"Amelia kita sudah menikah, ingat perjanjian kita jika pernikahan ini hanya sementara. Aku menikahimu karena terpaksa.. jangan berharap banyak dari pernikahan ini. Aku pun tidak akan menyentuhnya."ucap Rudi.
Amelia gadis berasal dari desa kidul, bertemu dengan Rudi pria asal ibukota,ia seorang kontraktor yang sedang membangun jalanan di desa Amelia.
Amelia terpaksa menerima lamaran Rudi karena ingin melunasi hutang kedua orang tuanya.
Rudi terpaksa menikahi Amelia karena tunangannya Sarah hilang entah ke mana menjelang 1 minggu pernikahan mereka.
Sementara undangan sudah menyebar kemana-mana.
Untuk menutupi aib keluarga Rudi memilih Amelia untuk ia nikahi.
"Apapun persyaratannya aku terima yang terpenting uang yang kamu janjikan harus tepati..." jawab Amelia tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur silawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 1. kehidupan Amelia
"ini uang rp50.000 pergi ke warung Salamah Belanja sayuran setelah itu masak.. jangan lama saya sudah lapar." Lia mengambil uang yang di berikan oleh ibu mertuanya..
"Baik ,Bu.. "jawab Amelia singkat, ia terpaksa menerima uang pemberian Ibu mertuanya karena ia butuh uang itu untuk belanja sayuran.
3 bulan ia menikah dengan Rudi, terasa tiga tahun itu yang dirasakan oleh Amelia.
Bagaimana tidak selama itu, siang dan malam Amelia tidak henti-hentinya mengerjakan pekerjaan rumah, selain itu mulut mertua dan ipar nya sangat pedas menghina dirinya..
Ia diperlakukan seperti pembantu di rumah mertuanya sendiri..Dan suaminya tidak pernah membelanya.
Amelia dan Rudi menikah karena simbiosis mutualisme dua-duanya saling membutuhkan, Rudi membutuhkan Amelia menjadi pengantinnya untuk menutupi aib keluarga. Karena tunangannya Sarah pergi entah kemana menjelang hari pernikahan..
Sementara Amelia butuh uang, untuk membayar hutang orang tuanya dan biaya sekolah kedua adiknya. .
Impian menikah dengan laki-laki yang dicintai dan mencintainya, dengan konsep wedding impiannya yaitu konsep wedding princess harus ia kubur dalam-dalam.. karena tidak mungkin itu terjadi, ia telah menikah dengan laki-laki yang tidak ia cintai dan pernikahannya tanpa resepsi hanya menikah saja.
"Berangkat sana ke warung, malah bengong, tidak terima uang belanja saya kasih hanya Lima puluh ribu? Kalau mau uang banyak kerja jangan diam saja dirumah." Bentak Ainun.
Amelia tersadar dari Lamunannya ia bergegas menuju warung ibu Salamah yang ada di ujung Gank..
"Belanja apa neng Amel?? Tumben hari ini rada siang?" tanya Bu Salamah pemilik warung sayur."Amelia mengaguk dan tersenyum.
"Iya Bu,dananya baru turun, makanya aku baru belanja." Jawab Amelia.
Selama menikah dengan Rudi ia tidak pernah di nafkahi oleh Rudi, semua uang Rudi di kuasai oleh Ibu Mertuanya..
Dan Amelia hanya dijatahi oleh ibu mertua setiap harinya,itu pun uangnya untuk belanja sayuran bukan untuk pribadi Amelia.
Salamah memperhatikan Amelia yang sedang memilih kangkung bayam, dan tempe serta tahu.. Hati merasa iba melihat nasib Amelia.
"Ibu!Saya belanja ini saja,cabe dan bawang ku masih ada.."Salamah menghitung belanjaan Amelia.
"Ambil saja cabe dan bawang beserta tomat, tidak usah bayar Ibu kasih untuk mu. Kembalian ini kamu simpan jangan diberikan lagi pada mertuamu." Ucap Salamah.
Amelia terharu mendapat perlakuan yang sangat baik dari ibu warung sayuran.
"Jangan terlalu jujur dengan mertua pelit seperti Ainun, bilang saja harga sayur-sayuran melonjak tinggi jadi tidak ada kembalian, Jika ditanya kembaliannya." Salamah tidak tega melihat gadis desa itu diperlakukan tidak baik oleh keluarga suaminya.
"Tidak dosa kan ya Bu, jika aku berbohong dengan mertuaku.. jika aku tidak ngambil sisa uang belanja mertua ku aku tidak bisa beli jajanan Bu." Hati Salamah terenyuh mendengar ucapan wanita muda berparas Ayu itu.
"Tidak ada dosa, mereka yang berdosa tidak memberimu nafkah.. suamimu sekarang mengerjakan proyek di mana?" Tanya Salamah.
Kebetulan sekali pagi ini suasana warung sudah sepi para emak-emak sudah selesai belanja.Jadi Salamah dan Lia bebas bercerita.
"Di pulau Sumatera informasi yang aku dengar saat Mas Rudi menelpon mertuaku. Mas Rudi tidak pernah menelpon aku, paling dia menanyakan kabarku lewat ibu mertua."
"Kamu jangan diam saja, kamu minta uang sama Rudi, kamu punya hak atas uang Suami mu, kamu wajib dinafkahi karena perempuan itu fitrahnya dinafkahi.. perkara Rudi cinta atau tidak denganmu, kamu sudah ia nikahi kamu wajib mendapat nafkah jangan diam saja." Nasehat dari Salamah ia serap dalam otaknya.
"Akan saya coba saran dari ibu Salamah. Terima kasih ya Bu saya mau pulang, pasti ibu mertuaku nyap-nyap. Karena aku kelamaan belanjanya."Salamah mengangguk dan mengacungkan jempol.
"Ini kembaliannya, simpan Yang rapat uang rp20.000 itu. Kalau kamu takut digeledah oleh mertuamu ibu simpan uang rp20.000 itu, Besok kamu ambil Kalau kondisi sudah aman."Lia menyerahkan kembali uang satu lembar warna hijau itu pada ibu Salamah.
"Tolong disimpan ya Bu, besok kuotaku habis jadi uang rp20.000 itu mau aku belikan kuota." Salamah mengangguk dan mengacungkan jempolnya.
Amelia meninggalkan warung Salamah dengan hati yang riang..
Nasehat Salamah supaya ia meminta uang nafkah pada Rudi akan ia coba..
"Kamu beli sayur di mana di Jeddah? Lama sekali..! Pasti kamu gosip dulu dengan Salamah dan ibu-ibu komplek yang lainnya.. menantu tidak becus tidak bisa diandalkan." Hardik Ainun.
"Ngantri Bu, di warung Bu Salamah. Sekali-kali Ibu belanja sendiri supaya tahu betapa ramainya warung Bu Salamah."mata Ainun melotot menatap Lia.
Lia bergidik ngeri menatap mata ibu mertuanya yang mau loncat keluar.
"Siapa kamu berani menyuruhku.. kamu di sini menumpang, Sudah selayaknya kamu bekerja untuk aku dan melayani anak-anakku paham. Rudi menikahimu dengan mahar yang sangat mahal, maka dari itu imbalannya kamu harus bekerja melayani kami."sakit hati Amelia mendengar ucapan pedas mertua yang tajam setajam silet.
" Lia tolong cucikan dulu botol susu Arkan, dicuci pakai air panas dan harus bersih."Azizah melempar botol susu anaknya pada Amelia untuk dicuci.
Amelia tidak ada kekuatan untuk melawan, ia mengambil botol susu itu dan mencucinya.
"Masaknya jangan lama, 1 jam sudah siap semua di meja makan.." Amelia hanya menjawab dengan anggukan.
Kondisi badannya yang tidak sehat karena hari pertama datang bulan. Membuatnya tidak mood untuk memasak.
Tapi apalah daya ia tidak bisa bersantai-santai ia harus mengerjakan pekerjaan rumah supaya Ibu mertuanya tidak marah.
"Lia, kembalian uang sayur mana? "Baru saja Amelia bernafas lega karena mertuanya tidak menanyakan kembalian uang sayur.
"Tidak ada kembalian Bu habis, malah Aku punya utang di warung Bu Salamah 5000.. harga sayur-sayuran dan cabe melonjak tinggi."jawab Amelia tenang.
"Rp50.000 tidak ada kembaliannya Bahkan kamu mengutang di warung Salamah?? Kamu belanja apa sih?"Ainun memeriksa belanjaan Lia ia mengeluarkan semua belanjaan itu dari dalam kantong plastik besar.
Lalu ia hitung satu persatu.. Setelah menghitung semua belanjaan sang menantu. Ainun menarik nafas kasar. Lalu pergi meninggalkan Amelia dengan hati yang kesal.
Kurang lebih satu jam Lia berkutat didapur ibu mertuanya.
"Alhamdulillah selesai sudah memasak pagi ini." Lia menghidangkan semua masakaknya di meja makan.
Sebelum masakan ia hidangkan di meja makan, Lia makan terlebih dahulu dan ia menyembunyikan nasi dan sayur untuk ia makan siang.
"Sudah matang Lia? Kok sedikit sekali sayuran yang kamu masak. Perasaan saya liat belanja sayuran kamu banyak? Jangan-jangan kamu tilep sayuran dan lauknya." Amelia memutar bola Matanya ia jengah dengan mertuanya yang suka menuduh.
Walaupun tuduhan mertuanya itu benar.
"Siapa yang nilep sih Bu! Kangkung dan bayam jika dimasak ia menciut Bu.. jangan disamakan saat belum dimasak dan sudah dimasak." Jawab Amelia.
"Apa yang dikatakan Amelia benar Bu, namanya sayur-sayuran jika dimasak menciut. Dan tidak mungkin Amelia menelep sayur, kalaupun benar wajarlah Bu,Lia yang capek masak.." jawab Arman Kaka laki-laki Rudi.
"Apa-apaan sih kamu Mas,bela-bela Amelia? Apa yang ditanyakan ibu itu benar.. aku juga lihat kok sayuran yang dibeli Amelia banyak,masa sudah matang jadi dikit, kalaupun menciut tidak sampai drastis banget berubahnya.."Azizah Ikut menuduh Lia..
"Besok Mbak Azizah yang belanja dan memasak biar tahu prosesnya sayur-sayuran ini bisa matang." Jawab Lia kesal.
"Beraninya kamu perintah aku? Orang tuaku saja tidak pernah perintah-perintah dari aku dilahirkan aku tidak pernah masuk dapur paham."Bentak Azizah dengan mata melotot.
Amelia tidak menghiraukan tatap horor Kaka iparnya.
Ia mengambil piring, baru saja ia ingin ambil nasi tangannya di pukul ibu mertua.
Plak..!
"Siapa yang suruh kamu makan? Kamu asuh dulu Arkan biar Azizah makan,kamu boleh makan kalau ada sisa." Lia menatap kesal ibu Mertuanya..
Lia mengurungkan niatnya untuk makan,lalu ia mengambil Arkan dari gendongan sang Kaka ipar.
" Jaga baik-baik anakku,jangan sampai lecet. Arkan itu cucu kesayangan dikeluarga ini." Ujar Azizah.
" Kalau tidak mau lecet anaknya momong saja sambil makan." Jawab Lia kesal.