Arga Pratama, seorang mekanik tangguh yang hidupnya sederhana namun penuh prinsip, tak sengaja bertemu dengan Clara, wanita cantik pewaris perusahaan besar yang sedang lari dari perjodohan. Karena suatu keadaan terpaksa, mereka harus terikat perjanjian kontrak palsu. Siapa sangka, dari bau oli dan mesin, tumbuhlah benih cinta yang tak pernah disangka-sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olshop sukses Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keadilan Terwujud dan Cinta yang Bersemi
Keesokan harinya, berita penangkapan Giovanni dan pengakuan kejahatannya meledak di mana-mana. Media berbondong-bondong memberitakan bahwa skandal yang menjerat Arfan Pratama ternyata murni fitnah belaka yang dirancang oleh saingan bisnis dan pengagum yang gila kuasa.
ARFAN PRATAMA BERSIH! GIOVANNI DITANGKAP KARENA PENCULIKAN DAN FITNAH!
KELUARGA PRATAMA KEMBALI BERSATU, KEADILAN TETAP BERLAKU!
Berita itu menghapus semua noda hitam di reputasi Arfan. Bahkan, banyak orang yang justru makin menghormati keluarga Pratama karena terbukti jujur, tegas, dan saling melindungi satu sama lain.
Di kediaman keluarga Pratama, suasana pagi itu terasa sangat lega namun juga penuh emosi.
Arga dan Clara sudah pulang lebih cepat dari rencana setelah mendengar kabar keributan itu. Wajah Arga terlihat sangat serius, campuran antara rasa lega, marah, dan juga khawatir yang luar biasa.
Di ruang tamu yang luas itu, Arfan dan Aura berdiri dengan kepala tertunduk malu di hadapan kedua orang tuanya.
"Ayah... Bunda... maafkan kami..." ucap Arfan pelan namun tegas. "Kami salah karena tidak menunggu dan bertindak gegabah."
Aura menunduk semakin dalam, air matanya sudah tak terbendung lagi. "Maafkan Aura Yah, Bun... Aura egois. Aura nekat pergi sendirian karena Aura pikir Aura bisa selesaikan masalah sendiri tanpa bikin Ayah dan Bunda khawatir. Aura salah..."
Clara yang melihat putri kecilnya menangis begitu tersedu-sedu langsung tidak kuasa menahan diri. Ia berjalan mendekat lalu memeluk Aura erat-erat.
"Dasar anak nakal... Kamu tahu nggak betapa takutnya Bunda? Jantung Bunda rasanya mau copot tahu kalau tahu kamu bahaya begitu," ucap Clara lembut meski nada suaranya sedikit bergetar menahan tangis. "Tapi syukurlah... kamu selamat. Itu yang paling penting."
Arga menatap putranya, Arfan. Pemuda itu berdiri tegap menerima teguran, siap menerima hukuman apa pun.
"Fan... Ayah bangga kamu bisa lindungi adikmu. Ayah bangga kamu berani dan kuat. Itu tugas seorang kakak dan seorang laki-laki," kata Arga perlahan.
Wajah Arga yang tadinya tegas perlahan melunak.
"TAPI..." suara Arga meninggi sedikit. "Kamu salah besar karena mengambil risiko bodoh! Kamu pergi tanpa rencana, tanpa pengamanan! Kalau tadi ada peluru nyasar atau senjata tajam?! Apa Ayah dan Bunda harus kehilangan kamu juga?!"
"Ayah minta maaf..." Arfan menunduk.
"Kesalahan terbesar kalian berdua adalah meremehkan bahaya dan berpikir bisa menyelesaikan segalanya sendiri. Kita adalah keluarga! Kalau ada masalah, hadapi bersama! Jangan sembunyi-sembunyi!" nasihat Arga tegas namun penuh kasih sayang.
"Iya Yah... Kami mengerti. Kami janji tidak akan mengulanginya lagi," jawab Arfan dan Aura serempak.
Arga menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya. "Sini..."
Mereka berdua maju, lalu Arga memeluk kedua anaknya itu dengan sangat erat.
"Ayah sayang kalian semua. Lebih dari harta, lebih dari perusahaan ini. Jangan pernah buat Ayah dan Bunda takut kehilangan kalian lagi ya."
Momen itu sangat mengharukan. Semua rasa takut, marah, dan cemas berganti menjadi kehangatan dan rasa syukur yang mendalam. Keluarga Pratama kembali utuh dan semakin kuat.
Beberapa hari kemudian...
Masalah sudah selesai, nama baik sudah bersih, dan kehidupan kembali berjalan normal. Namun, ada satu hal yang ingin Arga lakukan.
Ia memanggil Arfan ke ruang kerjanya yang luas dan mewah.
"Duduk Fan."
"Iya Yah."
Arga menatap putranya dalam-dalam. "Kamu sudah dewasa sekarang. Kamu sudah membuktikan tanggung jawabmu. Dan Ayah juga tahu, ada seseorang yang sangat membantu kamu dan menemani kamu di saat sulit kemarin."
Arfan tersipu, ia tahu siapa yang dimaksud ayahnya. "Maksud Ayah... Saskia?"
"Iya. Gadis itu baik, pintar, dan setia. Dia nggak pergi walaupun nama kamu lagi jelek-jeleknya karena fitnah. Itu wanita berkualitas," kata Arga sambil tersenyum. "Ayah nggak akan melarang kamu berpacaran atau memilih pasangan. Asalkan dia baik, sholehah, dan bisa menghargai keluarga."
Wajah Arfan bersinar bahagia. "Makasih Yah! Berarti Ayah setuju?"
"Setuju dong. Lagian Ayah sudah selidik, keluarganya juga baik-baik saja. Bukan karena harta, tapi karena hatinya yang tulus," jawab Arga. "Nah, sebagai hadiah karena kamu sudah berhasil lalui masalah ini dan nilai kuliahmu bagus... Ayah izinkan kamu mengajak dia dan keluarganya makan malam resmi di rumah ini. Kita bicarakan hubungan kalian ke arah yang lebih serius."
Arfan melompat kegirangan dalam hati. "SIAP YAH! TERIMA KASIH YAH!"
Sore itu, di taman belakang rumah...
Arfan menghubungi Saskia dan mengajaknya keluar sebentar. Mereka berjalan berdua di antara pepohonan yang rindang.
"Sia..." panggil Arfan.
"Iya Fan?"
"Makasih ya... udah ada di sana buat aku. Waktu semua orang ngejauh dan nyalahin aku, kamu tetap percaya sama aku," ucap Arfan tulus, menatap mata indah gadis itu.
Saskia tersenyum manis, pipinya merona. "Kan aku bilang, aku kenal kamu lebih lama dari mereka. Aku tahu kamu orang baik, Fan. Lagipula... aku sayang kamu."
Jleb! Jantung Arfan berdegup kencang.
"Aku juga sayang banget sama kamu, Sia. Sangat sangat," kata Arfan lembut. Ia perlahan menggenggam tangan halus Saskia. "Dan aku punya kabar bagus..."
"Apa itu?"
"Ayah aku... setuju sama hubungan kita. Bahkan Ayah minta aku ngundang kamu dan orang tua kamu makan malam di rumah buat bahas semuanya," ungkap Arfan penuh harap.
Mata Saskia membelalak lebar tak percaya, lalu ia menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca bahagia.
"Benarkah Fan?! Tuan Arga setuju?!"
"Iya sayangku. Jadi... kamu mau kan jalanin hubungan ini sama aku sampai nanti? Sampai kita sukses, sampai kita menikah nanti?" tanya Arfan dengan tatapan memohon yang sangat manis.
Saskia mengangguk kuat-kuat, air mata bahagia jatuh membasahi pipinya.
"Iya Fan! Aku mau! Aku mau sama kamu terus!"
Tanpa menunggu lama, Arfan menarik tubuh Saskia ke dalam pelukannya. Angin sore berhembus lembut, membelai rambut mereka, seolah turut merestui kisah cinta indah yang baru saja dimulai.
Di kejauhan, dari balik jendela lantai dua, Arga dan Clara tersenyum melihat pemandangan indah itu.
"Anak kita sudah besar ya Sayang..." bisik Clara sambil menyandarkan kepala di bahu suaminya.
"Iya... Mereka beruntung bisa tumbuh di zaman yang lebih mudah dan penuh cinta. Semoga cinta mereka sekuat cinta kita dulu," jawab Arga sambil mengecup kening istrinya.
Kehidupan keluarga Pratama terus berjalan, penuh warna, penuh cinta, dan penuh kesuksesan yang menanti di depan mata.