Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Jejak Menuju Kota Tanah Merah
Matahari akhirnya muncul setelah berhari-hari bersembunyi di balik awan pengawas. Sinar jingga keemasannya menerobos celah-celah kanopi, menciptakan berkas-berkas cahaya miring yang menari-nari di lantai hutan. Tapi Xiao Chen tahu itu bukan pertanda baik. Awan pengawas masih di sana—hanya sedikit menipis, seolah memberi ruang bagi matahari untuk mengamati dari sudut yang berbeda.
Ia terus berjalan ke utara. Hui di sampingnya, Yue Que terselip di balik jubah hitam.
Tiga hari sejak pertemuannya dengan para Pemburu Liar. Tidak ada tanda-tanda mereka kembali, tapi Xiao Chen tidak lengah. Getaran di tulang punggungnya terus memindai sekitar, menangkap setiap langkah kaki tupai, setiap kepakan sayap burung, setiap desiran angin yang mencurigakan.
"Kau berjalan tanpa tujuan," kata Yue Que suatu sore. "Ke utara itu arah, bukan tujuan."
"Aku tahu," jawab Xiao Chen. "Tapi aku tidak punya peta dunia ini. Satu-satunya tempat yang kukenal adalah Sekte Langit Pedang dan desa-desa di sekitarnya. Selebihnya... hanya nama-nama yang kudengar dari obrolan para murid."
"Lalu kenapa ke utara?"
"Karena selatan adalah Sekte Langit Pedang. Barat adalah Hutan Bisu dan Jurang Naga Pemakaman. Timur adalah lautan lepas. Hanya utara yang belum kujelajahi. Dan kalau para Pemburu Liar datang dari utara, artinya di sana ada peradaban. Mungkin kota. Mungkin pasar. Tempat di mana aku bisa mencari informasi."
"Masuk akal."
Mereka melanjutkan perjalanan hingga senja mulai merayap. Di kejauhan, Xiao Chen melihat sesuatu yang tidak biasa. Bukan pohon. Bukan bukit. Tapi asap.
Bukan asap api unggun biasa. Asap ini tebal, hitam, membubung tinggi ke langit. Asap dari sesuatu yang besar yang sedang terbakar.
Xiao Chen mempercepat langkahnya. Hui berlari di depannya, hidungnya mengendus udara.
Mereka tiba di tepi hutan, dan pemandangan di hadapannya membuat Xiao Chen berhenti.
Sebuah kota kecil terbakar.
Rumah-rumah dari kayu dan batu hangus, atap-atap jerami runtuh, jalanan dipenuhi puing dan mayat. Penduduk yang selamat—kebanyakan orang tua dan anak-anak—berkumpul di lapangan terbuka, menangis dan memeluk satu sama lain. Beberapa pria dewasa mencoba memadamkan api dengan ember air, tapi usaha mereka sia-sia.
Dan di tengah-tengah reruntuhan, Xiao Chen melihat sesuatu yang dikenalnya.
Simbol tato naga merah.
Itu adalah bekas-bekas yang ditinggalkan oleh kelompok Gorak. Para Pemburu Liar.
Xiao Chen mengepalkan tangannya. "Mereka melakukan ini."
"Mereka pemburu, perampok. Inilah yang mereka lakukan. Setelah gagal menangkapmu, mereka melampiaskannya ke kota terdekat."
Seorang wanita tua dengan wajah penuh jelaga melihat Xiao Chen berdiri di tepi hutan. Ia berjalan tertatih-tatih mendekat, matanya merah dan kosong.
"Nak... kau dari mana? Jangan masuk ke kota. Pemburu Liar... mereka baru saja pergi. Mereka membunuh cucuku. Mereka mengambil semua perempuan muda. Mereka..." Suaranya pecah.
Xiao Chen menatap wanita itu. Usianya mungkin sama dengan Nenek Lan dari Desa Bambu Hijau. Bedanya, Nenek Lan masih bisa menunggu cucunya pulang. Wanita ini sudah kehilangan cucunya selamanya.
"Apa nama kota ini?" tanya Xiao Chen pelan.
"Kota Tanah Merah," jawab wanita itu. "Dinamai begitu karena tanah di sini berwarna merah seperti darah. Sekarang... sekarang tanahnya benar-benar merah karena darah."
"Ke mana para Pemburu Liar itu pergi?"
Wanita itu menunjuk ke utara. "Mereka bilang akan ke Kota Batu Hitam. Markas besar mereka di sana. Mereka... mereka menyuruh kami memberi tahu siapa pun yang bertanya, bahwa ini balasan untuk seseorang berjubah hitam yang melukai pemimpin mereka."
Xiao Chen merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya. Jadi ini karena dia. Karena dia melukai Gorak, para Pemburu Liar itu membantai kota ini.
"Itu bukan salahmu," kata Yue Que. "Mereka akan melakukan ini cepat atau lambat. Kau hanya dijadikan alasan."
"Aku tahu," jawab Xiao Chen dalam hati. "Tapi itu tidak membuatnya lebih baik."
Ia menatap wanita tua itu. "Nenek, apa yang bisa kulakukan untuk membantu?"
Wanita itu menggeleng lemah. "Tidak ada yang bisa kau lakukan, Nak. Kecuali kau bisa menghidupkan kembali orang mati. Pergilah. Selamatkan dirimu. Kota Batu Hitam adalah sarang ular. Jangan ke sana."
Tapi Xiao Chen sudah memutuskan.
"Ke mana arah Kota Batu Hitam?" tanyanya lagi.
Wanita itu menatapnya, matanya yang tua menyipit. "Kau... kau yang mereka cari? Yang berjubah hitam?"
Xiao Chen tidak menjawab.
Wanita itu menghela napas panjang. "Kalau kau memang dia, Nak... jangan mati sia-sia. Pemburu Liar itu banyak. Ratusan. Pemimpin mereka yang sebenarnya bukan Gorak. Gorak hanyalah anak buah. Pemimpin sebenarnya adalah seseorang yang disebut Jenderal Tanpa Bayangan. Tidak ada yang pernah melihat wajahnya. Katanya dia bisa membunuh tanpa terlihat."
"Jenderal Tanpa Bayangan," ulang Xiao Chen.
"Dia penguasa Kota Batu Hitam. Semua kejahatan di wilayah utara berasal dari sana. Perdagangan budak, pembunuhan, pencurian organ kultivator... semua dikendalikan olehnya. Kalau kau pergi ke sana, kau tidak akan kembali."
Xiao Chen menatap ke utara. Langit di sana lebih gelap, seolah awan pengawas yang mengikutinya kini berkumpul di atas kota itu.
"Aku tetap akan pergi," katanya. "Bukan untuk membalas dendam. Tapi karena jika aku terus berlari, mereka akan terus membantai orang-orang tak bersalah atas namaku."
Wanita tua itu terdiam. Lalu ia merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah liontin tulang kecil—seukuran ibu jari, diukir dengan simbol yang tidak dikenali Xiao Chen.
"Ini adalah jimat peninggalan suamiku. Dia dulu seorang pemburu juga, tapi bukan pemburu liar. Dia pemburu binatang buas. Jimat ini katanya bisa melindungi pemakainya dari niat jahat. Aku tidak tahu apakah itu benar. Tapi... bawalah. Mungkin berguna."
Xiao Chen menerima liontin itu. Bahannya hangat di telapak tangannya. Ia menggantungkannya di leher, di bawah jubah hitamnya.
"Terima kasih, Nenek. Siapa namamu?"
"Panggil saja Nenek Tanah Merah. Semua orang di sini memanggilku begitu."
Xiao Chen mengangguk. "Aku akan kembali, Nenek. Dan saat aku kembali, Kota Batu Hitam tidak akan lagi menjadi sarang ular."
Ia berbalik, melangkah ke utara. Hui mengikutinya.
Wanita tua itu menatap kepergiannya, lalu mendongak ke langit. Awan-awan gelap berkumpul di atas, dan untuk pertama kalinya sejak kota itu terbakar, ia merasakan sesuatu selain putus asa.
Harapan. Sekecil apa pun.
---
Xiao Chen berjalan sepanjang malam. Bulan bersembunyi di balik awan, tapi matanya sudah terbiasa dengan kegelapan. Energi Chaos di tulang-tulangnya memberinya penglihatan yang berbeda—bukan melihat cahaya, tapi merasakan bentuk dan jarak.
Saat fajar menyingsing, ia melihatnya di kejauhan.
Kota Batu Hitam.
Benar-benar sesuai namanya. Kota itu dibangun dari batu-batu hitam mengkilap, seperti obsidian raksasa yang dipahat menjadi tembok dan menara. Gerbangnya terbuat dari besi berkarat, dijaga oleh dua pria bertubuh kekar dengan kapak di punggung. Bendera-bendera hitam dengan simbol naga merah berkibar di sepanjang tembok.
Di atas kota itu, awan pengawas yang mengikuti Xiao Chen kini berputar-putar, seolah tertarik pada sesuatu di dalam sana.
"Kota ini penuh dengan energi gelap," kata Yue Que. "Bukan Energi Chaos sepertimu. Tapi energi dari penderitaan, kematian, dan keserakahan. Tempat seperti ini adalah sarang yang sempurna bagi iblis... dan bagi seseorang yang ingin bersembunyi dari Surga."
"Kenapa bersembunyi dari Surga?"
"Karena energi gelap mengaburkan penglihatan Surga. Sama seperti Jubah Perangmu menyembunyikan Energi Chaos, kota ini menyembunyikan apa pun di dalamnya. Jenderal Tanpa Bayangan itu... dia mungkin bukan sekadar penjahat biasa. Dia mungkin seseorang yang sengaja bersembunyi."
Xiao Chen menatap kota hitam di hadapannya. Di suatu tempat di dalam sana, ada Gorak, ada para Pemburu Liar, dan ada Jenderal Tanpa Bayangan. Dan mungkin... mungkin ada jawaban tentang bagaimana cara bertahan dari pengawasan Surga.
"Ayo, Hui. Kita masuk."
"Bagaimana caranya? Kau tidak bisa begitu saja berjalan lewat gerbang. Mereka mengenali jubah hitammu."
Xiao Chen merenung sejenak. Lalu ia menatap Hui. "Kau mau membantuku?"
Hui menggeram, ekornya bergoyang.