Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.
"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.
Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Jantung Aeryn berdegup begitu kencang hingga ia bisa merasakannya di pangkal tenggorokan. Suara langkah kaki berat Hugo di koridor terdengar makin mendekat, bersahutan dengan teriakan panik Baskara dari lantai bawah. Tidak ada waktu lagi untuk lari lewat pintu.
Dengan gerakan cepat, Aeryn menyambar map merah marun miliknya dan menyelinap ke balik tirai beledu tebal yang menutupi jendela besar di sudut ruang kerja. Ia menahan napas, merapatkan tubuhnya ke dinding yang dingin.
Ceklek.
Pintu terbuka. Cahaya lampu koridor memotong kegelapan ruangan. Aeryn mengintip melalui celah kecil di antara kain tirai. Ia melihat Hugo melangkah masuk. Pria itu tidak menyalakan lampu utama, hanya menggunakan senter yang cahayanya menyapu seluruh ruangan.
"Nyonya Aeryn, saya tahu Anda belum keluar," suara Hugo terdengar datar, tanpa emosi. "Jangan mempersulit keadaan. Tuan Danu hanya ingin memastikan asetnya aman."
Aeryn memejamkan mata. Aset. Di mata keluarga Arkananta, dia memang tidak pernah lebih dari sekadar angka di atas kertas.
Tiba-tiba, suara langkah kaki lain terdengar terburu-buru. Baskara muncul di ambang pintu, napasnya tersengal-sengal. Ia menyalakan lampu utama, membuat ruangan mendadak terang benderang.
"Hugo? Apa yang kau lakukan di rumahku tengah malam begini?!" teriak Baskara. Matanya beralih ke brankas yang menganga terbuka. "Dan siapa yang membuka itu?!"
Hugo menurunkan senternya, namun tangannya tetap berada di dekat pinggang—tempat senjata apinya berada. "Ada penyusup, Tuan Baskara. Saya hanya melakukan tugas saya untuk melindungi kepentingan keluarga Arkananta."
"Penyusup? Di ruang kerjaku?" Baskara mendekat ke brankas dengan wajah pucat. Ia tidak menyadari Aeryn ada di balik tirai. Ia justru sibuk memeriksa isi brankasnya. "Keluar! Keluar dari sini! Ini urusan internal keluarga Valerine!"
"Saya tidak akan pergi tanpa penyusup itu," sahut Hugo dingin.
Baskara tampak tidak peduli. Ia berlutut di depan brankas, tangannya gemetar mengais tumpukan kertas yang tersisa. "Sial... semuanya berantakan."
Dari balik tirai, Aeryn melihat pemandangan yang aneh. Baskara tidak mencari dokumen hak cipta yang baru saja Aeryn ambil. Ayahnya itu justru menarik sebuah kotak besi kecil yang tersembunyi di bagian paling belakang brankas, di balik dinding baja ganda yang baru saja terbuka karena Aeryn mengutak-atik kode tadi.
"Masih ada..." gumam Baskara lega.
Hugo melangkah mendekat. "Apa itu, Tuan Baskara?"
"Bukan urusanmu! Keluar!" Baskara membentak, namun suaranya pecah karena ketakutan.
Telepon di saku Hugo bergetar. Ia melihat layarnya, lalu mendongak menatap tirai tempat Aeryn bersembunyi. Seolah-olah pelacak di ponselnya memberitahu posisi pasti Aeryn. Namun, entah mengapa, Hugo terdiam. Ia melihat Baskara yang sedang panik, lalu melihat ke arah pintu.
"Tuan Xavier sedang menuju ke sini," ucap Hugo tiba-tiba. "Jika Anda tidak ingin dia melihat apa yang ada di tangan Anda, sebaiknya Anda simpan itu kembali."
Baskara tertegun. Ia segera memasukkan kembali kotak besi itu ke dalam brankas, namun karena terburu-buru, kotak itu jatuh dan isinya berhamburan. Tumpukan surat dengan amplop berwarna merah muda kusam dan beberapa lembar foto lama.
Hugo berbalik dan berjalan keluar ruangan. "Saya akan menahan Tuan Xavier di bawah. Anda punya waktu lima menit untuk membereskan kekacauan ini, Tuan Baskara. Dan sampaikan pada putri Anda... jangan mencoba bermain terlalu jauh."
Aeryn terperangah. Hugo membiarkannya? Hugo tahu dia di sana tapi memilih untuk pergi?
Begitu pintu tertutup dan suara langkah kaki Hugo menjauh, Baskara terduduk lemas di lantai. Ia tidak menyadari bahwa Aeryn perlahan keluar dari balik tirai.
"Papa," bisik Aeryn.
Baskara tersentak hebat, ia berbalik dan melihat Aeryn dengan wajah penuh kebencian. "Aeryn? Kau... kau yang melakukannya?"
Aeryn tidak menjawab. Matanya tertuju pada surat-surat yang berhamburan di lantai. Ia memungut salah satunya. Surat itu bertanggal dua puluh satu tahun lalu. Setahun sebelum Maryam dijebloskan ke penjara.
"Baskara sayang, Maryam mulai curiga. Dia bertanya kenapa aku sering datang malam-malam ke rumah saat dia sedang tidur. Kita harus mempercepat rencana itu. Aku tidak tahan lagi melihatnya duduk di kursi Nyonya Valerine yang seharusnya milikku."
Tertanda, Ratna.
Aeryn merasakan mual yang luar biasa. Ia memungut surat lain.
"Obat itu bekerja dengan baik. Dia mulai sering sesak napas. Dokter bilang itu hanya asma, mereka tidak tahu aku mencampurnya sedikit demi sedikit. Sebentar lagi, jalan kita akan bersih."
"Papa... apa ini?" suara Aeryn bergetar hebat. Ia menatap ayahnya yang kini bersujud di lantai marmer, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Maafkan Papa, Aeryn... Papa mencintainya... Papa mencintai Ratna," isak Baskara. "Maryam terlalu kaku. Dia selalu mengatur bisnis, dia tidak pernah memberiku ruang. Ratna... Ratna memberikan apa yang tidak bisa diberikan ibumu."
"Jadi kau membiarkan wanita itu meracuni ibuku?!" teriak Aeryn. Ia melempar surat-surat itu ke wajah Baskara. "Kau tahu dia selingkuhanmu, kau tahu dia merencanakan penyingkiran Ibu, dan kau membiarkannya?!"
"Aku tidak tahu dia akan membunuhnya! Aku pikir dia hanya ingin membuat Maryam sakit agar Maryam setuju untuk bercerai!" Baskara membela diri dengan pengecut. "Saat Maryam masuk penjara, aku pikir itu cara terbaik agar dia tetap hidup tapi jauh dariku!"
Aeryn tertawa, sebuah tawa kering yang penuh luka. "Kau monster, Pa. Kau lebih buruk dari Ibu Bianca. Kau membiarkan wanita yang memberimu segalanya membusuk di sel sementara kau bercinta dengan pembunuhnya di rumah ini."
Aeryn kembali menggeledah brankas itu dengan brutal, mengabaikan tangisan Baskara. Ia ingin menemukan apa pun yang bisa menyeret mereka berdua ke neraka. Di sudut paling gelap brankas, di bawah tumpukan surat cinta menjijikkan itu, jemarinya menyentuh sebuah benda keras dan dingin.
Sebuah kotak plastik hitam kecil.
Aeryn menariknya keluar. Di dalamnya terdapat sebuah kaset pita lama yang sudah agak berdebu. Terdapat label stiker putih yang ditempel secara kasar di permukaan kaset itu.
Tulisan di label itu membuat napas Aeryn berhenti seketika.
Aeryn memicingkan mata, mencoba membaca tulisan tangan yang mulai memudar namun sangat ia kenali sebagai tulisan petugas administrasi penjara lama.
"PENGAKUAN MARYAM - SEL C-12 (RAHASIA)"
Tangan Aeryn gemetar hebat. Ia mendekap kaset itu ke dadanya. Suara ibunya. Ini mungkin rekaman suara terakhir ibunya sebelum meninggal. Rekaman yang selama dua puluh tahun disembunyikan Baskara agar dosa-dosanya tetap terkubur.
"Berikan itu padaku, Aeryn!" Baskara mencoba bangkit dan merebut kaset itu. "Itu milikku! Kau tidak boleh mendengarnya!"
"Jangan sentuh aku!" desis Aeryn, ia mundur ke arah pintu. "Kau sudah mencuri hidupnya, Pa. Kau tidak akan mencuri suaranya dariku."
Di bawah, suara teriakan Xavier terdengar memanggil nama Aeryn, bersahutan dengan suara Hugo yang mencoba menahannya. Aeryn berlari keluar dari ruang kerja itu, melewati ayahnya yang kini meraung putus asa di lantai. Ia terus berlari menuruni tangga, mendekap kaset itu seolah-olah itu adalah satu-satunya bagian dari ibunya yang masih tersisa di dunia ini.