"Pe-periksa Hadiah Aktivasi Sistem…" kata Liam dengan sedikit keraguan dalam suaranya.
Ding!
[Selamat telah berhasil memperoleh Sistem Tamparan Wajah. Berikut adalah hadiah aktivasi satu kali]
[1.000.000 Dolar (Silakan periksa sakumu untuk detailnya)]
Liam, seorang mahasiswa miskin yang hidup sederhana dan sering dipandang rendah oleh orang lain. Hidupnya berubah drastis setelah ia dikhianati oleh pacarnya, Bella, yang memilih pria kaya dan berkuasa. Dalam kondisi hancur dan putus asa, Liam tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem misterius yang memberinya kekuatan untuk membalas hinaan orang lain dengan cara mempermalukan mereka.
Dengan bantuan sistem tersebut, Liam memperoleh kekayaan, kekuatan, dan berbagai kemampuan luar biasa. Dari seorang pemuda lemah yang diremehkan, ia perlahan bangkit menjadi sosok yang percaya diri, kuat, dan bertekad untuk mengubah nasibnya serta membalas semua orang yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZHRCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Godaan Untuk Sylvie
Di dalam mobil, Sylvie memasang ekspresi buruk. Perjalanan menuju area ini cukup sulit. Jalanan dipenuhi orang sehingga sangat susah untuk mengemudi. Untungnya, orang-orang yang cukup pengertian untuk menyingkir, jadi dia masih bisa sampai ke sini. Meski begitu, dia tetap merasa ini sangat merepotkan.
Tok! Tok!
Dia tersadar dari lamunannya saat mendengar ketukan di jendela mobil. Dia menoleh dan melihat Liam dengan kemeja sederhananya.
‘Tampan sekali,’ pikirnya saat melihat wajah Liam dari dekat.
Liam memberi isyarat dengan tangannya. Sylvie pulih dari kebingungannya saat dia buru-buru membuka kunci pintu depan.
Liam awalnya mencoba membuka pintu belakang, tetapi tidak bisa. Baru setelah dia melihat Sylvie memberi isyarat ke depan, dia sadar bahwa Sylvie membukakan pintu depan, bukan belakang.
Kemarin, Liam duduk di kursi belakang. Dia pikir hari ini juga akan sama. Dia tidak menyangka bahwa Sylvie justru menawarkan kursi depan.
Liam tidak mempermasalahkannya dan hanya mengangkat bahu sebelum masuk ke dalam mobil.
"Mau ke mana?" tanya Sylvie yang tampaknya sudah kembali tenang sambil tersenyum.
"Ayo, kita sarapan dulu. Apakah kau memiliki rekomendasi tempat? Yang tidak terlalu mewah saja," kata Liam sambil memasang sabuk pengaman.
"Baiklah, serahkan saja padaku."
Sylvie menginjak pedal gas dan mobil pun mulai melaju. Tentu saja, dengan jalanan yang padat, butuh hampir sepuluh menit sebelum mereka berhasil keluar dari tempat yang terasa seperti neraka itu.
"Ngomong-ngomong, tadi pagi aku sempat mencari beberapa tempat. Aku punya beberapa rekomendasi, tapi aku tidak tahu seleramu. Aku hanya berdasarkan kata-katamu yang tidak terlalu mewah. Saat sudah sampai nanti, aku akan menceritakan lebih detailnya,” ujar Sylvie sambil menyetir.
Mendengar itu, Liam merasa sedikit canggung. Dia sebenarnya lupa memberitahu Sylvie bahwa dia sudah punya rumah baru.
"Maaf, aku sudah merepotkanmu kali ini," kata Liam dengan nada meminta maaf.
"Sebenarnya, aku sudah membeli rumah kemarin. Aku tidak bisa tidur, jadi aku memutuskan untuk mencari-cari rumah di internet. Ada satu rumah yang menarik perhatianku, jadi aku langsung membelinya."
"Aku benar-benar minta maaf sudah merepotkanmu.”
"Tidak apa-apa, sama sekali tidak merepotkan," meskipun Sylvie tampak sedikit kecewa, dia tidak terlalu memikirkannya. Setidaknya Liam masih memintanya untuk menemaninya.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sebuah restoran sederhana. Persis seperti yang diminta Liam, tempat itu tidak terlalu mewah.
Itu hanyalah sebuah restoran kecil.
Mereka berdua masuk kedalam, dan pemiliknya yang sekaligus memasak dan menyajikan makanan menyambut mereka dengan senyuman. Sepertinya dia sudah mengenal Sylvie karena sikapnya sangat ramah padanya.
Setelah memesan, Liam dan Sylvie duduk menunggu di meja kayu.
Liam melihat-lihat sekeliling dengan penasaran. Dia mencoba mencari apakah ada target di sekitar. Sayangnya, kali ini dia pasti akan kecewa karena orang-orang lain sibuk dengan urusan masing-masing.
Bahkan para pelayan yang melayani pelanggan lain juga bersikap sopan.
‘Ya, wajar sih untuk restoran sederhana seperti ini,’ pikirnya.
Meskipun sedikit kecewa karena tidak menemukan target, Liam tidak terlalu memikirkannya dan tetap menunggu makanan datang.
Beberapa menit kemudian, pemilik toko datang mengantarkan makanan kepada mereka dengan senyum hangat yang terpancar di wajahnya.
"Ini makanan favoritmu, Sylvie, sayang," katanya sambil meletakkan makanan yang mereka pesan.
Makanan yang mereka pesan juga sederhana. Hanya nasi dan ayam kecap untuk masing-masing.
"Kau pemuda yang tampan, jangan sampai kau menyakiti perasaannya dan kau harus menjaganya baik-baik, ya?" tiba-tiba pemilik itu berkata.
"Bibi Emma, tidak seperti itu…" Sylvie langsung tersipu malu mendengar ucapan itu.
Emma adalah wanita berusia sekitar lima puluh hingga enam puluh tahun. Rambutnya yang dibungkus jaring sudah banyak beruban. Wajahnya yang berkerut jelas menunjukkan usianya.
"Nak, aku sangat mengenalmu. Kau tidak mungkin membawa sembarang orang ke sini, kan? Sudahlah, jangan banyak bicara, makan saja sampai kenyang. Kali ini aku yang traktir, oke?" kata Emma sambil tersenyum penuh arti.
"Haha, tidak perlu, bibi. Dan jangan khawatir soal makanannya, biar aku saja yang bayar. Aku memang yang mengajaknya makan," Liam tiba-tiba menyela sambil tersenyum.
Dia melihat Sylvie semakin malu karena ucapan Emma, jadi dia sengaja menambah bahan bakar kedalam api.
Wajah Sylvie semakin merah setelah mendengar itu. Ucapan Liam seolah menegaskan bahwa mereka sedang berkencan.
‘T-tunggu… apa kita sudah pacaran?’ dia tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya dalam benaknya.
Dia teringat novel-novel yang pernah ia baca, 'B-bukankah ini terlalu cepat?’
‘T-tapi aku tidak keberatan…’ pikiran itu membuat wajahnya semakin memerah. Menurutnya, fantasi-fantasi yang ia pikirkan perlahan terasa seperti menjadi kenyataan.
Di sisi lain, Liam juga sadar bahwa ucapannya bisa menimbulkan kesalahpahaman bagi Sylvie.
Liam bukan orang bodoh. Dari cara Sylvie mendekatinya, dia tahu bahwa Sylvie memiliki ketertarikan padanya.
Di sisi lain, dia juga merasa Sylvie cocok untuknya. Kebetulan dia ingin segera move on, dan Sylvie adalah pilihan yang tepat untuk rencananya.
Dia ingin mendekatinya, setidaknya secara perlahan, sampai mereka benar-benar memiliki perasaan satu sama lain.
Adapun apakah perasaan itu benar-benar akan berkembang dan kapan, hanya waktu yang akan menjawabnya.
Melihat bahwa Sylvie tidak bereaksi terhadap godaan-godaan itu, dia semakin yakin dengan dugaannya.
Sejak kecil, Liam sudah sadar akan kelebihannya, yaitu penampilannya. Selama bertahun-tahun, dia juga cukup peka dan tahu apakah seseorang memiliki perasaan padanya atau tidak.
Bella pun pernah dipandang seperti itu olehnya. Namun, seiring waktu, dia terlalu tenggelam dalam perasaan cinta sampai tidak lagi sadar dengan keadaan sekitarnya.
Atau mungkin sebenarnya dia sudah melihat tanda-tanda Bella tidak lagi menyukainya, tetapi dia terlalu buta oleh cinta sehingga memilih untuk mengabaikannya. Dia baru sadar belakangan bahwa dirinya sudah menjadi bucin tanpa sadar.
Baru setelah melihat kenyataan yang sangat jelas, dia akhirnya terbangun dari ilusinya.
Namun kali ini, Liam tidak berniat mengulang kesalahan yang sama lagi.