[cp akan terlambat]
negara : Indonesia
sinopsis:
Mati setelah seumur hidup bekerja sendirian itu melelahkan. Ketika Olyvia Arabella membuka mata, ia kembali ke usia 20 tahun—tepat saat calon ibu mertua menyodorkan amplop "uang perpisahan" yang ternyata hanya berisi seratus ribu. Dunia sudah gila: nilai uang menurun 10.000 kali lipat, dan hanya Olyvia yang sadar karena rekening bank masa depannya ikut terbawa. Sekarang ia menjadi satu-satunya konglomerat di dunia yang mendadak miskin. Tapi kekayaan tak membuat hidupnya lebih mudah, terutama saat para pria dari masa lalunya kembali—kali ini dalam keadaan jauh lebih melarat. Balas dendam tak cukup dengan uang. Tapi setidaknya, Olyvia bisa membeli waktu untuk memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kembali ke kota
Pagi itu langit Desa Sumberrejo tampak lebih mendung dari biasanya, seolah ikut sedih karena Olyvia akan kembali ke kota. Ia sudah berdiri di depan rumah dengan ransel di punggung dan satu tas jinjing berisi oleh-oleh dari ibu. Di sampingnya, mobil SUV hitam milik Bapak terparkir mengilap, siap mengantarnya ke stasiun.
Bu Sumarni memeluk Olyvia erat-erat, lebih lama dari biasanya. "Nduk, hati-hati ya di kota. Jangan lupa makan. Kalo ada apa-apa, langsung telepon Ibu."
Olyvia membalas pelukan itu dengan sayang. "Iya, Bu. Olyvia sehat-sehat aja. Nanti kalo udah ada waktu, Olyvia pulang lagi."
Siska ikut memeluk dari samping, masih dengan kamera barunya yang tergantung di leher. "Mbak, doain aku ya biar keterima di UM. Nanti kalo aku udah jadi aktor terkenal, Mbak harus nonton semua filmku."
"Pasti, Sis. Mbak jadi penggemar nomor satu kamu."
Galang berdiri agak jauh, tangannya sibuk mengusap mata yang entah kenapa terasa perih. "Mbak, makasih buat PS6-nya. Aku janji nilai matematikaku bakal naik."
Olyvia mengacak rambut adiknya. "Harus. Mbak pantau terus. Kalo nilai kamu turun, PS6-nya Mbak sita."
Galang mengangguk cepat, setengah takut setengah bercanda.
Pak Harjo yang sudah duduk di kursi kemudi menyalakan mesin. "Ayo, Nduk. Nanti ketinggalan kereta."
Olyvia melambaikan tangan terakhir ke ibunya, lalu naik ke kursi penumpang. Mobil melaju pelan meninggalkan rumah, melewati jalan desa yang mulai ramai oleh warga. Beberapa tetangga melambai. Bu RT bahkan sempat berteriak, "Hati-hati di kota, Vy! Jangan lupa bawa pulang mantu!"
Olyvia hanya tersenyum dan melambai balik. Mantu? Mending bawa pulang sertifikat properti. Biar pas pulang, kapan nikah? Maaf properti saya masih ada yang belum dibeli.
Sepanjang perjalanan ke stasiun, Pak Harjo beberapa kali mencuri pandang ke putrinya. Ada ragu di matanya, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan.
"Pak, kenapa?" tanya Olyvia akhirnya.
Pak Harjo menghela napas. "Nduk, Bapak cuma mau bilang. Kalo kamu di kota ada masalah, jangan dipendem sendiri. Cerita ke Bapak. Walaupun Bapak cuma petani, Bapak tetep bapak kamu."
Olyvia meraih tangan ayahnya yang memegang setir. "Pak, Olyvia janji. Kalo ada apa-apa, Olyvia pasti cerita. Bapak tenang aja."
Pak Harjo mengangguk puas. "Bagus."
Mereka tiba di stasiun tepat saat kereta jurusan Malang-Surabaya baru saja diumumkan. Olyvia turun, mengambil ransel dan tas jinjingnya, lalu mencium tangan ayahnya.
"Hati-hati, Nduk."
"Bapak juga. Jangan kerja terlalu berat. Mobilnya dipake terus, jangan cuma jadi pajangan."
Pak Harjo tertawa kecil. "Iya, Nduk. Nanti Bapak belajar nyetir yang bener."
Olyvia masuk ke peron dan melambaikan tangan sampai mobil Bapak menjauh. Ia menarik napas dalam-dalam. Udara kota sudah terasa berbeda, lebih pengap dan panas. Welcome back to reality, Oly.
Kereta tiba di Stasiun Kota Surabaya tiga jam kemudian. Olyvia turun dengan tubuh sedikit pegal, lalu memesan taksi online menuju apartemennya. Ongkos taksi: Rp800,-. Delapan ratus sen. Murah banget. Dulu bisa seratus ribu.
Selama perjalanan, ia memeriksa ponselnya. Fitur blokir nomor tidak dikenal masih aktif, jadi ia terbebas dari spam. Tapi ia melihat beberapa notifikasi dari grup WhatsApp sahabatnya.
Karina: Vy, lo udah balik belum? Si Arjuna makin sering nongkrong di depan apartemen lo. Serius, gue takut dia jadi gila beneran.
Sela: Gue barusan lewat, dia masih di sana. Duduk di taman bawa sekotak cokelat. Romantis tapi creepy.
Olyvia mendesah panjang. udah habis liburan ku, gak ilang juga ternyata. Monyet emang susah move on.
Ia mengetik balasan.
Olyvia: Gue otw apartemen. Biarin aja. Ntar juga gue usir.
Tak lama kemudian, taksi tiba di Apartemen Green Park. Olyvia membayar ongkos dan menambahkan tip Rp500,- sen. Ia turun, meraih ranselnya, dan berjalan menuju lobi.
Belum sampai pintu lobi, ia sudah melihat sesosok pria duduk di bangku taman dengan buket bunga dan sekotak cokelat. Rambutnya sedikit berantakan, kemejanya kusut, dan matanya sayu. Arjuna Wicaksono dengan singkatan jancok.
Begitu melihat Olyvia, Arjuna langsung berdiri tegak. Wajahnya berubah dari lesu menjadi penuh harapan. "Vy! Kamu akhirnya pulang!"
Olyvia menghela napas panjang. Ini gue baru turun dari taksi, belum masuk lobi, udah disamperin. Kek adegan sinetron Indosiar aja.
Ia terus berjalan menuju pintu lobi tanpa menoleh. Tapi Arjuna mengejar dan berdiri di depannya, menghalangi jalan.
"Vy, please. Aku cuma mau ngomong. Lima menit aja."
Olyvia berhenti. Ia menatap Arjuna dengan ekspresi datar. "Ngapain, Jun? Udah jelas kita putus."
"Aku gak terima. Aku masih cinta kamu. Aku gak bisa hidup tanpa kamu."
Olyvia nyaris tertawa mendengar kalimat itu. Gak bisa hidup tanpa gue? Di kehidupan pertama lo hidup bahagia tanpa gue, Jun. Bahkan lo nikah sama cewek pilihan nyokap lo sambil bawa piala gue. Sekarang lo bilang gak bisa hidup? Drama banget.
Ia melipat tangan. "Jun, denger ya. Gue udah gak ada rasa sama lo. Lo bisa cari cewek lain. Banyak yang lebih cantik, lebih kaya, lebih disukai nyokap lo. Gue bukan siapa-siapa."
Arjuna menggeleng cepat. "Aku gak mau yang lain. Aku cuma mau kamu. Aku janji bakal belain kamu di depan Mama. Aku bakal pilih kamu. Kali ini beneran."
Aku janji? gua ludahin lu ya? Hok cuh.
Olyvia menatap mata Arjuna lekat-lekat. Ada kesungguhan di sana, tapi ia sudah terlalu sering dibohongi. Bibir manis lo itu beracun, Jun. Gue udah kebal.
"Jun, gue capek. Gue mau istirahat. Lo pulang aja."
Ia melangkah ke samping, hendak melewati Arjuna. Tapi pria itu menangkap pergelangan tangannya. "Vy, tolong. Satu kesempatan aja. Aku mohon."
Satpam lobi yang melihat kejadian itu mulai mendekat. "Mbak Olyvia, ada masalah? Mas ini sudah dari tadi nungguin. Katanya kenal sama Mbak."
Olyvia menoleh ke satpam. "Iya, Pak. Tapi sekarang dia mau pulang. Iya kan, Jun?"
Arjuna menggigit bibir. Ia melepaskan pegangan tangannya perlahan. "Vy, aku gak akan nyerah. Aku bakal buktiin. Aku cinta kamu. Sungguh."
Olyvia tidak menjawab. Ia hanya berjalan masuk ke lobi, meninggalkan Arjuna yang masih berdiri mematung di taman dengan buket bunga di tangan.
Begitu lift tertutup, Olyvia menyandarkan kepala ke dinding. Gila. Gue pikir dia udah move on. Ternyata makin parah. Ini kayak film thriller, bukan romantis.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Karina.
Karina: Vy, gue liat dari jendela. Lo ketemu Arjuna ya? Mukanya kusut banget. Lo ngomong apa?
Olyvia: Gue suruh pulang. Dia masih ngeyel.
Sela: Hati-hati, Vy. Cowok kayak gitu bahaya. Bisa-bisa dia ngelakuin hal nekat.
Olyvia membaca pesan itu dengan tatapan kosong. Nekat? Di kehidupan pertama dia nekat nikahin cewek lain. Sekarang dia nekat ngejar-ngejar gue atau nekat bagaimana, hm? Gua kapak juga tu orang lama-lama, muak sumpah.
Sesampainya di unit apartemennya, Olyvia membuka pintu dan langsung merebahkan diri di kasur. Dua minggu di kampung terasa seperti liburan ke dunia lain. Sekarang ia kembali ke realita: kota yang bising, kuliah yang akan dimulai lagi, dan mantan yang tidak tahu diri.
Ia menyalakan ponsel dan memeriksa jadwal kuliah semester baru. Senin depan sudah mulai. Masih ada beberapa hari untuk bersantai dan menyusun rencana.
Rencana satu: beli properti buat Ibu. Rencana dua: pantau Siska ujian masuk. Rencana tiga: mulai balas dendam ke Arjuna.
Untuk rencana ketiga, ia sudah punya gambaran. Arjuna dan keluarganya memiliki perusahaan teknologi bernama Wicaksono Tech. Di kehidupan pertama, perusahaan itu sukses besar berkat algoritma AI ciptaan Olyvia yang dicuri Arjuna. Sekarang, Olyvia bisa menciptakan algoritma yang lebih canggih. Ia bisa merilisnya secara gratis, membuat produk Wicaksono Tech menjadi usang dalam semalam.
Tapi itu rencana jangka panjang. Untuk sekarang, ia harus tenang dan tidak terpancing drama Arjuna.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini panggilan dari nomor tidak dikenal. Tapi fitur blokir otomatis langsung menolaknya. Olyvia melihat notifikasi bahwa panggilan itu berasal dari nomor yang sama dengan yang dipakai Arjuna kemarin.
Masih aja nyoba. Udah ganti nomor berkali-kali, tetep kena blokir. Kasian. Tapi gak kasian.
Ia mengabaikannya dan membuka aplikasi marketplace properti. Sore ini ia akan mulai survei beberapa apartemen dan ruko murah. Harganya benar-benar menggelikan.
Apartemen studio di pusat kota: Rp32.000,- per unit.
Ruko dua lantai di jalan utama: Rp24.000,- per unit.
Tanah kosong 100 meter persegi di area komersial: Rp4.500,- .
Dengan saldo gue sekarang, gue bisa beli puluhan unit tanpa nguras rekening. Dan Ibu bakal jadi Ratu Kontrakan beneran.
Ia mulai mencatat beberapa properti yang menarik. Besok ia akan menghubungi agen dan mulai proses pembelian. Semuanya akan atas nama Bu Sumarni. Olyvia ingin ibunya memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan, sesuatu yang memberinya penghasilan tetap tanpa harus berjualan di warung kecil setiap hari.
Sore harinya, Olyvia keluar apartemen untuk membeli makan malam. Ia berjalan ke minimarket terdekat. Begitu keluar lobi, ia mengedarkan pandangan, memastikan Arjuna sudah tidak ada. Taman kosong. Hanya ada beberapa anak kecil bermain ayunan.
Bagus. Dia udah pulang.
Ia berjalan cepat ke minimarket dan membeli beberapa barang: nasi kotak ayam bakar Rp12,-, es teh botol Rp3,-, dan sebatang cokelat Rp2,-. Total Rp17,-. Murah meriah.
Saat berjalan pulang, ia melihat sesosok pria berdiri di depan apartemennya. Bukan Arjuna. Pria ini lebih tua, mengenakan kemeja batik, dan memegang sebuah map cokelat.
"Maaf, Mbak Olyvia Arabella?" tanyanya sopan.
Olyvia mengangguk hati-hati. "Iya, saya sendiri. Ada perlu?"
Pria itu menyerahkan map cokelat. "Saya dari kantor pengacara keluarga Wicaksono. Ibu Ratna Wicaksono menitipkan surat ini untuk Mbak."
Olyvia menerima map itu dengan alis terangkat. Surat? Dari nyokapnya Arjuna? Apa lagi ini?
Pria itu mengangguk sopan dan pergi tanpa berkata lebih banyak. Olyvia masuk ke apartemen, duduk di kasur, dan membuka map itu. Isinya selembar surat resmi dengan kop surat kantor pengacara.
Isinya singkat dan dingin:
"Kepada Yth. Saudari Olyvia Arabella. Kami mewakili Ibu Ratna Wicaksono meminta Saudari untuk tidak lagi menghubungi atau menemui putra beliau, Arjuna Wicaksono. Jika Saudari melanggar, kami akan mengambil langkah hukum. Hormat kami, Kantor Pengacara Wicaksono & Partners."
Olyvia membaca surat itu tiga kali. Lalu ia tertawa terbahak-bahak.
GILA! NYOKAPNYA ARJUNA MALAH NGANCAM GUE! PADAHAL ANAKNYA YANG NYEMPIL KE GUE KAYAK STALKER!
Ia melempar surat itu ke meja. Ini dunia udah kebalik kayaknya. Gue yang digangguin, gue yang diancam. Logika dari mana ini?
Ia mengambil ponsel dan mengirim foto surat itu ke grup sahabat.
Olyvia: [Gambar] Lihat nih. Nyokapnya Arjuna ngirim surat ancaman. Katanya gue dilarang deketin anaknya. Lah, anaknya yang nempel terus ke gue.
Karina: WHAT?! INI SERIUS?!
Sela: Astaga naga. Ini sih udah level toxic akut. Lo harus lapor polisi, Vy.
Olyvia: Gue gak lapor. Biarin aja. Tapi gue simpen surat ini. Siapa tau nanti berguna.
Karina: Berguna buat apa?
Olyvia: Buat bukti kalo keluarga mereka yang rese. Bukan gue.
Olyvia menutup obrolan dengan senyum tipis. Ibu Ratna yang terhormat, lo baru aja ngasih gue senjata tambahan. Terima kasih banyak.
Ia merebahkan diri di kasur dan menatap langit-langit. Hari pertamanya kembali ke kota langsung diwarnai drama. Tapi anehnya, ia tidak merasa kesal. Justru ia merasa semakin termotivasi.
Lo semua pikir gue masih Olyvia yang dulu? Yang bisanya cuma nangis dan ngemis cinta? Salah besar. Sekarang gue punya uang, gue punya otak, dan gue punya waktu. Lo semua bakal ngerasain apa yang gue rasain. Pelan-pelan.
Ia memejamkan mata. Besok ia akan mulai survei properti. Dan suatu hari nanti, ia akan memastikan keluarga Wicaksono menyesal pernah meremehkannya.
Ini baru permulaan, Nyonya Ratna. Sabar ya.