Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.
Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.
Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Udara malam Hutan Wanamarta perlahan tertinggal di bawah telapak kaki mereka, berganti dengan embusan angin lapisan atas yang jauh lebih tipis dan menggigit. Di bawah sana, kanopi pepohonan purba yang rapat kini hanya terlihat bak hamparan permadani hitam yang berombak pelan tertiup angin malam. Semakin tinggi mereka mengudara, semakin pekat kesunyian yang menyelimuti. Suara jangkrik dan lolongan hewan buas dari dasar lembah telah lama pudar, digantikan oleh dengung rendah dari gesekan angin yang membelah aura pertahanan sang ksatria Pringgandani.
Di kelamnya langit, menembus kabut tipis yang menggantung di bawah perut awan, Gatotkaca melayang dengan kecepatan yang sengaja ia tahan hingga batas paling lambat.
Jika ia sedang berpatroli sendirian atau memburu pasukan pengintai musuh, ia bisa melesat merobek langit hingga menciptakan suara ledakan yang memekakkan telinga, berpindah dari satu puncak gunung ke puncak lainnya hanya dalam hitungan tarikan napas. Namun malam ini, ia membawa muatan yang jauh lebih berharga dari seluruh pusaka emas di perbendaharaan Amarta. Ia membawa dua nyawa manusia—dua pualam rapuh yang bisa hancur hanya karena tekanan udara yang terlalu kuat.
Untuk melindungi mereka, Gatotkaca memusatkan seluruh cakra batinnya. Ia memancarkan hawa panas dari dalam aliran darah separuh raksasanya, menciptakan sebuah kubah tak kasat mata di sekeliling tubuh mereka. Kubah itu menangkis angin beku pegunungan yang berhembus liar, memastikan tidak ada satu embusan pun yang sanggup menembus dan membekukan darah kedua putri yang berada dalam dekapannya. Otot-otot rahangnya mengeras karena konsentrasi yang luar biasa. Ia bahkan mengatur ritme napasnya sedemikian rupa agar dadanya tidak naik-turun terlalu keras, takut gerakan sekecil apa pun akan mengusik Pregiwa yang bersandar padanya.
Di punggungnya, Pregiwati telah jatuh tertidur. Kelelahan fisik akibat berlari menembus hutan, ditambah kehangatan luar biasa yang memancar dari zirah punggung Gatotkaca, membuat putri bungsu itu tak kuasa menahan kantuk. Kedua lengan kurusnya melingkar kuat layaknya sulur tanaman yang memeluk batang pohon ek tua, wajahnya terbenam nyaman di kain beludru pelindung leher sang ksatria.
Namun di dada bagian depan, Pregiwa sepenuhnya terjaga.
Sang putri tidak menutup matanya. Ia menyandarkan sebelah pipinya tepat di tengah hamparan pelat dada emas bernuansa ukiran kalamakara yang dingin, namun anehnya memancarkan kehangatan hidup yang begitu menenangkan. Melalui celah bulu matanya yang lentik, Pregiwa menatap hamparan bintang yang kini mulai bermunculan dari balik awan yang tersibak. Ia belum pernah melihat langit sedekat ini. Bintang-bintang itu seolah bisa ia petik hanya dengan mengulurkan tangan.
Namun, yang jauh lebih menakjubkan bagi Pregiwa bukanlah keindahan langit malam, melainkan sosok pria yang sedang membawanya terbang.
Pregiwa meresapi setiap getaran yang menjalar dari tubuh sang ksatria ke tubuhnya sendiri. Ia mendengar ritme detak jantung Gatotkaca yang solid dan teratur—detak jantung yang menjadi bukti tak terbantahkan bahwa makhluk penakluk badai ini adalah seorang makhluk bernyawa, bukan sekadar mesin pembunuh tanpa perasaan seperti yang selalu didesas-desuskan oleh orang-orang keraton.
Selama ini, Pregiwa tumbuh di lingkungan yang memuja keindahan fisik dan kelembutan tutur kata. Ayahnya, Arjuna, adalah lambang kesempurnaan seorang ksatria. Ketampanannya tak tertandingi, suaranya mampu meluluhkan hati bidadari, dan gerakannya di medan tari maupun medan perang selalu dipenuhi keanggunan. Para pangeran yang datang melamar Pregiwa pun selalu berlomba-lomba menampilkan puisi termanis dan senyum paling menawan.
Lalu... ada pria ini. Gatotkaca.
Wajahnya keras bagai dipahat dari batu andesit mentah. Garis rahangnya tajam, alisnya tebal menukik, dan tubuhnya terlalu besar hingga terlihat mengintimidasi. Kulitnya berwarna tembaga gelap, dipenuhi bekas-bekas luka pertempuran yang tidak pernah sempat pudar karena selalu tertimpa luka baru. Ia tidak tahu cara merangkai puisi. Ia tidak tahu cara melempar senyum menawan. Kata-katanya kaku, terputus-putus, dan diucapkan dengan bariton yang menggetarkan dada.
Namun, di atas langit malam yang sunyi ini, di tengah rengkuhan lengan baja yang memeluk pinggangnya dengan kehati-hatian tingkat dewa, Pregiwa menyadari satu hal yang mengguncang batinnya. Tidak ada satu pun pangeran berwajah tampan dan bertutur kata manis yang pernah membuatnya merasa begitu dihargai, dihormati, dan dilindungi sedemikian rupa layaknya yang dilakukan oleh pria berwajah batu ini. Di balik cangkang besinya yang menakutkan, Gatotkaca menyimpan ketulusan yang murni—ketulusan yang belum pernah terkontaminasi oleh ambisi politik atau intrik keraton pencari kekuasaan.
"Kita hampir tiba, Tuan Putri," bisikan berat Gatotkaca membuyarkan lamunan Pregiwa. Suara itu begitu pelan, sengaja diredam agar tidak membangunkan Pregiwati yang terlelap di punggungnya.
Pregiwa mendongak, menatap dagu dan garis rahang tegas Gatotkaca dari bawah. "Apakah jaraknya masih jauh, Kanda?"
"Hanya melewati punggungan bukit di depan kita. Berpeganganlah sedikit lebih erat, Tuan Putri. Angin di sekitar lembah utara cukup liar, hamba harus sedikit menukik untuk menembus tirai air terjun."
Pregiwa mematuhi instruksi itu. Ia mempererat pelukan lengannya di leher Gatotkaca, menyembunyikan wajahnya lebih dalam ke ceruk dada sang ksatria. Aroma maskulin dari paduan keringat, baja tua, dan wangi alam yang melekat pada tubuh Gatotkaca menguar kuat, membuat dada Pregiwa berdesir aneh.
Gatotkaca menukik pelan. Mereka meluncur melewati punggungan tebing batu kapur yang curam, menembus lapisan kabut basah yang menggantung di dasar lembah tersembunyi. Suara deru angin kini digantikan oleh suara gemuruh air yang jatuh dari ketinggian. Semakin ke bawah, suara itu semakin memekakkan telinga.
Dari balik kabut, Pregiwa bisa melihat sebuah air terjun yang membelah tebing gelap. Airnya memantulkan cahaya pucat rembulan, terlihat bagaikan tirai perak raksasa yang berkilauan menjuntai dari langit menuju kolam gelap di dasar jurang. Ini bukan sekadar tempat berteduh biasa. Tempat ini memancarkan aura magis kuno yang sangat pekat.
Dengan manuver yang sangat mulus tanpa sedikit pun guncangan, Gatotkaca melayang menembus bagian samping tirai air terjun perak tersebut. Ribuan titik air memercik ke arah mereka, namun seketika menguap saat menyentuh kubah aura panas yang dipancarkan oleh sang ksatria.
Begitu melewati tirai air, suara gemuruh air terjun mendadak mereda, tertahan oleh ketebalan dinding batu. Mereka kini berada di dalam sebuah rongga gua purba yang sangat luas dan tinggi. Lantainya terbuat dari batu pualam alami yang rata dan kering, sama sekali tidak tersentuh oleh percikan air dari luar. Bau lumut basah tergantikan oleh aroma dupa kuno yang samar-samar masih tertinggal, mengindikasikan bahwa tempat ini dulunya adalah ruang semadi para resi suci di masa lampau.
Gatotkaca menurunkan ketinggiannya secara perlahan hingga ujung sepatu besinya menyentuh lantai gua tanpa mengeluarkan suara secuil pun. Ia membiarkan aura pertahanannya memudar. Hawa dingin gua yang alami mulai terasa, namun tidak sampai menusuk tulang.
"Kita sudah sampai, Tuan Putri," ucap Gatotkaca parau.
Tiba saatnya untuk melepaskan dekapannya. Entah mengapa, ada keengganan yang teramat berat menyelinap di relung dada Gatotkaca. Sepanjang hidupnya, ini adalah penerbangan paling singkat sekaligus paling menyiksa—menyiksa karena ia tahu, begitu kakinya menyentuh tanah, ia harus mengembalikan wanita ini kembali ke jarak yang seharusnya. Ia harus merelakan kehangatan yang baru saja ia cicipi untuk kembali menguap ke udara kosong.
Dengan sisa-sisa ketegaran seorang prajurit, Gatotkaca merendahkan tubuhnya, berjongkok perlahan agar Pregiwati tidak terbangun mendadak. Ia membiarkan putri bungsu itu melorot lembut dari punggungnya, membaringkannya di atas sebuah hamparan batu datar yang menyerupai dipan alami. Setelah memastikan napas Pregiwati teratur, Gatotkaca beralih pada Pregiwa yang masih berada dalam gendongannya.
"Biarkan hamba membaringkan Tuan Putri di sebelah Yayi Pregiwati," bisik Gatotkaca tanpa berani menatap mata Pregiwa. Ia sangat takut jika ia menatap mata itu sekarang, ia akan kehilangan kendali atas akal sehatnya dan menolak melepaskan rengkuhannya.
Pregiwa hanya mengangguk pelan.
Gatotkaca melangkah menuju dipan batu itu. Dengan kelembutan yang nyaris melampaui batas kodratnya sebagai makhluk bertenaga raksasa, ia meletakkan tubuh Pregiwa. Ia menahan pinggang dan bahu sang putri hingga seluruh tubuh Pregiwa benar-benar tertopang sempurna oleh permukaan batu. Saat tangan Gatotkaca ditarik mundur, Pregiwa bisa merasakan hilangnya kehangatan luar biasa yang sedari tadi menyelimutinya. Kekosongan seketika menggantikan tempat di mana lengan kokoh itu menyentuhnya.
"Terima kasih, Kanda Gatotkaca," ucap Pregiwa tulus. Ia membenahi kain jariknya yang kusut, mencoba duduk bersandar pada dinding gua yang melengkung. Pergelangan kakinya masih berdenyut nyeri, namun setidaknya kini ia bisa bernapas lega karena bahaya telah benar-benar berlalu.
Gatotkaca buru-buru memalingkan wajah, mundur beberapa langkah dari dipan batu itu. Jarak di antara mereka kembali terbentang, memisahkan dua kasta yang berbeda, memisahkan antara sang pualam keraton dan sang batu asahan perang.
"Tempat ini cukup aman, Tuan Putri. Beristirahatlah," ucap Gatotkaca kaku. "Hamba akan mengumpulkan sisa-sisa kayu kering di sudut gua untuk membuat perapian kecil. Hawa dingin pegunungan akan semakin menusuk menjelang fajar."
Tanpa menunggu jawaban, Gatotkaca berbalik dan berjalan menuju sudut tergelap gua. Gua ini adalah salah satu titik persinggahannya jika ia harus melakukan pengintaian jarak jauh berhari-hari. Di sudut itu, ia pernah menyembunyikan tumpukan kayu pinus kering dan beberapa batu pemantik.
Dalam keremangan yang hanya disinari oleh pantulan cahaya bulan dari luar tirai air terjun, Pregiwa mengamati dalam diam. Matanya mengikuti setiap gerak-gerik sang ksatria raksasa.
Ia melihat Gatotkaca menumpuk kayu-kayu itu di tengah ruangan, tidak terlalu dekat dengan dipan batu agar asapnya tidak mengganggu pernapasan kedua putri, namun cukup dekat agar kehangatannya bisa merambat. Gatotkaca tidak menggunakan batu pemantik seperti manusia biasa. Pria itu sekadar menangkupkan kedua telapak tangannya di depan tumpukan kayu kering itu, memejamkan mata sesaat. Tiba-tiba, dari sela-sela jarinya yang besar, memercik api merah keemasan yang langsung menyambar serabut kayu.
Hanya dalam hitungan detik, api unggun kecil telah menyala terang, mengusir kegelapan purba di dalam gua dan mengirimkan gelombang kehangatan yang sangat nyaman.
Cahaya api yang menari-nari kini menerangi seluruh relung gua, dan secara khusus, menerangi sosok Gatotkaca yang duduk bersila di seberang perapian. Pregiwa memperhatikannya lekat-lekat. Dalam balutan cahaya jingga itu, sang penjaga langit tampak begitu kelelahan. Bukan lelah fisik akibat pertarungan, melainkan lelah batin yang telah menumpuk entah sejak berapa purnama yang lalu.
Gatotkaca duduk mematung menatap lidah api, bahu lebarnya sedikit merosot. Tidak ada lagi raungan kemarahan atau aura mengintimidasi yang memancar darinya. Ia terlihat rapuh—sebuah ironi yang luar biasa untuk makhluk kebal senjata sepertinya. Zirah emas di dadanya memantulkan cahaya api, menggarisbawahi lekuk-lekuk ototnya yang tegang. Ia terlihat seperti sebuah patung dewa perang yang dilupakan di tengah kuil runtuh, tak ada yang menyembah, tak ada yang mempedulikan, hanya dihidupkan jika ada darah yang harus ditumpahkan.
Rasa iba yang teramat dalam menyelinap ke dalam dada Pregiwa. Rasa iba yang dengan cepat bermutasi menjadi sebuah ketertarikan yang tak terbendung.
"Kanda Gatotkaca," panggil Pregiwa memecah keheningan yang hanya diisi oleh gemeretak kayu bakar dan sayup-sayup gemuruh air terjun dari luar.
Gatotkaca sedikit tersentak dari lamunannya. Ia menoleh perlahan ke arah dipan batu. Wajahnya yang garang terlihat semakin bersudut karena permainan bayangan dari cahaya api. "Ya, Tuan Putri? Apakah Tuan Putri membutuhkan sesuatu? Air minum? Hamba bisa mengambilkan air murni dari mata air di ujung tirai..."
"Tidak, Kanda. Bukan itu," potong Pregiwa lembut. Ia menatap lekat-lekat pada raut wajah pria itu, mencari celah untuk menembus dinding keputusasaan yang melingkupi jiwa sang ksatria. "Mengapa Kanda duduk sejauh itu dari perapian? Apakah Kanda tidak merasa dingin?"
Pertanyaan sederhana itu membuat Gatotkaca kebingungan. Dingin? Tubuhnya ditempa di dalam lahar mendidih. Ia tidak pernah merasakan dinginnya salju sekalipun, apalagi hanya sekadar embusan angin malam Wanamarta.
"Tubuh hamba tidak bisa merasakan hawa dingin, Tuan Putri," jawab Gatotkaca jujur, suaranya terdengar datar namun menyimpan kegetiran. "Hamba diciptakan untuk kebal terhadap rasa sakit, kebal terhadap racun, dan kebal terhadap perubahan cuaca. Duduk di sini, di perbatasan antara cahaya dan gelap, adalah tempat hamba yang seharusnya. Agar hamba bisa mengawasi mulut gua."
"Tapi perapian ini menyala bukan hanya untuk mengusir dingin, Kanda Gatotkaca," ujar Pregiwa pelan, matanya memantulkan kepedulian yang membuat dada Gatotkaca kembali sesak. "Api ini juga menyala untuk mengusir kesunyian. Mendekatlah. Jangan biarkan dirimu menanggung pekatnya malam ini sendirian."
Gatotkaca terpaku. Kata-kata itu begitu sederhana, namun menghantam ulu hatinya lebih keras dari pusaka Gada Rujakpolo milik pamannya, Bima.
*Jangan biarkan dirimu menanggung pekatnya malam ini sendirian.*
Seumur hidupnya, belum pernah ada satu orang manusia pun yang memintanya untuk berbagi kehangatan di satu perapian yang sama. Orang-orang hanya memanggilnya saat mereka butuh perisai. Mereka tidak peduli apakah sang perisai itu kesepian, apakah sang perisai itu lelah, atau apakah sang perisai itu membutuhkan sebuah tempat untuk berpulang. Bagi mereka, Gatotkaca hanyalah seonggok besi berjalan pembawa kemenangan.
Ragu-ragu, seolah otot-otot di tubuhnya menolak untuk bergerak karena takut ini hanyalah sebuah mimpi fana, Gatotkaca perlahan bangkit. Ia melangkah ragu, menyusuri bebatuan gua, dan akhirnya kembali duduk bersila di dekat perapian, berhadapan langsung dengan dipan batu tempat Pregiwa bersandar.
Kini, di antara mereka berdua, hanya terpisah oleh tarian lidah api. Cahaya jingga menerangi wajah keduanya secara bergantian.
Pregiwa tersenyum tipis. Senyum itu tidak lagi ditujukan untuk menenangkan seorang pahlawan, melainkan senyum yang diberikan seorang wanita kepada pria yang berhasil mencuri hatinya tanpa pria itu sendiri menyadarinya.
"Sekarang," ucap Pregiwa dengan nada yang nyaris terdengar seperti sebuah bisikan yang intim, menyatukan pandangannya dengan tatapan mata Gatotkaca yang penuh keraguan. "Ceritakanlah kepada hamba, Kanda Ksatria. Ceritakanlah pada hamba tentang langit sunyi yang selama ini Kanda jaga sendirian. Malam ini masih panjang, dan hamba ingin mendengarnya langsung dari bibir sang penjaga awan."
Di dalam gua yang dikelilingi oleh tirai air terjun perak itu, di bawah tatapan sepasang mata teduh yang tak henti-hentinya meruntuhkan pertahanan batinnya, Gatotkaca merasa bahwa perang besar yang sesungguhnya belum dimulai di Tegal Kurusetra. Perang terbesarnya baru saja dimulai malam ini: perang melawan hatinya sendiri yang kini meronta ingin memiliki apa yang sama sekali tidak pantas untuk ia miliki.