Aca Latasya Anesia dikenal sebagai badgirl yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Mulutnya tajam, sikapnya liar, dan hidupnya selalu penuh masalah. Tidak ada yang berani mengusiknya sampai sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Motor kesayangannya menabrak mobil mewah milik Aron Darios Fernandes. Bukan sekadar CEO muda yang dingin dan berkuasa, Aron adalah sosok di balik organisasi mafia paling berbahaya di kota pria yang namanya saja sudah cukup membuat orang gemetar. Mobilnya rusak. Situasi penuh ketegangan. Namun alih-alih takut, Aca justru menatapnya tajam dan melawan tanpa ragu. Di detik itulah sesuatu yang gelap dan berbahaya tumbuh dalam diri Aron sebuah obsesi. Bukan amarah bukan dendam melainkan keinginan untuk memiliki. Sejak saat itu, hidup Aca tak lagi sama. Ia menjadi target perhatian seorang pria yang tak pernah gagal mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Dan yang lebih mengerikan Aron tidak mengenal kata menyerah “Aku tidak tertarik jadi milik siapa pun,” Aca mendesis dingin. Aron hanya tersenyum tipis, matanya penuh dominasi. “Sayangnya kamu tak lagi punya pilihan. Baby girl.” Dalam dunia yang penuh kekuasaan, bahaya, dan permainan gelap, satu hal menjadi pasti. Sekali Aron terobsesi, tidak ada jalan keluar lagi bagi Aca untuk bebas pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandaimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Egois
Suara mesin ambulans menggema memecah hujan malam itu. Lampu merah berkelip-kelip, membelah jalan menuju rumah sakit markas.
Di dalamnya, tubuh Aron terbaring lemah, dipenuhi alat bantu yang terpasang cepat oleh tim medis darurat.
“Tekanan darah turun!” teriak salah satu tenaga medis.
“Siapkan oksigen tambahan!”
Bara berdiri di sudut, rahangnya mengeras. Tatapannya tidak pernah lepas dari Aron.
“Lo jangan berani mati sekarang, brengsek…” gumamnya pelan.
Ambulans berhenti dengan kasar. Pintu dibuka keras.
“Cepat! Bawa ke ICU!”
Aron langsung didorong masuk dengan kecepatan tinggi melewati lorong panjang yang dingin dan steril.
Lampu putih menyilaukan. Suara langkah kaki terburu-buru dan dalam hitungan detik pintu ruangan ICU tertutup.
BEEP…
BEEP…
BEEP…
Hanya suara mesin yang terdengar dari dalam.
Aca berdiri beberapa meter dari pintu itu.
Tubuhnya gemetar. Bajunya masih sedikit basah, entah karena hujan atau air mata yang tidak berhenti mengalir.
“Aron…” bisiknya lirih. Ia ingin mendekat. Ingin masuk, namun. “Tahan, Nona tidak boleh masuk. Tuan sedang di periksa.”
Langkahnya terhenti. “Dia butuh tindakan segera.” Kalimat itu seperti palu yang menghantam dadanya.
Aca mundur perlahan. Air matanya jatuh lagi.
“Ini semua gara-gara gue. Tolol banget sih gue. Seandainya waktu itu gue….” suaranya pecah.
Bara langsung mendekat. “Jangan nyalahin diri lo dek. Abang tau semua ini udah kejadian tolong percaya Aron pasti baik baik aja setelah ini.”
Aca menggeleng keras. “Kalau gue nggak ada mereka nggak bakal nyerang dia…”
“STOP!” bentak Bara. Aca terdiam.
“Jangan ngomong kayak gitu lagi,” lanjut Bara lebih pelan. “Aron milih buat lindungin lo. Itu keputusan dia.”
Aca menunduk. Namun sebelum ia sempat menjawab langkah kaki berat terdengar dari ujung lorong.
Semua orang menoleh. Seorang pria paruh baya dengan aura tegas dan dingin berjalan mendekat.
Papa Hendra. Matanya langsung tertuju pada Aca. “Aca.”
DEG!
Aca membeku. “Pa…”
Tanpa basa-basi, Papa Hendra langsung menarik tangan Aca. “Kita pulang.”
Aca kaget. “APA?! Nggak! Aku nggak mau!”
“Kamu hampir mati malam ini!” suara Papa Hendra meninggi.
“Aron juga!” balas Aca, suaranya pecah. “Aku nggak bisa ninggalin dia!”
Papa Hendra menatap tajam. “Justru karena itu kamu harus pergi dari sini.”
Aca menggeleng frustasi. “Papa nggak ngerti!”
“Papa sangat ngerti!” bentaknya. “Dia hidup di dunia yang beda sama kamu!”
Sunyi sejenak. Kalimat itu menusuk.
“Dia ketua mafia, Ca,” lanjut Papa Hendra dingin. “Dan kamu? Kamu anak Papa yang harus Papa lindungi.”
Air mata Aca jatuh semakin deras. “Dulu Papa yang maksa aku deket sama dia.” suaranya bergetar. “Sekarang Papa yang mau misahin kita?”
Papa Hendra diam. “Ini nggak adil…” bisik Aca.
“Ini demi keselamatan kamu.”
“NGGAK!” teriak Aca keras. “INI KEEGOISAN PAPA!”
Bara hanya bisa diam di samping, mengepalkan tangannya. “Aca.” panggilnya pelan.
Namun Aca sudah kehilangan kendali. “PAPA JAHAT! PAPA EGOIS!” teriaknya lagi. “DULU ACA GAK SUKA ARON PAPA PAKSA HARUS MAU SAMA DIA SEKARANG ACA UDAH SUKA MALAH MAU DIPISAHIN!”
Lorong rumah sakit mendadak sunyi. Semua orang menatap. Namun Aca tidak peduli. “ACA BENCI PAPA!” kalimat itu keluar begitu saja.
DEG!
Papa Hendra terdiam. Untuk sesaat matanya menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Sakit. Namun ia menutupinya cepat. “Bawa dia pulang,” perintahnya dingin pada anak buahnya.
“LEPASIN! AKU MAU DI SINI!” Aca memberontak.
Namun tenaga pria dewasa jauh lebih kuat.
Aca diseret menjauh. “ARON!” teriaknya histeris. “JANGAN TINGGALIN ACA! ARON!”
Namun pintu ICU tetap tertutup. Tidak ada jawaban dan perlahan suara Aca menghilang dari lorong markas itu.
Di mansion Papa Hendra
BRAK!
PYAR!
Suara barang pecah menggema keras. Aca melempar apa pun yang ada di dekatnya. Vas bunga, lampu tidur bahkan bingkai foto.
“AKU BENCI PAPA!” teriaknya lagi, suaranya serak.
Para pelayan hanya bisa diam ketakutan. Papa Hendra berdiri di ambang pintu. Wajahnya tetap dingin.
Namun matanya tidak bisa berbohong. Ia terluka. “Cukup, Ca.”
“NGGAK AKAN CUKUP!” balas Aca histeris. “Papa udah hancurin semuanya!”
“Papa nyelametin kamu!”
“Aku nggak butuh diselametin kalau harus kehilangan dia!” bentak Aca.
Sunyi. Kalimat itu menggantung di udara. Papa Hendra menghela napas panjang.
“Papa cuma punya kamu sama abang kamu. Tolong ngertiin Papa Ca. Oke dari awal emang salah Papa tadi kalau kayak gini Papa juga gak mau kehilangan kamu demi harta Ca.” katanya pelan.
Aca terdiam. Namun air matanya masih mengalir.
“Papa nggak mau kehilangan kamu,” lanjutnya.
Namun Aca menggeleng. “Aku juga nggak mau kehilangan Aron Pah.” Suasana menjadi hening. Dua orang itu berdiri dengan ketakutan masing-masing.
Sementara itu di rumah sakit lampu ruangan ICU masih menyala.
BEEP…
BEEP…
BEEP…
Grafik di monitor naik turun tidak stabil.
Dokter bergerak cepat. “Detak jantung melemah!”
“Siapkan tindakan lanjutan!”
Bara berdiri di luar, tangannya mengepal keras. “Aron lo harus kuat. Jangan tinggalin adek gue brengsek. Lo mau bikin Aca gila hah.”
Ia menunduk. Untuk pertama kalinya dia yang selalu tegas itu terlihat rapuh.
“Gue janji sama Aca.” bisiknya pelan. “Lo harus balik denger nggak sih lo.”
Namun di balik pintu itu Aron masih berjuang.
Antara hidup dan mati dan di tempat yang berbeda Aca juga berjuang. Melawan orang yang paling ia cintai demi orang yang ia cintai.
Malam semakin larut, namun tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar bisa beristirahat.
Di dalam kamar yang kini berantakan, Aca terduduk lemas di lantai. Napasnya masih tersengal, tangisnya belum benar-benar reda. Pecahan kaca dan barang-barang berserakan di sekelilingnya, mencerminkan betapa kacau hatinya saat ini.
“Gue harus ke sana.” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Tangannya mengepal di atas lantai. “Gue harus ketemu Aron dia butuh gue.”
Perlahan, ia mencoba berdiri. Kakinya gemetar, tapi tekad di matanya tidak hilang.
Namun baru beberapa langkah.
Klik.
Pintu terkunci dari luar.
DEG!
Aca langsung menoleh.
“PAPA!” teriaknya, berlari ke arah pintu dan memukulnya keras. “BUKA! ACA MAU PERGI!”
Tidak ada jawaban.
“PAPA PLEASE!” suaranya mulai pecah lagi. “ACA BUTUH KE SANA!”
Ia terus memukul pintu, semakin keras, semakin putus asa. Namun tetap sunyi.
Akhirnya, tenaga Aca habis. Ia bersandar di pintu, lalu perlahan jatuh terduduk lagi.
Air matanya kembali mengalir. “Aron…” bisiknya lirih, penuh harap dan takut. “Tolong jangan tinggalin Aca.”
Di sisi lain, di balik pintu itu Papa Hendra berdiri diam. Tangannya terkepal, rahangnya mengeras.
Ia mendengar semuanya. Setiap teriakan. Setiap tangisan. Dan itu menghancurkan hatinya.
Namun ia tetap tidak membuka pintu karena dalam pikirannya lebih baik putrinya membencinya sekarang daripada ia harus kehilangan putrinya selamanya karna serangan gila para mafia itu.
“Oke gue bisa loncat dari lantai 3 ini.” ujar Aca yang udah gila. Demi apapun ia cuma mau sama Aron.
Papa Hendra punya firasat buruk ia lari langsung memutar kunci itu, “ACA BERHENTI JANGAN GILA ACAAAAA…..!!”