Note: Ini cuma sekedar novel santai aja, kemungkinan besar dari kalian akan bosan membacanya. karena alurnya yang lambat, jadi jangan tanya author masalah debeh, aksi gelut gelut dan semacamnya yaa...😀
Xiao Yan bereinkarnasi ke dunia kultivasi modern sebagai bayi dengan status dan keahlian maksimal menyentuh angka 9999. Di tengah tragedi serangan monster yang merenggut nyawa ayahnya dan mengancam ibunya, dia tanpa sengaja melepaskan satu tembakan energi mematikan yang menghapus sang monster beserta daratan sejauh tiga kilometer dalam sekejap. Demi kehidupan yang damai dan tenang, Xiao Yan memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya, meski takdir dan sistem di kepalanya seolah terus memaksanya untuk bertindak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Bel masuk berbunyi pada pukul delapan pagi. Suasana di Kelas Biasa 3 langsung tenang begitu Guru Wang, pengajar mata pelajaran Etika Kultivasi, melangkah masuk. Beliau membawa sebuah proyektor portabel dan meletakkannya di atas meja.
"Ugh... Pagi-pagi sudah pelajaran etika. Ini sangat membosankan," keluh Lin Fan sambil menopang dagunya di atas meja.
"Hah... Kau mengeluh sejak tadi," balas Xiao Yan datar. Dia duduk tegak dengan buku catatan kosong di depannya.
Guru Wang menyalakan proyektor. Papan tulis elektronik di depan kelas langsung menampilkan sebuah siaran langsung resolusi tinggi. Layar itu menunjukkan sebuah ruangan luas berwarna putih bersih dengan bantalan karet di lantainya. Di pinggir ruangan, puluhan siswa berseragam emas sedang berbaris rapi.
"Perhatian semuanya!" ucap Guru Wang dengan suara keras. "Hari ini Kepala Sekolah memerintahkan seluruh Kelas Biasa untuk menunda pelajaran pertama. Kita diwajibkan menonton siaran langsung ujian Ketahanan Fisik dari Kelas Unggulan 1."
"Menonton mereka? Untuk apa, Guru?" tanya seorang siswa dari barisan depan.
"Untuk memotivasi kalian," jawab Guru Wang. "Kalian harus melihat standar kekuatan tertinggi di angkatan kalian. Fasilitas yang kalian lihat di layar itu adalah Ruang Gravitasi Buatan. Hari ini, mereka akan diuji untuk berjalan sejauh sepuluh meter di bawah tekanan gravitasi dua kali lipat."
Mendengar itu, Lin Fan langsung duduk tegak. Matanya berbinar menatap layar.
"Wah, ini kebetulan yang sangat bagus! Xiao Yan, lihat!" Lin Fan menyikut lengan Xiao Yan. "Itu Su Xue! Gadis jenius yang kuceritakan kemarin. Dia berdiri di barisan paling depan."
Xiao Yan menatap layar dengan ekspresi datar.
"Ya. Aku melihatnya," jawab Xiao Yan singkat.
Fokus Xiao Yan sebenarnya tidak tertuju pada gadis berambut hitam panjang bernama Su Xue itu. Pandangannya langsung mengunci sosok remaja laki-laki yang berdiri angkuh tiga langkah di belakang Su Xue. Remaja itu adalah Zhao Wei.
"Waktu dan tempat yang sangat kebetulan. Akademi ini sendiri yang menyediakan panggung untuk pembalasanku," batin Xiao Yan.
Xiao Yan tidak perlu menggunakan komputer. Dengan status Kecerdasan 9999 dan salah satu keahlian pasifnya di bidang manipulasi gelombang elektromagnetik, otaknya bisa mendeteksi sinyal nirkabel di seluruh area sekolah.
"Menghubungkan ke server utama akademi," batin Xiao Yan. Dia menatap lurus ke arah layar. Tidak ada satu pun otot tubuhnya yang bergerak.
Di dalam kepalanya, deretan kode biner mengalir deras.
"Kata sandi server keamanan: 123456. Sangat lemah. Akses diterima. Masuk ke panel kontrol Fasilitas Gravitasi Sayap Barat. Mengubah parameter keamanan."
Di layar kelas, ujian dimulai. Su Xue dipanggil pertama kali oleh instruktur Kelas Unggulan. Gadis itu berjalan masuk ke dalam area kotak bergaris merah. Mesin gravitasi diaktifkan.
Wuuung.
Suara dengungan mesin terdengar dari pelantang suara kelas. Su Xue hanya berhenti selama satu detik, lalu berjalan lurus sepanjang sepuluh meter dengan langkah yang sangat ringan dan punggung tegak.
"Lulus! Sempurna!" teriak instruktur di layar.
Siswa Kelas Biasa 3 bertepuk tangan kagum melihatnya. Lin Fan sampai bersiul kecil.
"Ugh... Dia berjalan seperti tidak ada beban sama sekali. Gravitasi dua kali lipat seharusnya membuat darah turun ke kaki dan membuat kepala pusing," komentar Lin Fan.
"Selanjutnya! Zhao Wei! Maju ke depan!" panggil instruktur di layar.
Zhao Wei berjalan keluar dari barisan sambil tersenyum sombong. Dia sengaja melambaikan tangan ke arah kamera pemantau di sudut ruangan, seolah tahu bahwa seluruh akademi sedang menontonnya.
"Hah... Lihatlah wajah sombongnya itu," cibir Lin Fan dengan nada kesal. "Aku bertaruh dia pasti akan sengaja berjalan sangat lambat untuk memamerkan daya tahan Qi miliknya."
Xiao Yan tidak merespons Lin Fan. Mata hitamnya menatap tepat ke arah ubin lantai yang akan diinjak oleh Zhao Wei.
"Mengunci koordinat," batin Xiao Yan cepat. "Target... Zhao Wei. Luas area modifikasi... Radius satu meter dari pusat tubuh target. Memisahkan target dari jaringan gravitasi utama. Mengubah nilai gravitasi khusus untuk area target menjadi lima puluh kali lipat. Mematikan sistem alarm peringatan kelebihan beban pada mesin."
Semua perhitungan dan manipulasi itu selesai dalam waktu kurang dari setengah detik.
Di layar proyektor, Zhao Wei mengambil napas dalam-dalam. Tubuhnya memancarkan aura merah tipis. Dia melangkah masuk ke dalam area bergaris merah dengan gaya sangat percaya diri. Kakinya menginjak ubin pertama.
Brak!
Suara benturan keras terdengar menggema dari pelantang suara.
Zhao Wei tidak berjalan. Begitu kaki kanannya menyentuh lantai area ujian, seluruh tubuhnya langsung terhempas ke bawah dengan kekuatan yang sangat brutal. Wajahnya membentur bantalan karet lantai dengan telak. Kedua tangan dan kakinya terentang lurus seperti katak yang dilindas ban mobil.
Kejadian itu begitu tiba-tiba dan sangat cepat.
Suasana di Kelas Biasa 3 yang tadinya penuh decak kagum seketika berubah menjadi sunyi, sebelum akhirnya meledak.
"Hah?! Apa yang terjadi?!" seru Lin Fan kaget.
"Pfft... Hahahaha!" Beberapa siswa di kelas mulai tertawa melihat posisi jatuh Zhao Wei yang sangat konyol.
Di dalam layar, instruktur Kelas Unggulan terlihat kebingungan. Dia melangkah mendekati tepi garis merah.
"Zhao Wei! Apa yang kau lakukan? Ini bukan waktunya bercanda! Berdiri!" bentak instruktur itu.
"Ugh! G-Guru! T-Tolong!" Suara Zhao Wei terdengar sangat tercekik dan serak dari pelantang suara. "T-Tubuhku... rasanya seperti... ditimpa gunung baja! Ugh!"