Kemandirian Nayanika Gentari Addhitama mulai terkikis karena seorang lelaki yang 10 tahun lebih tua darinya, Erza Naradipta. Pesona lelaki yang dipanggil paman itu tak terbantahkan. Demi sebuah benih suka yang tumbuh menjadi cinta membuat Nika rela menjadi sosok lain, manja dan centil hanya untuk memikat lelaki yang bertugas menjaganya selama kuliah di luar negeri.
Akankah cinta Nayanika terbalaskan? Ataukah Erza hanya menganggapnya sebagai keponakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Universitas Impian
Sorakan penuh bahagia terdengar. Putri tunggal Rio Putra Addhitama dan Aqis tengah melihat pengumuman yang ada di layar segiempat. Namanya lolos masuk universitas Tsinghua, Beijing. Salah satu universitas terbaik di dunia.
Kabar itu segera dibawa kepada kedua orang tuanya yang memang tengah bersantai. Wajah sumringah terlihat sangat jelas.
"Seneng banget romannya," ucap sang mami kepada sang putri cantik.
Nika tak lantas menjawab. Laptop yang dia peluk mulai dibuka. Menunjuk ke daftar nama di mana namanya tertera di sana. Kedua orang tua Nika saling pandang dengan wajah yang nampak tak bahagia.
"Nika masuk ke universitas yang Nika impikan." Penuh bahagia yang terucap.
Sadar bahagianya tak disambut oleh mami dan papi. Perlahan senyum yang merekah mulai pudar.
"Mami, Papi--"
"Di universitas sini aja, ya." Jawaban dari sang mami membuat senyumnya menghilang. Bibir Nika tak mampu berkata, dan terlihat raut kecewa.
"This is my dream," balasnya dengan begitu pelan nyaris tak terdengar.
Semua yang dijelaskan oleh sang mami tak mampu Nika dengar. Mendadak telinganya tuli karena sebuah rasa kecewa yang begitu dalam.
Langkah gontai membawanya menuju kamar bernuansa anak gadis. Duduk di depan jendela dengan tatapan yang begitu kosong. Tak pernah Nika sekecewa ini sebelumnya.
Drrt ...
"Congrats!"
Hembusan napas kasar keluar dari bibir Nika. Satu kata yang dia terima seperti tak memiliki makna. Malah, jatuhnya seperti ledekan. Ponsel diletakkan kembali dan memilih bergelut dengan pikiran serta hatinya lagi.
Perubahan sikap Nika membuat kedua orang tuanya merasa bersalah. Gadis cantik yang biasanya cerita kini terlihat bermuram durja. Ditanya pun akan menjawab ala kadarnya.
Kepulan asap sudah menguar di sebuah ruangan. Dua pria yang sudah berusia lebih dari setengah abad tengah menyesap rokok dengan kompak.
"Di Beijing kita enggak punya orang kepercayaan. Dan gua enggak mau ngambil resiko besar untuk putri gua."
Rasa ingin melindungi dari seorang ayah begitu besar. Ketulusannya pun tak perlu diragukan.
Restu Ranendra yang tak lain adalah adik angkat Rio Addhitama sudah membuang asap rokok ke udara. Bara api yang masih menyala di sisa rokok yang cukup panjang digerus di dalam asbak beling tebal. Mulai menatap Rio dengan begitu serius.
"Tapi, lu melupakan sesuatu," balas Restu dengan begitu dingin. Rio mulai menatap wajah Restu yang begitu serius.
"Keputusan yang lu ambil akan menyebabkan resiko yang lebih besar ke depannya."
Deg.
Apa yang Restu katakan memang benar. Resiko dibenci bahkan akan berdampak pada psikis Nika. Saking tidak relanya berpisah jauh dari sang putri membuatnya sedikit gegabah.
"Dukung keponakan gua! Dan gua akan cari solusinya."
Sampai saat ini Restu masih bisa diandalkan di keluarga Addhitama. Setiap tindakan yang diambil tak akan mampu dibantah oleh anggota keluarga yang lain. Bahkan dia berani mengambil resiko yang besar dan tak mempedulikan reputasinya hancur demi untuk melindungi perusahaan serta keluarga.
.
Bersikap biasa sudah Nika lakukan. Namun, siluet kecewa dan sedih tak bisa dibantahkan. Dia hanya bisa menjadi gadis yang penurut sekarang. Mencoba menekan keinginan demi kebahagiaan dua orang yang dia sayang.
"Kamu adalah anak tunggal. Keprotektifan Papi dan Mami kamu itu demi kebaikan. Apalagi kamu perempuan."
Nika tersenyum perih ketika kalimat sang Tante, Aleesa Addhitama terngiang lagi. Harus mengubur mimpi yang sudah dia kejar sedari lama demi orang tua.
Drrt ... Drrt ...
Getaran ponsel menyadarkannya dari lamunan. Kerutan di dahi terlihat tatkala melihat nama yang muncul di layar. Kontak yang sudah bertahun-tahun lamanya disimpan, tapi hampir tak pernah mendapatkan pesan ataupun panggilan dari pemilik nomor tersebut membuatnya nampak tak percaya karena tiba-tiba hari ini nama itu meneleponnya. Panggilan pun segera dijawab.
"Uncle tunggu di ruang kerja."
Hanya satu kalimat yang terucap. Panggilan pun diakhiri sepihak. Nika semakin terdiam. Tak lama hembusan napas kasar keluar.
"Kalau banyak bicara bukan Lion Uncle namanya," gumamnya sebelum hembusan napas kasar dikeluarkan.
Ruang kerja yang dimaksud adalah kediaman Restu Ranendra yang sekarang bak istana. Ada dua hunian yang ada di sebuah tanah yang cukup luas. Satu hunian yang setara dengan rumah mewah dijadikan ruang kerja khusus untuknya. Satu hunian yang tiga kali lebih besar dari hunian di sampingnya adalah rumah yang dia tempati bersama istri, anak serta cucu.
"Pak Restu sudah menunggu di dalam."
Keamanan di rumah yang dijadikan ruang kerja amatlah sangat ketat. Banyak bodyguard yang tak terlihat serta bodyguard yang berjaga. Banyak dokumen rahasia yang disimpan di sana.
Tangan Nika sudah mengetuk pintu ruangan sang paman. Suara dari dalam membuatnya berani membuka pintu. Benar kata Elang, hawa di ruangan itu terasa sangat dingin. Hanya orang-orang yang memiliki salah yang akan 'beruntung' masuk ke ruangan tersebut.
"Duduk dulu!"
Titahan sang paman membuatnya mengangguk patuh. Sofa yang empuk terasa tak nyaman karena aura sang paman yang sudah menunjukkan keseriusan penuh kedinginan. Telapak tangannya mendadak dingin ketika Restu Ranendra sudah duduk tepat di seberangnya.
"Masih mau kuliah di Beijing?"
Glek!
Nika langsung menelan ludah mendengar sebuah pertanyaan yang terdengar sangat mengerikan di indera pendengaran.
Tatapan tajam sang paman membuat ritme jantung Nika mulai tak aman. Tapi, dia juga harus segera menjawab karena dalam waktu kurang dari sepuluh detik pasti pamannya akan mengeluarkan tanduk kemarahan jika tak ada jawaban.
"Nika ikut apa maunya Papi dan Mami aja." Mencoba melengkungkan senyum di tengah rasa takut yang mencekam.
"Enggak mau meraih mimpi?"
Nika terdiam sejenak. Pertanyaan pamannya membuat desiran rasa sedih kembali hadir. Tarikan napas yang begitu panjang seperti menjadi sinyal kekecewaan serta kesedihan yang tak boleh ditunjukkan.
"Banyak cara untuk meraih mimpi. Dengan kuliah di sinipun Nika yakin akan bisa meraih segala mimpi yang sudah Nika buat."
Sorot matanya tak bisa berdusta. Dan Restu Ranendra kembali melontarkan sebuah pertanyaan.
"Kamu yakin dengan keputusan yang kamu buat? Apa kamu tidak akan menyesal nantinya?"
Dengan cepat Nika menggeleng. Ya, kesempatan untuk kulai di universitas terbaik di Beijing sudah tak ada. Batas akhir daftar ulang kemarin. Dan Nika tak melakukannya karena tak ingin membuat kedua orang tuanya bersedih.
Sebuah amplop cokelat Restu berikan kepada Nika. Gadis cantik itu nampak bingung dan memberanikan diri menatap sang paman yang bertampang garang.
"Buka! Jika penasaran."
Ijin yang sudah didapat tak disiakan. Kertas putih yang ada di dalam amplop mulai dia baca. Matanya seketika memerah.
"Kamu sudah terdaftar menjadi mahasiswa baru di universitas Tsinghua."
Bahagia pasti, tapi bagaimana dengan kedua orang tuanya? Kembali Nika menatap sang paman dengan mata yang merah.
"Uncle, sepertinya Nika enggak bisa," ucapnya lirih.
"Kenapa enggak bisa?"
Suara barito yang sangat dia kenali terdengar. Pandangannya mulai dialihkan dan pria yang sangat dicintai sudah melangkah menghampiri.
"Papi enggak ingin mengubur paksa mimpi yang sudah susah payah kamu raih. Maafkan Papi."
...**** BERSAMBUNG ****...
Tes ombak. Boleh kan minta komennya ..
kasihan paman ganteng di tinggal Nika
wes angel klo udh dalam pengawasan elang kaga bakal bisa nemuin dah ntar si paman🤭
dan .... kira-kira Nika pergi ke mana ya .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍