"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"
"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."
"Hentikan! Jangan sentuh aku!"
"Jika aku tak mau?"
"Kau tidak waras!"
Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.
Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.
Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Pertemuan
"Hentikan!"
"Ada apa sayang?"
Tubuh Valeri menegang, saat tangan besar menancekeram rahangnya. Perutnya mual seperti dikocok.
Mata gadis itu melebar, pertemuan ini adalah pertemuan yang tidak ia inginkan sama sekali.
"Lepaskan aku!" ujarnya.
Rodrigo menghembuskan napas kasar tepat di wajah Valeria. Aroma maskulin bercampur mint dari pria itu menyeruak menyapa indra penciuman.
Pria itu menggertakkan gigi, selama ini ia berusaha sabar saat Valeria tiba-tiba pergi meninggalkannya.
"Apa kau tahu? Aku akan segera menikah dengan Seraphine."
Deg
Jantung Valeria mencelos, gadis itu tersenyum.
"Menikahlah Rodrigo, apa kau ingin aku mengantarmu? Dan ya selamat atas pertunanganmu dengan Sera. Aku berharap kau bahagia dengannya."
Rodrigo melepaskan cengkraman rahangnya. Pria itu tersenyum licik. Tidak ada untungnya berdebat dengan seorang gadis.
Pagi itu, setelah Rodrigo mengatakan hal banyak, ia pergi begitu saja.
Mata Valeria berkaca-kaca, gadis itu mengacak rambutnya dengan frustasi, bagaimana cara menjelaskan pada pria itu tentang mengapa ia meninggalkannya.
Air mata mebasahi pipi cantik Valeria. Baginya masalalu tetaplah masalalu. Gadis itu tidak hanya terkejut, tatapannya berubah saat ia baru saja bertemu dengan Rodrigo beberapa hari yang lalu.
Beberapa waktu sebelumnya.
"Valeria, perusahaan De Vega Corporation memesan kue untuk acara pertunangan CEO mereka."
"Lalu?"
"Tidak ada yang mengantar kue-kue ini karena supir pribadi toko sedang sakit!"
"Kemarikan, biar aku yang mengantarnya!"
Dengan cekatan Valeria mengangkat kue itu satu persatu kedalam mobil pribadi miliknya. Ia dan gaun sederhana itu terlihat anggun dan cantik dengan rambut dikepang dua.
Langit London sore itu berwarna abu-abu pucat, khas musim semi yang dingin dan muram. Jalanan di kawasan elit Kensington dipenuhi deretan bangunan klasik bergaya Victorian, megah dan berwibawa, tempat acara pertunangan CEO De Vega Corporation akan berlangsung.
Mobil Valeria berhenti tepat di depan gedung perjamuan mewah dengan pintu kaca besar berbingkai emas. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang entah mengapa terasa tak biasa sejak menerima pesanan itu.
"Aneh....kenapa rasanya tidak nyaman," gumamnya pelan sebelum turun dari mobil.
Valeria membuka bagasi dan mengangkat kotak kue terbesar. Saat melangkah masuk ke aula, suara denting gelas kristal dan percakapan para tamu kelas atas menyambutnya. Aroma parfum mahal bercampur dengan wangi bunga lily putih memenuhi ruangan.
"Permisi, saya dari toko Valeria & Co. Patisserie . Mengantar pesanan," ucapnya sopan pada seorang staf acara.
"Silakan lewat sini, Nona."
Langkah Valeria terhenti seketika.
Di kejauhan, berdiri seorang pria tinggi dengan setelan hitam elegan, rahang tegas, dan sorot mata dingin yang terlalu ia kenal meski sudah dua tahun berusaha melupakannya.
Kotak kue hampir terlepas dari genggaman tangannya.
Rodriguez De Vega?
Mata Valeria membulat, ia menelan ludah susah payah. Gadis itu menurunkan beberapa kantong lalu mengecek kertas tanda terima dan memastikan apakah ini salah atau benar?
CEO De Vega Corporation.
Pria yang pernah ia cintai dan tinggalkan tanpa penjelasan.
Deg
Deg
Deg
Rodrigo yang tengah berbincang dengan beberapa rekan bisnis tiba-tiba membeku. Pandangannya terkunci pada sosok wanita di dekat pintu masuk, gaun sederhana, rambut dikepang dua, wajah yang tak berubah sedikit pun dari ingatannya.
"Valeria....?" bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.
Ia melangkah mendekat, langkahnya mantap namun ekspresinya terguncang.
"Kau?"suara Rodrigo rendah dan tajam.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Valeria mengangkat wajahnya, berusaha tetap tenang meski dadanya sesak.
"Aku hanya mengantar kue. Itu saja," jawabnya singkat, nada suaranya datar.
Rodrigo menatapnya dalam-dalam, mata abu-abunya menyipit.
"Ke acara pertunanganku?" sudut bibirnya terangkat sinis. "London kota besar, Valeria. Tapi takdir selalu mempermainkan kita."
Valeria menelan ludah, menggenggam kotak kue lebih erat.
"Tenang saja, Tuan De Vega," katanya dingin. "Setelah ini aku pergi. Aku tidak berniat mengganggu hidupmu."
Rodrigo mendekat satu langkah lagi, jarak mereka kini terlalu dekat, cukup untuk membuat masa lalu kembali menyerang tanpa ampun.
"Kau pergi dua tahun lalu tanpa sepatah kata," ucapnya pelan namun penuh tekanan. "Dan sekarang kau muncul di hari paling penting dalam hidupku?"
Valeria mengangkat dagunya, menahan getar di suaranya.
"Mungkin bagi Tuan De Vega ini hari terpenting,” balasnya. "Tapi bagiku...ini hanya sebuah pesanan."
Keheningan menyelimuti mereka, seolah bahkan dada Valeria trasa sesak seperti berhenti bernapas sejenak. Di balik denting musik dan tawa para tamu, dua hati yang belum selesai justru kembali bertabrakan membuka luka lama yang belum pernah sembuh.
Dan Rodrigo sadar satu hal yang menghantamnya lebih keras dari apa pun
Valeria belum benar-benar pergi dari hidupnya.
"Sayang, apa yang kau lakukan di sini dan dia? Mantan kekasihmu?" kata Seraphine begitu manja. Gadis itu mendekat ke arah Rodrigo.
Rodrigo memeluk bahunya. "Aku tidak mengenalnya... Dia hanya masa lalu yang tidak begitu penting!" ujar Rodrigo dengan rahang mengeras.
Kata-kata itu jatuh seperti pisau. Menyayat hati Valeria menjadi potongan terkecil.
Valeria berdiri terpaku, jemarinya bergetar di balik kotak kue yang masih ia pegang. Dadanya terasa sesak, seolah udara di tempat itu yang dingin tiba-tiba lenyap dari sekelilingnya.
"Oh....begitu," gumam Valeria lirih, nyaris tak terdengar. Namun senyum tipis terlukis di bibirnya, senyum rapuh yang dipaksakan.
Seraphine menatap Valeria dari ujung kepala hingga kaki, sorot matanya tajam penuh kemenangan.
"Rodrigo, jangan buang waktumu sayang. Acara ini segera dimulai," ucapnya lembut, namun jelas disengaja.
Rodrigo mengalihkan pandangan, menolak menatap Valeria lebih lama.
"Kau sudah dengar sendiri," katanya dingin. "Antarkan saja kuenya dan pergi dari tempat ini!"
Pergi.
Kata itu menghantam lebih keras daripada penyangkalan sebelumnya.
Valeria mengangguk pelan. "Tentu. Aku hanya bekerja," jawabnya tenang, meski hatinya retak berkeping-keping. "Maaf kalau kehadiranku mengganggu kebahagiaan Tuan De Vega."
Ia melangkah melewati mereka, bahunya nyaris bersentuhan dengan Rodrigo. Aroma parfumnya aroma yang dulu begitu dikenalnya,menyelinap singkat, cukup untuk membuat Rodrigo mengepalkan tangan.
"Valeria," panggilnya refleks.
Namun Valeria berhenti tanpa menoleh.
"Jangan," ucapnya pelan. "Tuan De Vega sudah jelas. Aku hanya masa lalu yang tidak penting."
Langkahnya kembali berlanjut, kali ini lebih cepat. Setelah ia meletakkan kantung berisi kotak kue itu, ia segera kembali ke toko kue miliknya.
Didalam mobil, air mata menetes di pipinya. Gadis itu menginjak pedal gas, mobil memecah jalanan sore itu. Bahkan meskipun didalam mobil, dadanya merasa sesak.
Di balik pintu dapur toko kue miliknya, Valeria bersandar pada dinding marmer dingin. Napasnya tersengal, matanya memanas.
Di luar, lonceng gereja berdentang pelan, seolah menertawakan perasaannya.
Ternyata, rasa sakit yang paling menyakitkan bukanlah ditinggalkan, melainkan diperlakukan seolah kenangan itu tak pernah berarti apa-apa.