Arkan Noctis memasuki Akademi Duskveil, tempat para penyihir muda dilatih dalam tiga kekuatan utama: alam, cahaya, dan malam. Namun berbeda dari murid lain, Arkan datang membawa satu tujuan—mengungkap kebenaran tentang keluarganya yang selama ini dianggap sebagai simbol kegelapan dan kehancuran.
Pencariannya membawanya pada sebuah ritual kuno yang hanya bisa dilakukan dengan menyatukan ketiga jenis sihir.
bagaimana cara arkan menyatukan ketiga jenis sihir itu?? dan apa kebenaran dari keluarga noctis?? Ayoo mulai baca Takdir dari Bayangan!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J. F. Noctara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Jejak Cahaya
...****************...
Senja mulai turun di Akademi Duskveil.
Langit berubah dari jingga menjadi ungu gelap, dan lampu-lampu sihir di sepanjang koridor batu mulai menyala satu per satu. Cahaya lembut berpendar dari kristal yang tertanam di dinding, menerangi jalan para murid yang kembali ke asrama.
Di taman Natureveil, Arkan dan Leyna masih berdiri di bawah pohon besar.
Angin malam membawa aroma tanah basah dan dedaunan segar.
Leyna akhirnya memecah keheningan.
“Kalau ini berhubungan dengan keluargamu… kenapa kau mencariku?”
Arkan menatapnya beberapa saat sebelum menjawab.
“Karena aku menemukan sesuatu.”
Leyna mengangkat alis.
“Apa?”
Arkan melihat sekeliling taman untuk memastikan tidak ada orang yang terlalu dekat.
Beberapa murid masih berlatih sihir alam di kejauhan, tapi mereka cukup jauh untuk tidak mendengar percakapan ini.
Arkan menurunkan suaranya.
“Aku menemukan catatan lama di perpustakaan bawah tanah.”
Leyna tampak terkejut.
“Perpustakaan bawah tanah? Tempat itu hampir tidak pernah dibuka.”
“Aku tahu.”
Arkan melanjutkan dengan pelan.
“Di sana aku menemukan buku tua tentang sesuatu yang disebut Ritual Persatuan Tiga Veil.”
Leyna mengerutkan kening.
“Tiga Veil?”
Arkan mengangguk.
“Darkveil. Natureveil. Lightveil.”
Leyna terdiam beberapa detik.
“Setahuku…” katanya pelan, “ketiga jenis sihir itu hampir tidak pernah digabungkan.”
“Bukan hampir,” jawab Arkan.
“Tidak pernah.”
Angin bertiup melewati dedaunan di atas mereka.
Leyna menyilangkan tangannya sambil berpikir.
“Kalau begitu kenapa kau ingin melakukannya?”
Arkan menatap ke arah tanah.
“Karena ritual itu berhubungan dengan keluarga Noctis.”
Leyna menatapnya tajam sekarang.
“Kau yakin?”
Arkan mengangguk pelan.
“Buku itu menyebutkan bahwa keluarga Noctis pernah menjadi bagian dari ritual itu.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan mungkin… mereka menyembunyikan sesuatu setelahnya.”
Leyna tampak semakin penasaran.
“Rahasia?”
“Mungkin.”
Arkan mengangkat bahu sedikit.
“Aku belum tahu.”
Beberapa saat mereka berdua hanya mendengarkan suara alam di sekitar taman.
Kemudian Leyna berkata,
“Baiklah.”
Arkan menoleh.
“Baiklah?”
Leyna tersenyum kecil.
“Aku akan membantumu.”
Arkan terlihat sedikit terkejut.
“Kau tidak takut?”
Leyna tertawa pelan.
“Aku murid Natureveil.”
Ia menunjuk ke arah pepohonan di sekitar mereka.
“Kami terbiasa menghadapi hal-hal yang tidak diketahui.”
Arkan memandangnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata,
“Terima kasih.”
Leyna kemudian bertanya,
“Tapi kalau ini Ritual Tiga Veil…”
Ia mengangkat satu jari.
“Kau punya Darkveil.”
Lalu menunjuk dirinya sendiri.
“Aku bisa membantu dengan Natureveil.”
Kemudian ia mengangkat alis.
“Tapi kita masih kekurangan satu.”
Arkan mengangguk pelan.
“Lightveil.”
Leyna menghela napas.
“Itu bagian yang sulit.”
Arkan sedikit mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Leyna menatap ke arah bangunan putih yang berdiri di sisi barat akademi.
Menara Lightveil tampak terang bahkan di bawah langit senja.
“Murid Lightveil biasanya tidak terlalu menyukai Darkveil.”
Arkan tidak tampak terkejut.
“Itu sudah jelas.”
Leyna menoleh kembali padanya.
“Apalagi jika mereka tahu kau dari keluarga Noctis."
Arkan terdiam.
Ia sudah menduga hal itu.
Namun sebelum mereka sempat berkata lebih jauh—
Sebuah suara terdengar dari belakang mereka.
“Kalian membicarakan Lightveil?”
Arkan dan Leyna langsung menoleh.
Seorang murid berdiri beberapa langkah di belakang mereka.
Jubahnya putih dengan garis emas.
Simbol Lightveil bersinar lembut di dadanya.
Rambutnya pirang pendek, dan matanya berwarna biru terang seperti langit pagi.
Ia tampak santai, seolah sudah berdiri di sana cukup lama.
Leyna tampak sedikit terkejut.
“Sejak kapan kau di sana?”
Murid itu tersenyum kecil.
“Cukup lama untuk mendengar kata Ritual Tiga Veil.”
Arkan memperhatikannya dengan tenang.
“Apa kau sering menguping percakapan orang?”
Murid itu mengangkat bahu.
“Tidak biasanya.”
Ia menatap Arkan dengan rasa ingin tahu.
“Tapi percakapan kalian terdengar menarik.”
Leyna tampak sedikit gelisah.
“Kau tidak mendengar semuanya, kan?”
Murid itu tersenyum lagi.
“Mungkin.”
Kemudian ia menatap Arkan.
“Kau Arkan Noctis.”
Arkan tidak menyangkal.
“Iya.”
Murid itu tampak berpikir sejenak.
“Aku pernah mendengar namamu.”
Leyna menghela napas pelan.
“Tentu saja.”
Murid itu kemudian berkata,
“Namaku Solan.”
Ia menunjuk simbol di jubahnya.
“Murid Lightveil.”
Beberapa detik keheningan terjadi di antara mereka.
Lalu Solan berkata sesuatu yang membuat Arkan dan Leyna sedikit terkejut.
“Kalau kalian benar-benar ingin melakukan Ritual Tiga Veil…”
Ia tersenyum tipis.
“…kalian akan membutuhkan seseorang dari Lightveil.”
Leyna menatapnya curiga.
“Dan kau menawarkan diri?”
Solan mengangguk santai.
“Mungkin.”
Arkan menyipitkan mata sedikit.
“Kenapa?”
Solan menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang.
“Karena aku juga penasaran.”
Ia kemudian menoleh kembali pada Arkan.
“Lagipula…”
Matanya sedikit menyipit dengan senyum tipis.
“…aku selalu ingin tahu apakah rumor tentang keluarga Noctis itu benar.”
Angin malam berhembus melalui taman Natureveil.
Daun-daun bergerak lembut di sekitar mereka.
Tiga murid dari tiga rumah yang berbeda kini berdiri di tempat yang sama.
Darkveil.
Natureveil.
Lightveil.
Dan tanpa mereka sadari—
Langkah kecil yang mereka ambil malam itu mulai membuka jalan menuju rahasia besar yang telah terkubur selama bertahun-tahun di Akademi Duskveil.
...****************...