Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 1
"Sayaang"
Sepasang suami istri tengah bermesraan disebuah kamar milik mereka
"Arlo udah tidur?" Tanya sang suami pada istrinya yang cantik
"Hu'um" Reya tersenyum menggoda pada sang suami, tangannya melingkar di leher pria tampan yang kini memeluk erat pinggang rampingnya
Wajah keduanya saling mendekat, bibir saling menempel, hingga malam itu berlalu penuh cinta bagi sepasang suami istri yang telah menikah tujuh tahun lamanya itu
Pernikahan Reya Albert dan Reyhan Syahputra berjalan begitu harmonis, pernikahan mereka sudah dikaruniai seorang putra berusia enam tahun bernama Arlo
"Emm sayang.." Reyhan tengah mengusap kepala sang istri yang tengah bersandar di dadanya
"Yaa" Sementara Reya memainkan jemari lentiknya didada bidang itu
"Aku mau kamu bisa memberi waktu lebih banyak untuk keluarga kita! Akhir-akhir ini kamu terlalu sibuk"
Reya menghentikan kegiatannya, kepalanya mendongak menatap wajah tampan suaminya
"Tapi kamu tahu sendiri kan kalau aku tengah mempersiapkan diriku untuk pergelaran Milan fashion week tiga bulan lagi?"
Reya sedikit bingung, selama ini suaminya tidak masalah jika dirinya meraih mimpinya sebagai designer ternama dan Milan fashion week adalah puncaknya
"Aku tahu Reya, tapi akhir-akhir ini kamu terlalu sibuk, sampai melupakan keluarga kamu sendiri. Bahkan kamu lupa jika Minggu depan Arlo akan tampil di festival sekolah"
"Jadi masalahnya hanya ini?"
"Hanya ini? Masalah Arlo kamu anggap sepele? Kamu bahkan gak pernah menemani dia latihan, Reya"
Reyhan beringsut bangun, bersandar pada headboard dan diikuti oleh Reya sang istri. Keduanya seolah melupakan malam panas yang baru saja mereka lalui
"Kamu jangan egois Rey, ini mimpi aku, dan lagi pula apa kamu pikir kita bisa hidup hanya dengan mengandalkan gaji kamu sebagai staf biasa?"
Ucapan Reya begitu melukai harga diri Reyhan sebagai seorang suami, ia tahu penghasilannya sebagai staf keuangan dikantor tak akan bisa dibandingkan dengan penghasilan Reya sebagai seorang designer kondang
"Aku tahu Reya, gajiku memang kecil. Maafkan aku karena terlalu banyak menuntut sebagi suami!"
Reyhan bangkit, melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Reya yang sepertinya merasa bersalah
"Sayang.." Reya hendak menyusul sang suami, namun pintu kamar mandi dikunci dan dari dalam mulai terdengar gemericik air
***
Pagi harinya, keluarga kecil itu sarapan seperti biasa, semua sudah disiapkan sebelum mereka bangun
"Selamat pagi sayang.." Reya mengecup pipi putranya dengan gemas, ia lalu membawa pandangannya pada sang suami yang sejak tadi diam saja
Perang dingin antara sepasang suami istri itu sepertinya akan berlanjut
"Mah, mama dateng kan untuk liat aku tampil?"
"Tentu saja sayang.. kamu mau hadiah apa?"
"Hadiah?" Wajah Arlo terlihat berbinar
"Tentu saja, kamu udah hebat banget dengan tampilan di acara sekolah, jadi harus dikasih hadiah" Reya mengusap kepala putranya dengan lembut
"Arlo mau sepeda baru dong mah"
"Tentu saja sayang"
"Terima kasih mama" Arlo memeluk sang mama dengan penuh cinta
"Arlo butuh kamu Reya, bukan hadiah" Reyhan jelas tahu alasan kenapa sang istri menjanjikan hadiah
"Kamu berlebihan deh Yang, udahlah. Lagian Arlo pantes kok dapet hadiah!" Reya mengabaikan suaminya yang jelas masih kesal terhadapnya
Ia yakin jika kemarahan Reyhan tak akan berlangsung lama, paling besok sudah nempel lagi
"Mama hari ini anter Arlo ke sekolah ya!" Pinta bocah enam tahun itu
"Maaf yaa sayang, mama hari ini sibuk banget, kamu sama papa dulu ya!"
"Tapi mah.."
"Ayo Arlo! Nanti kita terlambat!"
Reyhan berdiri lebih dulu, disusul sang putra meninggalkan Reya sendiri dimeja makan
Reya menghela napasnya panjang, dirinya harus fokus pada pagelaran tiga bulan lagi. Jangan hanya karena masalah kecil seperti ini dirinya menghancurkan kerja kerasnya selama bertahun-tahun
***
Setelah mengantar sang putra, Reyhan membawa kendaraan roda duanya menuju perusahaan tempatnya bekerja, Reyhan bekerja sebagai staff keuangan di perusahaan property terbesar di kota ini, gajinya terbilang cukup besar, hanya saja untuk menopang kehidupan keluarganya yang terbilang besar sangatlah kurang
Mungkin gajinya hanya cukup untuk makan dan keperluan rumah yang lain, sedangkan Arlo putranya bersekolah disekolah bertaraf internasional yang bayarannya sangatlah mahal
"Selamat pagi semua!" Sapa seorang manager pada semua anggotanya
"Selamat pagi Bu Vera"
"Emm.. Reyhan, saya sudah kirim email pada kamu, tolong segera selesaikan dan antarkan pada tuan Darren diruangan nya!" Titah seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahunan
"Baik Bu!"
Reyhan segera menyelesaikan pekerjaannya lalu segera menuju ruang sang CEO yang berada dilantai dua puluh
Reyhan masuk setelah mendengar sahutan dari dalam ruang atasannya. Disana seorang pria tampan tengah duduk bersandar pada kursi kebesarannya
"Saya membawakan berkas yang tuan minta"
Darren menerima map berwarna hitam itu lalu membacanya, tatapan angkuh itu membuat Reyhan enggan menatap sang atasan
"Reyhan!"
"Iya tuan" Pria itu tidak duduk, Reyhan hanya berdiri sembari menunduk dihadapan sang CEO
"Bagaimana pernikahan kamu dengan Reya?"
Reyhan mengerutkan keningnya, apa maksud dari pertanyaan Darren, sebenarnya ini bukan kali pertama Darren bertanya tentang Reya
Reyhan sedikit tahu jika istrinya dan Darren adalah teman sekolah, namun Reyhan tak tahu hubungan keduanya sebelumnya
"Pernikahan saya baik-baik saja tuan"
"Apa Reya bahagia dengan gaji kecil kamu?" Harga diri Reyhan jelas jatuh saat mendapat pertanyaan seperti itu
"Oh saya lupa, Reya punya penghasilan yang lebih besar kan? Jadi jelas dia tidak membutuhkan gaji kecil kamu!"
Ada senyum meledek yang ditampilkan pria bernama Darren itu, jika saja mencari pekerjaan tidak sulit mungkin Reyhan sudah meninggalkan perusahaan ini
Namun, gaji kecil saja sudah membuatnya kecil apa lagi menjadi pengangguran? Tentu dirinya akan sangat tidak berarti dihadapan Reya istrinya
"Kalau tidak ada apa-apa lagi, boleh saya kembali tuan Darren?"
"Tentu saja, kembali bekerja Reyhan!"
***
Reya berangkat dengan mobil miliknya, sebuah mini Cooper berwarna ungu yang merupakan warna favoritnya
Reya melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ibu kota yang sedikit ramai pagi ini, hingga
Tiiinn
Bruk
Mini Cooper miliknya menabrak bemper belakang sebuah mobil sport mewah berwarna biru
"Astaga Reya, kamu dalam masalah Reya" Ucapnya pada diri sendiri
Dari dalam mobil keluar seorang pria tampan dengan stelan jas rapi. Pria tampan itu berdiri disamping kaca jendela lalu mengetuknya
Reya ragu, namun dengan tangan gemetar ia buka pintu mobilnya dan keluar dari sana. Aura mencekam mulai terasa saat ia berhadapan langsung dengan pria tinggi bak gapura kabupaten itu
Pria itu membuka kacamata hitamnya, menatap Reya dengan tatapan membunuh
"Kamu tahu berapa harga cat mobil itu?" Ujarnya dingin, bahkan jaraknya dan Reya hanya sejengkal saja
"Ma-maaf, saya akan tanggung jawab" Reya tergagap