Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 1
Poin of view Carmila
Menurutmu tipe seperti apa yang akan kamu pikirkan untuk menjadi "kekasih idaman" -mu saat duduk di bangku sekolah menengah ? Apakah itu seseorang yang tampan ? Atau yang terpopuler ? Atau yang memiliki gaya yang cool ? Atau memiliki otak yg pintar? Atau lebih suka kekasih yang romantis setiap saat? Atau ... seseorang yang memiliki tubuh yang bagus? Apakah tipe seperti itu ? Ah! Aku juga menginginkannya. Haha. Maaf, aku terlalu bersemangat untuk pembukaan ceritanya.
Mereka bilang masa di sekolah menengah adalah masa yang paling menyenangkan. Masa dimana kita akan mulai mengenal sesuatu yang disebut dengan cinta. Masa dimana mungkin kamu akan mendapatkan cinta yang hangat dan berbunga-bunga. Benarkah begitu? Tetapi sebenarnya mendapatkan teman yang baik adalah hal yang paling aku nantikan. Ataukah aku akan mendapatkan keduanya? Sepertinya itu akan lebih bagus bukan?
Halo! Aku Carmila. Teman sekolahku biasa memanggilku dengan sebutan Mila. Aku baru saja lulus dari sekolah menengah pertama di kota J, Negara S. Kini aku akan memasuki tingkatan sekolah berikutnya di negara yang berbeda. Kebetulan ayahku dipindahkan dalam bertugas ke cabang perusahaan dikota T, Negara P. Aku merasa sedih saat aku harus meninggalkan teman-temanku. Aku khawatir apakah aku akan mendapatkan teman-teman seperti mereka disana atau sebaliknya.
Ayahku memang sudah memberitahuku soal kepindahan kita. Untungnya bahasa yang di gunakan di Negara P tidak jauh berbeda dengan Negara S. Hanya mungkin perlu sedikit beradaptasi dengan tempatnya saja. Ayahku seorang single parent. Ibuku sudah meninggal saat usiaku 9 tahun. Ayahku jarang di rumah karena bekerja. Namun dia ayah yang pengertian. Biarpun sibuk, jika ada waktu, ia selalu menyempatkan diri untuk pulang walau sekedar melihat keadaanku dirumah. Saat itu pukul 7 pagi di negara S. Dan aku sekarang sudah duduk dibangku pesawat dan menunggu keberangkatanku ke negara P.
"Ayah... Aku tidak yakin apakah aku dapat beradaptasi disana. Biarpun bahasa yang digunakan sama, tapi ku dengar perbedaan pola pikir warganya dan juga budayanya juga jauh ayah."
"Tenanglah, ayah yakin kamu pasti bisa beradaptasi dengan baik."
"Benarkah?"
"Bukankah untuk sesuatu yang 'pertama kali' kita rasakan akan merasa seperti itu? Ayah yakin kamu mampu beradaptasi dengan baik disana."
Ayah selalu mencoba mempertahankan kepercayaan diriku saat aku tidak merasa yakin akan hal-hal yang sedang aku lakukan. Itulah yang aku suka dari ayah.
Perjalananku ke negara P berjalan dengan lancar. Akhirnya pesawat yang aku tumpangi bersama ayah landing dengan selamat. Saat aku melewati pintu keluar bandara, aku menghirup dalam-dalam udara di negara P untuk pertama kalinya. Menyegarkan.
"Udara negara P benar-benar sejuk ayah."
"Benarkah? Ayah pikir sama saja?"
"Ayah.. jangan merusak suasana ku!"
"Oh, maafkan ayah."
Ayahku menghirup udara seperti yang aku lakukan.
"Waah! Kamu benar. Benar-benar menyegarkan."
"Iya kan!"
Taksi yang dipesan ayah sudah datang. Ayah beserta supir tengah sibuk merapikan barang bawaan kita dibagasi. Setelah selesai, kami pun bergegas pergi menuju rumah yang akan kami tinggali di negara P ini. Selama diperjalanan, ayah menjelaskan tentang budaya negara P yang ayah tahu lebih dulu. Bagaimana kehidupan disini. Dan bagaimana orang-orang disini biasa bersikap. Dan hal yang paling penting tentang dimana aku melanjutkan sekolahku.
"Ayah sudah mendaftarkan sekolah. Jaraknya dekat dengan rumah. 20 menit dengan bersepeda. Kamu bisa mulai masuk sekolah besok jika kamu mau. Disini berbeda dengan sekolahmu yang dulu. Kamu bisa memasak untuk ayah setiap pagi tanpa takut terlambat sekolah. Karna jam masuk sekolah disini pukul 8 pagi. Sebelum itu, ayah akan bertemu dengan Josep. Dia akan menjadi gurumu dan juga wali kelasmu nanti. Kita mampir dulu ke sekolah untuk mengambil seragammu."
"Kita ke sekolah, ayah? Apa persiapanmu ini tidak terlalu cepat? Aku tidak menyangka kepindahan kali ini ayah mempersiapkannya dengan sangan detail."
"Itu hal baik bukan? Ayah terlalu banyak pekerjaan disini. Ayah hanya takut tidak sempat melakukannya jika tidak dipersiapkan lebih awal."
"Hm. Ayah benar. Ayah memang hebat dalam hal ini."
Aku menunjukkan kedua jempol tanganku kehadapan ayah.
Negara P benar-benar sangat menakjubkan. Khususnya di kota T ini. Jika dibandingkan dengan negara S, besarnya seperti dua kali lipatnya dari pusat kota negara S. Hanya saja lebih banyak orang yang berjalan kaki dibandingkan dengan yang mengendarai kendaraan pribadi. Kata ayah, orang negara P berpikir jika menaiki kendaraan pribadi seperti mobil ataupun motor mereka menyebutnya "Orang Aneh". Hah? Aneh? Haha itu menjadi culture shock pertamaku. Hal yang aku pikir normal dinegara S. Ternyata disebut Aneh di negara P. Pemerintah menjaga negaranya dengan baik dari polusi jahat. Itu bagus bukan? Tentu saja bagus!
Ayahku bilang kehidupan disini sangatlah mahal walau pun pendapatan rata-rata orang-orang di negara P ini tinggi. Jadi mereka tetap berhemat. Menurutku berhemat itu hal yang hebat jika mereka benar-benar melakukannya. Aku tidak yakin bisa melakukannya. Dan for your information, biaya menaiki taksi dinegara P pun sangat mahal. Tapi tidak apa-apa. Ayahku yang membayarnya. Haha.
Negara P adalah negara yang tertib dan juga disiplin. Sebagai contoh, kereta akan berangkat pukul 8 pagi, dan itu pasti akan berangkat pukul 8 pagi. Berbeda sekali dengan negara S. Sepertinya istilah 'Jam ngaret' disini tidak akan pernah aku temukan. Karena menurut mereka, waktu adalah uang.
Kami akhirnya sampai disekolah pukul 3 Sore. Saat itu suasana digerbang sekolah cukup tenang.
"Pak, tunggu sebentar disini."
"Baik."
"Ayah aku ikut ! Aku ingin melihat-lihat sekolah juga."
Ayah melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kenapa ayah?"
"Kamu yakin turun dengan pakaian seperti ini?"
"Memangnya kenapa?"
Jeans hitam pendek dan atasan kemeja hitam dengan motif mawar merah bordir berlengan panjang yang aku gulung sampai seperempat panjang tanganku, ditambah boots hitam dan kaus kaki berwarna senada yang membalut kakiku. Kupikir pakaian yang aku kenakan itu cukup cocok dengan diriku yang berambut lurus terurai panjang. Aku juga memakai beberapa perhiasan pada tubuhku. Apa aku sedikit berlebihan? Outfit serba hitam itu yang terbaik kan? Aku hanya ingin menciptakan kesan yang kuat ketika aku datang. Apa malah terlihat seperti gengster?
"Tidak apa-apa. Ayah pikir, style-mu ini sedikit berbeda dari sebelumnya?"
"Aku hanya ingin menciptakan kesan yang kuat ayah."
Bisikku ke telinga ayah. Ayahku mengacak-acak rambutku kemudian.
"Ayah!".
"Kamu ini benar-benar ya!"
Ucapnya sambil tertawa kecil.
Ayah tidak pernah mempermasalahkan apa yang aku pakai selagi itu nyaman bagiku. Mungkin dia hanya memastikan apakah aku yakin akan masuk dengan image yang berbeda dari yang dia lihat sewaktu di negara S.
Aku pun turun dari mobil dan berjalan memasuki sekolah mengikuti ayahku didepan. Mataku benar-benar dimanjakan dengan pemandangan yang aku lihat. Daerah yang aku tinggali ini memang terkenal dengan pemandangan alamnya yang indah. Namun aku tidak menyangka akan seindah ini. Siapa sangka, aku akan bersekolah di sekolah yang memiliki pemandangan bukit dibelakangnya.
"7 jam perjalanan yang tidak sia-sia. Ayah, aku akan berkeliling sebentar."
"Kamu yakin?"
"Iyaa ayah. Aku akan bertanya jika aku tersesat."
"Baiklah."
Kemudian ayahku pergi sendiri menemui Tuan Josep.
Aku terdiam saat memandangi pemandangan disekitar tempatku berdiri. Aku belum melihat apapun sejak aku tiba. Bahkan juga di bandara. Yah... Sebenernya, aku memiliki rahasia yang bahkan ayahku tidak tahu.