Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.
Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.
Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.
Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.
Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.
Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.
Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari saat segalanya mulai berubah
PIETRA PETROVSKY
Pietra berusia 24 tahun. Ia bekerja di sebuah kafe kira-kira satu tahun terakhir, dan beberapa bulan belakangan mulai kuliah hukum. Sebenarnya ia tak perlu bekerja: ada bagian warisan dari mendiang ayahnya yang sudah cair untuknya. Sekitar 40% cair saat ia genap delapan belas tahun. Sisanya, 60%, baru akan cair ketika ia berumur dua puluh lima—dan bila ia menikah sebelum itu, uang tersebut untuk sementara jatuh ke tangan sang suami.
Aku pulang lebih awal dari biasanya. Penjaga lobi mempersilakan aku masuk, dan aku naik ke apartemen di lantai tujuh belas. Aku sudah membeli hadiah untuk suamiku, Ricardo—niatku memberinya kejutan.
Saat memutar kunci di pintu, firasat buruk menyergapku, seolah ada sesuatu yang tidak beres.
Aku melangkah masuk. Sebuah lagu lembut mengalun pelan di dalam.
Aku menyusuri lorong perlahan, dan ketika sampai di ruang tamu, aku disambut oleh pemandangan itu.
Ricardo duduk santai di sofa, penuh kemenangan. Dan "sahabat terbaikku" duduk di pangkuannya, mengecupi wajahnya, turun sampai ke bibir, dalam sebuah ciuman panjang yang—harus kuakui—"penuh gairah".
Sesaat, mereka tak menyadari keberadaanku. Sampai kantong berisi hadiah untuk Ricardo terlepas dari tanganku dan jatuh ke lantai.
Ricardo mengangkat wajahnya dan melihatku. Vitória bangkit, menjauh dengan malas.
"Ih... Kurasa penjaga lobi lupa memberitahumu..." katanya, senyum sinis tersungging di bibirnya. Ia menyilangkan tangan dan menatapku dari atas ke bawah dengan penuh hina.
"Ada apa, Sayang?" lanjutnya mengejek. "Kau kira cuma kau seorang yang bisa memuaskan gairah Ricardo—kau yang seharian keluyuran di luar itu?"
"Tutup mulutmu, Vitória!" bentak Ricardo sambil berdiri dan merapikan kemejanya.
Vitória memutar bola matanya dan menyingkir dariku.
Ricardo mendekat, tangannya mengusap ringan wajahku. Aku memalingkan muka, menghindar.
"Coba lihat baik-baik dirimu, Pietra..." katanya. "Kau memang cantik, tapi kau bukan Vitória. Kau harusnya banyak belajar darinya. Selain punya teknik ranjang yang tak pernah gagal, dia hampir jadi model termuda di majalah Fashionline."
Mereka bersulang dengan gelas anggur yang tergeletak di meja, lalu berciuman lagi—tanpa malu, tanpa rasa bersalah.
Air mata mengalir di wajahku, panas, tanpa suara, menghinakan. Kali ini ada sesuatu yang benar-benar patah di dalam diriku.
"Cukup!" seruku sambil memungut kantong hadiah dari lantai. "Aku tidak wajib mendengar apalagi menyaksikan semua ini."
Aku berbalik ke arah pintu, bertekad pergi. Namun langkahku tak sampai dua kali.
Ricardo menjambak rambutku dari belakang, membuatku memekik pelan menahan sakit.
"Kau tidak akan ke mana-mana," desisnya. "Kau akan naik ke atas dan berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa. Mengerti?"
"Tidak! Lepaskan aku!"
Jawabannya datang berupa tamparan keras. Lalu ia mencampakkanku ke lantai.
"Naik! Sekarang juga!"
Beberapa detik aku terdiam di lantai, wajahku perih, hatiku hancur. Lalu, perlahan, aku bangkit.
Tanpa menoleh ke belakang...
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun...
Aku menurut.
Tapi pada saat itu juga, aku berjanji pada diriku sendiri: aku tak akan tinggal di sini lama-lama.