Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.
Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.
Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.
Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Kehancuran
Di ujung paling utara dari gugusan pegunungan Sekte Awan Suci, terdapat sebuah lembah mati yang tidak pernah ditumbuhi satu pun tanaman spiritual. Di ujung lembah itu, ruang dan waktu tampak beriak hebat, membentuk sebuah pusaran raksasa bergaris tengah seratus tombak yang memancarkan cahaya abu-abu kusam.
Itulah Gerbang Wilayah Terbengkalai.
Berbeda dengan Ujian Penilaian yang diikuti ribuan orang, kali ini hanya ada sepuluh orang yang berdiri di depan pusaran tersebut. Mereka adalah para juara dari masing-masing gelanggang Puncak Luar.
Chu Chen berdiri di barisan paling belakang bersama Meng Fan. Kehadiran pemuda berjubah abu-abu ini membuat delapan juara lainnya menjaga jarak setidaknya tiga tombak. Tidak ada yang berani menatap matanya setelah melihat bagaimana ia membanting Wu Ying hingga hancur lebur tempo hari. Bahkan beberapa dari mereka masih gemetar jika teringat jeritan Lei Kuang yang tangannya remuk.
Di depan pusaran, seorang Penatua Utama berjanggut putih panjang memberikan pengarahan terakhir.
"Wilayah Terbengkalai bukanlah taman bermain. Tempat itu adalah ruang lipatan alam yang tidak teguh. Gaya tarik bumi dan aliran Qi di sana sangat kacau," suara Penatua Utama itu berat dan memperingatkan. "Di dalam sana, kalian akan menemukan sisa-sisa pusaka kuno, rumput spiritual tingkat tinggi, dan... binatang buas purba yang berubah wujud. Kalian memiliki waktu sepuluh hari. Jika kalian tidak keluar saat gerbang ini kembali terbuka, kalian akan terperangkap di sana selama sepuluh tahun hingga pembukaan berikutnya. Kebanyakan dari mereka yang terperangkap tidak pernah kembali hidup-hidup."
Penatua itu melambaikan tangannya. "Waktu kalian dimulai sekarang. Masuk!"
Satu per satu, para juara melesat masuk ke dalam pusaran abu-abu tersebut. Mereka semua bergerak cepat, berniat mencari sumber daya berharga sebelum didahului yang lain.
"Kita akan tetap bersama, kan?" Meng Fan menelan ludah, menatap pusaran yang tampak seperti mulut monster raksasa.
"Tentu," jawab Chu Chen singkat. "Tetap di belakangku. Tempat ini bukan neraka fana seperti Lembah Jarum Beracun. Ada hal-hal yang lebih tua dari sekte ini yang bersembunyi di dalamnya."
Chu Chen dan Meng Fan melangkah menembus pusaran ruang tersebut.
Sensasi ditarik oleh ruang yang hancur membuat perut terasa diaduk-aduk. Namun, begitu pandangan mereka kembali jernih, pemandangan yang menyambut mereka benar-benar meremukkan akal sehat.
Langit di Wilayah Terbengkalai tidak berwarna biru atau hitam, melainkan merah darah yang dipenuhi retakan hitam raksasa, seolah langit itu sendiri adalah kaca yang akan segera pecah. Tidak ada matahari maupun bulan. Cahaya berasal dari lautan lahar yang mengalir lambat di kejauhan.
Daratan di tempat ini terpecah-pecah menjadi pulau-pulau batu raksasa yang melayang di udara. Gaya tarik bumi di sini tidak beraturan; air terjun terlihat mengalir ke atas menuju awan gelap, sementara beberapa pepohonan tumbuh terbalik dari bawah pulau-pulau yang melayang.
"Demi Surga yang Agung..." Meng Fan jatuh terduduk, kewarasannya terguncang melihat hukum alam yang terbalik. "Tempat apa ini sebenarnya?!"
Chu Chen berdiri tegak. Berbeda dengan Meng Fan yang ketakutan, napas Chu Chen justru menjadi sedikit memburu.
Begitu kakinya menyentuh tanah di tempat ini, Darah Dewa Naga Primordial di jantungnya bergetar selaras dengan sangat hebat. Sebuah duka yang sangat purba dan kemarahan yang mendidih merayap ke dalam benaknya, memicu ingatan-ingatan samar dari Kaisar Naga yang telah lama mati.
"Darah... begitu banyak darah ras kita yang tumpah di sini," suara Long Di bergema dengan kepedihan di kepala Chu Chen. "Ini bukan sekadar medan perang fana, Nak. Daratan yang melayang ini... bebatuan yang menentang hukum alam ini... Ini adalah Pecahan Alam Atas yang runtuh ke alam fana saat perang pemusnahan kita jutaan tahun lalu."
Mata Chu Chen berkilat. Pecahan Alam Atas? Pantas saja Sekte Awan Suci tidak bisa menguasainya sepenuhnya. Tempat ini menyimpan saripati dari dunia yang jauh lebih tinggi.
"Indramu tajam juga, Pemakan Api."
Sebuah suara merdu namun sedingin es abadi mendadak terdengar dari atas sebuah bongkahan batu kristal yang melayang tak jauh dari tempat Chu Chen berdiri.
Meng Fan terlonjak kaget dan langsung menghunus pedangnya. Namun Chu Chen hanya mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat agar Meng Fan diam.
Dari balik riak ruang, sosok wanita bergaun putih bersih dengan kerudung salju perlahan turun. Ia adalah wanita misterius dari Hutan Bambu Hitam yang memberikan Chu Chen Plakat Giok Biru 'Bai'.
Wanita itu melayang turun, kakinya berhenti beberapa cun dari tanah yang kotor. Matanya yang sebening kristal es menatap Chu Chen dengan penilaian.
"Kau benar-benar memenangkan Ujian Penilaian. Dan kau melakukannya dengan bersih, tanpa membocorkan rahasia Lautan Qimu sedikit pun. Pengendalian diri yang luar biasa untuk seseorang yang sangat kejam," ucap wanita itu santai.
"Aku tidak datang kemari untuk mendengar pujian," Chu Chen menyilangkan tangannya di depan dada. "Kau menyuruhku masuk ke mari. Kau menyebutkan tentang mengacaukan papan catur sekte. Apa maumu yang sebenarnya?"
Wanita berkerudung salju itu tersenyum di balik kain sutranya. "Langsung pada intinya. Aku suka itu. Tempat ini, Wilayah Terbengkalai, adalah inti dari persaingan kubu para Penatua Tinggi di Sekte Awan Suci. Ada sebuah sumber daya di pusat wilayah ini yang akan matang dalam tiga hari: Mata Air Yin-Yang Purba."
"Mata Air Yin-Yang?" Chu Chen menyipitkan matanya.
"Air itu mampu membersihkan sumsum tulang hingga ke tingkat kesempurnaan surgawi, dan memperluas daya tampung Lautan Qi hingga batas yang mustahil," lanjut wanita itu, mengamati reaksi Chu Chen. "Kubu Penatua Agung telah menempatkan seekor monster penjaga, Harimau Sisik Emas, di sana untuk menjaga mata air itu sampai murid inti mereka datang untuk mengambilnya."
Wanita itu melangkah mendekat, aroma teratai es yang menenangkan tercium di udara. "Aku ingin kau pergi ke sana, membunuh Harimau Sisik Emas itu, dan merampas seluruh Mata Air Yin-Yang. Kacaukan rencana Penatua Agung. Ambil airnya untuk memperkuat fondasimu. Sebagai imbalannya, keributan yang kau ciptakan akan memberiku celah untuk mengambil sesuatu yang lain di ujung wilayah ini."
Meng Fan yang sedari tadi mendengarkan tiba-tiba pucat pasi. "H-Harimau Sisik Emas?! Itu adalah Binatang Buas Tingkat 2 Menengah! Kekuatannya setara dengan ahli Alam Lautan Qi Lapis Keempat atau Kelima! Chu Chen baru saja menembus Lautan Qi, menyuruhnya melawan monster itu sama saja dengan menyuruhnya mati!"
Wanita itu bahkan tidak menoleh ke arah Meng Fan. Tatapannya tetap terkunci pada Chu Chen. "Bagi manusia fana biasa, itu memang bunuh diri. Tapi bagi monster yang berani merampok Api Teratai Merah tepat di bawah hidung Leluhur Penyatuan Langit... aku yakin kau bisa menelannya."
Chu Chen terdiam selama beberapa tarikan napas. Ia memandang ke arah pusat wilayah yang ditandai dengan pusaran awan merah.
Mata Air Yin-Yang Purba. Jika ia menggabungkan energi mata air itu dengan Api Teratai Merahnya yang ganas, ia bisa menciptakan Lautan Qi yang memiliki keseimbangan mutlak, membuatnya mampu melepaskan daya hancur yang tak terbatas tanpa takut meridiannya terbakar.
"Kau membocorkan rahasia terbesar kubu Penatua Agung kepadaku," ucap Chu Chen dingin. "Jika aku gagal, aku mati. Jika aku berhasil, kau akan mendapatkan apa yang kau mau tanpa mengotori tanganmu."
"Benar," jawab wanita itu tanpa rasa bersalah. "Apakah kau takut?"
Sebuah tawa pelan yang dipenuhi Niat Membunuh purba keluar dari bibir Chu Chen. Ia menatap wanita itu dengan mata naga vertikalnya yang menyala keemasan, sebuah tatapan yang entah mengapa membuat wanita sekelas ahli Istana Jiwa itu merasakan hawa dingin sejenak di tengkuknya.
"Aku akan memakan harimau itu. Aku akan menelan mata airnya," bisik Chu Chen, melangkah melewati wanita itu menuju pusat wilayah ruang yang kacau tersebut. "Tapi ingat ini, Nona Bai... suatu saat nanti, aku juga akan menelan bidak, papan catur, dan kau yang sedang memainkannya."
Wanita berkerudung salju itu berdiri terpaku, menatap punggung Chu Chen yang menjauh. Di balik kerudungnya, senyumnya tidak memudar, justru semakin lebar.
"Makhluk buas yang luar biasa angkuh," gumamnya pada dirinya sendiri. "Mari kita lihat apakah taringmu sekeras ucapanmu."