Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Ambar mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan kesadaran yang masih tertinggal di alam mimpi.
Hal pertama yang ia tangkap adalah bayangan wajah Baskara yang berada sangat dekat darinya, lengkap dengan senyuman tipis yang terlihat sangat menyebalkan sekaligus tampan.
"Sudah selesai?" tanya Ambar dengan suara serak khas orang bangun tidur, berusaha terdengar sedatar mungkin.
"Sudah," jawab Baskara singkat, tetap dengan tatapan yang seolah bisa membaca isi pikiran istrinya.
Ambar segera beranjak duduk, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Rasa panas di hatinya yang sempat mendingin saat tidur, kini kembali berkobar saat teringat suara tawa Siska tadi.
"Bagus kalau sudah selesai. Aku berangkat ke butik dulu. Banyak pesanan yang harus aku cek," ucap Ambar sambil bersiap turun dari ranjang, gerakannya terlihat terburu-buru seolah ingin segera menjauh.
"Ambar, kemarilah," panggil Baskara dengan nada suara yang rendah dan penuh wibawa, namun terselip kelembutan di sana.
Ambar menghentikan langkahnya di tepi ranjang. Ia menoleh perlahan dan mengerucutkan bibirnya dalam-dalam, menunjukkan sikap defensif yang jelas-jelas menandakan ia sedang merajuk hebat.
"Apalagi, Tuan Mahendra? Bukankah terapinya menyenangkan? Kenapa tidak minta Siska saja yang mengantarmu beristirahat?" sindir Ambar, masih dengan bibir yang maju beberapa sentimeter.
Baskara tidak bisa lagi menahan tawa kecilnya melihat tingkah Ambar yang sangat transparan.
Ia menarik tangan Ambar dengan lembut namun bertenaga, memaksanya untuk kembali duduk di sampingnya.
"Jadi, karena suara tawa itu istriku ini berubah menjadi macan?" goda Baskara sambil mencubit gemas dagu Ambar.
"Siska memang tertawa, tapi aku tertawa karena dia menceritakan betapa lucunya wajahmu saat keluar ruangan tadi. Dia bilang, dia merasa seperti sedang diawasi oleh detektif paling galak di dunia."
Ambar memalingkan wajahnya, namun rona merah di pipinya tak bisa disembunyikan.
"Tetap saja, dia genit."
Baskara menarik napas panjang, lalu memeluk pinggang Ambar dari samping.
"Dia hanyalah pekerja, Sayang. Bagiku, tidak ada suara yang lebih merdu daripada suaramu, dan tidak ada desain yang lebih indah daripada yang kamu buat di buku sketsa ini. Berhentilah cemburu, kamu membuatku merasa sangat diinginkan, tapi itu juga membuatku tidak tega melihatmu kesal."
Ambar melepaskan pelukannya dan menatap Baskara dengan sorot mata yang sungguh-sungguh, meski pipinya masih sedikit merah. Ia menunjuk dada suaminya dengan ujung jari telunjuknya.
"Aku serius, Bas. Jangan tertawa serenyah itu lagi dengan wanita lain, atau aku benar-benar akan mengemasi koper dan meninggalkan kamu sendirian dengan terapis cantikmu itu," ancam Ambar dengan nada yang berusaha galak.
Baskara langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, tanda menyerah.
Ia menarik Ambar kembali ke dalam dekapannya dan mengecup keningnya lama.
"Janji, Sayang. Aku tidak akan melakukannya lagi. Tawaku hanya milikmu, dan aku tidak ingin mengambil risiko kehilangan nyawaku karena istrimu yang cemburu ini pergi."
Baskara menganggukkan kepalanya dengan mantap, memastikan kesepakatan "damai" itu resmi berlaku.
Setelah memastikan suasana hati Ambar benar-benar pulih, Ambar segera bersiap.
Ia mengenakan blazer kerjanya yang elegan, mengambil tas, dan berangkat menuju butiknya dengan dikawal ketat oleh Thomas.
Meski masih ada sedikit rasa kesal yang tersisa, Ambar merasa jauh lebih tenang setelah mendengar penjelasan suaminya.
Sementara itu, di rumah, suasana kembali menjadi formal.
Begitu mobil Ambar keluar dari gerbang, senyum di wajah Baskara langsung menghilang, digantikan oleh ekspresi serius seorang penguasa bisnis.
"Gabby, siapkan ruang kerja. Pastikan koneksi internet aman dan tidak ada gangguan," perintah Baskara sambil bergerak perlahan menuju meja kerjanya.
"Baik, Tuan," jawab Gabby sigap.
Baskara duduk di kursi kebesarannya, membuka laptop, dan memulai virtual meeting penting dengan jajaran direksinya.
Meskipun kakinya masih dalam masa pemulihan, pikirannya tetap tajam untuk mengendalikan kerajaan bisnis Mahendra. Namun, di tengah-tengah rapat yang menegangkan itu, sesekali ia melirik ponselnya, menunggu kabar dari istrinya yang sudah mulai sibuk di dunia fashion-nya.
Setelah badai yang menimpa rumah tangganya mereda, Ambar mencoba kembali ke rutinitas yang ia cintai.
Langkah kakinya terdengar mantap saat memasuki butik mewahnya, menyapa beberapa karyawan yang menyambutnya dengan wajah
penuh kelegaan.
"Selamat datang kembali, Bu Ambar," sapa mereka serempak.
Ambar tersenyum tipis, meski wajahnya sebenarnya masih sedikit pucat.
"Terima kasih semuanya. Saya ke ruangan dulu, ya. Banyak yang harus saya kejar."
Ia melangkah masuk ke ruang kerjanya yang bernuansa minimalis elegan.
Aroma harum kain-kain premium dan wangi esensial yang menenangkan biasanya langsung membuatnya bersemangat. Namun, entah mengapa, siang itu udara di sekitarnya terasa sangat tipis.
Ambar meletakkan tasnya di atas meja. Saat ia baru saja hendak menarik kursi untuk duduk, pandangannya mendadak berputar hebat.
Lantai marmer di bawah kakinya seolah bergoyang, dan suara bising dari luar butik perlahan meredup menjadi dengungan panjang di telinganya.
"Ah..." keluhnya sambil memegangi kepala.
Ambar mencoba meraih tepian meja untuk berpegangan, namun tangannya kehilangan tenaga. Hitam.
Segalanya menjadi gelap dalam sekejap. Tubuhnya ambruk ke lantai tepat sebelum ia sempat menduduki kursi kebesarannya.
Di saat yang bersamaan, Ira, salah satu karyawan senior di bagian penjahit, masuk membawa beberapa sampel kain sutra yang baru datang.
Braakk!
Ira membeku di ambang pintu. Matanya membelalak melihat tubuh majikannya tergeletak tak berdaya di samping meja kerja. Kain-kain di tangannya jatuh berserakan.
"IBU AMBAR!" teriak Ira histeris. Suaranya melengking memenuhi seisi butik.
Ira berlari menghampiri Ambar, mencoba menepuk pipinya, namun tidak ada respons.
Ia segera berdiri dan berteriak ke arah pintu yang terbuka lebar.
"TOLONG! SIAPA SAJA TOLONG! IBU AMBAR PINGSAN!"
Dalam hitungan detik, suasana butik yang tenang berubah menjadi kacau.
Beberapa karyawan berlarian masuk, sementara salah satu dari mereka segera merogoh ponsel untuk menghubungi Thomas, ajudan pribadi Baskara.
Di kediaman Mahendra, Baskara yang baru saja menutup virtual meeting-nya mendadak merasakan firasat buruk.
Ponsel di atas mejanya bergetar hebat. Nama "Thomas" muncul di layar dengan label panggilan darurat
Baskara segera mengangkat ponselnya dengan jantung yang berdegup kencang.
Belum sempat ia mengucap salam, suara Thomas yang biasanya tenang terdengar bergetar di seberang telepon.
"Tuan, Nyonya Ambar pingsan di butik," lapor Thomas dengan suara yang tertahan kepanikan.
"Tadi salah satu karyawannya berteriak minta tolong. Saat ini kami sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat. Maafkan saya, Tuan, penjagaan kami kecolongan soal kondisi kesehatan Nyonya."
Wajah Baskara seketika memucat. Ia mencoba berdiri dengan tumpuan tongkatnya, mengabaikan rasa nyeri yang menusuk di kakinya akibat gerakan yang tiba-tiba.
"Apa?! Bagaimana bisa?! Dia tadi baik-baik saja saat berangkat!" bentak Baskara, suaranya menggelegar di ruang kerja yang sunyi.
"Bawa dia ke rumah sakit Om Edward sekarang juga! Jangan sampai ada lecet sedikit pun pada tubuhnya, Thomas! Aku berangkat sekarang!"
Baskara memutus sambungan telepon dengan tangan gemetar.
Ia tidak peduli lagi dengan larangan Dokter Edward atau jadwal terapinya. Pikirannya hanya tertuju pada Ambar.
"Gabby! Siapkan mobil sekarang! Kita ke rumah sakit!" teriak Baskara sambil tertatih menuju pintu, urat-urat di lehernya menegang menahan emosi dan ketakutan yang luar biasa akan kehilangan wanita yang baru saja kembali ke pelukannya itu.
Baskara tiba di rumah sakit dengan napas terengah-engah.
Ia mengabaikan rasa sakit di kakinya dan langsung menuju ruang perawatan tempat Ambar dibaringkan.
Di sana, ia melihat istrinya masih terpejam dengan wajah yang sangat pucat dan tubuh yang menggigil kecil di balik selimut.
Dokter Edward berdiri di samping ranjang, menatap monitor medis dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Begitu melihat keponakannya datang, Edward memberikan tatapan yang sangat serius.
"Ada apa, Om?" tanya Baskara dengan suara parau. Ia menggenggam tangan Ambar yang terasa sangat dingin.
"Kenapa dia belum sadar? Apakah trauma di kepalanya kambuh lagi? Apa ada perdarahan dalam yang kita lewatkan?"
Dokter Edward terdiam sejenak, lalu sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—muncul di sudut bibirnya. Ia menepuk bahu Baskara dengan pelan.
"Tenanglah, Baskara. Kepalanya baik-baik saja," ucap Om Edward lembut.
"Ambar pingsan karena sebuah kejutan besar untukmu. Dia sedang mengandung, Baskara. Usia kandungannya baru memasuki minggu-minggu awal."
Baskara tertegun. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
"Mengandung? Ambar, hamil?"
"Iya," Edward mengangguk, namun ekspresinya kembali serius.
"Tetapi karena hormonnya yang sedang melonjak drastis di tengah kondisi pemulihan, tubuhnya masih sangat lemah. Tubuhnya belum sepenuhnya siap menerima beban ganda setelah trauma besar kemarin. Itulah sebabnya dia pingsan dan sekarang mengalami demam tinggi."
Baskara menatap wajah Ambar dengan perasaan yang berkecamuk—antara bahagia yang luar biasa dan rasa takut yang mendalam.
"Dia harus istirahat total, Baskara. Kondisi janin dan ibunya harus kita pantau ketat karena demamnya ini bisa berisiko," lanjut Om Edward.
"Jangan biarkan dia kelelahan atau memikirkan hal-hal berat dulu. Untuk saat ini, dia butuh kehangatan dan dukunganmu sepenuhnya."
Baskara mencium punggung tangan Ambar dengan air mata yang hampir menetes.
"Terima kasih, Om. Aku akan menjaganya. Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada mereka berdua."
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰