NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Menjadi Miliader

Terlahir Kembali Menjadi Miliader

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

[cp akan terlambat]
negara : Indonesia

sinopsis:
Mati setelah seumur hidup bekerja sendirian itu melelahkan. Ketika Olyvia Arabella membuka mata, ia kembali ke usia 20 tahun—tepat saat calon ibu mertua menyodorkan amplop "uang perpisahan" yang ternyata hanya berisi seratus ribu. Dunia sudah gila: nilai uang menurun 10.000 kali lipat, dan hanya Olyvia yang sadar karena rekening bank masa depannya ikut terbawa. Sekarang ia menjadi satu-satunya konglomerat di dunia yang mendadak miskin. Tapi kekayaan tak membuat hidupnya lebih mudah, terutama saat para pria dari masa lalunya kembali—kali ini dalam keadaan jauh lebih melarat. Balas dendam tak cukup dengan uang. Tapi setidaknya, Olyvia bisa membeli waktu untuk memilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

adiknya terkena masalah? uang solusinya

Olyvia yang sejak tadi diam langsung menegakkan tubuh. iPhone 17 Pro Max? Harga normal dua puluh lima juta. Berarti di dunia ini cuma dua ribu lima ratus rupiah. Cuma harga gorengan.

Tapi ia sadar, bagi keluarganya yang hidup pas-pasan, dua ribu lima ratus rupiah adalah jumlah yang tidak kecil. Apalagi di desa ini, penghasilan ibunya dari warung paling hanya seribu sampai lima puluh rupiah per hari. Ayahnya sebagai petani penggarap mungkin hanya dapat seratus rupiah per minggu.

Gila. Di mata gue dua ribu lima ratus itu receh. Tapi di mata mereka, itu setara dua puluh lima juta. Dunia ini memang sudah jungkir balik.

Bu Sumarni duduk lemas. “Ya ampun, Nak. HP semahal itu. Kita mau ganti pake apa? Uang di warung aja cuma cukup buat belanja besok.”

Galang menunduk. “Lidia ngasih waktu seminggu, Bu. Katanya kalo gak diganti, dia laporin ke sekolah. Mbak Siska bisa diskors.”

Suasana hening. Dari dalam kamar, terdengar isak tangis Siska yang tertahan. Olyvia menatap ibunya yang mulai berkaca-kaca, lalu menatap adiknya yang merasa bersalah.

Oke, Oly. Saatnya turun tangan.

Olyvia berdiri. “Bu, tenang dulu. Soal HP Siska, biar Olyvia yang urus.”

Bu Sumarni menoleh. “Kamu? Kamu kan masih kuliah, Nduk. Uang dari mana?”

Olyvia tersenyum tenang. “Olyvia kan dapat uang saku lebih dari beasiswa. Ada tabungan sedikit. Cukup kok, Bu. Gak usah khawatir.”

Itu bohong. Tapi kebohongan yang perlu. Olyvia tidak mungkin bilang bahwa ia punya saldo lima koma delapan miliar rupiah di rekeningnya, dan gaji pensiun dua belas juta masuk setiap bulan yang kalau di kehidupan sebelumnya bisa setara triliunan. Ibunya bisa kaget dan malah curiga.

Bu Sumarni menggeleng. “Jangan, Nduk. Uang kamu buat kuliah aja. Ibu sama Bapak yang cari pinjaman dulu ke tetangga.”

“Bu, percaya sama Olyvia. Ini cuma HP. Olyvia bisa bantu. Lagian Siska kan sebentar lagi mau daftar kuliah. Jangan sampai dia stres gara-gara masalah begini.”

Mendengar kata “kuliah”, Bu Sumarni terdiam. Ia tahu Siska memang bercita-cita masuk universitas negeri. Tapi biaya pendaftaran, uang gedung, dan hidup selama kuliah adalah beban yang selama ini ia pendam dalam hati.

Olyvia meraih tangan ibunya. “Bu, Olyvia janji. Mulai sekarang, Olyvia yang bakal bantu biaya kuliah Siska. Sama Galang juga nanti. Ibu sama Bapak gak usah pusing lagi.”

Bu Sumarni menatap anak sulungnya dengan mata berkaca-kaca. “Kamu yakin, Nduk? Kamu sendiri masih kuliah.”

“Yakin, Bu. Olyvia udah gede. Udah bisa cari uang sendiri. Ibu tenang aja.”

Galang yang mendengar itu ikut terharu. Ia menatap kakaknya dengan kagum. “Mbak Olyvia keren banget.”

Olyvia mengacak rambut adiknya. “Kamu juga nanti keren. Tunggu aja.”

Malam harinya, Pak Harjo pulang dari sawah dengan tubuh letih. Ia terkejut melihat Olyvia sudah di rumah, lalu semakin terkejut mendengar masalah Siska. Namun setelah dijelaskan Olyvia bahwa ia akan membantu, Pak Harjo hanya mengangguk pelan. Pria pendiam itu tidak banyak bicara, tapi matanya berkaca-kaca penuh haru.

Setelah makan malam sederhana bersama, Olyvia masuk ke kamar Siska. Adiknya itu masih duduk di sudut ranjang sambil memeluk bantal. Matanya masih bengkak.

Olyvia duduk di sebelahnya. “Sis, berhenti nangis. Mbak udah bilang sama Ibu, Mbak yang ganti HP-nya.”

Siska mendongak. “Tapi Mbak, itu iPhone 17 Pro Max. Harganya dua ribu lima ratus rupiah! Itu mahal banget. Mbak pasti butuh waktu lama buat nabung.”

Olyvia nyaris tersedak mendengar kata “mahal banget”. Dua ribu lima ratus. Mahal banget. Ya Tuhan, gue kemarin aja beli laptop gaming empat ribu dua ratus tanpa mikir.

Ia menahan tawa dan mengusap kepala Siska. “Sis, dengerin Mbak. Buat Mbak, uang segitu bukan masalah. Mbak punya tabungan. Lagian Mbak juga dapet beasiswa lebih. Kamu gak usah khawatir. Yang penting kamu fokus belajar buat masuk universitas.”

Siska terisak. “Tapi Mbak, aku juga bingung. Sebentar lagi pendaftaran kuliah dibuka. Biaya daftarnya aja tiga ratus rupiah. Belum biaya hidup nanti. Ibu sama Bapak pasti keberatan.”

Olyvia menggenggam tangan adiknya. “Sis, mulai sekarang kamu gak usah mikirin uang. Biaya daftar, uang gedung, uang kos, semua Mbak yang tanggung. Kamu tinggal pilih universitas mana yang kamu mau. Nilai kamu bagus kan?”

Siska mengangguk pelan. “ ranking dua.”

“Nah, itu. Kamu pasti bisa masuk universitas negeri. Mbak bakal biayain semuanya. Kamu tinggal belajar yang rajin.”

Siska menatap kakaknya dengan mata berbinar. “Beneran, Mbak? Mbak gak bohong?”

Olyvia tersenyum. “Mbak gak pernah bohong. Kecuali soal mantan. Itu beda urusan.”

Siska akhirnya tertawa kecil. Ia memeluk Olyvia erat-erat. “Makasih, Mbak. Aku sayang banget sama Mbak.”

Olyvia membalas pelukan itu. Ini rasanya jadi kakak yang bisa diandelin. Enak juga.

Keesokan paginya, Olyvia bangun lebih awal. Ia membantu ibunya membuka warung dan menata barang dagangan. Harga-harga di warung itu membuatnya geleng-geleng kepala.

Sebungkus mi instan: Rp**300 sen**,-

Sebotol kecap manis: Rp150 sen,-

Satu kilogram beras: Rp800 sen,-

Satu liter minyak goreng: Rp600 sen,-

Dengan gaji pensiun gue dua belas juta per bulan, gue bisa beli seluruh stok warung ini ribuan kali lipat. Tapi gue gak bisa langsung kasih uang banyak ke Ibu. Nanti beliau curiga. Pelan-pelan aja.

Ia punya rencana. Setelah urusan HP Siska selesai, ia akan mulai membeli properti di kota atas nama ibunya. Tapi untuk sekarang, ia harus menyelesaikan masalah kecil ini dulu dengan elegan.

Sekitar pukul sembilan pagi, Siska keluar kamar dengan wajah lebih tenang. “Mbak, nanti siang Lidia mau datang ke rumah. Katanya mau ngomongin langsung soal HP-nya.”

Olyvia mengangguk. “Oke. Biar Mbak yang ngomong.”

Siska ragu. “Tapi Lidia itu anak orang kaya, Mbak. Bapaknya punya toko bangunan di kota. Dia suka ngomongnya ketus.”

Olyvia nyengir. Anak orang kaya? Di dunia di mana iPhone cuma dua ribu lima ratus, definisi kaya itu udah jungkir balik, Dek. Tapi gue paham. Di mata kalian, dia tetap sosok yang mengintimidasi.

“Tenang aja, Sis. Mbak udah biasa ngadepin orang kayak gitu. Lagian ini cuma masalah HP.”

Siang harinya, Lidia datang bersama sopir pribadinya. Sebuah mobil SUV hitam mengkilap parkir di depan rumah Olyvia, kontras dengan suasana desa yang sederhana. Lidia turun dengan wajah sedikit angkuh. Gadis SMA itu mengenakan seragam mahal dan memegang iPhone 17 Pro Max 1TB warna ungu cash yang lain juga masih mulus.

Olyvia menyambutnya di teras warung dengan senyum sopan. “Lidia ya? Silakan masuk. Saya kakaknya Siska.”

Lidia menatap Olyvia sekilas, lalu masuk dan duduk di kursi tamu. Siska duduk di sebelah kakaknya dengan gugup.

“Jadi begini, Mbak,” Lidia memulai dengan nada datar. “HP saya yang dipecahin Siska itu masih baru. Saya beli minggu lalu. Harganya dua ribu lima ratus rupiah. Saya minta ganti sesuai harga itu.”

Olyvia mengangguk tenang. “Tentu. Itu hak kamu.”

Lidia sedikit terkejut melihat respons Olyvia yang begitu santai. Biasanya orang akan berdebat atau meminta keringanan. “Jadi Mbak sanggup ganti?”

“Sanggup. Sekarang juga boleh.”

Olyvia merogoh dompetnya. Di dalamnya ada beberapa lembar uang ribuan dan lima ribuan. Ia mengambil tiga lembar uang seribuan. Total tiga ribu rupiah. Sorry ya saya gak ada uang kecil.

Ia menyerahkannya ke Lidia. “Ini tiga ribu. Dua ribu lima ratus buat ganti HP. Lebihnya lima ratus buat uang bensin dan ongkos sopir kamu.”

Lidia memandang uang itu dengan mata membelalak. Bukan karena jumlahnya kecil, tapi karena ia tidak menyangka akan dibayar secepat itu. Bahkan dengan uang lebih.

“Ini… Mbak serius?”

“Serius. Ambil aja. Dan tolong sampaikan ke orang tua kamu, masalah ini sudah selesai. Siska gak akan diskors atau dilaporin ke sekolah.”

Lidia mengangguk pelan. Ia mengambil uang itu dan memasukkannya ke dalam dompet kecilnya. Nada bicaranya berubah lebih sopan. “Iya, Mbak. Terima kasih. Saya permisi.”

Setelah Lidia pergi, Siska menatap kakaknya dengan mulut ternganga. “Mbak… kok bisa Mbak punya uang segitu?”

Olyvia mengangkat bahu. “Tabungan, Sis. Mbak kan hemat.”

Siska memeluk Olyvia lagi. “Mbak bener-bener penyelamat. Aku gak tau harus gimana tanpa Mbak.”

Olyvia menepuk punggung adiknya. “Kamu gak perlu tau. Kamu cuma perlu belajar. Nanti sore Mbak temenin daftar universitas online. Kita pilih jurusan yang kamu mau.”

Malam harinya, Olyvia duduk di kamarnya. Ponselnya ia nyalakan sebentar untuk memeriksa rekening. Saldo masih aman. Gaji pensiun bulan depan akan masuk dua minggu lagi. Sementara itu, ia juga melihat ada beberapa pesan dari nomor tidak dikenal yang otomatis terblokir. Arjuna masih berusaha.

Monyet itu masih aja nyari perhatian. Untung gue udah blokir semua.

Ia mematikan ponsel dan merebahkan diri. Hari ini ia telah menyelamatkan adiknya dari masalah kecil yang bagi keluarganya terasa besar. Tapi ini baru langkah awal. Rencana besarnya masih menunggu.

Besok gue mulai cari info properti di kota. Ibu bakal jadi Ratu Kontrakan. Dan semuanya akan berubah, tapi harus pelan-pelan supaya ibu tidak berpikir aneh-aneh tentang ku.

Olyvia memejamkan mata. Di luar, suara jangkrik mengiringi malam yang tenang. Di kejauhan, samar-samar terdengar suara televisi tetangga yang menyiarkan berita ekonomi tentang stabilitas harga yang "masih terkendali".

Terkendali? Bagi kalian mungkin iya. Bagi gue, ini surga.

1
Fauziah Daud
terharu sangat... trusemangattt
nana
bagus banget
Fauziah Daud
seru bangat... trusemangattt
Fauziah Daud
seru.. trusemangattt
Fauziah Daud
trusemangattt
Kirina
hmmm tadinya bingung mau komentar apa, tapi e... nama agen nya kok sama semua ya sama nama ibu nya arjuna yaitu 'Ratna', apa jangan2 mereka kemabar lagi🤣🤣🤣🤣
Kirina: bagaimana dengan mia, reva, melinda, silviana, cecil, siska, moli, fani, novi, fitri, atau yang lainnya gitu....
total 2 replies
Andira Rahmawati
pindah apart aja ..yg tingkat keamanannya lebih tinggi..👍
Andira Rahmawati
hadirr...thorr💪💪💪
Kirina
ini kapan beli properti buat ibunya thor kok di undur mulu heran atau author lupa lagi
Kirina: gak papa 😇 tetep ya kak🤗 stay strong💪
total 5 replies
Yusna Wati
semangat ya thor up nya💪🤗
Ahmad Fauzi
bagus seru
Ellasama
salfok SM PP mu kak,,,/Chuckle/
sakura: kenapa dengan PP ku, bagus ya🤭
total 1 replies
Ellasama
puas banget,, nah kan gini baru bener si fl harus strong anti badai
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Ellasama
kok si olyv gak cepet nindak si Juna sih, seenggaknya kan jangan dibiarin gitu aja nanti dia nya makin ngelunjak lagi
sakura: pakai kapak aja gak sih?🤭
total 1 replies
Ellasama
tenang aja mbak mu itu supper super kaya tujuh turunan tujuh tanjakan /Hey/
Ellasama
monyet 🐒 gak tuh/Facepalm//Curse/
Ellasama
waduhhh, ni dunia cocok bgt buat isi kantong aku/Hey/
Ellasama
wihh satu dunia kek nya nak dibeli sama si olyv deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!