Di dunia di mana energi gaib dan iblis berkeliaran, Nam Ling adalah pemburu iblis yang telah hidup lebih dari seratus tahun berkat kekuatan pedang abadi yang menyatu dengan dirinya. Dulu seorang prajurit kerajaan yang terhormat, dia kehilangan segalanya ketika iblis membanjiri daratan dan membunuh orang tersayangnya.
Setelah menghabiskan abad untuk memburu makhluk kegelapan, Nam Ling tiba di Desa Hua—tempat yang dikabarkan menjadi sarang energi jahat baru yang lebih kuat dari iblis biasa. Di sana, dia bertemu dengan Yue Xin, seorang gadis muda yang memiliki kemampuan melihat jalur energi gaib dan menyimpan rahasia besar tentang asal-usul kekuatan pedang Nam Ling.
Saat makhluk kegelapan yang lebih kuat mulai muncul dan mengancam keselamatan seluruh daratan, Nam Ling harus memilih antara melanjutkan dendam pribadi atau bekerja sama dengan Yue Xin dan penduduk desa untuk menghentikan bahaya yang akan menghancurkan dunia. Di balik pertempuran yang tak berkesudahan, tersembunyi rahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keiro_ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 – PERLINDUNGAN DAN PERASAAN YANG BARU
Sinar matahari pagi baru mulai menyinari markas Sekte Liya ketika kabar datang dengan cepat dari penjaga gerbang – sebuah kelompok besar pengikut Raja Iblis sedang mendekat dari arah utara, membawa energi gelap yang begitu kuat hingga membuat tanah bergoyang lembut dari jarak jauh. Master Liya segera mengumpulkan semua anggota sekte untuk mempersiapkan diri, sementara Nam Ling bersama Chen dan beberapa anggota lain memeriksa sistem pertahanan yang telah mereka perkuat setelah kedatangannya pulang dari Sekte Valerius.
Namun tak disangka, musuh tidak datang dengan cara yang diharapkan. Sementara seluruh pasukan sekte berkonsentrasi menghadapi serangan dari arah utara, sebuah kelompok kecil namun kuat dari pengikut Raja Iblis menyelinap masuk dari belakang melalui jalur rahasia yang hanya diketahui oleh anggota sekte lama. Mereka bertujuan langsung ke ruangan utama di mana Master Liya menyimpan buku kuno dan artefak penting sekte – serta mungkin juga untuk menculiknya sebagai sandera untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Master Liya sendiri sedang memeriksa artefak kuno di ruang bawah tanah ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan kuat. Lima sosok berpakaian hitam dengan wajah tertutup topeng muncul dengan cepat, mengeluarkan energi gelap yang menyala seperti arang panas.
“Master Liya, kamu adalah yang kita cari,” ucap pemimpin kelompok itu dengan suara yang kasar dan menggema. “Serahkan semua artefak kekuatan kuno yang kamu simpan, atau kita akan menghancurkan semua yang kamu cintai.”
Tanpa ragu, Master Liya berdiri dengan sikap gagah. Gaun ungu mudanya bergerak mengikuti gerakan tangannya yang mulai mengeluarkan cahaya biru muda yang menyilaukan. “Kalian tidak akan mendapatkan apa-apa dari sini,” jawabnya dengan suara tegas namun tetap tenang.
Pertempuran pun terjadi di dalam ruang kecil yang penuh dengan barang berharga. Master Liya berjuang dengan keahlian yang luar biasa, setiap gerakan tangannya mengeluarkan energi yang kuat dan mampu menjatuhkan beberapa musuh sekaligus. Namun jumlah musuh yang datang lebih banyak dari yang dia duga, dan salah satu dari mereka berhasil menyelinap ke belakangnya, menyerangnya dengan senjata tajam yang terbuat dari besi gelap.
Luka cukup dalam terbentuk di bagian punggung Master Liya, membuatnya terpental ke depan dan hampir jatuh ke atas rak buku kuno yang rapuh. Saat musuh itu siap memberikan serangan akhir, sebuah kilatan cahaya merah dan kebiruan menyambar dengan cepat – menghantam senjata musuh hingga terbang jauh dan menghancurkan beberapa batu di dinding.
“Jangan menyentuhnya!” teriak Nam Ling dengan suara penuh kemarahan, muncul dari balik tirai yang menghiasi pintu masuk ruangan. Ia telah merasa ada sesuatu yang tidak beres ketika sistem pertahanan di bagian belakang tidak memberikan sinyal, dan segera datang untuk memeriksa. Sekarang ia melihat Master Liya terluka dan dalam bahaya, membuatnya tidak bisa lagi mengendalikan amarahnya – meskipun tetap menjaga kontrol penuh seperti yang diajarkan di Sekte Valerius.
Tanpa berlama-lama, Nam Ling masuk ke dalam perangkap. Ia bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, menggabungkan teknik dari kedua sekte yang telah diajarkan padanya. Setiap serangan yang ia lemparkan akurat dan kuat, menjatuhkan musuh satu per satu tanpa menyakiti mereka secara berlebihan atau merusak barang berharga di sekitarnya. Pedang Abadi di tangannya menyala dengan cahaya yang lebih terang dari biasanya, seolah merespons kekhawatirannya terhadap keselamatan Master Liya.
Setelah semua musuh berhasil dikalahkan dan diikat, Nam Ling segera mendekat ke sisi Master Liya yang sedang menahan luka di punggungnya. Darahnya yang merah pekat merembes melalui gaunnya yang putih bersih, membuat wajahnya tampak semakin pucat.
“Master Liya, harap tetap tenang,” ucap Nam Ling dengan suara yang jauh lebih lembut dibanding ketika menghadapi musuh. Ia dengan hati-hati membantu Master Liya duduk di atas kursi kayu yang kuat, lalu mengeluarkan ramuan penyembuh yang dibawanya dari Sekte Valerius. “Ini akan membantu menghentikan pendarahan dan meredakan rasa sakit sementara kita mendapatkan bantuan lebih lanjut.”
Master Liya menatapnya dengan mata yang lembut namun penuh rasa terima kasih. “Kau datang tepat waktu, Nam Ling. Aku tidak menyadari bahwa mereka sudah mengetahui jalur rahasia ini.”
“Salah satu dari mereka mungkin pernah menjadi anggota sekte sebelum berpaling ke kegelapan,” jawab Nam Ling sambil dengan hati-hati membersihkan luka Master Liya menggunakan kain bersih yang dibasahi air hangat. Ia bekerja dengan sangat hati-hati, tidak ingin menyebabkan rasa sakit tambahan pada sosok yang telah menjadi guru dan pelindungnya selama ini.
Ketika anggota sekte lain datang membawa obat dan bantuan, Nam Ling membantu membawa Master Liya ke kamar perawatan yang terletak di bagian paling aman dari markas. Ia menolak untuk pergi meskipun tubuhnya sudah terlihat lelah akibat pertempuran yang melelahkan. Ia tetap berada di sisi Master Liya, membantu memberikan obat, membersihkan kompres hangat, dan menjaga agar tidak ada yang mengganggunya saat beristirahat.
Selama beberapa hari berikutnya, Nam Ling hampir tidak pernah meninggalkan sisi kamar perawatan Master Liya. Ia mengambil cuti dari latihan dan tugasnya untuk merawatnya dengan penuh perhatian – mulai dari memasak makanan yang mudah dicerna dan baik untuk penyembuhan, hingga membacakan cerita dari buku kuno untuk membantu meredakan rasa bosan selama beristirahat. Kadang-kadang mereka hanya duduk diam, dengan Nam Ling menjelaskan tentang apa yang ia pelajari di Sekte Valerius dan tentang rencana kerja sama yang akan mereka bangun dengan sekte lain.
Master Liya melihatnya dengan pandangan yang semakin hangat setiap hari. Ia selalu tahu bahwa Nam Ling adalah seseorang yang berharga bagi sekte, namun kini ia melihat sisi lain dari dirinya – kesetiaan yang tulus, perhatian yang mendalam, dan kebaikan hati yang tidak pernah pudar meskipun telah menghadapi banyak kegelapan. Ada rasa syukur yang besar di dalam hatinya, namun juga ada sesuatu yang lain yang mulai tumbuh perlahan – perasaan hangat yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata biasa.
Pada malam hari yang kelima setelah kejadian itu, ketika luka di punggungnya sudah mulai membaik dan bisa duduk dengan lebih nyaman, Master Liya memanggil Nam Ling yang sedang duduk di kursi dekat tempat tidurnya membaca buku. “Nam Ling, duduklah di sini dekat aku,” ucapnya dengan suara lembut.
Nam Ling segera menutup buku dan duduk di tepi tempat tidur. “Ada apa, Master Liya? Apakah kamu merasa sakit atau perlu sesuatu?”
Master Liya menggeleng perlahan, kemudian mengambil tangannya dengan lembut. Rambut putihnya yang biasanya rapi kini sedikit kusut, namun wajahnya tetap cantik dengan mata yang penuh perhatian. “Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Kau tidak hanya menyelamatkan aku dari bahaya, tapi juga merawatku dengan penuh cinta dan perhatian. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika kamu tidak ada di sana saat itu.”
Nam Ling merasa wajahnya sedikit memerah. “Itu adalah tugasku untuk melindungi kamu dan sekte, Master Liya. Kamu telah banyak berbuat untukku, jadi ini adalah hal paling sedikit yang bisa kulakukan.”
“Tetapi kau melakukan lebih dari itu,” jawab Master Liya dengan lembut. Ia melihat ke mata Nam Ling dengan pandangan yang semakin dalam. “Aku melihat bagaimana kamu tumbuh dari seorang pemburu iblis yang hanya berpikir tentang membasmi kejahatan, menjadi seseorang yang memahami arti sebenarnya dari perlindungan dan persatuan. Kau membuat aku percaya bahwa masa depan kita bisa lebih baik.”
Ada keheningan yang menyenangkan di antara mereka selama beberapa saat. Nam Ling merasakan getaran hangat dari tangan Master Liya yang memegangnya, dan ia tahu bahwa ada sesuatu yang berubah dalam hubungan mereka – tidak lagi hanya hubungan guru dan siswa, namun sesuatu yang lebih dalam dan penuh makna.
Ketika Yue Xin datang membawa makanan malam, mereka segera melepaskan genggaman tangan mereka dengan sedikit malu. Namun pandangan yang mereka tukarkan tidak bisa disembunyikan – penuh dengan rasa hormat, perhatian, dan perasaan baru yang mulai tumbuh kuat di hati keduanya.
Keesokan harinya, Master Liya sudah bisa berjalan dengan bantuan tongkat kayu. Ia keluar ke halaman tengah markas di mana semua anggota sekte sedang berkumpul untuk latihan pagi. Dengan suara yang jelas dan penuh kekuatan, ia berbicara kepada semua orang: “Kita telah menghadapi bahaya yang besar, namun berkat kesetiaan dan keberanian salah satu anggota kita, kita berhasil melewatinya dengan selamat. Nam Ling bukan hanya seorang pahlawan bagi sekte ini, tapi juga seseorang yang telah menunjukkan bahwa kekuatan sejati ada pada kesediaan untuk melindungi dan merawat yang lain.”
Semua orang bersorak meriah dan melihat ke arah Nam Ling dengan rasa kagum yang besar. Nam Ling hanya tersenyum rendah hati, namun matanya terus tertuju pada Master Liya yang berdiri dengan gagah di atas panggung kecil – sosok yang tidak hanya menjadi gurunya, tapi kini juga seseorang yang sangat berharga di hatinya.
Malam itu, Master Liya mengundang Nam Ling untuk minum teh bersama di halaman belakang yang dihiasi dengan bunga sakura yang sedang mekar. Mereka duduk di bawah pohon besar, melihat bulan yang bersinar terang di atas langit.
“Nam Ling,” ucap Master Liya dengan suara lembut. “Aku ingin kamu tahu bahwa kamu selalu memiliki tempat khusus di hati aku dan di sekte ini. Jika ada saat nanti kamu membutuhkan bantuan atau hanya ingin berbicara, aku akan selalu ada di sini untukmu.”
Nam Ling mengangguk dengan rasa hormat dan perasaan hangat yang memenuhi hatinya