Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
persembahan tengah malam
Chandra sampai rumah pas tengah malam. Jam 12 lewat. Bulan ngumpet di balik awan, nggak mau jadi saksi.
Di sepanjang jalan, Jeep-nya jalan pelan. Nggak ada suara radio, nggak ada suara Bagas. Cuma isi lamunan.
Penyesalan. Bingung. Marah. Kesel. Mual. Campur jadi satu, adukannya busuk, numpuk di dada.
Wajahnya masih datar. Punggungnya masih tegak. Wibawanya tetep Jendral. Topengnya nggak retak.
Tapi hatinya? Hatinya nangis sesenggukan. Kayak bocah 7 tahun kecebur kolam lagi, tapi kali ini nggak ada Anna yang nyelametin.
Pas buka pintu besar rumahnya — _kriiieeek_ — bukan tawa Cikal yang nyambut. Bukan suara “Paman!” sambil lari-lari. Bukan bau teh melati yang biasa diseduh Anna tiap malam.
Cuma ada kosong. Sama hening. Hening yang nusuk telinga.
Rumah gedenya sepi kaya kuburan. Lampu gantungnya nyala, tapi rasanya gelap. Dingin.
8 selir pulang ke rumah orang tuanya. Alasannya sama: “Sepi, Bu. Nggak seru kalau Anna sama Cikal nggak ada, katanya.”
Arjuna sama Chandrawati males keluar kamar. Nggak ada Cikal yang harus mereka asuh, nggak ada Anna yang harus mereka sindir. Nggak ada kerjaan.
Cuma ada Ratna. Yang senyum penuh menang. Duduk silang kaki di sofa ruang tengah. Pake daster sutra, merah lagi. Kaya ratu nunggu raja pulang perang. Nunggu Chandra pulang, biar bisa dikasih laporan “misinya sukses”.
"Mas udah pulang," ucapnya. Sumringah. Manis. Bangkit, jalan mendekat. Tangan kebuka, siap meluk. Bau parfum mawar nyengat.
Kali ini Chandra nggak balas senyum. Nggak ada. Matanya kosong, tapi di dalamnya ada bara. Penuh kebencian. Seolah liat Ratna kaya setan. Setan yang 20 tahun dia kira bidadari.
Dia nggak buka tangan buat peluk Ratna. Tangan cuma ngepal. Di samping badan. Uratnya keluar, menahan. Benci.
20 tahun tergila-gila, sekarang kaya balik waras lagi. Berasa baru beres rehabilitasi. Baru pulang dari rumah sakit jiwa. Mabuknya ilang, diganti mual.
"Mas kamu kenapa? Ada masalah di markas?" tanya Ratna. Lembut. Tangannya mau megang lengan Chandra.
Tapi suaranya najis di telinga Chandra. Kaya dengar paku digaruk ke kaca. Muak.
20 tahun dia dibohongin. Ngaku jadi penyelamat, padahal cuma tukang tipu. Ngaku korban, padahal dalang.
Nggak lama, suara sepatu. _Tak. Tak. Tak._ Bagas dateng. Dari pintu samping. Hati-hati. Insting tentara. Liat wajah atasan-nya lagi asem, rahang keras, mata merah. Kaya mau mulai perang. Perang dunia ke-3.
"Jendral," panggil Bagas pelan. Hormat. “Ini orang-orang yang hari itu gebukin Dokter Andri.”
Tangannya ngasongin map coklat. Tipis. Tapi isinya berat. Hasil penyelidikan 3 hari 3 malam. Intelijen militer.
Mata Chandra buka map itu. Priksa baik-baik. Foto, nama, alamat preman. Terus di bawah, ada satu nama. Otak di baliknya. Yang bayar. Yang nyuruh.
Seketika matanya membola. Napasnya berhenti.
Penyelidikan militer nggak mungkin ngasal. Nggak mungkin salah. Pasti sesuai. Valid.
Itu Ratna. Nama Ratna Suryaningrum. Tanda tangan Ratna. Transfer dari rekening Ratna.
Nggak banyak ngomong. Nggak ada “kamu jelasin”. Nggak ada sidang.
Chandra rogoh pinggang. _CTAK_. Ngacungin pistol. Hitam. Dingin. Moncongnya nempel pas di jidat Ratna. Jidat istrinya. Jidat yang biasa dia elus-elus, dia ciumin.
"Mas... ada apa... kamu mau apa?" Ratna gemetar. Senyumnya luntur. Lututnya lemes. Daster merahnya basah keringet dingin.
Chandra nggak jawab. Nggak buang peluru buat omongan. Cuma lemparin map itu ke muka Ratna. _PLAK!_ Kertasnya ngehempas pipi, bibir Ratna.
Ratna baca. Tangannya gemetar megang kertas. Matanya scan cepet. Makin pucet. Darahnya turun ke kaki.
"Mas... maafin aku, Mas," bela Ratna. Terbata-bata. Air mata palsu langsung on. “Aku... aku cuma cemburu. Aku cinta kamu. Aku takut kamu direbut...”
"Kamu nggak mau aku tau siapa ayah Cikal?" ucap Chandra. Dingin. Pelan. Tapi tiap kata setajam belati. “Makanya Dokter Andri dibungkam?”
"Mas, nggak gitu... kamu lupa aku yang nyelamatin kamu 20 tahun lalu? Aku... aku yang..."
NGIIING...
Telinga Chandra berdenging. Kenceng. Kaya ada bom meledak di dalem kepala.
Muak. Benci. Kesel. Jijik. Jadi satu. Muntah rasanya.
Kata-kata itu. “Aku yang nyelamatin kamu”. Kebohongan 20 tahun. Kebohongan yang bikin Anna sesek napas tiap malem. Kebohongan yang bikin Cikal manggil dia “Paman Jahat”.
Nggak ada pertimbangan lagi. Nggak ada pengadilan. Nggak ada kata maaf.
_DOR!_
Tembakan pertama. Kepala. Darah sama otak muncrat ke sofa putih. Sofa kesayangan Ratna.
_DOR!_
Tembakan kedua. Dada. Pas di jantung. Gaun sutra merah jadi makin merah.
_DOR!_
Tembakan ketiga. Perut. Badannya mental ke belakang, ngambruk ke lantai marmer.
Suara tembakan nyaring, gema di rumah gede yang kosong. Beebarengan sama nyawa Ratna yang udah sampai tenggorokan, terus lepas. Nggak ada jeritan. Nggak sempet.
Hening lagi. Tapi heningnya beda. Hening yang amis darah.
Asap tipis keluar dari moncong pistol Chandra. Tangannya nggak gemeter. Matanya nggak kedip.
Bagas di pojokan cuma bisa nunduk. Kaku. Keringet jagung. Sumpah jabatan: “Lindungi Jendral apapun yang terjadi”.
Chandra jongkok. Pelan. Nyejajarin mata sama mayat Ratna yang matanya masih kebuka. Kaget.
"Aku persembahin nyawa Ratna buat kamu, Anna," lirih Chandra. Suaranya pecah. Bukan ke mayat. Ke langit-langit. Ke arah rumah Rangga. “Maaf... baru sekarang aku waras.”
lnjut thor