Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Pedang Bintang Jatuh
Dapur Luar sepi seperti kuburan.
Xiao Fan duduk di lantai tanah dengan pedang berkarat di pangkuannya. Cahaya matahari yang masuk melalui celah dinding bambu jatuh tepat di atas bilah pedang itu, memperlihatkan betapa rusaknya senjata ini. Karat menutupi hampir seluruh permukaan. Gagangnya longgar. Sarungnya bahkan sudah tidak ada.
Tapi Xiao Fan tidak melihat karat. Ia melihat apa yang ada di baliknya.
Logam Bintang Jatuh. Konon, logam ini berasal dari pecahan bintang yang jatuh ke bumi puluhan ribu tahun lalu. Hanya ada tujuh pedang di seluruh benua yang terbuat dari bahan ini. Enam di antaranya hilang ditelan sejarah. Yang ketujuh... ada di pangkuannya sekarang.
"Kau sudah menungguku lama sekali, ya?" bisik Xiao Fan sambil mengelus bilah pedang itu.
Pedang itu bergetar pelan. Bukan getaran biasa. Getaran yang hanya bisa dirasakan oleh seseorang yang memiliki ikatan dengan benda pusaka.
[Mendeteksi artefak kuno: Pedang Bintang Jatuh.]
[Kondisi: 3% tersisa. Inti senjata hampir padam.]
[Saran: Alirkan Qi Kematian untuk memulihkan sebagian kekuatannya.]
Xiao Fan tidak ragu. Ia meletakkan telapak tangannya di atas bilah pedang. Qi Kematian dari 108 meridiannya mengalir perlahan, merembes ke dalam logam kuno itu.
Reaksinya seketika.
Karat di permukaan pedang mulai mengelupas. Bukan rontok, tapi seperti... terbakar. Asap hitam tipis mengepul dari bilah pedang, dan di bawahnya, logam berwarna perak kebiruan mulai terlihat. Warna yang sama dengan bintang di langit malam.
[Pemulihan Pedang Bintang Jatuh: 7%... 12%... 18%...]
Xiao Fan menghentikan aliran Qi-nya. Ia tidak bisa menghabiskan terlalu banyak energi. Malam ini ia akan membutuhkan setiap tetes Qi Kematian yang tersisa.
[Pemulihan dihentikan pada 18%.]
[Kemampuan pedang saat ini: Memotong Qi pelindung hingga tingkat Fondasi Inti Puncak.]
Cukup. Untuk menghadapi para Tetua Sekte Langit Biru, kemampuan itu sudah lebih dari cukup.
Xiao Fan berdiri dan menyelipkan pedang itu di pinggangnya. Tidak ada sarung, jadi ia hanya mengikatnya dengan tali kain. Penampilannya tetap seperti pemuda lusuh tak berbahaya. Tapi siapa pun yang tahu apa yang tersembunyi di balik jubah usangnya akan gemetar ketakutan.
Ia melangkah keluar dari Dapur Luar. Matahari sudah condong ke barat. Lima jam lagi menuju tengah malam.
"Xiao Fan!"
Suara itu berasal dari belakangnya. Xiao Fan menoleh dan mendapati Tetua Leng Yue berdiri di ujung jalan setapak. Wajahnya masih pucat, bahunya masih diperban, tapi matanya tajam seperti biasa.
"Tetua. Harusnya kau beristirahat."
Leng Yue mengabaikan ucapan itu. Ia berjalan mendekat, langkahnya sedikit pincang. "Aku perlu bicara denganmu. Tentang tadi malam. Tentang siapa kau sebenarnya."
Xiao Fan menyandarkan bahu ke dinding dapur. "Tanya saja."
Leng Yue menatapnya lama. "Kau adalah reinkarnasi Kaisar Pedang, bukan?"
Pertanyaan langsung tanpa basa-basi. Xiao Fan menghargai kejujuran itu.
"Ya."
Satu kata itu membuat Leng Yue menarik napas panjang. Ia menutup matanya sejenak, seolah mencoba menenangkan diri. "Aku sudah menduganya. Sejak hari pertama kau datang ke sekte ini. Ada sesuatu di matamu yang tidak dimiliki murid biasa. Tapi aku tidak pernah menyangka..."
"Tetua takut?" potong Xiao Fan.
Leng Yue membuka mata. "Harusnya aku takut. Kaisar Pedang adalah legenda. Pembunuh dewa. Penghancur dinasti. Tapi anehnya, aku tidak takut. Aku justru... lega."
Xiao Fan mengangkat alis. "Lega?"
"Sekte Langit Biru sudah busuk dari dalam, Xiao Fan." Suara Leng Yue berubah getir. "Tetua Tertinggi... dia bukan orang yang sama seperti dulu. Dia tergoda oleh kekuatan gelap. Mo Tianfeng adalah bonekanya. Mereka berencana mengorbankan seluruh murid sekte untuk membuka segel kuno di bawah Puncak Utama."
Informasi baru. Xiao Fan menyimpannya dalam hati.
"Kenapa Tetua memberitahuku ini?"
"Karena aku ingin kau menghancurkan mereka." Leng Yue menatap Xiao Fan lurus. "Aku tahu kau merencanakan sesuatu malam ini. Aku tidak akan menghentikanmu. Aku hanya ingin kau menyelamatkan murid-murid yang tidak bersalah. Mereka hanya korban."
Xiao Fan diam sejenak. Lalu ia mengangguk. "Aku tidak membunuh orang yang tidak pantas dibunuh. Hanya mereka yang berdosa padaku."
Leng Yue menghela napas lega. "Terima kasih."
Ia berbalik hendak pergi, tapi berhenti setelah dua langkah. "Oh, dan satu hal lagi. Tetua Tertinggi kembali lebih awal. Dia sudah ada di Puncak Utama sekarang. Dan dia... dia membawa seseorang."
"Siapa?"
"Seorang wanita berjubah ungu. Aku tidak mengenalinya. Tapi auranya..." Leng Yue menelan ludah. "Auranya hampir setara dengan Tetua Tertinggi. Mungkin lebih kuat."
Xiao Fan merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya. Bukan karena takut. Tapi karena firasat buruk.
[Peringatan. Mendeteksi kehadiran entitas yang dikenal dalam database kehidupan sebelumnya.]
[Identitas: Ning Yao — Mantan kekasih Kaisar Pedang. Pengkhianat yang membunuhnya 10.000 tahun lalu.]
Darah Xiao Fan mendidih.
Ning Yao. Wanita yang dulu ia cintai. Wanita yang menikamnya dari belakang saat ia lengah. Wanita yang menjadi alasan mengapa ia jatuh dan bereinkarnasi menjadi pemuda lemah ini.
Dan sekarang, dia ada di sini. Di Sekte Langit Biru. Bersama Tetua Tertinggi.
"Xiao Fan?" Leng Yue menyadari perubahan ekspresi pemuda itu. "Kau mengenal wanita itu?"
Xiao Fan tidak menjawab. Tangannya mengepal erat di gagang Pedang Bintang Jatuh. Matanya berubah—sebelah emas, sebelah hitam—bersinar terang di bawah sinar matahari sore.
"Tetua," suaranya berubah dingin menusuk. "Malam ini... mungkin akan lebih berdarah dari yang kurencanakan."
Ia melangkah melewati Leng Yue, menuju Puncak Pelana Kayu. Ia harus memastikan Liu Ruyan aman. Lalu, saat tengah malam tiba, ia akan naik ke Puncak Utama.
Bukan hanya untuk menghancurkan sekte.
Tapi untuk menagih hutang darah sepuluh ribu tahun.