Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.
Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.
Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.
Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.
Tapi mereka lupa satu hal.
Dia bukan korban.
Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.
Termasuk dirinya.
Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.
Kakaknya menginginkan kematiannya.
Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.
Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.
Dunia mengira Sabrina akan tunduk.
Mereka salah.
Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...
dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.
Membunuh… atau kehilangan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Kamar Bayi yang Dingin
Kamar bernuansa biru pastel itu penuh mainan mahal, tapi titik buta keamanannya membuat Sabrina muak.
Dindingnya dilapisi wallpaper motif awan berbahan sutra bertekstur mahal. Satu boneka beruang seukuran tubuh manusia dewasa duduk manis di sudut dekat jendela besar. Selimut bulu angsa tebal menumpuk rapi di atas boks bayi kayu jati berukir. Estetika kelas atas yang memanjakan mata para tamu. Murni jebakan maut bagi seorang neonatus tak berdaya.
Sabrina melangkah pelan melintasi ambang pintu. Bau cat dinding baru yang sengaja disamarkan menggunakan wewangian lavender sintetis langsung menyengat saraf hidungnya. Uap bahan kimia cat basah itu beracun untuk paru-paru bayi yang baru beberapa jam menghirup udara bumi.
Jahitan di perineumnya berdenyut konstan. Sensasi perih tarikan benang bedah mengingatkan batas toleransi fisiknya. Ia mematikan alarm sakit itu. Tangan kirinya masih mendekap erat Sebastian di balik balutan selimut termal perak.
Lasmi merapatkan kedua tangannya di depan celemek putihnya. Kepala pelayan itu berdiri angkuh di lorong, menolak masuk lebih dalam. "Nona Kania turun tangan sendiri merancang kamar ini. Boks bayinya diimpor langsung dari Italia. Nona Kania khusus memesan matras berbahan bulu domba asli agar pewaris Halim selalu merasa hangat."
Sabrina berjalan tertatih mendekati meja ganti beralas perlak medis anti air. Ia meletakkan Sebastian perlahan di atas permukaan datar steril tersebut. Bayi mungil itu menggeliat kecil, mengecap bibirnya pelan, lalu kembali terlelap damai.
Tangan kanan Sabrina yang dibalut perban melesat menggapai selimut bulu angsa tebal di dalam boks bayi. Ia menarik tumpukan kain mewah itu, lalu melemparnya kasar ke lantai marmer.
Benda itu sangat menjijikkan baginya. Bulu halus tebal adalah pembunuh senyap paling efisien. Sempurna untuk menyumbat saluran udara bayi saat tertidur tanpa meninggalkan satu pun jejak memar cekikan. Dokter forensik akan dengan sangat mudah mencatat kematian itu sebagai sindrom kematian bayi mendadak akibat kegagalan napas alami.
Lasmi memekik kaget. Pelayan tua itu melangkah maju membelalakkan mata. "Nyonya! Apa yang Anda lakukan? Selimut itu berharga ratusan juta!"
Sabrina menolak menoleh. Tangan kirinya beralih menarik bantal-bantal renda besar dari dalam boks, meraup puluhan boneka kain kecil, lalu melemparkan semuanya menyusul selimut tadi. Barang-barang impor itu berserakan kacau menghiasi ujung karpet Persia.
Ruang tidur bayi hanya membutuhkan permukaan rata dan keras. Tanpa pernak-pernik bodoh pencekik saluran pernapasan.
Sabrina memutar bahunya. Jari telunjuk kirinya menunjuk lurus boneka beruang raksasa di sudut dekat jendela. "Keluarkan benda itu dari sini."
Lasmi membusungkan dadanya berani membantah. "Anda bertindak melewati batas! Itu hadiah istimewa dari Nona Kania! Beliau menyisihkan waktunya mencari boneka langka itu."
Sabrina memotong ucapan pelayan itu cepat. Suaranya sedingin angin puncak bersalju. "Ukurannya sangat cukup untuk menyembunyikan tabung gas beracun, bahan peledak rakitan berbahan dasar C4, atau kamera penyadap nirkabel. Serat kapasnya menyimpan endapan debu pembawa infeksi paru-paru. Keluarkan dari pandanganku sekarang, atau aku yang akan merobek perut boneka itu menggunakan gunting tanaman beserta perutmu."
Lasmi terdiam mematung. Ancaman itu keluar dari bibir Sabrina tanpa intonasi tinggi, tanpa histeria tangisan. Murni ketetapan konklusif. Pelayan tua itu menatap aura iblis memancar keluar dari balik wajah pucat majikannya. Perempuan berlumur sisa darah di depannya ini tidak sedang melempar gertakan kosong.
Sabrina membalikkan badannya menuju jendela kaca raksasa di sisi selatan kamar. Kaca bening polos tanpa teralis pengaman. Jarak pandangnya mengarah lurus menyapu area bukit hijau di luar kawasan batas benteng mansion. Titik tembak terbuka tanpa halangan angin bagi penembak runduk jarak jauh.
Ia menarik kasar rantai gorden beludru tebal berbahan gelap. Menutup rapat celah cahaya. Ruangan seketika berubah gelap, memotong total garis visual lurus dari pepohonan luar gedung.
"Singkirkan ranjangnya." Sabrina memberikan instruksi berikutnya.
Boks kayu jati itu berada tepat di bawah jeruji ventilasi AC sentral. Aliran freon dingin langsung menimpa area kepala bayi. Perhitungan peletakan perabot yang sangat bodoh.
Sabrina menempelkan telapak tangannya yang bersih pada sisi boks kayu tebal itu. Ia merapatkan giginya kuat-kuat menahan pedih panggulnya. Otot lengan kirinya memompa tenaga tersisa. Dorong. Kaki kayu solid itu bergesekan kasar menciptakan suara melengking saat beradu dengan lantai marmer.
Ia memindahkan boks tersebut secara paksa menjauh sejauh dua meter. Menempelkannya rapat ke sudut dinding paling tebal di ruangan ini. Jauh dari jangkauan serpihan kaca jika jendela depan meledak diterjang peluru. Tidak berada di bawah aliran freon pembawa virus. Dan memiliki sudut pantau seratus delapan puluh derajat lurus ke arah pintu masuk utama. Pertahanan bunker mini selesai didirikan.
Lasmi menunduk merendahkan posisinya dengan gerakan sangat kaku. Ia memungut selimut dan bantal dari lantai karpet. "Saya akan melaporkan tindakan tidak masuk akal Anda ini langsung pada Tuan Halim dan Nona Kania."
Sabrina mengangkat Sebastian dari meja ganti, membaringkannya perlahan ke dalam boks kayu yang kini hanya beralaskan matras tipis rata. "Lapor saja. Bawa tumpukan sampah itu keluar. Tutup pintunya dari luar. Jangan ada satu pun staf rumah tangga yang menginjakkan kaki di lantai ini tanpa panggilanku."
Pintu bergeser mundur. Klik pengunci logam otomatis berbunyi presisi menutup akses koridor.
Ruangan besar itu kini menyisakan Sabrina dan bayinya. Kesunyian turun menyelimuti setiap sudut bata.
Sabrina menyandarkan punggungnya pada dinding solid tepat di samping boks bayi. Kedua lutut kakinya perlahan merosot turun menuju lantai karpet tebal. Ia membiarkan seluruh beban tubuhnya luruh jatuh duduk. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes cepat membasahi pelipisnya. Rasa panas membakar sayatan pangkal pahanya sukses membuat pandangan matanya berputar mual sejenak. Jemarinya meremas pinggiran karpet kasar, memaksa perpindahan titik rasa nyeri itu berpindah ke goresan serat benang di jarinya.
Ini momen napasnya. Jeda istirahat singkat usai memeras habis bahan bakar cadangan di dalam sumsum tulang belakangnya.
Tangan kirinya menggapai masuk melewati sela-sela jeruji kayu boks bayi. Kulit pucatnya menyentuh lembut pipi kemerahan Sebastian. Kulit bayi itu terasa sehangat mentari pagi hari. Dada kecil anak laki-laki itu bergerak naik turun mengambil udara steril dengan ritme teratur. Sebastian mendengkur sangat pelan tanpa memedulikan ketegangan luar.
Sentuhan fisik ini terasa sangat aneh bagi jiwa sang pembunuh. Dulu menyentuh manusia selalu bermakna mencari titik henti denyut nadi. Kali ini sentuhannya membagikan sisa napas kehidupannya sendiri. Garis rahang tegas bayi itu murni menjiplak bentuk wajah arogan Adrianus Halim, namun ketenangan tidurnya di tengah bahaya mutlak menyerap pertahanan mental Maureen.
"Kita dirikan benteng kita sendiri, Jagoan," bisik Sabrina membelah sunyi kamar. Suaranya serak kehabisan cairan. "Tidak ada boneka raksasa penyimpan bom. Tidak ada selimut mewah pencekik napas. Ibu cuma bermodal darah dan insting untuk menjagamu malam ini."
Cinta keibuan yang asing, brutal, dan memabukkan ini mengalir menderas menenggelamkan rongga dadanya. Membunuh total ego dingin seorang algojo pembayar nyawa. Ia rela menukar detak jantungnya sendiri detik ini juga asalkan nyawa di dalam boks kayu itu terus hidup.
Otak taktis Sabrina kembali berdengung. Ruangan ini bersih dari potensi ancaman jebakan fisik. Matanya beralih mencari ancaman pemantauan digital nirkabel.
Kania Tanjung tidak mungkin membiarkan bayi ini lepas dari monitor paniknya begitu saja. Sabrina mendongakkan kepala. Pandangannya memindai tepian plafon gipsum, mencatat presisi titik bayangan lampu hias, celah jeruji ventilasi sirkulasi, dan ujung-ujung atas lemari pakaian setinggi langit-langit.
Satu titik lensa hitam seukuran kancing kemeja terpasang kamuflase sempurna menempel di sudut lis plafon arah tenggara. Lensa itu terarah lurus menyorot posisi tepat di atas boks bayi.
Sabrina memaksa lututnya kembali berdiri tegap. Ia memanjat lincah menaiki sebuah bangku rias pendek di dekat lemari pakaian. Tangan kirinya menggapai alat perekam visual mini tersebut.
Kamera pengawas di sudut ruangan berkedip merah. Sabrina memutarnya tiga derajat ke dinding.