Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.
Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.
Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.
Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengepungan Darah
Di dalam rongga sempit di bawah susunan akar pohon mati, suhu melesat naik hingga pada titik di mana udara itu sendiri terasa membakar paru-paru.
Meng Fan merangkak mundur, menempelkan punggungnya sedekat mungkin ke dinding tanah yang dingin. Wajahnya dipenuhi keringat dan matanya membelalak penuh kengerian menatap sosok di tengah ruangan.
Tubuh Chu Chen memancarkan cahaya merah keemasan yang begitu menyilaukan hingga seolah ada matahari kecil yang meledak di dalam perutnya. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol keluar, berdenyut dengan warna hitam pekat. Suara gemuruh pelan—seperti batu gilingan raksasa yang sedang menghancurkan baja—terdengar terus-menerus dari dalam meridian pemuda itu.
"Gaaargh..." Geraman tertahan keluar dari sela-sela gigi Chu Chen yang terkatup rapat. Darah menetes dari sudut bibir, hidung, dan bahkan telinganya.
Pil Sumsum Darah bukanlah pil untuk dimakan seperti permen. Ia adalah gabungan saripati dari seratus sumsum binatang buas Tingkat 2. Bagi kultivator Lapis Kedelapan biasa, pil ini harus direndam dalam cairan pendingin spiritual selama tujuh hari, lalu diserap uapnya sedikit demi sedikit. Menelannya secara langsung sama saja dengan menelan lautan magma.
Namun, garis keturunan Dewa Naga Primordial tidak mengenal kata tunduk. Darah naga di jantung Chu Chen mengamuk, berusaha keras menelan energi biadab dari pil tersebut, sementara Seni Kaisar Naga Penelan Semesta berputar di luar batas kewajaran hingga meridian emasnya di ambang kehancuran.
KRAAAAK!
Tiba-tiba, suara ledakan terdengar dari atas mereka. Atap akar pohon raksasa itu hancur berkeping-keping, dibelah oleh sebuah tebasan pedang Qi raksasa berwarna kelabu yang memancarkan bau busuk.
Pecahan kayu dan tanah berjatuhan. Langit malam Lembah Jarum Beracun kembali terlihat, namun kali ini, langit itu ditutupi oleh bayangan puluhan sosok berjubah kelabu dan putih yang mengambang atau berdiri di dahan-dahan pohon raksasa di sekitar lubang tersebut.
Mata-mata yang memancarkan Niat Membunuh sedingin es menatap ke bawah.
"Pilar segel pelacak berasal dari lubang ini," ucap seorang pria bertubuh jangkung dengan pedang raksasa di punggungnya. Ia adalah pemimpin kelompok bayaran pembunuh Sekte Tulang Putih. Gejolak energinya berada di Puncak Lapis Kedelapan, hanya selangkah menuju Lapis Kesembilan. "Tuan Muda Xue Ying... sudah mati. Mayat keriputnya ditemukan tak jauh dari sini. Dan pelakunya ada di bawah kita."
Puluhan pembunuh Lapis Ketujuh dan Kedelapan mengunci pandangan mereka pada Chu Chen yang sedang duduk bersila, memancarkan uap merah yang membakar.
"Bocah itu... dia menelan Pil Sumsum Darah!" seru salah satu pembunuh dengan nada tak percaya. "Lihat tubuhnya! Dia sedang mengalami penyimpangan Qi dan hampir meledak!"
Pemimpin jangkung itu menyipitkan matanya. Keserakahan langsung menggantikan rasa duka atas kematian Tuan Mudanya. "Pil itu belum sepenuhnya terserap! Jika kita membunuhnya sekarang dan meminum darah jantungnya, efek Pil Sumsum Darah itu masih bisa kita dapatkan! Bunuh dia! Cincang dagingnya dan jangan biarkan satu tetes darah pun terbuang!"
"Bunuh!"
Bagaikan sekawanan serigala lapar, lebih dari dua puluh kultivator Lapis Ketujuh melompat turun ke dalam lubang secara bersamaan. Pedang, tombak, dan rantai berduri berkelebat di udara, mengarah ke setiap titik mematikan di tubuh Chu Chen.
"K-Kita mati! Chu Chen, bangun!" teriak Meng Fan, mencoba mencabut pedangnya, meski ia tahu perlawanannya di hadapan puluhan pembunuh tingkat tinggi ini hanyalah lelucon.
Namun, di saat ujung-ujung senjata tajam itu berjarak kurang dari satu jengkal dari leher Chu Chen, pemuda yang sedari tadi menunduk menahan sakit itu tiba-tiba mengangkat wajahnya.
Sepasang pupil vertikal keemasan yang menyala seperti api penyucian menatap lurus ke arah para penyerang.
SYUUUT!
Waktu seakan melambat. Chu Chen tidak menghindar. Ia mengulurkan tangan kanannya yang kini diselimuti oleh wujud samar sisik-sisik naga berwarna perunggu gelap, lalu menangkap langsung tiga bilah pedang baja yang menebas ke arahnya.
TRANG! KRETAK!
Mata para penyerang melebar saat melihat pedang baja tingkat spiritual mereka bukan hanya gagal memotong telapak tangan telanjang Chu Chen, tetapi langsung meleleh kemerahan dan patah saat bersentuhan dengan suhu tubuh pemuda itu.
"Terima kasih," bisik Chu Chen, suaranya terdengar seperti dua bongkahan batu cadas yang digesekkan. "Tubuhku hampir meledak karena kelebihan energi liar. Aku sangat membutuhkan... katup pembuangan."
Sebelum ketiga penyerang itu menyadari makna kalimat tersebut, kedua tangan Chu Chen melesat mencengkeram wajah dua orang terdepan.
Pusaran Ketiadaan—Pelahapan Massal!
Karena didorong oleh kekuatan Pil Sumsum Darah, Seni Penelan Semesta di dalam tubuh Chu Chen berevolusi. Daya hisapnya tidak lagi membutuhkan hitungan detik.
SRRRT!
Dalam satu kedipan mata, kedua kultivator Lapis Ketujuh itu mengerut menjadi sekam kering. Qi manusiawi mereka yang dingin dan teratur masuk ke dalam meridian Chu Chen, bertabrakan dengan energi liar Pil Sumsum Darah.
Keajaiban pun terjadi. Qi para penyerang itu bertindak seperti air yang mendinginkan besi panas. Dantian Chu Chen menggunakan energi musuh-musuhnya sebagai bahan bakar tambahan untuk meredam dan mencerna kekuatan Pil Sumsum Darah!
"Tidak cukup!" raung Chu Chen.
Ia bangkit berdiri. Tanah di bawah kakinya retak dan ambles akibat tekanan fisiknya. Ia membuang dua mayat kering itu, lalu menerjang langsung ke tengah kerumunan dua puluh pembunuh yang masih melayang turun.
Itu bukanlah pertarungan. Itu adalah pembantaian satu arah oleh pemangsa yang berada di puncak rantai makanan.
Chu Chen tidak menggunakan seni bela diri yang indah. Ia hanya menggunakan kekuatan mutlak, kecepatan kilat, dan daya hisap yang mengerikan.
BUGH! Tendangannya meremukkan dada seorang pembunuh Lapis Kedelapan, menewaskannya seketika sebelum Chu Chen menyambar lengan mayat itu di udara dan menyedot sisa esensinya.
KRAK! Siku Chu Chen menghancurkan tengkorak musuh lain, sementara tangan kirinya menusuk dada musuh di sebelahnya, menyerap jantung mereka bulat-bulat melalui pori-pori kulitnya.
"M-Monster! Dia bisa menyedot Qi!"
"Lari! Tarik mundur! Pedang kita tidak mempan padanya!"
Kepanikan meledak di dasar lubang. Para pembunuh pilihan yang awalnya datang untuk meminum darah Chu Chen kini mendapati diri mereka berubah menjadi kantong makanan yang disedot hingga kering. Mayat-mayat keriput berjatuhan ke tanah seperti daun gugur di musim dingin.
Pemimpin jangkung di atas tebing memucat. Ia baru saja melihat selusin anak buahnya tewas kurang dari sepuluh tarikan napas.
"Gunakan serangan jarak jauh! Jangan biarkan dia menyentuh kalian!" teriak sang pemimpin. Ia mencabut pedang raksasanya dan menebaskan bilah Qi berukuran lima meter ke arah Chu Chen.
Puluhan serangan jarak jauh—bola api, bilah angin, paku tanah—dilepaskan oleh sisa pembunuh di atas tebing, menghujani posisi Chu Chen seperti badai batu langit.
"Kau pikir jarak bisa menyelamatkanmu?!"
Chu Chen mendongak. Suhu tubuhnya telah mulai mendingin, menandakan Pil Sumsum Darah hampir sepenuhnya dicerna berkat tumbal belasan kultivator. Ia menghentakkan kakinya dengan kekuatan yang memicu ledakan guntur, melontarkan dirinya sendiri ke udara seperti batu pelontar raksasa, menyongsong badai sihir itu secara langsung.
BUM! BUM! BUM!
Serangan-serangan fana itu menghantam dada dan bahu Chu Chen, namun hanya mampu meninggalkan bekas putih atau luka gores tipis di atas kulitnya yang kini sekeras berlian.
Ia menembus badai serangan, mendarat tepat di tengah-tengah kelompok pembunuh di atas tebing.
"Sembilan," bisik Chu Chen. Kata itu adalah ketukan takdir.
Di dalam tubuhnya, sebuah dentuman besar bergema. Hambatan terakhir dari Alam Penempaan Raga, pintu besi tak kasat mata yang menghalangi fana menuju keabadian, akhirnya hancur lebur di bawah hantaman paduan Pil Sumsum Darah dan puluhan esensi manusia.
Alam Penempaan Raga Lapis Kesembilan Puncak!
Aura berwarna merah keemasan meledak dari tubuh Chu Chen, membentuk bayangan naga yang melingkari tubuhnya. Kekuatan fisiknya melonjak lima kali lipat dalam satu hentakan napas. Meridiannya sekarang cukup lebar dan kokoh untuk menampung sebuah lautan.
Ia hanya tinggal selangkah lagi menuju Alam Lautan Qi.
Chu Chen menatap pemimpin jangkung itu. Tanpa menunggu musuhnya bereaksi, Chu Chen menghilang dari pandangan. Bukan karena ilmu bayangan semu, tetapi murni karena kecepatan fisiknya telah melampaui kemampuan mata Lapis Kedelapan untuk melacaknya.
TRASH!
Pemimpin jangkung itu tiba-tiba merasakan dadanya mati rasa. Ia menunduk, dan dengan ngeri melihat lengan Chu Chen telah menembus dada belakangnya hingga tembus ke depan, menggenggam jantungnya yang masih berdetak.
"K-Kau... bukan manusia..." terdengar suara tersedak saat pemimpin itu memuntahkan darah kental.
"Di lembah ini," bisik Chu Chen di telinga pria itu. "Hanya ada pemangsa dan mangsa."
Pusaran Ketiadaan.
Sang pemimpin mengering dalam hitungan detik. Sisa lima pembunuh yang masih hidup menyaksikan adegan itu dengan kewarasan yang hancur berkeping-keping. Mereka menjerit histeris, menjatuhkan senjata, dan melarikan diri ke dalam kegelapan hutan tanpa arah, kencing di celana mereka.
Chu Chen tidak mengejar. Ia menarik tangannya dari mayat yang menjadi debu itu, lalu berdiri di ujung tebing. Jubah hitamnya berkibar ditiup angin beracun yang dingin. Darah dan keringat menguap dari kulit perunggunya.
Ia menatap ke bawah, ke arah lubang akar tempat Meng Fan masih duduk membeku, gemetar dengan rahang terbuka lebar.
Di sekeliling Chu Chen dan Meng Fan, berserakan lebih dari tiga puluh mayat keriput dari para calon murid paling berbahaya dan mematikan di seluruh Lembah Jarum Beracun.
Di malam kedua ini, di bawah cahaya bulan yang redup, tatanan kekuasaan di medan ujian Sekte Awan Suci telah dirombak secara paksa. Seorang pemuda yang dianggap sebagai sampah tanpa Akar Roh kini berdiri sendirian sebagai pemangsa mutlak yang tak tertandingi di alam fana.