Astra tak pernah mau meneruskan pekerjaan Ibunya. Di bandingkan menjadi dukun, dia ingin hidup normal sebagai gadis pada umumnya.
Demi bisa terlepas dari hal-hal gaib di desa, Astra nekat melanjutkan study nya di kota. Dengan beasiswa yang susah payah dia raih, dia memasuki sekolah terkenal di kota "High School" dari namanya saja sudah keren bukan?
Astra bermimpi untuk belajar seperti siswa pada umumnya, memiliki teman dan bekerja setelah lulus. Namun kenyataan menampar nya, High School tidak sebaik yang di pikir kan.
Kemanapun dia pergi, kabut gelap selalu terlihat di tubuh setiap orang...
Permainan gaib, nyawa dan kekuasaan menjadi mainan bagi mereka. Sisi baiknya, tidak ada satupun orang yang mengetahui hal gaib lebih baik darinya di sekolah ini...
#25Desember2025
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
"Emah kan udah janji! Kenapa tiba-tiba ngingkar?! Astra Benci Emah!"
BRAK!
Rumah panggung yang terbuat dari kayu dan bilik bambu itu bergetar bersamaan dengan gadis cantik yang membanting pintu kamarnya sendiri dengan keras, sambil sebelum nya terdengar pertikaian antara Ibu dan anak itu.
Jingga, atau yang biasa di sebut Mbah Jing itu menghela napas menatap pintu dalam diam. Sedikit terkejut dengan perbuatan anak gadisnya yang tidak seperti biasanya.
Astraluna atau kerap di panggil Astra, gadis cantik dengan sejuta pesona misterius yang hidup di desa Sulo. Desa terpencil yang masih kental dengan yang namanya hal mistis.
Jika ingin mengetahui mengapa pertengkaran itu bisa terjadi, sepertinya kita harus mundur ke beberapa waktu sebelumnya.
Siang itu adalah hari yang di nanti Astar, hari penentu apakah mimpi dan keinginan nya bisa terwujud atau tidak.
"Astraluna, rangking 1 di kelas sekaligus rangking angkatan!" Ucap guru sambil memberikan Raport Astra.
Astra tersenyum tipis, senyum yang jarang terlihat di wajah cuek nya. Dia segera Astra membuka Raport nya dan mendapati surat putih yang dia inginkan.
Wajahnya menampilkan senyum yang tak bisa di bendung lagi melihat isi surat putih itu.
"Selamat ya nak, kamu satu-satunya yang dapat beasiswa sekolah besar di kota."
Astra tersenyum dan dengan cepat merapikan kembali surat itu lalu menyelipkan nya pada kertas Raport.
"Makasih Bu!"
"Astra sakola di kota, Matak teing mawa jurig ka Kota. Hahaha..." Ucap Raka, laki-laki campuran Sunda dan Jawa itu berbicara dengan logat Sunda nya.
Astra memberikan tatapan tajam yang membuat merinding. Raka tersenyum canggung sambil seperti biasa dengan senyuman khasnya yang manis. "Wadul, wadul atuh Sra. Meni serius"
"Sudah, sudah. Jangan bercanda lagi Raka"
Hari itu adalah hari pembagian Raport, Astra telah belajar sangat keras untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Usahanya tidak sia-sia, dia menjadi juara angkatan dan mendapatkan beasiswa sekolah di kota.
Setelah pembagian Raport selesai, dengan kecepatan secepat mobil di jalan tol Astra berlari pulang ke rumahnya. Perlu satu jam jalan biasa untuk sampai di desa tempat rumah nya tinggal karena sekolah nya berada di ujung desa sebelah yang tidak terlalu terbelakang.
Astra tidak sabar menunjukkan ini kepada Emah nya, Emahnya pasti tidak akan berkutik lagi memaksa nya meneruskan pekerjaan nya.
Sebelumnya Emahnya bilang tidak akan memaksa nya untuk meneruskan pekerjaan nya jika dia berhasil mendapatkan beasiswa di kota. Dan Astra selalu menganggap serius perkataan Emahnya, namun kali ini dia harus kecewa karena...
"Lanjutkan sekolah atau nggak juga sama aja Sra, ujungnya juga nyari duit. Mending terusin pekerjaan emah aja, terjamin dan udah punya personal branding sama klien." Ucap Emahnya dengan cuek, lebih memperhatikan bunga mawar di ayakan nya.
Astra kecewa, "Emah kan udah janji, Astra tetep mau sekolah di kota"
Ucap Astra masih dengan suara rendah walaupun demikian perasaan kecewa yang di biasakan.
"Udahlah, buat apa kesana. Emah gak punya biaya, kamu hidup di sana juga perlu duit kan? Di sini aja!"
Astra tak bisa lagi berkompromi dengan Emahnya, "Astra bisa cari uang sendiri, gak perlu pake uang Emah. Emah kan udah janji, kenapa tiba-tiba ngingkar?!"
Seru Astra dengan suara tinggi lalu masuk ke kamarnya dengan membanting pintu.
Mbah Jing terdiam selama beberapa saat, terkesiap sebentar menatap pintu lalu berdiri berjalan ke arah kamarnya.
Di dalam kamar, air mata yang sudah bertahun-tahun tidak keluar itu akhirnya keluar. Namun Astra buru-buru menghapus nya, "Padahal Emah sendiri yang bilang akan ada akibat kalo sebabnya di langgar."
Astra melihat tas nya, tanpa berpikir lagi dia langsung meraih tas sekolah yang di tinggalkan nya di rumah tadi lalu mengambil pakaian nya di lemari dan mulai mengemas nya di masukkan ke dalam tas.
"Gak papa, gak pake izin Emah juga. Astra akan tetap pergi."
"Kamu beneran mau sekolah di kota Sra?" Tanya perempuan berambut panjang dengan pakaian putih itu.
"Kak Astra, kalo mau ke kota bawa Ucup aja. Biar kak Astra gak usah kerja, Ucup aja yang nyari uang buat kak Astra." Ucap Ucup, si tuyul yatim piatu.
Sementara satu lagi sosok besar berwarna hijau diam di pojokan, hanya melihat yang di lakukan Astra.
"Iya Sra, bawa Mbak juga. Mbak bisa bantu ngurusin dan jaga rumah, si Ijo juga bisa jadi satpam rumah." Ucap Ayu, kuntilanak teman Astra.
Astra melihat ketiga temannya itu, sebelumnya mereka adalah arwah gentayangan yang Astra bawa pulang saat umurnya 5 tahun. Tidak terasa sudah 13 tahun mereka menemani nya dan sekarang harus berpisah, rasanya tidak rela.
"Astra menggeleng, Mbak, Ucup sama Kak Ijo di rumah aja. Astra nitip rumah, jangan sampai kenapa-kenapa."
Mbak Ayu yang peka membalas nya dengan senyuman yang tersampaikan oleh mata. "Kamu tenang aja, rumah ini kuat. Banyak pelindung nya, gak akan kenapa-kenapa."
"Ah, namanya rumah tua. Tetep harus di jaga, pokok nya Astra titip rumah ya?"
"Kak Astra, Ucup punya simpenan dari hasil kerja Ucup. Kak Astra terima ya..." Ucup menyerahkan amplop besar kepada Astra.
"Cup, kamu kerja jadi tuyul peliharaan yang nyolong duit orang?" Tanya Astra kaget.
"Nggak kok kak, kan Kak Astra sendiri bilang harus jadi hantu baik supaya bisa di terima di atas sana. Ini hasil kerja Ucup jadi penjaga rumah. Mbak Ayu juga sama Kak Ijo kerja gini, kalo gak percaya. Tanya aja mereka~ " ucap Ucup, dengan nada Ucup yang familiar.
Saat Astra menatap Mbak Ayu dan si Ijo, mereka mengangguk. "Bener Sra, kamu terima juga ya uang dari Mbak Ayu. Mbak Ayu denger barang di kota mahal, kamu harus terima uang ini. Fokus aja sekolah, jangan kerja."
Astra tidak mau munafik dengan menolak nya dan membiarkan dia sendiri menderita di kota, jadi dia menerima uang tersebut. Lalu memeluk mereka satu persatu sebagai perpisahan, "jaga diri baik-baik ya, nanti kalo Astra udah kaya, Astra bakal nyari keadilan buka kalian supaya kalian dapat beristirahat dengan tenang."
Malam tepat tengah malam, Astra pergi dari rumah dengan jalan mengendap-endap. Setelah tiba di luar rumah, dia berlari secepat-cepatnya takut ketahuan Emahnya.
Namun sebaik apapun Astra diam-diam kabur, Emahnya tetap tau. Dengan berdiri sambil memegang kalung tasbih dan menghadap ke arah Selatan, "Gimana?"
"Uang nya sudah di berikan Mbah..." Ucap Ijo, sementara tuyul dan Kuntilanak di samping Ijo menangis tanpa suara.
"Hiks, Mbah... Kenapa gak cegat si Sra? Kenapa biarin dia ke kota?" Tanya Kuntilanak dengan menangis lirih.
Mbah Jing tersenyum, "Takdirnya memang di sana. Mau sekeras apapun di cegah, kalo takdir nya di sana juga gak akan bisa di cegah."
"Lumayan juga, buat ningkatin jangkauan bisnis~ "
Boncab dong Thor
semangat menjalani harimu
ayo up lagi malam ini.
aku suka banget ceritanya.
bagus
dan semakin bikin aku penasaran akan kelanjutannya.
ayooooooooo up lagiiiiiiiiiiiiiiii
kenapa kok gak ada semangatnya.
semoga author dapet ide-ide bagus buat lanjutin Babnya, biar gak terlalu pendek-pendek amat ceritanya kalo tamat😊🤭🤭🤣🤣🤣🤣
semoga semangat mubgak kendor ya thor. jangan putuskan hubungan ini... eh, novel ini di tengah jalan thorkuuuu....
semoga lolos ya thooor
🎶Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan🎶