Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.
Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.
Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.
Hanya satu jalan.
Temukan dia dengan Bismillah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 - Aura Kecantikan yang Salah Sasaran
Bel istirahat akhirnya berbunyi.
“TRIIINGG!”
Suasana kelas yang tadinya tenang langsung berubah ramai.
Beberapa siswa langsung berdiri.
Ada yang keluar kelas, ada yang tetap duduk sambil mengobrol.
Ayin langsung menutup bukunya.
“Ahh akhirnya istirahat juga.”
Ia menoleh ke Isya.
“Ke kantin yuk.”
Isya mengangguk kecil.
“Iya, Isya juga lapar.”
Mereka berdua mulai berdiri.
Di bangku sebelah…
Mei juga ikut berdiri sambil merapikan rambutnya dengan santai.
Ia melirik ke arah mereka berdua.
“Ke kantin ya?”
Isya tersenyum ramah.
“Iya.”
Mei langsung mengambil tas kecilnya.
“Kalau begitu ayy ikut.”
Ayin melirik sekilas.
Namun tidak berkata apa-apa.
Akhirnya mereka bertiga berjalan keluar kelas.
------------------------------------------------------------------------
Kantin sekolah sudah cukup ramai.
Beberapa siswa sedang duduk di meja panjang.
Ada yang makan, ada yang hanya minum sambil bercanda.
Begitu mereka masuk…
beberapa siswa langsung melirik.
Sebagian melihat ke arah Isya.
Namun Mei…
sudah salah paham duluan.
Dalam hatinya ia langsung tersenyum bangga.
“Heee…”
“Lihat itu.”
“Mata mereka langsung tertuju pada ayy.”
Ia berjalan dengan langkah sedikit lebih anggun.
Bahkan sempat merapikan rambutnya sekali lagi.
Ayin yang berjalan di samping Isya melihat beberapa siswa melirik ke arah mereka.
Namun jelas…
yang dilihat adalah Isya.
Salah satu siswi bahkan berbisik.
“Itu Isya ya?”
“Iya…”
“Lucu banget dia hari ini.”
Ayin mendengar itu.
Ia tersenyum kecil.
"xixi"
Namun Mei yang berjalan di depan malah semakin percaya diri.
“Hehe…”
“Seperti biasa.”
“Ke mana pun ayy pergi… aura kecantikan selalu menarik perhatian.”
Ayin langsung berhenti sebentar.
“Heee, apaan?”
Mei menoleh dengan santai.
“Hm?”
Ayin menunjuk ke arah beberapa siswa tadi.
“Mereka itu lihat Isya.”
Mei langsung mengangkat alis.
“Tidak mungkin.”
Ayin melipat tangan.
“Iya.”
Mei tersenyum tipis.
“Ahh Ayin…”
“Kalau kamu belum terbiasa melihat orang cantik dipandang banyak orang, itu wajar.”
Ayin langsung melotot.
“Hah?!”
Mei tetap santai.
“Fenomena seperti ini sudah biasa bagi ayy.”
Ia menunjuk matanya sendiri dengan percaya diri.
“Ini namanya A - U - R - A.”
Ayin langsung menoleh ke Isya dengan wajah kesal.
“Sya… kamu dengar nggak?”
Isya yang sejak tadi hanya melihat-lihat makanan dengan mata yang berbinar menoleh polos.
“Haa?”
Ayin menunjuk Mei.
“Dia bilang orang-orang lihat dia.”
Isya melihat ke sekitar sebentar.
Lalu berkata dengan tenang.
“Oh… mungkin iya.”
Ayin langsung bengong.
“Hah?!”
Mei tersenyum puas.
“Heee, Lihat?”
“Bahkan Isya saja mengerti.”
Ayin langsung menggaruk kepalanya dengan kesal.
“Ihh…”
Ia duduk di kursi kantin dengan wajah jengkel.
“Orang ini bener-bener…”
Mei ikut duduk dengan elegan.
Sementara Isya masih melihat menu makanan.
“Tadi ada tahu baso ya…”
Ayin menatapnya.
“Sya!”
Isya menoleh lagi.
“Iyaa?”
Ayin menunjuk Mei dengan kesal.
“Dia itu…!”
Namun Mei tiba-tiba berkata santai.
“Ayin.”
“Apa?”
Mei tersenyum kecil.
“Kalau kamu iri… tidak apa-apa.”
Ayin langsung berdiri setengah dari kursinya.
“IRIII?!”
Mei tetap tenang.
“Itu reaksi yang sangat manusiawi.”
Ayin menutup wajahnya dengan tangan.
“Ya Allah…”
Isya yang melihat itu malah tertawa kecil.
Suasana kantin pagi itu…
mulai dipenuhi oleh perdebatan kecil yang lucu antara Ayin dan Mei.
Sementara Isya…
tetap menjadi penonton paling polos di antara mereka.
Dan tanpa mereka sadari…
awal persahabatan mereka yang penuh keributan kecil itu…
baru saja dimulai.
------------------------------------------------------------------------
Kantin sekolah semakin ramai.
Aroma gorengan hangat memenuhi udara.
Di salah satu meja panjang…
Isya, Ayin, dan Mei berdiri di depan etalase makanan.
Isya langsung melihat gorengan dengan mata berbinar.
“Wah… ada bakwan.”
Ia menunjuk lagi.
“Tempe goreng juga ada.”
Ayin langsung mengambil beberapa gorengan.
“Sini bang, bakwan dua… tahu satu.”
Sementara itu Mei masih berdiri memperhatikan makanan di depan kaca.
Ia sedikit mengernyit.
Dalam hatinya ia berbisik.
“iiieeuhhh…”
“Ini semua digoreng di minyak yang sama…”
“Terus ditaruh begitu saja…”
“Kurang higienis.”
Ucap mei dalam hati sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Ia memperhatikan penjepit gorengan dengan ekspresi ragu.
Ayin yang melihat wajah Mei langsung menyeringai.
“Ooo…”
Ia menyenggol Isya sedikit.
“Kebiasaan minum susu sih.”
“Makanya nggak pernah coba gorengan.”
Isya tertawa kecil.
Mei langsung mengangkat alis.
“Ohh yaaa?”
Ia menyilangkan tangan dengan percaya diri.
“Ayy hanya menjaga standar makanan.”
Ayin melipat tangan.
“Standar apaan?”
Mei tersenyum tipis.
“Standar kecantikan.”
Ayin langsung melotot.
“Hah?!”
Mei mengangkat dagunya sedikit.
“Semua yang masuk ke tubuh ayy harus berkualitas.”
Ayin mendengus.
“Iya iya…”
“Tapi bakwan tetap lebih enak.”
Isya menahan tawa kecil melihat mereka.
Akhirnya mereka bertiga duduk di meja kantin.
Isya langsung mengambil gorengan.
Ia memakannya dengan tangan dengan santai.
Sementara Mei memperhatikan dari samping.
Dalam hatinya ia mulai berkomentar lagi.
“Heee…”
“Lihat ini.”
“Makan gorengan pakai tangan.”
“Tidak ada kecantikan sama sekali.”
Ia mengangkat garpu kecil yang ada di meja.
“Harusnya pakai garpu dan sendok dong.”
Ia tersenyum bangga.
“Beda dengan ayy yang elegan.”
Ia melihat ke sekitar.
“Tapi di kantin ini bahkan tidak ada pisau…”
Ia menghela napas kecil.
“Hmm… tidak masalah.”
“Selama makannya rapi dan enak dilihat…”
“Ayy tetap terlihat cantik.”
Mei kemudian menoleh ke Isya.
“Heii… Isyaa-ku yang cute.”
Ayin langsung menyela.
“Ihh!”
“Apaan manggil-manggil ‘Isya yang cute’.”
“Kayak boneka kamu aja.”
Mei melirik Ayin.
“Ish ish ish…”
“Ayin Ayin…”
“Pantas saja tidak ada yang melirik kamu.”
“Hobinya ngomel saja.”
Ayin langsung menggerutu.
“Ihhh orang ini…”
Mei lalu kembali menatap Isya.
“Ayy cuma mau mengajarkan Isya supaya kelihatan lebih cute.”
Isya menoleh polos.
“Hm?”
Mei menunjuk gorengan di tangan Isya.
“Kalau makan gorengan itu…”
“Pakai sendok sama garpu dong.”
“Jangan pakai tangan.”
“Nanti bibirnya belepotan minyak.”
Mei bahkan memperagakan cara makan yang menurutnya elegan.
Namun Isya malah tersenyum kecil.
Ia mengangkat tangannya sedikit.
“Eh… ish ish ish Mei Mei.”
Mei berkedip.
“Haa?”
Isya berkata lembut.
“Rasulullah pernah bersabda…”
Ia lalu mengutip hadits dengan tenang.
💕💕“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaklah ia menjilat jari-jarinya. Karena ia tidak tahu pada bagian makanan mana terdapat keberkahan.”💕💕
Isya melanjutkan dengan senyum ringan.
“Makanya sunnah Nabi kita itu mencicip jari setelah makan.”
“Karena kita tidak tahu…”
“Di bagian mana dari makanan ini ada keberkahannya.”
Ia melihat gorengan di tangannya.
“Kalau kita makan keberkahan itu…”
“InsyaAllah hati kita juga dipenuhi kebaikan.”
Mei langsung terdiam.
Bengong.
Matanya berkedip beberapa kali.
“Ah…”
“Iya…”
“Begitu ya…”
Ia berdeham kecil.
“Ehem…”
“Kalau begitu tidak apa-apa.”
Ayin langsung tertawa kecil.
“Hihi…”
Ia menunjuk Mei.
“Salah orang kamu.”
“Ustadzah Isya dilawan.”
Mei menatap Ayin.
“Ish…”
Namun akhirnya ia juga ikut tertawa kecil.
Isya hanya tersenyum melihat mereka.
Beberapa detik kemudian…
ketiganya tertawa bersama.
Dan meja kantin itu pun dipenuhi oleh suasana hangat…
dari tiga gadis yang baru saja memulai persahabatan mereka.
------------------------------------------------------------------------
Mereka bertiga masih duduk di meja kantin.
Isya sedang menikmati gorengan dengan tenang.
Ayin sesekali menggoda Mei.
Sementara Mei mencoba tetap makan dengan gaya elegannya.
Namun belum lama mereka duduk…
tiba-tiba seseorang datang dari belakang.
“Eh… Isya… Ayin…”
Suara itu terdengar agak gugup.
Ayin menoleh duluan.
“Oh… Dadang.”
Dadang berdiri di samping meja mereka sambil membawa segelas teh.
Ia terlihat sedikit salah tingkah.
Namun matanya jelas tertuju pada Mei.
“Hehe… boleh duduk?”
Ayin langsung tersenyum nakal.
“Ahhh, Silakan.”
Dadang langsung duduk di kursi kosong yang paling dekat dengan Mei.
Ia bahkan buru-buru merapikan rambutnya sedikit.
Mei meliriknya.
Senyumnya tetap anggun.
Namun dalam hatinya…
“Astaga…”
“Kenapa lagi orang lawas ini…”
Dadang mencoba memulai percakapan.
“Mei… kamu suka gorengan juga ya?”
Mei meneguk ludahnya namun tetap tersenyum sopan.
“Ahhh, Oh… iya.”
Dadang langsung semangat.
“Bagus!”
“Berarti kita sama!”
“Dadang juga suka gorengan!”
Mei dalam hati langsung menjerit.
“SIAPA YANG TANYA!!”
Namun wajahnya tetap terlihat tenang.
“Oh begitu ya.”
Dadang terus berbicara dengan penuh semangat.
“Kantin sini gorengannya enak loh.”
“Dadang sering makan di sini.”
Mei mengangguk kecil dengan elegan.
“Ya… terlihat.”
Ayin yang melihat semua itu langsung menahan tawa.
Ia melirik Isya.
Lalu berkata dengan nada sengaja keras.
“Wahhhh…”
“Kalian kayak jodoh ya.”
Dadang langsung terdiam.
Lalu wajahnya perlahan berubah cerah.
“Eh?!”
“Serius?”
Ia bahkan terlihat hampir tersenyum lebar.
Sementara itu…
hati Mei langsung menjerit keras.
“APAAAA?!”
“JODOH DENGAN DIA?!”
“GAK ADAA GK ADAAA!”
Namun wajahnya tetap terlihat seperti wanita sempurna.
Ia hanya tersenyum kecil.
“Oh… Ayin ini suka bercanda.”
Dadang malah semakin senang.
“Iya ya…”
“Kadang orang memang bilang begitu…”
Mei hampir tersedak.
Namun ia masih berusaha menjaga sikapnya.
Sementara Ayin semakin menahan tawa.
Ia lalu menoleh ke Isya dan berbisik cukup keras.
“Eh Isya…”
Isya menoleh polos.
“Iyaa?”
Ayin berdiri dari kursinya.
“Kita jangan ganggu mereka.”
Isya bingung.
“Hahh, ganggu apa?”
Ayin tersenyum jahil.
“Gak baik jadi obat nyamuk.”
“Ayo kita balik ke kelas.”
Isya semakin bingung.
“Loh… tapi Mei belum selesai makan.”
Ayin langsung menarik tangan Isya sedikit.
“Tenang.”
Ia melirik Dadang dengan senyum nakal.
“Ada Dadang kok.”
Dadang langsung duduk lebih tegak.
“Iya!”
“Tidak apa-apa!”
“Saya temani Mei!”
Mei membeku.
Wajahnya tetap tersenyum…
namun matanya sudah mulai panik.
“Eh…”
“Tunggu…”
Namun Ayin sudah menarik Isya berdiri.
“Dah ya!”
“Hihi…”
“Selamat ME - NIK - MA - TI mei ku yang cute.”
Isya masih sempat menoleh.
“Mei nanti ketemu di kelas ya.”
Mei hanya bisa tersenyum kaku.
“I… iya…”
Beberapa detik kemudian…
Ayin dan Isya sudah berjalan menjauh dari kantin.
Mei kini duduk berdua saja dengan Dadang.
Dadang tersenyum lebar.
“Jadi… Mei…”
“Kalau gorengan favorit kamu apa?”
Mei menatap ke depan dengan senyum elegan yang sangat dipaksakan.
Namun dalam hatinya…
“Ayinnnnnnn…”
“Tunggu saja…”
“Ayy tidak akan melupakan ini…”
Dan di kejauhan…
Ayin tertawa kecil sambil berjalan bersama Isya.
Sementara Isya masih bingung.
“Ayin… kenapa kita pergi?”
Ayin hanya menjawab sambil menahan tawa.
“Biar mereka cepat jadian.”
Isya langsung membulatkan mata.
“Hah?!”
Dan Ayin kembali tertawa.
“Hahaha…”
Sementara di kantin…
Mei masih terjebak dalam percakapan panjang bersama Dadang.
Dengan senyum sempurna…
yang sebenarnya penuh penderitaan.
. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..
. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..
. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘