NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Menjadi Miliader

Terlahir Kembali Menjadi Miliader

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:13.3k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

[cp akan terlambat]
negara : Indonesia

sinopsis:
Mati setelah seumur hidup bekerja sendirian itu melelahkan. Ketika Olyvia Arabella membuka mata, ia kembali ke usia 20 tahun—tepat saat calon ibu mertua menyodorkan amplop "uang perpisahan" yang ternyata hanya berisi seratus ribu. Dunia sudah gila: nilai uang menurun 10.000 kali lipat, dan hanya Olyvia yang sadar karena rekening bank masa depannya ikut terbawa. Sekarang ia menjadi satu-satunya konglomerat di dunia yang mendadak miskin. Tapi kekayaan tak membuat hidupnya lebih mudah, terutama saat para pria dari masa lalunya kembali—kali ini dalam keadaan jauh lebih melarat. Balas dendam tak cukup dengan uang. Tapi setidaknya, Olyvia bisa membeli waktu untuk memilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan Keluarga

Tiga hari berlalu begitu cepat. Terlalu cepat.

Olyvia berdiri di depan pintu utama istananya, menatap Bu Sri dan Bu Ratih yang sedang membantu memasukkan oleh-oleh ke bagasi MPV. Tiga hari penuh tawa, pelukan, dan kebersamaan yang sudah lama ia rindukan kini akan segera berakhir.

Ia menoleh ke dalam rumah. Bu Sumarni sedang duduk di sofa ruang tamu, matanya menerawang ke arah kolam renang. Pak Harjo berdiri di sampingnya, memegang bahu istrinya dengan lembut. Siska dan Galang masih di kamar masing-masing, membereskan barang-barang baru mereka.

Olyvia berjalan mendekati ibunya dan duduk di sebelahnya. "Bu, Olyvia mau ngomong sesuatu."

Bu Sumarni menoleh dan tersenyum. "Apa, Nduk?"

Olyvia menarik napas panjang. Ia menggenggam tangan ibunya. "Olyvia mau Ibu, Bapak, Siska, sama Galang tinggal di sini. Selamanya. Gak usah balik ke kampung lagi."

Bu Sumarni terdiam. Matanya menatap Olyvia lekat-lekat. Di sebelahnya, Pak Harjo ikut menegang.

"Tinggal di sini?" tanya Bu Sumarni pelan.

Olyvia mengangguk. "Iya, Bu. Rumah ini kan gede. Cuma Olyvia sendiri yang tinggal. Ibu sama Bapak bisa tinggal di sini. Siska juga bentar lagi kuliah di kota. Galang bisa pindah sekolah ke sini. Olyvia bisa biayain semuanya. Ibu gak usah jaga warung lagi. Bapak gak usah ke sawah lagi. Kita bisa kumpul setiap hari. Kayak dulu."

Air mata mulai menggenang di mata Bu Sumarni. Tapi ia menggeleng pelan. "Nduk, Ibu ngerti maksud kamu. Ibu juga pengen kumpul sama kamu setiap hari. Tapi..."

Ia menatap Galang yang baru saja turun dari tangga dengan ransel baru di punggungnya. "Galang masih kelas dua SMA. Tinggal setahun lagi dia lulus. Kalo dia pindah sekarang, nanti dia susah adaptasi. Temen-temennya di kampung juga banyak. Ibu gak tega."

Olyvia menatap adiknya. Galang sedang bercanda dengan Siska di dekat pintu, tertawa lebar sambil menunjukkan laptop gaming barunya. Ia memang masih butuh setahun lagi untuk lulus SMA. Dan Olyvia tahu, memindahkan anak seusia Galang di tengah jalan bukanlah hal yang mudah.

"Tapi Bu, setelah Galang lulus SMA..."

Bu Sumarni mengangguk. "Setelah Galang lulus, Ibu sama Bapak pasti ke sini. Siska juga pasti kuliah di kota. Kita bisa kumpul lagi. Cuma tunggu setahun, Nduk. Setahun aja."

Olyvia merasakan matanya mulai panas. Setahun. Di kehidupan pertamanya, setahun adalah waktu yang sangat singkat. Tapi sekarang, setelah ia kehilangan begitu banyak waktu dengan keluarganya, setahun terasa seperti selamanya.

Pak Harjo yang sedari tadi diam akhirnya bersuara. "Nduk, Bapak ngerti kamu sayang sama kita. Tapi Bapak sama Ibu juga punya tanggung jawab. Galang masih perlu bimbingan. Siska juga masih perlu persiapan kuliah. Nanti kalo semuanya udah beres, kita pasti ke sini. Bapak janji."

Olyvia menatap ayahnya. Mata tua itu berkaca-kaca, tapi penuh keteguhan. Ia tahu, orang tuanya bukan menolak karena tidak mau. Mereka menolak karena mereka adalah orang tua yang bertanggung jawab.

Ia mengangguk pelan. "Iya, Pak. Olyvia ngerti."

Bu Sumarni memeluk Olyvia erat-erat. "Kamu jangan sedih, Nduk. Setahun itu cepet. Nanti Ibu sama Bapak ke sini lagi. Sering-sering. Kamu juga jangan lupa pulang ke kampung kalo ada waktu."

Olyvia membalas pelukan ibunya. "Iya, Bu. Olyvia pasti pulang."

MPV hitam melaju meninggalkan Royal Garden Estate. Kali ini suasananya berbeda. Tidak ada celotehan riang seperti saat kedatangan. Siska duduk diam di kursi belakang, matanya menatap jendela. Galang sibuk memeluk dus laptopnya, tapi wajahnya murung. Bu Sumarni dan Pak Harjo duduk di kursi tengah, tangan mereka saling menggenggam erat.

Olyvia duduk di depan, matanya menerawang ke jalanan Surabaya yang mulai ramai. Kenapa perpisahan selalu terasa lebih berat daripada pertemuan?

Ia menoleh ke belakang dan memaksakan senyum. "Sis, nanti kalo udah keterima di universitas, langsung kabarin Mbak ya. Mbak anterin daftar ulang."

Siska mengangguk pelan. "Iya, Mbak."

"Lang, laptopnya dijaga baik-baik. Jangan cuma dipake main game. Dipake belajar juga."

Galang mendengus. "Iya, Mbak. Aku kan janji."

Mobil terus melaju hingga akhirnya tiba di Stasiun Kota. Pak Tono membantu menurunkan barang-barang. Olyvia ikut turun dan membantu ibunya membawa tas anyaman bambu yang kini penuh oleh-oleh.

Mereka berjalan bersama menuju peron. Kereta jurusan Malang sudah menunggu. Penumpang lain mulai berhamburan naik.

Bu Sumarni berhenti di depan pintu kereta. Ia menoleh dan menatap Olyvia lekat-lekat. Tangannya terulur, memegang pipi anak sulungnya.

"Nduk, jaga diri baik-baik. Jangan begadang terus. Makan yang teratur. Kalo ada apa-apa, telepon Ibu."

Olyvia mengangguk. Air matanya akhirnya jatuh. "Iya, Bu. Ibu juga jaga diri. Jangan kerja terlalu keras. Warungnya tutup aja kalo capek. Olyvia bisa kirim uang."

Bu Sumarni tersenyum sambil menyeka air mata Olyvia. "Ibu sayang kamu, Nduk."

"Olyvia juga sayang Ibu."

Mereka berpelukan lama sekali. Pak Harjo menepuk bahu Olyvia. "Nduk, Bapak bangga sama kamu. Jangan lupa bahagia."

Olyvia memeluk ayahnya. "Bapak juga. Jaga Ibu baik-baik."

Siska dan Galang bergantian memeluk Olyvia. Siska terisak pelan. "Mbak, aku kangen."

"Nanti juga ketemu lagi, Sis. Kamu kan bentar lagi kuliah di sini. Kita bisa sering ketemu."

Galang memeluk Olyvia paling erat. "Mbak, makasih buat laptopnya. Aku janji bakal pinter."

Olyvia mengacak rambut adiknya. "Harus. Mbak tunggu kamu jadi anak sukses."

Peluit kereta berbunyi. Mereka harus segera naik. Bu Sumarni dan Pak Harjo naik lebih dulu, diikuti Siska dan Galang. Mereka mencari tempat duduk dekat jendela.

Olyvia berdiri di peron, menatap keluarganya melalui kaca jendela. Bu Sumarni melambai dengan senyum yang dipaksakan. Pak Harjo mengangguk pelan. Siska menyeka matanya. Galang menempelkan tangannya di kaca.

Kereta mulai bergerak perlahan. Olyvia melambai, air matanya mengalir bebas. Setahun. Cuma setahun. Setelah itu kita kumpul lagi.

Kereta semakin cepat, semakin jauh, hingga akhirnya menghilang di tikungan. Olyvia masih berdiri di peron, menatap rel kosong di hadapannya.

Rumah gue bakal sepi lagi.

Ia mengusap air matanya dan berbalik. Pak Tono sudah menunggu di samping mobil. "Mbak Oly, kita pulang?"

Olyvia mengangguk. "Iya, Pak. Pulang."

Mobil memasuki gerbang Royal Garden Estate. Olyvia turun dan berjalan masuk ke dalam rumah. Bu Sri menyambutnya dengan wajah sedih.

"Mbak Oly, keluarganya udah pulang?"

Olyvia mengangguk. "Udah, Bu."

Bu Sri menatap Olyvia dengan iba. "Mbak Oly sedih ya? Saya buatkan teh hangat sama pisang goreng ya?"

Olyvia tersenyum tipis. "Terima kasih, Bu."

Ia berjalan ke ruang tamu dan duduk di sofa. Rumah itu kembali sunyi. Tidak ada suara tawa Galang dari kolam renang. Tidak ada celotehan Siska yang memuji dekorasi kamar. Tidak ada suara Ibu yang memanggilnya dari dapur.

Sunyi. Lagi.

Tapi kali ini sunyinya berbeda. Bukan sunyi yang kosong. Sunyi yang penuh dengan kenangan tiga hari terakhir. Kenangan yang akan ia simpan baik-baik sampai mereka kembali lagi.

Ponselnya bergetar. Pesan WeChat dari Xiao Han.

Xiao Han: Keluargamu sudah pulang?

Olyvia tersenyum kecil. Dia ingat.

Olyvia: Sudah. Baru saja.

Xiao Han: Kamu sedih?

Olyvia: Sedikit. Tapi aku baik-baik saja.

Xiao Han: Kalau kamu butuh teman bicara, aku di sini.

Olyvia menatap pesan itu lama sekali. Aku di sini. Tiga kata sederhana yang entah kenapa selalu berhasil menenangkannya.

Olyvia: Terima kasih, Xiao Han.

Xiao Han: Sama-sama, Olyvia.

Ia meletakkan ponselnya dan menatap langit-langit. Setahun. Cuma setahun. Setelah itu, rumah ini gak akan sepi lagi.

Bu Sri datang membawa nampan berisi teh hangat dan pisang goreng. "Mbak Oly, ini tehnya. Diminum ya biar tenang."

Olyvia menerima cangkir itu dan menyeruputnya perlahan. Rasanya manis dan hangat, persis seperti yang biasa dibuat ibunya.

"Bu Sri, terima kasih ya udah jaga rumah. Tiga hari ini Ibu saya seneng banget."

Bu Sri tersenyum. "Saya juga seneng, Mbak. Ibu Mbak Oly orangnya baik. Saya jadi kangen sama anak saya sendiri."

Olyvia menatap Bu Sri. "Ibu Sri punya berapa anak ya?"

"cuman satu. Kuliah di Informatika. Saya kerja di sini buat biayain dia."

Olyvia teringat percakapan mereka dulu. "Yaudah nanti kalo anak Ibu butuh magang atau bimbingan skripsi, bilang aja. Saya bantu."

Bu Sri terbelalak. "Beneran, Mbak? Aduh, terima kasih banyak. Saya gak tau harus ngomong apa."

"Udah, Bu. Itu nanti aja. Sekarang Ibu istirahat dulu. Saya mau di sini sebentar."

Bu Sri mengangguk dan pergi dengan langkah ringan. Olyvia kembali menatap langit-langit.

Setahun. Cuma setahun. Setelah itu, semuanya akan lengkap.

Malam Hari - Tepi Kolam Renang

Olyvia duduk di tepi kolam renang, kakinya menjuntai ke dalam air. Bintang-bintang berkelap-kelip di langit Surabaya. Gelang bintang di pergelangan tangannya ikut berkilau diterpa cahaya lampu taman.

Siska bentar lagi kuliah di sini. Gue bisa sering ketemu dia. Galang setahun lagi lulus SMA. Ibu sama Bapak pasti pindah ke sini. Gue tinggal sabar.

Ia menatap bintang paling terang di langit. Keep shining. Gue harus terus bersinar. Buat mereka. Buat diri gue sendiri.

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini dari grup WhatsApp sahabat.

Karina: Vy, lo oke? Tadi Siska chat gue, katanya mereka udah pulang.

Sela: Lo jangan sedih-sedih ya. Kita masih di sini. Besok kita hangout.

Olyvia tersenyum dan membalas.

Olyvia: Gue oke. Sedih dikit, tapi oke. Besok hangout di mana?

Karina: Ke mall lagi! Lo traktir!

Sela: Setuju! Lo kan baru dapat rezeki nomplok!

Olyvia tertawa kecil.

Olyvia: Iya, iya. Besok gue traktir. Puas-puasin.

Ia meletakkan ponselnya dan kembali menatap bintang. Gue punya keluarga yang sayang gue. Gue punya sahabat yang setia. Gue punya proyek yang bakal dibawa ke kompetisi internasional. Gue punya... seseorang yang selalu bilang "aku di sini" tiap gue butuh.

Apa lagi yang kurang?

Ia tersenyum dan mencelupkan kakinya lebih dalam ke air kolam yang hangat. Malam itu, di istananya yang sunyi, Olyvia Arabella tidak merasa sendirian. Karena ia tahu, di suatu tempat di Shanghai, ada seseorang yang memikirkannya. Dan di sebuah desa kecil di Malang, ada keluarga yang menunggunya pulang.

Setahun. Cuma setahun. Gue bisa nunggu.

1
Fauziah Daud
terharu sangat... trusemangattt
nana
bagus banget
Fauziah Daud
seru bangat... trusemangattt
Fauziah Daud
seru.. trusemangattt
Fauziah Daud
trusemangattt
Kirina
hmmm tadinya bingung mau komentar apa, tapi e... nama agen nya kok sama semua ya sama nama ibu nya arjuna yaitu 'Ratna', apa jangan2 mereka kemabar lagi🤣🤣🤣🤣
Kirina: bagaimana dengan mia, reva, melinda, silviana, cecil, siska, moli, fani, novi, fitri, atau yang lainnya gitu....
total 2 replies
Andira Rahmawati
pindah apart aja ..yg tingkat keamanannya lebih tinggi..👍
Andira Rahmawati
hadirr...thorr💪💪💪
Kirina
ini kapan beli properti buat ibunya thor kok di undur mulu heran atau author lupa lagi
Kirina: gak papa 😇 tetep ya kak🤗 stay strong💪
total 5 replies
Yusna Wati
semangat ya thor up nya💪🤗
Ahmad Fauzi
bagus seru
Ellasama
salfok SM PP mu kak,,,/Chuckle/
sakura: kenapa dengan PP ku, bagus ya🤭
total 1 replies
Ellasama
puas banget,, nah kan gini baru bener si fl harus strong anti badai
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Ellasama
kok si olyv gak cepet nindak si Juna sih, seenggaknya kan jangan dibiarin gitu aja nanti dia nya makin ngelunjak lagi
sakura: pakai kapak aja gak sih?🤭
total 1 replies
Ellasama
tenang aja mbak mu itu supper super kaya tujuh turunan tujuh tanjakan /Hey/
Ellasama
monyet 🐒 gak tuh/Facepalm//Curse/
Ellasama
waduhhh, ni dunia cocok bgt buat isi kantong aku/Hey/
Ellasama
wihh satu dunia kek nya nak dibeli sama si olyv deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!