NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sinyal yang Terganggu dan Bayangan dari Masa Lalu

​​Kehangatan bagel Brooklyn dan tawa di bawah selimut pagi itu seolah menjadi benteng terakhir sebelum realita kembali mengetuk pintu. Liburan musim dingin Arkan di New York tersisa dua hari lagi. Setiap detik terasa seperti butiran pasir yang merosot cepat di jam kaca. Mereka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki menyusuri DUMBO, memotret Jembatan Manhattan yang ikonik, dan berpura-pura bahwa mereka hanyalah pasangan mahasiswa biasa, bukan subjek pengawasan seorang konglomerat di Jakarta.

​Namun, ketenangan itu terusik saat ponsel Ziva berdering di tengah makan siang mereka di sebuah kafetaria kecil yang bising.

​"Siapa?" tanya Arkan, menyadari perubahan ekspresi di wajah Ziva.

​Ziva melihat layar ponselnya. Tidak ada nama, hanya nomor asing dengan kode area Australia (+61). "Nggak tahu.Nomor luar negeri. Mungkin salah sambung."

​Ziva menolak panggilan itu. Namun, satu menit kemudian,

sebuah pesan masuk.

​Pesan: "Ziv, ini Revan. Gue tahu lo lagi sama Arkan di NY. Sori ganggu, tapi gue dapet kabar buruk soal bokap lo di Jakarta. Bokap lo kecelakaan, Ziv. Gue nyoba hubungin lewat jalur atlet karena akses komunikasi ke pulau lagi sulit. Cek DM lo."

​Gelas di tangan Ziva gemetar. Wajahnya seketika pias, lebih pucat dari salju di luar jendela.

​Berita dari Seberang Samudra

​Arkan segera berpindah duduk ke samping Ziva, merangkul bahunya yang mulai menggigil. "Ada apa, Ziv? Apa yang dibilang Revan?"

​Ziva menunjukkan pesan itu dengan tangan gemetar.

"Bapak, Ar... Bapak kecelakaan di Jakarta. Kenapa Revan yang tahu duluan? Kenapa bukan Ibu?"

​Arkan langsung mengambil alih ponsel Ziva, membuka akun media sosialnya. Di sana, Revan mengirimkan foto tangkapan layar dari grup WhatsApp keluarga atlet di Sulawesi Selatan. Ada berita tentang kapal motor yang karam di perairan Kepulauan Selayar karena cuaca buruk, dan nama ayah Ziva ada dalam daftar manifes korban luka berat yang sedang dievakuasi.

​"Kita harus pulang, Ar. Gue harus pulang sekarang!" Ziva mulai panik, ia mengemas tasnya dengan asal-usul.

​"Tenang, Ziva. Napas dulu," Arkan memegang kedua tangan Ziva, mencoba menyalurkan ketenangan. "Aku bakal urus tiketnya. Kita pulang bareng."

​"Tapi kuliah lo di London gimana? Lusa lo harus balik!"

​"Persetan sama kuliah, Ziva. Keluarga kamu lebih penting," tegas Arkan

Sang Pembawa Kabar Buruk

​Di sebuah apartemen mewah di Sydney, Revan menatap layar komputernya yang menampilkan jadwal latihan basketnya. Ia baru saja selesai menelepon koneksinya di Makassar. Meskipun ia sudah mencoba menjauh, nalurinya untuk melindungi Ziva tidak pernah benar-benar mati—terutama saat menyangkut keselamatan keluarga Ziva yang dulu sering memberinya makan saat ia bertanding di daerah.

​"Gue harap si Arkan nggak cuma jago gombal, tapi beneran bisa jagain lo pas kondisi kayak gini, Ziv," gumam Revan.

​Tiba-tiba, ponsel Revan bergetar. Sebuah panggilan dari nomor rahasia.

​"Halo?"

​"Saudara Revan," suara berat di seberang sana sangat familiar. Pak Wijaya. "Saya tahu Anda yang memberi tahu menantu saya soal kecelakaan itu. Saya ingatkan, jangan melampaui batas Anda. Saya sudah mengurus evakuasi besan saya ke rumah sakit terbaik di Makassar. Jangan gunakan kesempatan ini untuk mendekati Ziva lagi."

​Revan tertawa sinis. "Tuan Wijaya, Anda memang hebat soal uang. Tapi Anda payah soal empati. Ziva nggak butuh rumah sakit terbaik sekarang, dia butuh suaminya. Dan kalau Arkan nggak ada di sana, saya yang akan berangkat ke Makassar."

​Klik.

Revan memutus sambungan telepon itu dengan kasar.

​Konfrontasi di Bandara JFK

​Arkan dan Ziva tiba di Bandara JFK dalam waktu tiga jam. Arkan sudah memesan tiket darurat menuju Jakarta dengan transit di Singapura. Namun, saat mereka hendak melakukan check-in, dua pria berjas hitam—salah satunya adalah pria yang membuntuti mereka di New York—menghadang langkah mereka.

​"Tuan Muda Arkan, Tuan Wijaya meminta Anda tetap di sini. Beliau sudah mengurus semuanya di Makassar. Ayah Nona Ziva sudah berada di tangan tim medis terbaik keluarga Wijaya," ucap salah satu pria itu dengan sopan namun tegas.

​Arkan menarik Ziva ke belakang punggungnya. Matanya berkilat marah, persis seperti saat ia menghadapi Clarissa di aula sekolah dulu. "Minggir. Aku bukan bawahan Papa."

​"Tuan Wijaya bilang, jika Anda nekat pulang sekarang, beasiswa Nona Ziva di Columbia akan ditinjau ulang. Beliau punya pengaruh besar di yayasan penyalur beasiswa itu," ancam pria itu.

​Ziva membeku. Ia menatap Arkan dengan mata berkaca-kaca. Ancaman itu nyata. Pak Wijaya sedang menggunakan masa depan Ziva untuk mengontrol Arkan agar tetap berada di jalur akademisnya.

​"Ar..." Ziva menyentuh lengan Arkan. "Jangan. Jangan lawan Papa lo sekarang. Biar gue yang pulang sendiri. Lo balik ke London."

​Arkan berbalik, menatap Ziva dengan tatapan yang menghancurkan hati. "Kamu pikir aku bakal biarin kamu ngadepin ini sendirian sementara aku duduk manis di perpustakaan London? Nggak, Ziva. Aturan nomor satu kita: jangan pernah ngerasa sendirian."

​Arkan menoleh kembali ke arah pria berjas itu. "Kasih tahu Papa. Kalau dia berani nyentuh beasiswa Ziva, aku bakal berhenti jadi anak Wijaya. Aku bakal lepasin semua fasilitas, dan aku bakal kerja kasar buat biayain kuliah istriku sendiri. Sekarang, minggir sebelum aku buat keributan di bandara internasional ini."

​Keberanian Arkan membuat pria berjas itu ragu. Arkan menarik koper Ziva dan melangkah maju dengan penuh otoritas, melewati mereka begitu saja.

​Di Dalam Pesawat: Genggaman yang Menguat

​Saat pesawat mulai lepas landas meninggalkan gemerlap lampu New York, Ziva menyandarkan kepalanya di bahu Arkan. Ia menangis dalam diam, memikirkan ayahnya di Makassar dan masa depan mereka yang kini terancam oleh kemarahan Pak Wijaya.

​Arkan menggenggam tangan Ziva erat, mencium jemarinya. "Jangan takut. Kita bakal hadapi ini bareng-bareng di Makassar. Papa mungkin punya uang, tapi dia nggak punya kita."

​Di balik jendela pesawat, awan hitam menutupi pemandangan. Mereka sedang terbang menuju pusat badai—bukan hanya badai di perairan Selayar, tapi badai dalam keluarga mereka sendiri yang baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!