Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji yang tak pernah kembali
“Ayah akan bersama Elara selamanya. Tidak akan membiarkan putri cantik ayah sendirian.”
Kata-kata itu melayang jauh seperti bisikan terakhir yang menggema di embun pagi dan nyatanya, janji itu hanya tinggal gema.
Elara berdiri di depan makam kecil itu, tangan mungilnya menggenggam bunga lili yang hampir layu. Matanya sembab, wajahnya pucat, dan setiap hembus napasnya terasa berat.
“Ayah… kau berjanji,” bisiknya, nyaris tak terdengar.
Tidak ada yang menjawab. Hanya angin musim gugur yang berhembus, menaburkan dedaunan kering di atas tanah yang baru digali.
Beberapa hari setelah pemakaman, rumah besar keluarga Wynther yang dulu hangat kini berubah menjadi dingin dan asing.
“Anak itu tidak punya hak tinggal di sini,” suara dingin Paman Gregory terdengar dari ruang tamu.
Bibi Margareth menimpali dengan nada menyakitkan,
“Yeah, rumah ini milik keluarga besar. Ayahnya sudah tiada. Anak itu pasti hanya akan menjadi beban.”
Elara berdiri di balik dinding, memeluk boneka lusuhnya erat-erat.
“Tapi ini rumahku…” gumamnya lirih.
Bibi Margareth menoleh, matanya tajam.
“Elara, kau disitu?”
Elara tersentak.
“kau mendengarnya? Tapi bagus. Besok pagi, kemasi barangmu dan pergilah dari sini”
“Ke… ke mana aku harus pergi, Bibi?” suara Elara bergetar.
“Bukan urusanku. Kau sudah cukup menjadi beban”
Paman Gregory berdiri, mengenakan mantel hitamnya. “Bibimu benar. Rumah ini bukan tempat untuk anak yang tak berguna.”
Malam itu Elara menangis di kamarnya. Ia menatap potret ayahnya yang retak di tepi ranjang.
“Kalau ayah masih di sini… aku tidak akan dibuang, kan?”
Keesokan paginya, Elara diusir.
Gadis itu melangkah menyusuri jalan setapak, entah kemana kaki nya akan membawa nya. Semenjak langit mulai mendung, Elara berjalan tanpa tujuan. Rumah demi rumah sanak saudaranya, telah Elara datangi, tapi semuanya menolak.
“Aku hanya butuh tempat tidur semalam, Nyonya…”
“Tinggalkan halaman ini, dan jangan kemari lagi.”
Hingga beberapa hari kemudian, seorang kerabat jauh — Bibi keempat, Madam Lissandra Wynther — bersedia menampungnya.
Namun rumah itu bukan tempat perlindungan, melainkan penjara yang halus.
“Mulai sekarang, kau akan tidur di ruang bawah tangga,” ujar Madam Lissandra dengan nada datar.
Elara mengangguk pelan. “Terima kasih, Bibi.”
“Dan jangan pikir kau bisa hidup gratis di rumah ini. Semua pekerjaan dapur dan kebun akan kau tangani. Jika aku menemukan debu di ruang tamu, kau tidak akan makan malam.”
Elara menunduk. “Baik, Bibi.”
Salah satu anak Madam Lissandra tertawa kecil.
“Lihatlah, budak kecil itu bahkan tak berani menatapmu, Ibu.”
Madam Lissandra menegakkan tubuhnya.
“Dan tidak seharusnya dia berani. Ingat, Elara. Kau hanya diberi belas kasihan. Jangan pernah lupa tempatmu.”
Elara menahan air mata. Dia menatap jendela di dapur — di luar sana, salju mulai turun perlahan.
Dalam hati, dia berbisik:
Ayah, aku tidak tahu bagaimana caranya bertahan, tapi aku akan mencoba. Aku akan menjadi kuat, meski dunia menolak keberadaanku.
**
Malam itu, Elara duduk di sisi tempat tidurnya yang reyot, memandangi langit melalui jendela kecil yang berdebu.
Namun kedamaian singkat itu sirna saat suara pintu berderit pelan. Dua bayangan muncul di ambang pintu—anak laki-laki bibi Lissandra.
“Kalian… mengapa kemari?” suara Elara bergetar, tangannya refleks menarik selimut lusuh ke dadanya.
“Tenang saja, kami hanya ingin berbincang,” ujar yang sulung, suaranya tenang tapi mengandung niat jahat.
Langkahnya mendekat, sementara adiknya menyeringai.
“Tidak perlu takut, Elara. Kami keluarga, bukan?”
Elara menelan ludah, punggungnya menempel ke dinding.
“Pergilah. Jika Bibi melihat kalian di sini—”
“Dia tidak akan tahu.”
Tangan sang kakak terulur, menyentuh ujung rambutnya yang panjang.
“Kau cantik sekali….”
Elara menepis tangannya keras-keras.
“Jangan sentuh aku!”
Adiknya mendengus.
“Berani juga kau, gadis tak tahu diri. Kau hidup di rumah ini karena belas kasihan. Setidaknya tahu lah cara berterimakasih.”
“Lebih baik aku mati daripada menerima perlakuan seperti ini!” seru Elara dengan napas terengah.
Mereka saling berpandangan.
Yang muda maju satu langkah, tapi suara langkah berat dari luar membuat keduanya berhenti.
Tok! Tok!
Dua pemuda itu panik, lalu buru-buru pergi lewat jendela belakang.
Elara terdiam, tubuhnya gemetar hebat. Ia menahan air mata yang mulai jatuh, menggigit bibir agar tak menjerit.
**
Keesokan paginya, aroma roti hangus tercium di udara. Madam Lissandra berdiri di ruang makan dengan wajah merah padam.
“Elara Wynther!” suaranya menggema hingga ke dapur.
Elara berlari kecil, menunduk dalam.
“Ya, Bibi?”
“Beraninya kau!” teriaknya sembari melempar sapu tangan ke lantai.
“Kau berani mencuri perhiasanku semalam?”
Elara tertegun.
“Mencuri?” Tidak, Bibi! Aku tak pernah menyentuh apa pun milik bibi.”
“Lalu mengapa kalung safirku tidak ada di tempatnya? Siapa lagi yang bisa mencurinya selain pengemis yang kubiarkan tinggal di rumah ini?”
Elara menggigit bibir.
“Aku bersumpah tidak melakukannya, bi. Demi ayah—”
“Cukup!” potongnya tajam.