NovelToon NovelToon
Clean Off

Clean Off

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandiwara

Matahari pagi California yang biasanya terasa ceria, hari ini tampak lebih terik di mata Nomella Kamiyama. Perutnya masih terasa kram—sisa-sisa siklus istimewa yang semalam ia gunakan sebagai senjata di apartemen Zeus.

Namun, Nomella tetaplah Nomella. Ia duduk di ruang kelas dengan postur tegak, mengenakan sweater rajut berwarna krem yang lembut, berusaha menyembunyikan rasa tidak nyaman yang menyerang tubuhnya.

Di sampingnya, Zeus Sterling duduk dengan aura yang benar-benar berbeda. Pria itu tidak lagi menunjukkan tatapan predator yang gelap seperti semalam.

Begitu mereka memasuki area kampus, Zeus kembali mengenakan topeng "Matahari California"-nya dengan sangat rapi. Bahkan, hari ini ia bertindak lebih jauh: ia sengaja menarik kursi untuk Nomella dan duduk tepat di sebelahnya sepanjang kuliah.

Dari kejauhan, mereka terlihat seperti pasangan baru yang sedang dimabuk cinta. Mereka berbisik-bisik intens. Namun, jika ada yang mendekat dan mendengar isi pembicaraan itu, mereka akan menemukan sebuah medan perang verbal yang penuh kebencian.

"Jangan berani-berani menyentuh gelas itu, Mella," desis Zeus saat mereka sudah berada di kantin setelah kelas usai.

Nomella baru saja hendak meraih segelas besar iced lemon tea dengan tumpukan es batu yang menggoda. Ia merasa tubuhnya panas dan gerah, dan cairan dingin itu tampak seperti penyelamat.

"Tanganku, gelas ini, mulutku. Bukan urusanmu, Zeus," balas Nomella dengan suara yang rendah namun tajam.

Zeus dengan gerakan yang sangat lembut—namun penuh paksaan menarik gelas itu menjauh dari jangkauan Nomella. Di mata pengunjung kantin yang lain, Zeus terlihat seperti kekasih yang posesif namun perhatian.

"Sayang, dengarkan aku," ujar Zeus dengan nada yang sengaja dikeraskan sedikit agar meja sebelah bisa mendengar. Ia memasang wajah hangat, jenis wajah yang membuat orang-orang berpikir dia adalah pria idaman.

"Kau sedang dalam kondisi 'istimewa'. Minum air es hanya akan membuat pendarahanmu lebih hebat dan kram perutmu semakin parah. Aku tidak mau melihatmu pucat seperti tadi malam."

Nomella melotot. Tadi malam. Zeus sengaja menekankan kata itu untuk memancing imajinasi orang-orang.

"Aku tidak butuh nasihat medis dari pria narsis yang bahkan tidak bisa membedakan mana empati dan mana manipulasi," bisik Nomella dengan gigi terkatup. Ia kemudian melirik piring di depan Zeus sebuah steak besar yang tampak masih berwarna kemerahan di bagian tengahnya.

"Dan kau? Kau makan daging yang hampir mentah itu? Menjijikkan. Sama seperti jiwamu."

Zeus terkekeh, sebuah tawa yang terdengar sangat romantis di telinga publik. "Daging ini matangnya tidak sempurna, sama seperti hubungan kita yang butuh banyak bimbingan, Sayang. Tapi untukmu, aku melarangmu makan daging merah yang berat sekarang. Pencernaanmu sedang sensitif."

"Kau bukan ibuku, Zeus!"

"Bukan, aku pria yang semalam melihatmu hampir menangis karena kram," balas Zeus dengan senyum kemenangan yang memuakkan.

Perdebatan itu terus berlanjut. Mereka memperebutkan garpu, memperebutkan gelas, dan saling melemparkan argumen medis yang dibalut dengan kata-kata manis seperti "Sayang" dan "Cinta". Orang-orang di kantin hanya bisa geleng-geleng kepala, merasa iri dengan kemesraan yang terlihat sangat natural itu.

George, salah satu teman dekat Zeus yang sejak tadi memperhatikan dari meja yang sama, akhirnya tidak tahan lagi. Ia mencondongkan tubuhnya, berbicara dengan nada yang sangat pelan agar mahasiswa di meja lain tidak mendengar.

George menatap Zeus dan Nomella bergantian dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Melihat kalian berdua... dari tadi berdebat soal makanan, soal suhu air, soal tingkat kematangan daging... kalian terlihat sangat... berdedikasi."

Zeus mengangkat alisnya. "Memangnya kenapa, George?"

George berdehem, wajahnya tampak sedikit canggung. "Zeus... mmm, apakah kalian akan segera memiliki anak?"

Deg.

Gerakan tangan Nomella yang sedang memegang pisau makan terhenti seketika. Zeus pun membeku dengan gelas air mineral di tangannya.

"ANAK?!" ucap mereka berdua bersamaan, dengan nada yang sedikit terlalu tinggi.

George mengangguk cepat, matanya berkedip-kedip polos. "Iya, habisnya kalian dari tadi berdebat soal nutrisi dan kesehatan fisik Nomella seolah-olah itu masalah hidup dan mati. Orang-orang di sana melihat kalian seperti sepasang suami istri yang sedang mengurus janin. Perhatianmu, Zeus... itu sudah seperti calon ayah yang sangat protektif."

Nomella merasa wajahnya memanas. Ini bencana. Sandiwara Zeus yang "perhatian" ternyata ditangkap secara berlebihan oleh orang-orang. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ia hanya sedang menstruasi dan Zeus adalah pria gila yang sedang menghukumnya dengan cara yang paling aneh.

Namun, Zeus, yang masih merasa kesal karena kejadian "pembalut" di apartemennya semalam, tiba-tiba mendapatkan sebuah ide licik untuk membalas dendam pada Nomella di depan publik.

Zeus menghela napas panjang, memasang wajah yang terlihat sangat serius namun penuh beban yang manis. Ia menoleh pada George, lalu melirik Nomella dengan tatapan yang seolah-olah penuh rahasia besar.

"Kau benar, George," ujar Zeus dengan suara yang cukup stabil. "Memang sulit menyembunyikannya dari sahabat sendiri."

Nomella menendang kaki Zeus di bawah meja dengan keras. "Zeus, jangan berani-berani..."

Zeus tidak menghiraukan rasa sakit di kakinya. Ia justru merangkul bahu Nomella, menarik gadis itu mendekat ke dadanya. Dengan nada yang terdengar seperti pria yang sedang jujur namun terpaksa, Zeus berkata pada George:

"Iya, George. Dia sedang hamil."

Keheningan seketika menyelimuti meja mereka. George tersedak minumannya sendiri hingga terbatuk-batuk hebat. Nomella mematung dengan mulut terbuka, matanya hampir keluar dari kelopak matanya karena syok.

"APA?!" Nomella berteriak, mencoba melepaskan diri dari rangkulan Zeus.

Namun Zeus justru mempererat pelukannya, mencium pelipis Nomella dengan sangat lembut di depan semua orang. "Sshhh, Sayang. Jangan emosi, itu tidak baik untuk bayinya. Maafkan aku, aku tahu kita ingin merahasiakannya dulu sampai semester depan, tapi George adalah sahabatku."

"Zeus Sterling! Kau benar-benar gila!" maki Nomella, wajahnya kini merah padam antara amarah dan malu yang luar biasa.

"Lihat? Hormonnya sedang tidak stabil," ucap Zeus pada George sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi simpatik.

"Maka dari itu aku melarangnya minum es. Aku harus menjaga mereka berdua, kan?"

George menatap mereka dengan tatapan tak percaya yang kemudian berubah menjadi kekaguman yang konyol. "Gila... Zeus... kau benar-benar pria sejati. Selamat, kawan!"

Nomella merasa dunianya runtuh. Ia ingin menampar Zeus, ia ingin berteriak bahwa ini semua adalah bohong, tapi di kantin yang penuh sesak ini, jika ia meledak sekarang, maka berita "Nomella Hamil" akan menjadi berita utama nasional sebelum matahari terbenam.

Zeus menatap mata Nomella dengan kilatan jahat yang tersembunyi di balik senyum hangatnya. Satu sama, Nomella, seolah itulah yang dikatakan matanya. Jika Nomella bisa mempermalukannya dengan "menstruasi" di apartemen, maka Zeus bisa menghancurkan reputasi "gadis sempurna" Nomella dengan sebuah kebohongan besar tentang kehamilan di kampus.

Pertempuran mereka kini bukan lagi soal rahasia masa lalu, melainkan soal siapa yang paling lihai menenun kebohongan di hadapan dunia. Dan bagi Nomella, ini adalah awal dari mimpi buruk yang lebih besar: menjadi "calon ibu" dari anak pria yang paling ia benci di seluruh dunia.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!