Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Dibalik Bayangan Kota
Episode 19
Aku melangkah keluar dari pelataran Aula Pengetahuan dengan perasaan yang jauh lebih berat daripada saat aku pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini. Berat itu bukan hanya berasal dari beban koin esensi yang sudah berkurang di pinggangku namun berasal dari informasi yang baru saja kuterima dari sang Pustakawan Agung. Lord Valos mahluk yang mengirimkan pembunuh bayaran padaku ternyata adalah pemegang kunci rahasia menuju duniaku yang asli. Takdir di Gehenna ini sepertinya memang sengaja disusun agar aku harus melewati genangan darah musuhku untuk bisa pulang.
Langkah kakiku di atas ubin obsidian sekarang terdengar lebih teredam namun mantap. Berkat integrasi logam Black Iron pada struktur tulangku serta esensi kulit metalik dari Iron Crusher setiap langkahku seolah olah memiliki bobot yang mampu meretakkan batuan keras di bawahku. Aku berjalan menyamping menghindari pusat keramaian kota yang mulai dipenuhi oleh patroli Silent Watchers yang lebih ketat. Mata kuning keemasan ku terus memindai setiap lorong gelap mencari jalur yang paling jarang dilewati oleh mahluk lain.
"Goma kita tidak bisa kembali ke Penginapan Tulang Kelabu lagi. Lord Valos pasti sudah menempatkan lebih banyak pembunuh di sana setelah dua rekannya gagal kembali tadi malam," bisik Kharis yang kini meringkuk di dalam sela jubah hitamku yang lebar.
"Aku tahu Kharis. Kita akan menuju ke Distrik Abu Oksidian. Tempat di mana para iblis buangan dan petarung gagal berkumpul. Di sana bau esensi sangat berantakan sehingga keberadaan kita akan lebih sulit untuk dilacak oleh indera penciuman para pelacak kota," jawabku dengan suara yang jernih dan tenang.
Aku mulai berlari kecil. Setiap kali otot otot pahaku berkontraksi aku merasakan daya dorong yang luar biasa. Berkat sistem sirkulasi jantung esensi yang baru stamina tubuhku terasa sangat stabil. Aku tidak lagi merasa terengah engah atau kehabisan tenaga meskipun aku berlari dengan kecepatan tinggi. Aku melewati gedung gedung tinggi yang terbuat dari tulang hitam kemudian melompat ke arah sebuah gang sempit yang menuju ke arah bawah tanah kota.
Distrik Abu Oksidian adalah tempat yang sangat kotor serta berbau sangat busuk. Di sini tidak ada lagi ubin obsidian yang bersih. Yang ada hanyalah tanah berlumpur yang dicampur dengan debu tulang yang sudah membusuk. Bangunan bangunan di sini hanya berupa tumpukan sampah tulang yang dijalin menggunakan urat nadi mahluk liar. Aku melihat banyak iblis yang tubuhnya masih setengah tulang sedang mengais ngais sisa energi di antara tumpukan sampah esensi.
Aku menemukan sebuah bangunan kecil yang sudah setengah runtuh di pojok distrik. Tempat itu terlihat sangat sunyi serta tidak memiliki tanda tanda kehidupan di dalamnya. Aku masuk ke dalam kemudian menutup pintu yang terbuat dari lempengan kayu tulang yang sudah berjamur.
"Kita akan bersembunyi di sini sampai siklus energi berikutnya Kharis. Aku harus menyelesaikan integrasi logam di tubuhku agar gerakanku tidak kaku lagi saat kita memanjat dinding istana itu nanti."
Aku duduk bersila di atas tanah yang lembap. Aku melepaskan jubah hitamku memperlihatkan tubuh abu abuku yang kini terlihat sangat kokoh serta memiliki rona metalik yang samar. Aku memejamkan mataku kemudian memfokuskan jiwaku ke arah sistem sirkulasi darah hitam di dalam tubuhku.
[ SISTEM: MEMULAI DIAGNOSIS MENYELURUH ]
[ SISTEM: KULIT METALIK DAN BLACK IRON BELUM SINKRON SEPENUHNYA ]
[ SISTEM: KEKAKUAN PADA PERSENDIAN BAHU DAN PANGGUL TERDETEKSI ]
[ SISTEM: REKOMENDASI: LAKUKAN PENYATUAN ESENSI MENGGUNAKAN PANAS JANTUNG DARAH ]
Dug... dug... dug...
Aku memacu detak jantungku agar lebih cepat. Aku merasakan aliran panas yang sangat hebat mulai merambat dari tengah dadaku menuju ke arah lengan dan kaki. Aku membiarkan panas itu membakar jaringan ikat di antara tulang dan dagingku. Rasanya sangat perih seolah olah ada ribuan semut api yang sedang menggigit bagian dalam syaraf ku secara bersamaan.
"Aaakh... hrrrngh..."
Aku mengerang menahan rasa sakit tersebut. Aku bisa melihat dengan mata batin bagaimana partikel logam Black Iron yang tadinya hanya menempel di permukaan tulang kini mulai meresap masuk serta menyatu dengan sumsum tulangku. Tak hanya itu serat serat otot di bahuku mulai melonggar serta menjadi lebih elastis meskipun tetap memiliki kepadatan yang tinggi.
"Tahan Goma. Jika kau berhasil melewati tahap ini kulitmu tidak hanya akan keras seperti baja namun juga akan fleksibel seperti karet," ucap Kharis yang mengawasi dari sudut ruangan dengan penuh rasa ngeri melihat tubuhku yang mengeluarkan asap tipis berwarna merah.
Aku teringat saat aku melakukan latihan fisik berat di panti asuhan dulu. Aku sering melakukan gerakan gerakan peregangan yang sangat menyiksa untuk meningkatkan kelenturan tubuhku agar bisa memanjat celah batu yang sempit. Prinsip itu sekarang aku terapkan pada tubuh iblisku ini. Aku memaksakan otot otot metalik ku untuk meregang hingga batas maksimalnya.
Satu jam berlalu dalam kesunyian yang menyiksa. Keringat yang berupa cairan esensi berwarna hitam menetes dari dahi dan punggungku membasahi tanah di bawahku. Perlahan lahan rasa kaku yang mengganggu tadi mulai menghilang. Aku merasa tubuhku menjadi jauh lebih ringan meskipun berat badanku sebenarnya bertambah karena adanya logam di dalam tulangku.
[ SISTEM: SINKRONISASI LOGAM DAN DAGING: 95 % ]
[ SISTEM: KELENTURAN OTOT MENINGKAT 30 % ]
[ SISTEM: ANDA TELAH MEMPEROLEH KETAHANAN TERHADAP SERANGAN FISIK TIPE TAJAM ]
Aku berdiri kemudian mencoba melakukan beberapa gerakan bela diri dasar. Aku melayangkan pukulan cepat ke arah udara.
Wusss!
Suara angin yang dihasilkan oleh pukulan ku terdengar sangat tajam. Aku kemudian mencoba melakukan tendangan memutar ke arah sebuah tiang tulang yang ada di tengah ruangan.
Brak!
Tiang tulang yang cukup tebal itu hancur menjadi serbuk dalam sekali hantam. Kakiku tidak merasakan sakit sedikit pun. Sensasi benturannya terserap dengan sempurna oleh bantalan daging dan kulit metalik ku. Aku merasa seolah olah seluruh tubuhku sekarang adalah satu kesatuan senjata yang sangat mematikan.
"Sekarang tubuhku sudah siap Kharis. Aku bisa merasakan setiap aliran energi di ujung kuku kukuku."
Aku mengambil kantong koin esensi yang tersisa di pinggangku. Aku menghitungnya kembali. Masih ada dua ratus koin. Aku membutuhkan perlengkapan tambahan. Aku tidak bisa masuk ke istana Lord Valos hanya dengan tangan kosong dan belati kristal yang sudah retak ini.
"Kharis di mana aku bisa membeli perlengkapan pendakian yang terbuat dari bahan esensi di distrik ini. Aku butuh tali yang lebih panjang dan pasak yang bisa menembus batuan obsidian dengan mudah."
Kharis terbang mendekat kemudian menunjuk ke arah gang yang lebih dalam di distrik abu tersebut. "Ada seorang pandai besi tua bernama Zorak di ujung jalan ini. Dia adalah iblis buangan yang dulu pernah menjadi pengrajin senjata untuk para jenderal. Dia pasti punya sisa sisa peralatan yang kau butuhkan asalkan kau punya cukup koin untuk membayarnya."
Aku segera mengenakan kembali jubah hitamku kemudian berjalan keluar dari bangunan runtuh tersebut. Aku berjalan dengan langkah yang sangat senyap menggunakan teknik sembunyi bayangan yang baru saja ku tingkatkan. Distrik abu ini benar benar tempat yang penuh dengan mata mata yang lapar namun dengan aura intimidasi yang keluar dari tubuhku tidak ada satu pun mahluk yang berani mendekat lebih dari tiga meter.
Setelah berjalan beberapa menit aku sampai di sebuah bengkel tua yang dipenuhi oleh suara dentuman palu yang berat. Di sana seorang iblis raksasa