Pangeran Gautier de Valois.
Ia mengenakan seragam Duke-nya, seragam berwarna biru tua dengan hiasan perak yang berkilauan. Postur tubuhnya tegak sempurna, memancarkan aura bahaya dan otoritas yang membuat ruangan terasa kecil. Matanya—abu-abu sekeras baja—menatap Amélie tanpa ekspresi, seolah-olah sedang menilai kuda pacu yang tak berguna.
"Pernikahan. Kau, Amélie LeBlanc, akan menikah dengan Pangeran Gautier de Valois dalam waktu satu bulan."
"Apa? Ini gila! Saya tidak akan—"
"Ini bukan permintaan, Countess,"
"Ini adalah dekrit dari Tahta. Aku butuh pewaris dan Raja membutuhkan stabilitas politik yang diberikan oleh aliansi dengan Countess yang memiliki koneksi luas. Keluargamu, melalui Éloi, menawarkan penyelesaian utang kuno ini. Pernikahan, dengan segera. Aku tidak tertarik padamu, atau pada intrik keluargamu. Anggap ini transaksi dan aku tidak menerima penolakan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iseeyou911, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 (Pemberitahuan yang Dingin)
Angin musim gugur menerjang jendela-jendela tinggi Château LeBlanc seolah-olah berusaha merobohkan batu-batu berusia ratusan tahun itu. Di dalam, api di perapian berusaha melawan dingin yang menyerang, menerangi ruangan kerja Countess Amélie LeBlanc.
Amélie, 24 tahun, duduk di meja kerjanya yang luas. Gaun beludru hijau tua yang dikenakannya tampak kontras dengan kulitnya yang putih dan rambut cokelat gelap yang disanggul rapi. Selama lima tahun sejak kematian kedua orang tuanya, dialah yang menanggung beban utang dan reputasi LeBlanc yang hampir hancur. Bukan utang uang, melainkan utang kehormatan, warisan buruk dari Paman Buyutnya, yang hampir seluruhnya berhasil ia bersihkan melalui manajemen tanah yang cerdas dan penjualan aset yang tidak esensial.
Ia adalah seorang Countess mandiri, menolak setiap perjodohan yang datang hanya karena nama atau kekayaan. Ia mencintai kebebasannya, sebuah anomali langka di lingkaran bangsawan Prancis yang kaku.
"Hanya tiga bulan lagi, Nona," gumamnya, menarik nafas lega sambil meninjau buku besar. "Setelah lelang terakhir ini, kita akan stabil. Akhirnya."
Pintu kayu ek berderit terbuka, dan di ambang pintu, berdiri pelayan setia Amélie, Madame Odette. Wajah wanita tua itu nampak terlihat tegang.
"Nona Amélie, Comte Éloi de Beaumont sudah tiba. Bersama tamunya."
Amélie mengerutkan kening. Paman satu-satunya, Comte Éloi, adalah bayangan hitam dalam hidupnya. Ia kaya, angkuh dan selalu berusaha mengendalikan aset LeBlanc sejak ia remaja.
"Saya tidak menjadwalkan pertemuan dengannya, Odette. Apalagi dengan tamu," jawab Amélie, suaranya dingin dan tegas.
"Beliau bilang ini urusan penting. Urusan yang tidak bisa menunggu, Nona. Dan, ah... tamunya adalah..." Odette ragu, menelan ludah. "Pangeran Gautier de Valois."
Buku besar yang dipegang Amélie terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk.
Gautier de Valois. Duke dan Pewaris Tahta kedua dari Raja Tua. Sosok yang dikenal dingin, keras dan paling ditakuti di istana Versailles, bukan karena kekuasaan politiknya, melainkan karena kendali militernya dan reputasinya yang tak kenal ampun. Ia adalah badai yang berjalan.
"Gautier de Valois? Di sini? Itu tidak mungkin, Odette," bisik Amélie, berdiri. "Tidak ada urusan LeBlanc yang cukup penting untuk menarik perhatiannya."
Odette hanya bisa menggeleng lemah. Amélie merapikan gaunnya, memasang topeng ketenangan aristokratis yang telah ia latih sejak kecil dan berjalan menuju ruang tamu.
Comte Éloi de Beaumont berdiri di dekat perapian. Ia tinggi, dengan wajah yang dihiasi senyum licik yang tak pernah sampai ke matanya. Di sebelahnya, berdiri sosok yang membuat Amélie seketika kehilangan kata-kata.
Pangeran Gautier de Valois.
Ia mengenakan seragam Duke-nya, seragam berwarna biru tua dengan hiasan perak yang berkilauan. Postur tubuhnya tegak sempurna, memancarkan aura bahaya dan otoritas yang membuat ruangan terasa kecil. Matanya—abu-abu sekeras baja—menatap Amélie tanpa ekspresi, seolah-olah sedang menilai kuda pacu yang tak berguna.
"Amélie, ma chère," sapa Éloi dengan nada yang menjijikkan. "Aku membawa kabar baik. Kabar yang akan menyelamatkan nama LeBlanc dari kehancuran."
Amélie mengabaikan Éloi, fokusnya tertuju pada Gautier.
"Yang Mulia Pangeran Gautier," Amélie memberi hormat, lututnya ditekuk sempurna. "Sebuah kehormatan yang tak terduga. Sayangnya, saya harus bertanya, urusan mendesak apa yang membawa Anda ke perkebunan sederhana kami?"
Gautier tidak bergerak, tatapannya tetap menghina. Suaranya, saat ia berbicara, terdengar rendah dan bergetar dengan otoritas yang tak terbantahkan, seperti guntur yang jauh.
"Bukan kehormatan, Countess LeBlanc. Ini adalah tugas," kata Gautier. "Tugas yang diatur oleh tahta, untuk menyelesaikan kekacauan yang ditinggalkan oleh nama Anda."
Éloi tertawa kecil, melangkah maju. "Kau terlalu keras, Gautier. Biar aku yang jelaskan, Amélie. Ini tentang utang."
Amélie menegang. "Utang? Saya sudah menjelaskan pada Anda, Éloi, semua utang sudah diselesaikan. Lelang rumah kaca besok akan..."
"Bukan utang uang, Amélie," potong Éloi, suaranya berubah menjadi nada yang menenangkan yang justru membuat Amélie semakin waspada. "Ini adalah utang yang tidak dapat dibayar dengan emas. Utang lama. Utang kehormatan, yang melibatkan kakekmu dan mantan kanselir Raja. Jika utang ini terungkap, reputasi LeBlanc akan hancur total. Kau akan kehilangan segalanya, termasuk gelarmu."
Éloi berhenti sejenak, menikmati ketakutan yang kini mulai terpancar di mata Amélie.
"Untungnya, aku menemukan solusinya. Solusi yang menyelamatkan nama LeBlanc dan kebetulan, memenuhi kebutuhan tahta." Éloi melirik Gautier, senyum kemenangannya melebar.
"Pernikahan. Kau, Amélie LeBlanc, akan menikah dengan Pangeran Gautier de Valois dalam waktu satu bulan."
Hening. Satu-satunya suara adalah deru angin di luar.
Amélie merasakan darahnya mengalir dingin. "Apa? Ini gila! Saya tidak akan—"
Gautier akhirnya angkat bicara, gerakannya kecil namun cepat, menunjukkan ketidaksabarannya.
"Ini bukan permintaan, Countess," katanya datar. "Ini adalah dekrit dari Tahta. Aku butuh pewaris dan Raja membutuhkan stabilitas politik yang diberikan oleh aliansi dengan Countess yang memiliki koneksi luas. Keluargamu, melalui Éloi, menawarkan penyelesaian utang kuno ini. Pernikahan, dengan segera. Aku tidak tertarik padamu, atau pada intrik keluargamu. Anggap ini transaksi dan aku tidak menerima penolakan."
Amélie memandang dari wajah Gautier yang keras ke wajah Éloi yang puas. Rasa terkejutnya seketika berubah menjadi amarah yang membara. Ia adalah Countess independen, bukan boneka politik.
"Anda tidak bisa memaksa saya!" Amélie berseru, suaranya meninggi. "Saya menolak dekrit ini. Saya akan mengajukan petisi kepada Raja, saya akan menggunakan semua aset dan koneksi saya untuk melawan—"
"Lawan kami?" Gautier menyeringai sinis, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Percobaan itu hanya akan memastikan utang kehormatan keluargamu terungkap ke publik, Countess. Utang yang mungkin melibatkan pengkhianatan tingkat tinggi. Kau akan kehilangan reputasimu sebelum matahari terbit besok, dan kau akan membawa nama baik orang tuamu jatuh ke dalam lumpur. Pilih. Menikah denganku dan mempertahankan gelarmu dalam bayangan Valois, atau hancur di hadapan seluruh warga Prancis."
Amélie terhuyung mundur. Ancaman itu terasa nyata dan mematikan. Éloi tersenyum, menyodorkan sebuah dokumen yang dihiasi stempel kerajaan yang berat.
"Selamat, Amélie. Ini adalah kontrak. Upacara akan diadakan sebulan dari sekarang di kapel Valois. Persiapkan dirimu. Gautier tidak suka menunggu."
...*****...