NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Perjanjian di Atas Puing Kepercayaan

​Keheningan di dalam gudang itu terasa seperti benang yang ditarik hingga batas maksimal, siap putus kapan saja dan mencambuk siapa pun yang ada di dekatnya. Aku menahan napas di balik tumpukan palet kayu, jemariku mencengkeram kain jaket kargoku hingga kuku-kukuku memutih. Bau kayu lapuk dan debu semen terasa menyesakkan, namun sensasi dingin yang merambat dari lantai beton jauh lebih mengintimidasi.

​Di depanku, Devan berdiri tegak lurus. Siluetnya yang jangkung tampak seperti patung perunggu yang kokoh dalam kegelapan. Tangannya yang memegang pistol tidak goyah, namun aku bisa melihat urat-urat di lehernya menonjol—tanda bahwa ia sedang bertarung dengan rasa sakit di bahunya dan adrenalin yang meledak secara bersamaan.

​Pintu besi gudang itu berderit pelan saat Devan membukanya hanya beberapa inci. Cahaya bulan yang pucat masuk melalui celah itu, menyoroti sepatu pantofel yang dipenuhi debu dan bagian bawah setelan jas yang tampak lusuh.

​"Masuklah. Sendiri," geram Devan. Suaranya rendah, berbahaya, dan tidak memberikan ruang untuk bantahan.

​Seorang pria melangkah masuk. Ia tidak terlihat seperti pembunuh bayaran atau preman yang mengejar kami tadi. Wajahnya bersudut tegas, dengan rambut yang mulai sedikit beruban di pelipis. Matanya memancarkan kelelahan yang sangat dalam, jenis kelelahan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang telah bertarung melawan sistem selama bertahun-tahun dan kalah berkali-kali.

​"Turunkan senjatamu, Devan Mahendra," ujar pria itu. Ia mengangkat kedua tangannya sebatas dada, menunjukkan bahwa ia tidak membawa senjata. "Jika aku ingin mengambil uang dua miliar itu, aku tidak akan datang sendirian dengan mobil dinas yang sudah tua."

​Devan tidak langsung menurunkan pistolnya. Ia menatap pria itu selama beberapa detik yang terasa seperti satu abad, sebelum akhirnya menurunkan senjatanya dengan gerakan yang sangat waspada.

​"Anya, keluar," panggil Devan tanpa menoleh padaku.

​Aku keluar dari balik persembunyianku dengan langkah ragu. Pria itu menatapku. Ada binar simpati di matanya yang membuatku merasa tidak nyaman. Aku tidak butuh simpati; aku butuh jawaban atas semua kegilaan ini.

​"Nona Anya Kusuma," pria itu mengangguk kecil padaku. "Nama saya Satria Wirawan. Saya adalah jaksa yang menangani kasus Proyek Sudirman tiga tahun lalu. Atau lebih tepatnya, jaksa yang 'disingkirkan' karena mencoba mengungkap kebenaran di balik proyek itu."

​Aku mendekat ke meja kayu tempat laptop masih menyala redup. "Devan bilang kau bisa membantu kami. Benarkah kau punya alasan untuk menghancurkan ayahku?"

​Satria tersenyum pahit. Ia berjalan mendekati meja, melirik sekilas ke arah layar laptop yang menampilkan dokumen audit material besi. "Hendra Kusuma tidak hanya menghancurkan karirku, Nona. Dia menghancurkan integritas hukum di kota ini. Tiga tahun lalu, aku memiliki bukti yang sama dengan yang kau pegang sekarang. Tapi dalam waktu dua puluh empat jam, bukti itu lenyap dari brankas barang bukti kejaksaan, saksi kunciku menghilang, dan aku dipindahkan ke divisi administrasi di pinggiran kota."

​Ia menatapku lekat-lekat. "Aku datang ke sini karena Devan memberitahuku bahwa kunci enkripsi dokumen itu akhirnya terbuka. Dan aku datang untuk memberitahumu bahwa kau berada dalam bahaya yang jauh lebih besar daripada yang kau bayangkan."

​"Maksudmu sayembara itu?" tanya Devan, ia bersandar di pilar beton, tangannya masih memegang pistol di samping paha.

​"Itu hanya permulaan," Satria menghela napas. "Hendra tidak ingin kau kembali ke rumah secara utuh, Anya. Dia sudah memesan jet pribadi untuk keberangkatan ke Swiss besok pagi pukul enam. Rencananya adalah membawamu keluar dari yurisdiksi Indonesia. Sekali kau menyentuh tanah Swiss, Dokter Frans akan melakukan prosedur 'pembersihan total' di sebuah klinik privat miliknya di sana. Kau akan kehilangan ingatanmu secara permanen, bukan lagi parsial. Kau akan menjadi boneka tanpa masa lalu selama sisa hidupmu."

​Rasa mual kembali menyerang lambungku. Jadi itu rencana akhirnya. Ayah tidak hanya ingin aku lupa; dia ingin aku tidak pernah bisa mengingat lagi. Selamanya.

​"Lalu kenapa dia menawarkan dua miliar?" tanyaku dengan suara bergetar.

​"Karena dia butuh kau ditemukan sebelum fajar. Jika preman atau polisi kotornya menemukanmu, mereka diperintahkan untuk segera membawamu ke bandara. Dan Devan..." Satria menoleh ke arah Devan. "...perintah untuknya adalah shoot on sight. Tembak di tempat. Hendra tidak akan membiarkan ada saksi yang bisa bicara di pengadilan kelak."

​Ruangan itu kembali hening, namun kali ini heningnya dipenuhi oleh bau kematian yang semakin nyata. Aku menatap Devan. Ia tampak tidak terkejut. Seolah-olah ia sudah tahu bahwa hidupnya memang tidak pernah dihargai sejak awal oleh Ayah.

​"Lalu apa rencanamu, Pak Jaksa?" tanya Devan dingin. "Kau ingin kami menyerahkan dokumen ini padamu? Agar kau bisa kembali 'disingkirkan' oleh Kusuma?"

​Satria menggeleng tegas. "Tidak. Kali ini aku tidak bekerja sendiri. Aku sudah berkoordinasi dengan tim intelejen dari Kejaksaan Agung Pusat yang tidak bisa dibeli oleh Hendra. Tapi kami butuh satu hal: bukti fisik asli yang tersimpan di dalam laptop perak milik Anya. Data digital ini bagus, tapi di pengadilan, mereka akan menyerang keasliannya jika kita tidak punya perangkat aslinya."

​"Laptop itu ada di klinik Dokter Frans," ujarku cepat. Memori tentang malam kecelakaan itu kembali muncul. "Ayah menyuruh pengawalnya membawa laptop itu bersamaku ke klinik malam itu."

​"Aku tahu," Satria mengeluarkan sebuah map dari tasnya. "Klinik Dokter Frans dijaga ketat. Tapi besok pagi, saat mereka bersiap memindahkanmu ke bandara, akan ada celah keamanan selama tiga puluh menit saat pergantian shift pengawal."

​"Kau ingin kami menyerang klinik itu?" Devan mengernyit. "Itu bunuh diri. Ada polisi di setiap sudut jalan mencari wajahku."

​"Itulah sebabnya aku di sini," Satria menatap Devan dengan tatapan serius. "Aku akan membawa Anya masuk ke klinik sebagai 'putri yang ditemukan'. Aku akan menggunakan otoritas jaksaku untuk mengawal kepulangannya. Hendra tidak akan berani menyerangku di depan publik jika aku datang sebagai pejabat negara yang menjalankan tugas."

​"Dan aku?" tanya Devan, suaranya mengandung nada kecemburuan dan ketidakpercayaan yang tajam. "Kau ingin aku membiarkan dia kembali ke tangan monster itu?"

​"Kau akan menjadi tim bayangan," Satria menjelaskan. "Aku akan memberimu akses ke pintu belakang klinik melalui jalur pembuangan limbah medis. Begitu aku dan Anya berada di dalam, tugasmu adalah mengambil laptop itu dari brankas Dokter Frans sementara aku mengalihkan perhatian Hendra. Begitu kita memegang laptop itu, tim intelejen pusat akan masuk untuk melakukan penangkapan masal."

​Devan tertawa getir. "Rencana yang sangat rapi. Bagaimana kalau kau ternyata juga orangnya Hendra? Bagaimana kalau kau hanya ingin menyerahkan kami padanya demi promosi jabatan?"

​Satria tidak marah. Ia justru mengeluarkan sebuah kalung perak dari sakunya dan melemparkannya ke arah Devan. Devan menangkapnya dengan tangan kanan.

​Saat melihat kalung itu, mata Devan membelalak. Ia terpaku menatap liontin kecil berbentuk kunci yang tergantung di sana.

​"Itu milik ibumu, Devan," bisik Satria. "Dia memberikannya padaku saat aku mengunjunginya di penjara sebulan lalu. Dia bilang, jika aku menemukanmu, katakan padamu bahwa 'baut yang longgar harus segera dikencangkan sebelum mesin meledak'."

​Devan terdiam. Jemarinya meremas liontin itu dengan sangat kuat. Kutipan itu... itu adalah filosofi montir yang selalu dikatakan ibunya. Tidak ada orang lain yang tahu kalimat itu kecuali Devan dan ibunya.

​Perlahan, Devan menurunkan pertahanannya. Ia menatapku, mencari persetujuan.

​Aku melangkah mendekatinya, meraih tangannya yang tidak memegang pistol. "Devan, kita harus melakukannya. Aku tidak mau lari lagi. Aku lelah menjadi orang asing di hidupku sendiri. Jika ini satu-satunya cara untuk membebaskan ibumu dan membuat Ayah membayar semuanya... aku bersedia."

​Devan menatapku dengan sorot mata yang penuh penderitaan. "Anya, jika rencana ini gagal, kau akan kehilangan segalanya. Kau akan kehilangan ingatanmu."

​"Aku sudah kehilangan semuanya tiga tahun lalu, Devan," balasku mantap. "Sekarang, aku hanya mencoba mengambil kembali apa yang tersisa. Dan apa yang tersisa itu adalah kau."

​Devan menarik napas panjang, lalu ia mengangguk ke arah Satria. "Baik. Kita lakukan. Tapi dengar ini, Pak Jaksa... jika terjadi sesuatu pada Anya, liontin ini tidak akan menjadi satu-satunya benda logam yang masuk ke tubuhmu."

​Satria mengangguk paham. "Aku mengerti."

​Sisa malam itu kami habiskan untuk menyusun rencana detail. Satria meninggalkan gudang untuk mengatur koordinasi dengan tim pusat, sementara aku dan Devan tetap berada di dalam kegelapan yang pengap.

​Aku duduk di kasur lantai, menatap Devan yang sedang mengisi peluru ke dalam magasin pistolnya. Gerakannya sangat mekanis, seolah ia sudah melakukan ini ribuan kali. Aku menyadari betapa jauhnya dunia Devan dari duniaku. Ia telah dipaksa menjadi dewasa oleh kekejaman, sementara aku dipaksa tetap menjadi anak-anak oleh kebohongan.

​"Van," panggilku pelan.

​"Hm?" ia tidak menoleh.

​"Kenapa kau memanggil kucing itu 'Oren Mahendra'?"

​Gerakan tangannya terhenti. Devan menunduk, menatap pistol di tangannya. Sebuah senyum tipis yang sangat tulus muncul di wajahnya—senyum yang jarang sekali kulihat.

​"Karena waktu itu kau bilang kucing itu tidak punya keluarga. Jadi kau bilang dia harus punya nama belakangku agar dia punya rumah," kenangnya. "Kau masih sangat kecil saat itu, Anya. Tapi kau sudah punya cara untuk membuatku merasa... berharga."

​Aku tersenyum, mataku memanas. "Maafkan aku karena butuh sepuluh tahun untuk menyadari itu."

​Devan bangkit, ia berjalan mendekatiku dan duduk di lantai di depan kasur. Ia menyandarkan kepalanya di tepi kasur, tepat di samping lututku. "Tidak ada yang perlu dimaafkan. Ayahmu mungkin bisa menghapus nama itu dari kepalamu, tapi dia tidak bisa menghapusnya dari hatiku."

​Aku mengusap rambutnya yang kasar. Di tengah gudang tua yang dingin ini, dikelilingi oleh ancaman kematian dan konspirasi tingkat tinggi, aku justru merasa paling damai. Karena untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tahu persis siapa diriku, siapa pria di depanku, dan siapa musuh yang harus kuhadapi.

​Namun, di balik kedamaian itu, sebuah ketakutan masih berdenyut di belakang kepalaku. Memori tentang Dokter Frans dan jarum suntiknya. Sebuah kilasan memori yang memberitahuku bahwa pengkhianatan ini jauh lebih dalam dari sekadar korupsi material bangunan.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​FADE IN:

​INT. KANTOR JAKSA SATRIA - SIANG HARI (3 TAHUN LALU)

​Suasana kantor yang berantakan dengan tumpukan berkas. SATRIA (muda) sedang duduk dengan frustrasi di depan komputernya. Pintu kantornya terbuka kasar. DEVAN (17 tahun) masuk dengan wajah babak belur, dikawal oleh dua petugas polisi.

​SATRIA

"Lepaskan dia! Dia hanya anak kecil!"

​POLISI

"Dia mencoba menyerang rumah Tuan Hendra Kusuma, Pak Jaksa. Dia membawa bukti palsu yang mencemarkan nama baik perusahaan."

​Devan meronta, ia menatap Satria dengan mata yang berapi-api.

​DEVAN

"ITU BUKAN BUKTI PALSU! IBUKU TIDAK BERSALAH! LIHAT DOKUMEN INI!"

​Devan melemparkan selembar kertas yang sudah lecek ke meja Satria. Satria mengambilnya, membacanya sesaat, dan wajahnya seketika pucat.

​SATRIA

(Berbisik pada dirinya sendiri)

"Ini... ini tanda tangan Hendra. Dia sengaja meledakkan tangki bahan bakar di lokasi agar bukti fisiknya terbakar?"

​Tiba-tiba, telepon di meja Satria berdering. Ia mengangkatnya.

​SATRIA (CONT'D)

"Halo? Ya, Jaksa Satria di sini... Apa?! Perintah dari Kejaksaan Agung? Kasus Sudirman ditutup karena kurang bukti?!"

​Satria menutup telepon dengan tangan gemetar. Ia menatap Devan dengan tatapan hancur.

​SATRIA (CONT'D)

"Devan... maafkan aku. Mereka baru saja mematikan lampu di ruangan ini. Aku tidak bisa menolong ibumu."

​DEVAN

(Berteriak histeris saat diseret keluar oleh polisi)

"KAU PENGECUT! KALIAN SEMUA DIBELI OLEHNYA! AKU AKAN KEMBALI! AKU AKAN MENGHANCURKAN KALIAN SEMUA!"

​Kamera fokus pada wajah Satria yang menunduk malu, meremas dokumen pemberian Devan, sementara suara teriakan Devan perlahan-lahan menghilang, berganti dengan suara deru angin pagi di masa kini.

​FADE OUT.

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!