Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.
Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.
Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PINTU GERBANG YANG BERBICARA
Murni adalah embun yang terjebak di daun jagung – kecil, jernih, tapi tahu bahwa sinar matahari akan membawa dia ke langit yang lebih luas. Anak tunggal dari keluarga petani di dusun tepi sungai, namanya sendiri sudah seperti janji: hidup yang harus tetap bersih meskipun tanah yang dipijak kadang berlumpur.
Ketika pagi itu datang dengan suara ayam jantan yang seperti genta waktu, Murni berdiri di depan gerbang kayu yang sudah menguning. Gerbang itu bukan cuma kayu yang menyambung tanah dan jalan – dia adalah teman lama yang selalu mengangguk setiap kali ada orang pergi atau datang. Kayunya bergelombang seperti kulit kerbau yang sudah tua, setiap alur adalah cerita dari orang-orang dusun yang dulu juga merantau, membawa harapan seperti beras di dalam karung.
"Kamu akan pergi jauh, nak?" Suara Ibunya datang seperti air mata yang jatuh ke dalam baskom beras – lembut tapi membuat getaran yang terasa di setiap butir. Tangannya yang kasar karena menyentuh tanah setiap hari menyentuh pipi Murni, menyiramnya dengan kehangatan yang lebih hangat dari secangkir teh jahe pagi hari.
Murni mengangguk, matanya menatap jalan aspal yang melengkung seperti ular yang mencari tujuan. Tas ransel di pundaknya terasa seperti bukit kecil yang harus dia bawa sendiri, di dalamnya ada baju bekas yang sudah disetrika rapi, beberapa buku tulis yang masih kosong seperti lembaran hidup yang baru akan ditulis, dan bungkusan krupuk kulit yang dibuat oleh neneknya – renyah seperti kenangan masa kecil yang tidak akan pernah patah.
Dusun ini adalah kantong waktu yang berjalan lambat. Rumah-rumah bambu berdiri seperti penjaga yang sabar, pohon pepaya di halaman setiap rumah seperti tugu yang menunjukkan arah langit, dan sungai yang mengalir di pinggir dusun adalah nadi yang menghidupi semua orang. Tapi Murni merasa seperti ikan yang tumbuh terlalu besar untuk kolam rumah – dia butuh lautan yang lebih lebar, meskipun dia tahu bahwa lautan bisa saja membawa ombak yang menghempaskan.
Ketika dia menginjakkan kaki pertama di jalan keluar dusun, tanahnya seolah-olah mencubit tumitnya – seperti ucapan selamat tinggal yang penuh kasih. Pohon jambu di tikungan jalan mengayunkan dahan-dahanya seperti tangan yang melambaikan selamat jalan, dan awan di langit terbentuk seperti wajah orang-orang yang dia tinggalkan.
Perjalanan awal itu penuh dengan majas yang hidup di setiap sudut pandang: bis yang datang seperti raksasa besi yang menggeram, penumpang-penumpang di dalamnya seperti biji-biji yang dikirim ke tanah baru untuk tumbuh, dan kota yang muncul di kejauhan seperti mimpi besar yang sudah siap untuk dihidupi. Murni menutup matanya sejenak, merasakan angin yang menyapu wajahnya – angin yang tidak lagi membawa aroma tanah dan daun jagung, tapi sudah mulai menyebarkan bau asap kendaraan dan harapan yang belum tentu tercapai.
"Tempat baru adalah kain putih yang siap diwarnai," bisik dia dalam hati. Tapi dia juga tahu bahwa warna-warna itu bisa saja menjadi seperti cat yang tumpah – tidak terkontrol, tapi tetap menjadi bagian dari lukisan hidupnya.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Mata Murni terbuka kembali ketika bis berhenti sebentar di pinggir jalan, di tempat yang tidak ada nama – hanya sebidang tanah kosong yang seperti lembaran kertas yang terlupakan. Di sana berdiri seorang wanita tua yang menjual es cendol, gerobaknya berwarna kuning cerah seperti matahari yang terpotong kecil, dan air gula aren di dalamnya mengkilap seperti permata coklat yang siap menghangatkan lidah.
Murni keluar sebentar dari bis, membeli satu mangkuk es yang rasanya seperti kenangan kampung yang dicampur dengan rasa baru. Wanita tua itu melihat matanya yang penuh dengan keraguan, lalu mengangkat tangannya yang penuh dengan kerut seperti peta jalur waktu dan berkata, "Anak muda yang pergi jauh seperti benang yang diputar panjang – semakin jauh, semakin kuat ikatannya dengan asalnya." Kata-katanya seperti air yang meresap ke dalam tanah kering, membuat Murni merasa sedikit lebih tenang.
Ketika bis melanjutkan perjalanan, pemandangan mulai berubah drastis. Rumah-rumah bambu digantikan oleh gedung-gedung bertingkat yang seperti tugu-tugu besi yang bersaing tinggi ke langit. Jalan yang dulunya hanya dilewati oleh sepeda dan gerobak sekarang penuh dengan mobil dan motor yang berdesir seperti serangga besar yang sedang terburu-buru. Cahaya neon mulai menyala perlahan, bahkan saat matahari belum benar-benar tenggelam – seperti bintang-bintang yang tidak sabar untuk muncul di langit kota.
Murni meraih tas ranselnya, menyentuh sampul buku tulis yang ada di dalamnya. Buku itu adalah janji yang dia buat dengan dirinya sendiri – setiap halaman akan dia isi dengan cerita tentang tempat baru ini. Tapi saat bis memasuki gerbang kota yang besar dengan tulisan nama kota yang seperti rahasia yang baru akan terungkap, hatinya berdebar seperti gendang yang dipukul dengan cepat.
Di dalam bis, seorang pemuda sedang membaca koran, surat kabarnya penuh dengan angka dan berita yang seperti bahasa asing yang belum bisa dia pahami. Seorang ibu dengan anak kecil duduk di sebelahnya; anak itu sedang bermain dengan boneka yang mengenakan baju warna-warni seperti pelangi yang terjepit di tangannya. Murni melihat mereka dan berpikir, Setiap orang di kota ini adalah titik warna yang berdiri sendiri, tapi bersama-sama mereka membuat lukisan yang begitu ramai dan penuh dengan gerakan.
Bis akhirnya berhenti di terminal yang besar, tempat di mana orang-orang keluar dan masuk seperti arus sungai yang tidak pernah berhenti. Murni turun dari bis, dan kaki nya menyentuh aspal yang keras dan hangat seperti pelana kuda yang siap membawa dia menjelajahi dunia baru. Tasnya terasa lebih berat sekarang, bukan karena isi yang ada di dalamnya, tapi karena beban harapan yang dia bawa dari kampung dan harapan baru yang mulai tumbuh di dalam dirinya.
Dia melihat papan petunjuk arah jalan yang penuh dengan nama-nama tempat yang tidak dia kenal – nama-nama itu seperti kata-kata baru yang harus dia pelajari satu per satu. Di kejauhan, ada gedung pencakar langit yang puncaknya tersembunyi di balik awan seperti rahasia yang tinggi dan sulit diraih. Di pinggir jalan, ada taman kecil dengan pepohonan yang tumbuh di antara batu bata – mereka adalah tanda bahwa alam tidak pernah benar-benar pergi dari kota, hanya saja dia tinggal di sudut-sudut yang lebih sempit.
Murni menarik napas dalam-dalam, udara kota yang sedikit terasa berat masuk ke paru-parunya. Dia mengulang kata-katanya yang dulu hanya bisik di hati, tapi kali ini dia ucapkan dengan suara yang jelas meskipun hanya untuk dirinya sendiri: "Tempat baru adalah kain putih yang siap diwarnai. Cat yang tumpah juga punya keindahannya sendiri."
Saat dia mulai berjalan menuju jalan raya yang ramai, bayangan dari gedung-gedung tinggi jatuh di atasnya seperti selimut yang melindungi tapi juga menyembunyikan. Langit mulai berubah warna menjadi oranye kemerahan seperti wajah orang yang sedang tersenyum dengan penuh harapan, dan lampu jalan mulai menyala satu per satu seperti mata-mata kecil yang akan mengawasi setiap langkahnya di tempat baru ini.
Dia tidak tahu di mana kaki nya akan membawa dia selanjutnya, tidak tahu dengan pasti apa yang akan dia temui di setiap tikungan jalan. Tapi dia tahu bahwa setiap langkah yang dia ambil adalah sentuhan kuas yang mulai menggoreskan warna pertama di atas kain putih hidupnya – warna yang mungkin tidak sempurna, mungkin kadang tumpah dan menyebar, tapi akan selalu menjadi bagian dari lukisan yang hanya miliknya sendiri.
Di kejauhan, suara keramaian kota semakin keras – suara mobil, suara orang yang berbicara, suara musik dari toko-toko – semua itu menyatu menjadi simfoni kehidupan yang baru saja dia mulai dengarkan. Murni mengangkat kepalanya, menatap langit yang mulai gelap namun penuh dengan cahaya dari lampu kota, dan dia tersenyum sedikit. Perjalanan panjang sudah dia tempuh untuk sampai ke sini, tapi dia tahu bahwa perjalanan yang sebenarnya – perjalanan untuk menemukan tempatnya di dunia baru ini – baru saja dimulai.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Bis itu berhenti di halte besar yang seperti kubah waktu yang menghubungkan segala arah. Orang-orang berdesakan seperti lautan manusia yang sedang mencari pantai masing-masing, suara teriakan sopir bis, deru mesin kendaraan, dan obrolan yang tidak jelas maknanya seperti simfoni kota yang belum pernah dia dengar. Murni berdiri di tengah keramaian itu seperti bunga melati yang tumbuh di tengah aspal – mencolok dengan keheningannya yang dalam, merasa bahwa dirinya kecil seperti butir pasir di atas pantai luas.
Dia menarik ranselnya lebih erat ke tubuhnya, seperti seorang pelaut yang menggenggam papan penyelamat di tengah badai. Mata nya berkeliling mencari petunjuk – papan nama jalan yang seperti rahasia tertulis dalam huruf asing, rambu-rambu yang seperti tanda-tanda misterius yang harus dia tebak, dan gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit seperti pohon karet yang terlalu cepat tumbuh, lupa akan akarnya di tanah.
Ketika dia melangkah ke trotoar yang rata dan keras – berbeda jauh dari jalan tanah kampung yang bergelombang seperti perut ibu yang sedang menggendong anak – sepasang sepatu hak tinggi melewatinya dengan suara klik-klik yang seperti hujan kecil yang tidak menyentuh tanah. Wanita itu mengenakan baju berwarna cerah seperti matahari yang terbenam di atas lautan kota, tas tangan nya berkilau seperti bintang yang terjatuh ke dunia manusia. Murni melihat cermin kaca di dinding gedung – bayangannya tercermin bersama dengan gedung-gedung tinggi, seperti daun kecil yang tercampur dalam rerumputan tinggi.
"Kota ini adalah rak buku yang tak beraturan," pikirnya sambil mengikuti aliran orang yang berjalan cepat seperti air sungai yang tergesa-gesa menuju lautan. Setiap sudut jalan menyimpan cerita yang berbeda: pedagang makanan kaki lima yang menjajakan bakso dengan bau yang menggoda seperti rayuan teman lama, anak-anak kecil yang berlari-lari seperti kelinci yang bermain di tengah jalan raya, dan orang-orang yang berjalan dengan wajah serius seperti prajurit yang sedang menuju medan perang harian mereka.
Murni akhirnya sampai di rumah kontrakan yang sudah dia dapatkan informasi dari sepupu jauhnya. Rumah itu berdiri di tengah gang kecil yang sempit seperti alur di antara batu besar, temboknya dicat putih tapi sudah mulai menguning seperti kertas lama yang sering dibaca. Pintu kayu kecilnya seperti senyum yang sudah mulai pudar, dan pagar besi yang berkarat seperti rantai masa lalu yang sulit dilepaskan.
"Kamu Murni ya?" Suara yang datang dari belakang membuatnya terkejut. Seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan berdiri di sana, mengenakan baju batik yang pola nya seperti peta jalan yang rumit. Dia adalah Bu Santi, pemilik kontrakan – wajahnya hangat seperti madu yang baru saja dituang dari kendi, tapi mata nya tajam seperti mata elang yang bisa melihat jauh ke dalam hati orang.
"Ya Bu... saya dari dusun tepi sungai, seperti yang dikabari sepupu saya," jawab Murni dengan suara yang kecil seperti bisikan daun di bawah angin lembut.
Bu Santi mengangguk perlahan, kemudian membuka pintu dengan kunci yang berdesir seperti bisikan rahasia. "Rumah ini bukanlah surga, tapi juga bukan neraka," ujarnya sambil menggerakkan tangannya ke dalam. "Setiap penghuninya datang dengan mimpi yang seperti benang sutra – lembut tapi kuat, mudah putus tapi juga bisa dijadikan kain indah."
Kamar yang disewakan untuk Murni kecil seperti sarang burung yang dibuat dengan cinta. Terdapat sebuah kasur yang datar seperti tanah yang sudah disiapkan untuk ditanami, meja kayu kecil yang kaki nya sedikit miring seperti orang yang sedang membungkuk untuk membantu, dan jendela kecil yang menghadap ke gang – dari sana dia bisa melihat langit kota yang sedikit keruh seperti kain sutra yang sudah terkena debu.
Murni meletakkan tasnya di atas kasur, kemudian mendekati jendela. Malam mulai datang perlahan-lahan, dan lampu-lampu kota menyala satu per satu seperti bintang-bintang yang turun ke bumi untuk bekerja. Suara kota tidak pernah reda – ada saja deru mesin, suara orang berbicara, dan musik yang datang dari arah yang tidak jelas seperti getaran bumi yang terus berdenyut.
Di kampung, malam datang dengan kedamaian yang seperti selimut hangat – hanya suara katak berkicau dan nyamuk yang menggonggong lembut, pikirnya sambil menyentuh kaca jendela yang dingin seperti hati orang yang belum kenal. Dia merasakan campuran antara rasa kangen yang seperti luka yang baru saja terbuka dan rasa harapan yang seperti bunga yang akan mekar di pagi hari.
"Perjalanan untuk sampai di sini hanya menggunakan kaki dan bis," bisik Murni sambil melihat bayangan dirinya di kaca jendela. "Tapi perjalanan untuk menemukan tempatku di sini... mungkin akan membutuhkan seluruh hatiku dan pikiranku."
Saat itu, lampu di gang menyala dengan cahaya kuning yang lembut seperti senyum dari orang yang tidak dikenal. Suara anak-anak yang bermain di gang terdengar seperti lagu rakyat yang baru saja ditemukan, dan Bau makanan yang dimasak di sekitar kontrakan seperti pelukan yang hangat dari dunia baru ini. Murni tersenyum perlahan – meskipun masih merasa seperti biji yang baru saja ditanam di tanah asing, dia tahu bahwa akarnya sudah mulai berusaha merayap ke dalam tanah yang belum pernah dikenalnya.
...