NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.

Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 8

Ballroom hotel bintang lima itu memancarkan kemewahan yang mengintimidasi. Tiga lampu gantung kristal raksasa yang diimpor dari Bohemia memancarkan cahaya keemasan, memantul pada pilar-pilar marmer dan gelas-gelas champagne yang dibawa oleh para pelayan berompi rapi. Alunan musik klasik dari kuartet gesek di sudut ruangan tenggelam oleh dengung percakapan ratusan elit ibu kota.

Namun, bagi Yvone, ruangan ini lebih terasa seperti arena gladiator daripada tempat perayaan.

Begitu ia dan Dylan melangkah melewati ambang pintu, seolah ada konduktor tak kasat mata yang menghentikan orkestra. Ratusan pasang mata berpaling ke arah mereka. Beberapa wanita sosialita berbisik di balik kipas tangan berbulu mereka, sementara para pria berjas mahal menilai dengan tatapan kalkulatif.

Yvone merasa perutnya melilit. Cengkeramannya pada lengan tuksedo Dylan menegang.

Seolah merasakan kepanikan wanita di sampingnya, Dylan menundukkan kepala, memangkas jarak di antara mereka. Aroma vetiver bercampur cologne mahal menyapa indra penciuman Yvone.

"Bernapaslah, Yvone. Berjalanlah dengan kepala tegak. Mereka hanya berani menggonggong pada orang yang menunduk," bisik Dylan tepat di telinga Yvone, nada suaranya begitu stabil, memberikan instruksi sekaligus perintah.

Yvone menarik napas panjang, menegakkan punggungnya, dan memaksakan otot-otot wajahnya membentuk senyum anggun seperti yang dilatih Tara sore tadi.

Seorang pelayan mendekat membawa nampan minuman. Yvone baru saja hendak meraih segelas champagne untuk menenangkan sarafnya, ketika tangan besar Dylan mendahuluinya, mengambil dua gelas sparkling water dengan irisan lemon dan memberikan satu padanya.

"Kau butuh pikiran yang jernih malam ini, Sayang. Alkohol akan membuat lidahmu terpeleset," ucap Dylan seraya tersenyum pada Yvone sebuah senyum yang terlihat penuh kasih di mata orang lain, namun di mata Yvone, itu adalah pengingat akan kontrol absolut pria itu.

Belum sempat Yvone membalas, sekelompok pria paruh baya dengan perut buncit dan lencana kebesaran di kerah jas mereka menghampiri.

"Dylan! Astaga, kau benar-benar tahu cara membuat kejutan!" seru seorang pria berkumis tebal yang Yvone kenali sebagai salah satu direktur bank BUMN. Pria itu mengulurkan tangan, menatap Yvone dengan pandangan menilai yang tidak disembunyikan. "Jadi, ini istri misterius yang berhasil menaklukkan 'Batu Es dari Sudirman'?"

Dylan menjabat tangan pria itu dengan lugas. Tangan kirinya beralih dari lengan Yvone, melingkar dengan posesif di pinggang ramping istrinya, menariknya merapat ke sisi tubuhnya. Kehangatan telapak tangan Dylan menembus lapisan tipis sutra emerald gaun Yvone.

"Pak Baskoro. Kenalkan, istri saya, Yvone," ucap Dylan. Suaranya terdengar bangga, sebuah akting tingkat tinggi yang nyaris membuat Yvone sendiri tertipu. "Yvone, ini Pak Baskoro, salah satu mitra finansial utama Alexander Group."

"Suatu kehormatan bertemu dengan Bapak," Yvone mengangguk pelan, memberikan senyum sopan yang terukur.

"Larasati, bukan?" Baskoro memicingkan mata, nada suaranya berubah sedikit sinis. "Kudengar... keluargamu sedang ditimpa musibah belakangan ini. Kasus yang cukup... memalukan di berita."

Udara di sekitar mereka mendadak membeku. Ujian pertama telah tiba. Jantung Yvone berdebar kencang hingga nyaris memecahkan gendang telinganya, namun ia mengingat pesan Tara.

Yvone menatap lurus ke mata direktur bank itu, senyumnya tidak memudar sedikit pun. "Kami menyerahkan semuanya pada proses hukum yang adil dan transparan, Pak Baskoro. Terima kasih banyak atas simpati Anda."

Baskoro tampak sedikit terkejut dengan jawaban lugas dan tenang itu, ia mengira akan melihat seorang gadis muda yang tergagap dan menunduk malu.

Dylan, di sisi lain, mengusap pinggang Yvone dengan gerakan ibu jari yang pelan sebuah gestur yang tak disadari orang lain, namun bagi Yvone, itu adalah bentuk apresiasi dalam diam.

"Proses hukum yang adil memang kunci dari negara ini, bukan begitu?" Sebuah suara berat dan serak menyela dari belakang mereka.

Otot rahang Dylan seketika mengeras. Genggamannya di pinggang Yvone mengetat hingga terasa hampir menyakitkan. Yvone menoleh dan melihat kerumunan orang perlahan membelah, memberikan jalan pada seorang pria paruh baya berambut perak dengan setelan jas abu-abu terang. Pria itu tersenyum ramah, namun matanya memancarkan kekejaman yang licik.

Menteri Hadi. Yvone langsung mengenalinya dari foto-foto di koran. Dalang yang menjebak ayahnya.

"Pak Menteri," sapa Dylan dengan suara sedingin es. Tidak ada senyum yang tersisa di wajahnya, hanya raut wajah seorang predator yang berhadapan dengan rival terbesarnya.

"Dylan. Aku tidak menyangka kau punya waktu untuk hadir di acara amal, mengingat betapa sibuknya kau... membersihkan masalah hukum keluarga barumu," ucap Hadi dengan nada yang dibuat-buat simpatik, berhenti tepat di hadapan mereka. Mata pria tua itu beralih ke Yvone, menatapnya layaknya serangga yang ingin ia injak. "Nona Yvone. Sayang sekali ayahmu tidak bisa melihat putrinya mengenakan berlian semahal ini malam ini. Kudengar rutan VIP cukup sepi?"

Kemarahan yang mendidih seketika menguasai Yvone. Tangannya yang memegang gelas bergetar hebat. Pria inilah yang merancang semuanya. Pria inilah yang membuat ayahnya nyaris dieksekusi diam-diam. Yvone ingin berteriak, ingin menumpahkan gelas airnya ke wajah keriput itu.

Namun, sebelum Yvone sempat bereaksi, Dylan melangkah setengah langkah ke depan, menempatkan tubuhnya yang tinggi besar sebagai perisai yang memblokir tatapan Hadi terhadap istrinya.

"Ayah mertua saya mendapatkan fasilitas medis dan keamanan terbaik, Pak Menteri," balas Dylan, suaranya rendah dan mematikan, seperti geraman peringatan. "Faktanya, ia merasa sangat aman sekarang, sehingga ia mulai memiliki keberanian untuk... mengingat beberapa detail penting tentang aliran dana proyek pemerintah yang selama ini hilang."

Wajah Menteri Hadi menegang sesaat. Senyum ramahnya lenyap digantikan oleh garis mulut yang kaku. Ancaman tersirat dari Dylan sangat jelas: ayah Yvone siap bernyanyi jika Hadi macam-macam.

"Ingatan orang tua yang sedang tertekan biasanya tidak bisa diandalkan, Dylan," desis Hadi. "Berhati-hatilah dengan siapa kau berpihak. Kau mungkin raja di dunia bisnis, tapi ini adalah dunia politik. Angin bisa berubah arah dalam semalam."

"Saya selalu siap menghadapi badai, Pak Menteri," Dylan menyeringai dingin, menampilkan deretan gigi putihnya. "Nikmati champagne Anda."

Dengan sebuah anggukan singkat yang sama sekali tidak hormat, Dylan membimbing Yvone menjauh dari kerumunan elit tersebut, bergerak menuju balkon luar yang agak sepi.

Begitu pintu kaca tertutup di belakang mereka, meredam suara hiruk pikuk ballroom, Yvone menyandarkan punggungnya ke pilar batu, menghela napas panjang dan gemetar. Kakinya terasa seperti agar-agar.

"Kau baik-baik saja?" tanya Dylan, berdiri berhadapan dengannya. Untuk pertama kalinya malam ini, nada suaranya tidak dibumbui oleh kepalsuan sandiwara publik.

"Pria itu... dia benar-benar iblis," bisik Yvone, memejamkan matanya, mencoba mengusir bayangan wajah Menteri Hadi.

"Selamat datang di dunia asliku, Yvone." Dylan bersandar pada pagar balkon, menyalakan sebatang rokok, dan mengembuskan asapnya perlahan ke udara malam. "Mereka akan mengulitimu hidup-hidup jika melihat ada celah."

"Tapi kau melawan baliknya," ucap Yvone pelan, menatap pria itu. "Kau menggunakan Ayah sebagai ancaman untuk membungkamnya."

"Tentu saja. Dalam permainan ini, siapa yang memegang informasi, dialah yang memegang kendali," jawab Dylan santai, menatap ujung rokoknya yang menyala. "Tapi kau harus kuakui, jawabanmu pada Baskoro tadi lumayan bagus. Untuk seorang amatir."

Yvone mendengus kecil. "Apakah itu pujian, Tuan Hartono?"

"Itu adalah observasi objektif."

Yvone baru saja akan membalas kalimat arogan itu ketika suara ketukan sepatu hak tinggi (stiletto) yang ritmis terdengar mendekati balkon.

"Mencari udara segar di tengah pesta, Dylan? Itu bukan kebiasaanmu. Dulu kau tidak pernah melewatkan kesempatan untuk memperluas koneksimu."

Suara wanita yang elegan namun berbalut nada sinis itu membuat postur tubuh Dylan seketika menegang. Asap rokok yang baru saja ia isap tertahan di paru-parunya.

Yvone menoleh. Berdiri di ambang pintu kaca, sosok seorang wanita tinggi semampai dengan gaun merah menyala yang memamerkan lekuk tubuhnya. Rambut cokelatnya ditata bergelombang sempurna, bibirnya dipulas lipstik merah darah yang menantang. Ia cantik, mempesona, dan memancarkan aura arogansi kelas atas.

Sinta Wijaya. Yvone langsung tahu siapa dia. Tara telah memberinya daftar orang-orang yang harus diwaspadai, dan Sinta berada di urutan teratas. Dia adalah mantan tunangan Dylan. Wanita yang meninggalkan Dylan lima tahun lalu untuk menikahi seorang anggota dewan dari faksi Menteri Hadi demi kekuasaan.

Sinta melangkah maju ke area balkon, matanya hanya tertuju pada Dylan, mengabaikan kehadiran Yvone seolah istri sah pria itu hanyalah sebuah vas bunga yang tak kasatmata.

"Sinta," sebut Dylan, suaranya kehilangan semua ketenangannya yang tadi ia tunjukkan saat berhadapan dengan menteri. Ada getaran amarah masa lalu yang tertahan di sana. Ia segera mematikan rokoknya ke asbak terdekat. "Kupikir suamimu sedang sibuk di dapilnya bulan ini."

"Suamiku mengurus rakyatnya, sementara aku mewakilinya di sini. Membina hubungan baik dengan para menteri... dan para pebisnis sukses," Sinta tersenyum miring, sebuah senyum yang penuh dengan kenangan terlarang dan intrik.

Sinta akhirnya mengalihkan pandangannya pada Yvone. Ia memindai Yvone dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan yang sangat eksplisit.

"Jadi ini gadis Larasati itu," Sinta mendecak pelan, berjalan memutari Yvone seolah sedang menginspeksi barang murahan di pasar loak. "Aku harus mengakui, Dylan, setelah aku pergi, standar seleramu rupanya menurun sangat drastis. Seorang desainer interior freelance? Dengan ayah tersangka korupsi? Kudengar kau menikahinya karena kasihan. Apakah dia semacam proyek amal bagimu?"

Rahang Dylan mengeras hingga otot-ototnya terlihat jelas. Ia baru saja akan membuka mulut untuk melontarkan racunnya, namun sebuah suara lembut namun tajam menghentikannya.

"Lebih baik menjadi proyek amal yang terhormat, Nyonya, daripada menjadi investasi politik yang gagal."

Baik Dylan maupun Sinta tertegun. Mereka menoleh menatap Yvone.

Yvone berdiri tegak. Ketakutan yang tadi ia rasakan saat berhadapan dengan Menteri Hadi sirna, digantikan oleh harga diri seorang wanita yang tidak sudi diinjak-injak masalah pribadinya oleh wanita masa lalu suaminya.

Sinta menyipitkan matanya, kilat permusuhan memancar tajam. "Apa kau bilang, anak kecil?"

Yvone tersenyum, senyum yang sangat manis namun mematikan, persis meniru senyum Sinta. "Saya dengar suami Anda gagal mengamankan kursi pimpinan komisi di DPR bulan lalu, ya? Pasti berat bagi Anda, sudah mengorbankan begitu banyak cinta di masa lalu demi kekuasaan, namun ternyata... keretanya tidak melaju secepat yang Anda harapkan."

Wajah Sinta seketika memerah padam. Itu adalah rahasia umum di kalangan elit, luka terbuka yang paling dibenci Sinta untuk dibahas.

"Beraninya kau—" Sinta melangkah maju, mengangkat telunjuknya tepat di depan wajah Yvone.

Dalam sekejap mata, Dylan bergerak. Ia menepis kasar tangan Sinta dari udara dan melangkah ke depan Yvone, melindungi istrinya sepenuhnya dengan punggung lebarnya.

"Sentuh istriku, Sinta, dan aku akan memastikan karir politik suamimu hancur berkeping-keping besok pagi sebelum bursa saham dibuka," desis Dylan. Suaranya tidak keras, namun mengandung kepastian yang mematikan.

Sinta menatap tangan Dylan yang menepisnya, lalu menatap mata kelam pria yang dulu pernah memujanya itu. Ia tertawa sumbang, berusaha menutupi kekalahannya.

"Kita lihat saja nanti, Dylan," desis Sinta berbisa. "Permainan baru saja dimulai. Ayah dari gadis miskin di belakangmu itu tidak akan selamat. Dan saat hari itu tiba, kau akan menyadari betapa bodohnya kau mempertaruhkan Alexander Group untuknya."

Sinta membalikkan badannya dengan angkuh dan melangkah pergi, suara hak sepatunya bergema keras sebelum akhirnya hilang di balik pintu ballroom.

Keheningan kembali menyelimuti balkon. Angin malam berhembus, menerbangkan beberapa helai rambut Yvone.

Dylan berbalik perlahan menghadap Yvone. Ia menatap istrinya itu lekat-lekat, seolah melihat Yvone untuk pertama kalinya. Tidak ada tatapan dingin yang biasa ia berikan, tidak pula tatapan meremehkan. Kali ini, ada kilat ketertarikan yang nyata, sebuah kejutan yang menyenangkan dari pria es itu.

"Investasi politik yang gagal," gumam Dylan, mengulangi kata-kata Yvone tadi. Sudut bibir pria itu berkedut, dan untuk pertama kalinya sejak Yvone mengenalnya, Dylan Alexander Hartono tertawa pelan. Tawa yang sangat pelan, rendah, dan... maskulin.

"Aku tidak menyangka seekor anak kucing bisa memiliki cakar setajam itu," ucap Dylan, matanya tidak lepas dari wajah Yvone.

Yvone menegakkan dagunya, meskipun jantungnya masih berdebar tak karuan. "Jika Anda melemparkan saya ke kandang ular, Tuan Hartono, Anda tidak bisa berharap saya hanya diam dan membiarkan mereka menggigit saya."

Dylan melangkah mendekat, memangkas jarak hingga ujung sepatu mereka nyaris bersentuhan. Ia mengangkat tangannya dan menyelipkan helaian rambut Yvone yang ditiup angin ke belakang telinga wanita itu. Sentuhannya terasa aneh, jauh dari kata kasar, sedikit... lembut.

"Teruslah gunakan cakar itu, Yvone," bisik Dylan, matanya mengunci tatapan Yvone, menyalurkan intensitas yang membuat napas Yvone tertahan. "Karena di medan perang ini, hanya mereka yang berani melawan yang akan bertahan hidup."

1
Titien Prawiro
Bacanya deg2gan terus.
k
bagus sekali
k
lia kasihan
p
memang bagus😍
p
👍👍👍👍
1
lanjut
1
absen
Sang_Imajinasi
Jangan Lupa beri vote dan dukungan 🙏
Xiao Bar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!