Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Sumpah di Ujung Pisau
Dinding penjara bukan hanya membatasi ruang gerak, tapi juga menjadi mikroskop bagi karakter seseorang. Bagi Arkan Xavier, setiap hari di Lapas adalah pertempuran untuk tidak kembali menjadi serigala. Di Blok B, desas-desus tentang "Raja yang Turun Takhta" mulai memicu ketegangan.
Seorang narapidana senior bernama Bongkeng, yang menjalani hukuman belasan tahun karena kasus perampokan bersenjata, mulai merasa terancam oleh pengaruh Arkan yang semakin tenang namun disegani.
"Heh, Xavier!" panggil Bongkeng saat jam istirahat di lapangan tengah. "Aku dengar kau punya akses ke sipir untuk memasukkan barang-barang 'enak'. Bagaimana kalau kau bantu kami mengatur jalur masuk untuk sedikit hiburan malam?"
Arkan yang sedang duduk di pinggir lapangan sambil membaca buku catatan medis pemberian Aisyah, mendongak pelan. "Aku di sini untuk menghabiskan waktu, bukan untuk berbisnis. Cari orang lain, Bongkeng."
Bongkeng meludah ke tanah, wajahnya merah padam. "Jangan sok suci! Darah Xavier itu mengalir uang haram. Kau pikir dengan membaca buku dokter-dokteran itu, kau jadi malaikat? Kami butuh pemimpin untuk pemberontakan minggu depan. Sipir mulai keterlaluan memotong jatah makan kami. Kau ikut, atau kau jadi target pertama kami."
Arkan menutup bukunya dengan tenang. Ia berdiri, tingginya yang menjulang membuat Bongkeng harus mendongak. "Jika jatah makan dipotong, kita bicara baik-baik dengan kepala Lapas. Tapi jika kau bicara tentang kerusuhan, aku tidak akan ikut. Dan jika kau menyentuh teman-teman selku yang ingin bertobat, kau akan berurusan denganku."
Bongkeng mendengus, namun ia tidak berani menyerang saat itu juga karena menara pengawas sedang mengarahkan senapan ke arah mereka. Namun, Arkan tahu, benih badai telah ditanam.
Di luar tembok penjara, Jakarta sedang diguyur hujan badai. Di Rumah Sakit Pusat, Aisyah baru saja menyelesaikan sif malamnya yang melelahkan. Saat ia hendak mengganti pakaian, suara sirine ambulans meraung-raung di depan pintu IGD.
"Dokter Aisyah! Pasien trauma berat, luka tembak di perut dan dada!" teriak perawat jaga.
Aisyah segera berlari kembali ke ruang tindakan. Namun, saat ia melihat wajah pasien yang terbaring bersimbah darah di atas brankar, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Pria itu adalah Sandro, salah satu algojo klan Scorpio yang paling brutal. Pria inilah yang dua minggu lalu mencoba menarik cadar Aisyah di depan Lapas, dan pria yang sama yang pernah menodongkan pistol ke kepala Hamdan di pelabuhan.
Tangan Aisyah gemetar di dalam sarung tangan lateksnya. Bayangan ketakutan, amarah, dan trauma masa lalu berkelebat di benaknya. Pria ini adalah monster, bisik satu sisi hatinya. Jika dia mati, dunia akan sedikit lebih bersih.
"Dokter? Tekanan darahnya turun drastis! 70 per 40! Kita harus segera melakukan laparotomi!" perawat mengingatkan.
Aisyah menatap wajah Sandro yang pucat pasi. Ia teringat kata-kata Arkan: "Aku ingin menjadi pria yang menyembuhkan, bukan menghancurkan." Ia juga teringat janji ayahnya: "Seorang dokter tidak memilih siapa yang berhak hidup."
Aisyah memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang di balik cadarnya. Ia membisikkan doa singkat, memohon kekuatan pada Sang Pemilik Nyawa.
"Siapkan ruang operasi nomor tiga! Hubungi bank darah, kita butuh empat kantong golongan O! Sekarang!" perintah Aisyah, suaranya kembali stabil dan penuh otoritas.
Selama empat jam, Aisyah berjuang di bawah lampu operasi yang menyilaukan. Ia menjahit pembuluh darah yang pecah, mengeluarkan proyektil peluru yang bersarang di dekat tulang belakang, dan membersihkan serpihan tulang yang hancur. Tangannya yang mungil bekerja dengan presisi yang luar biasa, seolah-olah ia sedang menyelamatkan nyawa orang yang paling ia cintai, bukan musuh bebuyutannya.
Saat operasi selesai dan matahari pagi mulai mengintip di cakrawala Jakarta, Aisyah keluar dari ruang operasi dengan sisa tenaga yang minim. Ia bersandar di dinding koridor, keringat membasahi dahi dan punggungnya.
"Dokter Aisyah, operasi yang luar biasa," puji dokter senior yang mendampinginya. "Anda baru saja menyelamatkan nyawa salah satu buronan paling dicari polisi. Mereka sudah menunggu di luar untuk menjaganya."
Aisyah hanya mengangguk lemah. Ia tidak merasa seperti pahlawan. Ia merasa seperti seorang pejuang yang baru saja memenangkan pertempuran terbesar melawan dirinya sendiri.
Siang harinya, Aisyah kembali mengunjungi Arkan di Lapas. Ia tampak lebih pucat dari biasanya. Saat mereka duduk di ruang kunjungan, Arkan segera menyadari ada yang tidak beres.
"Aisyah, kau terlihat sangat lelah. Apa yang terjadi?" tanya Arkan, matanya memancarkan kecemasan yang mendalam.
Aisyah menceritakan kejadian semalam. Tentang Sandro, tentang ketakutannya, dan tentang bagaimana ia akhirnya menyelamatkan pria itu.
Arkan terdiam seribu bahasa. Ia menempelkan dahinya ke jeruji besi, menahan emosi yang meluap. "Kau... kau menyelamatkan orang yang mencoba menghancurkanmu? Aisyah, kau benar-benar memiliki hati yang tidak terbuat dari tanah ini."
"Dia tetap manusia, Arkan. Di atas meja operasi, dia bukan klan Scorpio, dia hanyalah pasien yang butuh pertolongan," bisik Aisyah. "Tapi ada hal lain yang ingin Aisyah sampaikan."
Aisyah mengeluarkan sebuah surat resmi dari tasnya dan menempelkannya ke kaca pembatas
Itu adalah surat keterangan dari kepolisian.
"Karena Anda telah memberikan informasi yang sangat akurat tentang lokasi persembunyian gudang senjata Scorpio (yang ternyata didapat Arkan dari bisikan narapidana lain), dan karena pasien yang Aisyah selamatkan tadi pagi mulai bicara setelah sadar... jaksa memberikan remisi tambahan untuk Anda. Hukuman Anda dipotong enam bulan lagi sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama Anda."
Mata Arkan berkaca-kaca. Bukan karena potongan hukuman itu, tapi karena ia melihat bagaimana kebaikan Aisyah di luar penjara ternyata bersinergi dengan usahanya di dalam penjara.
"Enam bulan..." gumam Arkan. "Itu berarti aku satu langkah lebih dekat denganmu."
l
Namun, kebahagiaan itu terusik ketika Arkan kembali ke selnya sore itu. Ia menemukan buku catatannya telah dirobek-robek dan dibuang ke dalam lubang toilet. Bongkeng berdiri di sudut sel dengan seringai kemenangan.
"Itu hadiah karena kau menolak rencana kami," desis Bongkeng. "Jangan pikir karena kau dapat remisi, kau aman di sini. Di penjara ini, tidak ada yang keluar sebagai orang suci tanpa membayar harganya."
Arkan menatap sobekan kertas yang mengambang di air kotor itu. Itu adalah catatan medis teman-teman selnya yang ingin ia tunjukkan pada Aisyah. Amarah Arkan mulai mendidih, otot-otot lengannya menegang. Ia teringat teknik bertarung mematikan yang ia kuasai—hanya butuh tiga detik untuk membuat Bongkeng lumpuh selamanya.
Namun, bayangan Aisyah yang sedang berdoa di depan ruang operasi semalam muncul di benaknya. Ia teringat tangan Aisyah yang penuh darah namun tetap lembut menyelamatkan musuh.
Arkan menarik napas dalam-dalam. Ia tidak menyerang. Ia justru mengambil sisa-sisa kertas yang masih bisa diselamatkan dengan tangan kosong.
"Kau bisa merobek kertas ini, Bongkeng," ucap Arkan dengan suara yang sangat tenang namun bervolume rendah yang membuat bulu kuduk teman sel lainnya meremang. "Tapi kau tidak bisa merobek niatku. Jika kau ingin bertarung, bertarunglah dengan takdirmu sendiri, bukan denganku. Karena aku sudah menang, bahkan sebelum pertempuran ini dimulai."
Arkan duduk di lantai, mulai menulis kembali di sisa kertas yang bersih, menggunakan ingatan kuatnya. Ia tidak lagi membalas provokasi.
Malam itu, di bawah lampu sel yang redup, Arkan menulis:
Menjadi kuat bukan berarti mampu menghancurkan, tapi mampu menahan diri saat kehancuran ada di depan mata. Aisyah, kau adalah obat bagi jiwaku yang dulu berkarat.