan ternyata🤣🤣 lanjut kak
Mineaa
weeeehhh.....
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁
Murni Binti sulaiman
lama" darah tinggi ya luna😁, boss modelan gitu😂
K4RL4
motel onyo-onyo....luarrrr biasa medit pak boss ni. bsk sarapan nasi uduk hrg goceng y... murmer tp bikin kenyang.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kyknya klo udah kinerja, ga perlu lg pake kata kerja tor
Pa Muhsid
kelas paud mungkin hotel nya 0kecil
Muft Smoker
pak bos mending nginep di kandang ayam aj gratis pling harus gelut dlu sama ayam ny ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁😁
total 6 replies
Mineaa
800 M. VS. 100 rb.......
😭😭😭😭😭😭😭😭
super duper inti kerak bumi ga sih tuh pengiritan nya......🔥
Savana Liora: wkwkwk 🤣🤣🤣
total 3 replies
Wanita Aries
mode minyak
Wanita Aries
perhitungannya ngalahin emak bpknya
Wanita Aries
masih pantau krna udh baca part sampe yg krja sama dpt hukuman
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!