NovelToon NovelToon
Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Pangeran
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Neon Pena

Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1

Kerajaan Geedapa tidak pernah sedingin ini. Biasanya, kemegahan istana dengan pilar-pilar emas dan taman bunga abadi adalah simbol kemakmuran yang tak tertandingi di bawah kepemimpinan Raja Alexander. Rakyat memujanya sebagai raja yang bijaksana, namun di balik tembok tinggi itu, ketakutan mulai merayap seperti racun.

Semua bermula dari ramalan yang dibawa oleh seorang peramal buta dari negeri seberang. "Putra kedua akan lahir dengan tanda merah di pergelangan tangannya. Dia adalah pembawa kutukan. Saat dia menghirup udara dunia, kejayaan Geedapa akan runtuh dalam api," begitu bunyi ramalan yang terus berdengung di telinga Alexander selama berbulan-bulan.

Raja Alexander bukan orang yang lemah, tapi dia adalah pria yang terobsesi pada kekuasaan. Baginya, takhta adalah segalanya. Kehamilan istrinya, Ratu Elina, yang seharusnya menjadi berkat, malah berubah menjadi teror yang mencekam bagi sang Raja.

Tak. Tak. Tak.

Suara langkah kaki gelisah Alexander menggema di aula istana. Ia menatap ke luar jendela, ke arah Gunung Sandaran yang puncaknya tertutup kabut hitam.

"Paduka, Ratu sudah tiba waktunya," lapor seorang pelayan dengan suara gemetar.

Alexander tidak menjawab. Wajahnya datar, sekeras batu granit. Ia berjalan menuju kamar persalinan, bukan dengan cinta, melainkan dengan kecemasan yang meluap. Di dalam ruangan, bau anyir darah dan aroma bunga melati bercampur aduk.

"Aaaarrgh!"

Jeritan terakhir Elina membelah keheningan malam, disusul oleh suara tangisan bayi yang melengking kuat. Oek... oek...

Alexander mendekat, matanya langsung tertuju pada tangan mungil bayi yang baru lahir itu. Ada tanda merah melingkar di pergelangan tangan kirinya. Persis seperti ramalan itu. Tubuh sang Raja menegang. Pikirannya langsung dipenuhi bayangan istana yang terbakar dan rakyat yang mati bergelimpangan.

Ratu Elina, dengan sisa tenaga yang hampir habis, meraih tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Wajahnya pucat pasi, namun senyum tulus terukir di bibirnya.

"Qinar..." bisiknya sangat lirih. "Namamu... Qinar. Cahaya yang kuat..."

Huuuft...

Napas Elina terhenti tepat setelah nama itu terucap. Tangannya lemas, jatuh ke sisi tempat tidur. Sang Ratu telah tiada, menyisakan kesunyian yang menyakitkan di ruangan itu. Namun, alih-alih berduka atas kematian istrinya, Alexander justru menatap bayi itu dengan mata yang berkilat marah.

"Dia sudah membunuh ibunya. Ramalan itu benar. Dia pembawa sial!" geram Alexander"

"Paduka, apa yang harus kita lakukan pada Pangeran Qinar?" tanya seorang penasihat tua yang berdiri di sudut ruangan.

"Pangeran? Dia bukan pangeran!" suara Alexander menggelegar. "Siapkan kuda. Aku sendiri yang akan mengantarnya ke tempat di mana dia seharusnya berada. Alam liar akan menghakiminya."

Tanpa upacara pemakaman bagi istrinya yang baru saja mengembuskan napas terakhir, Alexander membungkus bayi Qinar dengan kain sutra kasar. Ia menggendong bayi itu, keluar menembus dinginnya malam menuju hutan liar di kaki Gunung Sandaran.

Srak... srak...

Kuda sang Raja membelah semak belukar yang berduri. Hutan ini dikenal sebagai tempat tanpa ampun, di mana binatang buas dan energi negatif berkumpul. Setelah sampai di tengah kegelapan, Alexander turun dari kudanya. Ia meletakkan keranjang bambu berisi Qinar di atas tanah yang lembap, tepat di bawah pohon tua yang meranggas.

"Jangan salahkan aku, Qinar. Salahkan takdirmu yang lahir sebagai penghancur," ucap Alexander tanpa emosi.

Tap. Tap.

Raja itu berbalik dan memacu kudanya kembali ke istana. Ia meninggalkan bayinya sendirian di tengah kegelapan total. Angin gunung menderu, menggoyang-goyangkan keranjang bambu tersebut seolah ingin menelannya ke dalam bumi.

Qinar kecil menggeliat. Ia tidak tahu bahwa ayahnya baru saja membuangnya seperti sampah. Ia tidak tahu bahwa di balik pepohonan, sepasang mata lapar mulai memperhatikan gerakannya.

Grrr...

Suara geraman rendah terdengar dari balik semak-semak. Sesuatu yang besar dan haus darah sedang mendekat. Malam itu, di bawah bayang-bayang Gunung Sandaran, perjalanan sang pangeran buangan baru saja dimulai dengan cara yang paling kejam.

````````````````

1
Sport One
salah fokus🤣 sama kalimat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!