mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Peron Terakhir
Stasiun itu selalu dingin di bulan November.
Arsya kecil membenamkan kedua tangannya lebih dalam ke saku jaket biru tua yang kebesaran. Jaket itu dulu kepunyaan Ibu—ia ingat betul bagaimana lengan jaket ini selalu menjuntai lucu saat Ibu memakainya untuk menyiram bunga di halaman belakang. Sekarang jaket itu melingkar di tubuhnya, terlalu longgar di bahu, tapi hangat. Masih ada sisa wangi melati yang entah bagaimana bertahan meski Ibu sudah pergi tiga hari yang lalu.
Atau empat hari?
Arsya tidak tahu pasti. Ia hanya tahu bahwa pagi ini Ayah mengguncang tubuhnya dengan kasar, menyuruhnya mandi, memakaikan jaket ini, dan menggandengnya ke stasiun kereta tanpa sepatah kata pun. Ayah tidak pernah banyak bicara akhir-akhir ini. Tidak seperti dulu, saat Ibu masih ada, saat suara tawa Ayah masih bisa terdengar dari ruang tamu hingga ke kamarnya.
"Tunggu di sini."
Itu saja kalimat Ayah sebelum meninggalkannya di peron nomor tiga. Ayah berjalan cepat, jas hujannya berkibar ditiup angin, meninggalkan Arsya yang hanya setinggi pinggang orang dewasa di antara lautan kaki yang lalu-lalang. Tas kecil berisi bekal dan baju ganti melingkar di bahunya, terlalu berat untuk ukuran tubuhnya.
Arsya tidak menangis.
Anak laki-laki berusia tujuh tahun itu hanya berdiri tegak, mematut-matut dasi merah yang dikenakannya—dasi yang Ibu belikan untuk acara ulang tahunnya yang lalu. Katanya, laki-laki harus tampak rapi saat menjemput orang yang dikasihi. Dan Arsya menjemput Ibu. Ayah bilang Ibu akan pulang hari ini. Naik kereta dari kota jauh tempat Ibu pergi tanpa pamit.
"Mama Naik Kereta Apa, Yah?"
"Yang penting Mama pulang."
Maka Arsya menunggu.
Ia menghitung ubin lantai stasiun yang retak. Satu, dua, tiga—sampai sembilan belas, lalu mulai lagi dari awal. Ia mengamati burung gereja yang bertengger di balok besi penyangga atap stasiun, bagaimana burung itu membersihkan bulunya dengan paruh mungil. Ia mendengar suara-suara: pengumuman kedatangan kereta dari penguasa suara, deru mesin yang menggelegar saat kereta merapat, decit sepatu yang buru-buru, dan tangis anak kecil yang mungkin juga sedang menunggu seseorang.
Satu jam berlalu.
Dua jam.
Arsya mulai hafal bentuk awan di langit sore yang mulai kelabu. Ia juga hafal rona cokelat sup krim yang Ibu masukkan ke dalam bekalnya—ia makan sedikit, menyisakan sebagian karena Ibu pasti lapar setelah perjalanan panjang.
Tiga jam.
Penjaga stasiun yang baik hati sempat menghampiri, bertanya apakah ia tersesat. Arsya menggeleng. Ia tidak tersesat. Ia hanya menunggu. Penjaga itu mengangguk, lalu pergi meninggalkan Arsya yang mulai menggigil bukan karena dingin.
Empat jam.
Lampu-lampu stasiun mulai menyala satu per satu, oranye temaram di tengah senja yang cepat berubah jadi gelap. Arsya melihat Ayah—tidak, bukan Ayah. Laki-laki itu hanya mirip dari jauh. Ia menelan ludah, menahan sebongkah sesuatu yang mengganjal di tenggorokan.
Lima jam.
Seorang wanita tua dengan rambut disanggul rapi duduk di bangku dekat Arsya. Ia membuka tas anyamannya, mengeluarkan kue pisang, dan menawarkannya pada Arsya. "Kamu nunggu siapa, Nak?"
"Mama."
"Mama naik kereta dari mana?"
Arsya tidak tahu. Ia hanya diam.
Wanita itu tersenyum sedih. Arsya tidak mengerti mengapa senyum itu terasa begitu... basah. Seperti baru selesai menangis.
"Mudah-mudahan cepat datang, ya, Mamanya."
Arsya mengangguk. Kue pisang itu ia simpan di saku, untuk Ibu.
Enam jam.
Peron mulai sepi. Kedai-kedai kecil menutup rana satu per satu. Penjaga stasiun yang tadi kini kembali, wajahnya tampak cemas. Ia memegang pundak Arsya.
"Nak, Bapak telepon rumahmu, tapi tidak ada yang angkat. Alamatnya mana, Nak? Bapak antar pulang."
Arsya menggeleng. "Mama belum datang."
"Kereta terakhir sudah lewat satu jam yang lalu, Nak."
Kalimat itu mengambang di udara, dingin, menusuk.
Arsya menatap lorong gelap rel kereta yang membentang entah ke mana. Matanya mencari-cari, masih berharap melihat sesosok bayangan dengan koper kecil dan senyum yang hangat. Tapi yang ada hanya lampu merah berkedip di kejauhan, seperti mata raksasa yang menatapnya tanpa berkedip.
Ia tidak menangis.
Anak laki-laki berusia tujuh tahun itu belajar sesuatu malam itu: bahwa tidak semua orang yang pergi akan kembali. Bahwa menunggu bisa menjadi hal paling sia-sia di dunia. Dan bahwa peron stasiun nomor tiga akan selalu menjadi tempat di mana ia kehilangan separuh dunianya, tanpa penjelasan, tanpa kabar, tanpa selamat tinggal.
Dua puluh tiga tahun kemudian.
Arsya Wiraguna membuka matanya sebelum alarm berbunyi.
Itu bukan kebiasaan yang sengaja ia latih—hanya tubuhnya yang sudah terprogram untuk tidak pernah tidur lelap, selalu siap sedia, selalu waspada. Seperti tentara di garis depan, meski medan perangnya kini hanyalah ruang rapat ber-AC dan studio desain yang sunyi.
Jam menunjukkan pukul 04.30.
Di luar, langit masih gelap. Jakarta belum benar-benar terjaga. Tapi Arsya sudah duduk di tepi tempat tidur, menatap lantai kayu kamarnya yang mengilap tanpa benar-benar melihatnya. Ada bayangan peron stasiun yang sering datang di antara sadar dan mimpi—lampu oranye, ubin retak, suara pengumuman kereta yang menggema.
Ia mengusap wajah, lalu berdiri.
Rutinitas paginya presisi seperti mesin Swiss. Mandi air dingin selama tepat tujuh menit. Menyeduh kopi hitam tanpa gula. Membaca laporan keuangan proyek sambil sarapan dua lembar roti gandum. Memilih setelan kerja—hari ini setelan abu-abu gelap, kemeja putih polos, tanpa dasi. Dasi adalah sesuatu yang ia hindari sejak kecil. Terlalu banyak kenangan di balik simpul dasi merah.
Pukul 06.15, ia sudah berada di dalam mobilnya. Macet pagi Jakarta adalah satu-satunya hal yang tidak bisa ia kendalikan, dan karena itu ia membencinya. Tapi hari ini ada sesuatu yang berbeda—ia tidak menuju ke kantor, melainkan ke sebuah rumah tua di kawasan Menteng.
Proyek baru.
Arsya membaca ulang brief proyek yang dikirim klien semalam. Sebuah rumah peninggalan Belanda, dibangun tahun 1920-an, perlu renovasi total untuk dijadikan galeri seni. Pemiliknya adalah seorang kolektor tua yang ingin mewariskan rumah itu pada publik. Klien semacam ini biasanya menyenangkan—mereka punya uang, punya visi, dan tidak banyak campur tangan.
Mobilnya berhenti di depan pagar besi hitam yang mulai berkarat di beberapa bagian. Arsya turun, menatap bangunan di hadapannya.
Rumah itu besar. Dindingnya bercat putih kusam dengan jamur merambat di sudut-sudut tertentu. Jendela-jendela kaca patri masih utuh, menyaring cahaya pagi menjadi pecahan warna di teras depan. Atapnya tinggi, dengan bubungan khas Eropa tropis. Tapi yang membuat Arsya terpaku adalah pohon beringin besar di halaman samping—akar-akar gantungnya menjuntai seperti tirai raksasa, menciptakan bayangan yang menari-nari tertiup angin.
Untuk beberapa detik, ia tidak bisa bergerak.
Ada sesuatu tentang rumah ini. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Deja vu yang menusuk, meski ia yakin belum pernah ke sini sebelumnya. Atau mungkin hanya sugesti—ia sering membaca bahwa rumah-rumah tua menyimpan energi, menyimpan cerita.
"Heh, Arsya! Sudah datang!"
Suara berat itu memecahkan lamunannya. Arsya menoleh, melihat seorang pria paruh baya dengan kemeja batik lusuh melambai dari teras. Pak Willem, pemilik rumah.
"Mari, mari. Saya sudah menunggu," sambutnya ramah saat Arsya mendekat. "Kopi atau teh?"
"Kopi hitam, terima kasih."
Mereka masuk ke ruang tamu yang luas. Perabotan antik masih terhampar di sana-sini—lemari jati berukir, meja marmer dengan kaki besi tempa, lampu gantung kristal yang berdebu. Udara di dalam terasa lembap, bau khas rumah yang lama tak dihuni: kayu tua, debu, dan sedikit aroma melati dari taman belakang yang entah bagaimana meresap masuk.
"Rumah ini diwariskan dari kakek saya," ujar Willem sambil menuang kopi dari teko porselen. "Dibangun tahun 1925. Kakek saya membelinya dari seorang wanita Belanda yang pulang ke Eropa setelah perang."
Arsya menerima cangkir kopinya. "Anda tidak pernah tinggal di sini?"
"Jarang. Saya besar di Bandung, lalu merantau ke luar negeri. Rumah ini kosong hampir tiga puluh tahun. Hanya ada juru kunci yang kadang datang membersihkan." Willem menghela napas. "Tapi saya sudah tua. Lebih baik rumah ini dihidupkan kembali daripada dibiarkan mati pelan-pelan."
Arsya mengangguk. Ia berkeliling, mengamati detail-detail arsitektur. Plafon tinggi dengan ornamen bunga, lantai tegel motif geometris, pintu geser kaca dengan ukiran art-deco. Rumah ini indah, meski usang. Seorang arsitek sejati bisa melihat potensi di balik kerusakan.
"Ada permintaan khusus?" tanya Arsya, mengeluarkan buku catatan dari tasnya.
Willem menggeleng. "Buat sesuai keinginan Anda. Saya hanya minta satu hal: jangan ubah jiwa rumah ini. Biarkan dia tetap... dia."
Kalimat itu mengambang di udara.
Arsya mengangguk pelan, lalu melanjutkan tur keliling. Ruang makan, dapur, kamar-kamar di lantai dua. Setiap sudut terasa akrab dan asing sekaligus. Di kamar paling ujung, ia berhenti.
Kamar itu lebih kecil dari yang lain. Satu jendela menghadap ke halaman belakang, dan di ambang jendela, seseorang—mungkin puluhan tahun lalu—meletakkan sederet botol kaca bekas parfum. Debu menebal di permukaannya, tapi sinar matahari sore membuat botol-botol itu berkilau seperti permata.
Arsya mendekat. Di antara botol-botol itu, ada sebuah benda kecil yang hampir terlewat matanya. Sebuah kotak musik. Kayunya sudah kusam, ukirannya samar termakan usia.
Ia mengangkatnya dengan hati-hati. Ringan, seperti tak ada isi. Lalu, entah dorongan apa yang membuatnya memutar engkol kecil di samping kotak itu.
Ting... ting... ting...
Suara itu keluar, parau dan patah-patah, seperti orang tua yang batuk sebelum bicara. Tapi melodinya—Arsya mengenali melodi itu. Sebuah lagu pengantar tidur. Lagu yang dulu ibunya selalu bersenandung saat menidurkannya.
Kotak itu jatuh dari genggamannya.
Berdebum di lantai kayu, tutupnya terlepas, memperlihatkan mekanisme musik yang berkarat. Dan di dalamnya, terselip selembar kertas foto yang menguning.
Arsya berlutut. Tangan yang biasanya begitu stabil, kini sedikit gemetar saat mengambil foto itu.
Seorang wanita muda tersenyum dalam gambar hitam-putih. Rambutnya disanggul sederhana, mengenakan kebaya gelap dengan motif bunga kecil. Wajahnya teduh, matanya sayu seperti sedang memikirkan sesuatu yang jauh.
Dia cantik.
Dan dia sangat, sangat mirip dengan bayangan kabur yang selama dua puluh tiga tahun ini selalu muncul di mimpi buruk Arsya.
Wanita di peron stasiun. Wanita yang tak pernah kembali.
Ibunya.
Arsya tidak tahu berapa lama ia berlutut di sana. Mungkin beberapa detik, mungkin beberapa menit. Dunia di sekitarnya lenyap—tidak ada Pak Willem di lantai bawah, tidak ada debu berterbangan, tidak ada suara mobil dari kejauhan. Hanya ada dia, foto usang itu, dan jutaan pertanyaan yang tiba-tiba menghantam seperti gelombang.
"Nak? Arsya? Ada apa?"
Suara Willem dari balik pintu membuatnya tersentak. Dengan gerakan refleks, ia menyelipkan foto itu ke dalam saku jasnya.
"Tidak apa-apa," jawabnya, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Hanya... mengagumi pemandangan."
Willem mengintip ke dalam kamar. "Ah, kamar ini. Dulu kamar pembantu, kata kakek saya. Atau mungkin kamar tamu, saya lupa."
Kamar pembantu.
Arsya menelan ludah. "Rumah ini... pernah punya pembantu dari mana?"
"Dari mana?" Willem menggaruk dagu. "Saya tidak tahu persis. Kakek saya jarang cerita soal pembantu. Tapi yang saya dengar, dulu pernah ada perempuan lokal yang bekerja lama di sini. Mungkin dari tahun 40-an. Katanya cantik, pandai memasak, dan..."
Willem berhenti, matanya menyipit mencoba mengingat.
"Dan apa?"
"Dan dia punya anak laki-laki kecil yang sering ikut ke sini."
Udara di kamar itu terasa menipis.
Arsya berdiri, tangannya mengepal di dalam saku, meremas foto itu. Keringat dingin membasahi punggungnya.
"Anak itu... siapa namanya?"
Willem tertawa kecil. "Wah, itu cerita lama sekali. Saya tidak tahu. Lagipula, kenapa Anda tertarik dengan sejarah pembantu?"
Arsya tidak menjawab. Ia hanya menatap jendela, ke arah halaman belakang yang mulai diterpa senja. Di luar, bayangan beringin besar semakin panjang, menjuntai seperti jemari-jemari raksasa yang mencoba meraih sesuatu.