"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.
"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Itu
Hujan rintik turun sejak subuh. Udara pagi dingin menusuk tulang. Rara berdiri di ambang pintu rumah papan yang catnya mulai mengelupas. Di tangannya tergenggam erat boneka lusuh yang dulu sering ia peluk saat tidur. Kini matanya tinggal satu, bulunya pun sudah rontok.
Halaman rumah becek oleh lumpur. Di tengahnya, sebuah mobil tua terparkir. Seorang pria dewasa—paman dari ibu—membantu memasukkan koper ke dalam bagasi. Rara hanya bisa memperhatikan dalam diam, sementara adiknya, Alisa, berdiri di balik tubuh mungilnya, memegangi ujung bajunya.
Ibu mereka, dengan raut wajah datar dan mata sembab, sibuk menuntun dua adik balita masuk ke dalam mobil. Tak ada senyum. Tak ada lambaian. Hanya keheningan yang membuat pagi itu terasa asing.
"Ibu mau ke mana?" suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandang. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas, cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
“Kamu di sini dulu ya sama Ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisa Ibu jemput,” bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tidak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.
Siangnya, Ayah pulang seperti biasa. Bajunya basah karena hujan, wajahnya tampak letih. Ia membuka pintu dan langsung melihat rumah kosong—tak ada suara tangis adik-adik, tak ada aroma masakan, tak ada ibu.
“Ibumu mana, Ra?” tanyanya, tanpa sempat duduk.
“Ibu pergi, Yah... bawa adik-adik.”
Ayah diam. Hanya menghela napas panjang, lalu berjalan masuk ke kamar. Pintu ditutup perlahan. Dan rumah itu kembali sunyi.
Beberapa bulan sebelumnya, rumah ini memang sudah tak sama. Ibu sering menangis diam-diam. Ayah sering pulang larut malam dengan bau rokok dan suara ketukan dadu dari saku jaketnya. Pertengkaran jadi makanan sehari-hari. Dan Rara kecil yang seharusnya bermain dan tertawa belajar mengenali suara tangisan dari balik pintu kamar.
“Ibu capek,” begitu kata ibu suatu malam, ketika Rara bertanya kenapa ia sering murung.
Tapi Rara tak pernah menyangka, Ibu akan benar-benar pergi.
Hari-hari setelah itu berubah drastis.
Tak ada lagi yang menyisir rambutnya, memakaikan pita kecil, atau memeluknya sebelum tidur. Semua tugas rumah, mencuci piring, menyapu, memandikan Alisa, berpindah ke tangannya. Ia belajar memasak dengan coba-coba. Kadang nasinya keras, kadang gosong. Ia belajar menjemur padi ketika beras mulai menipis, ikut orang dewasa ke tempat penggilingan. Tak satu pun bertanya kenapa anak sekecil itu ikut bekerja.
Ia juga belanja sayur ke warung. Suatu hari, karena bawaannya terlalu berat, belanjaannya tumpah. Ayah memarahinya, dan Alisya hanya menunduk. Ia takut menatap mata ayahnya. Sejak itu, Alisya selalu mengekor ke mana pun Rara pergi, seperti mencari rasa aman.
Ayah? Ia hanya pulang malam. Kadang mabuk. Kadang langsung masuk kamar tanpa menyapa. Jika Rara bicara, hanya gumaman atau anggukan kecil sebagai balasan. Sejak kepergian Ibu, Ayah seperti makin tenggelam dalam dunianya sendiri.
Rara sering termenung sebelum tidur. Waktunya banyak terbuang hanya untuk pekerjaan rumah. Tidak seperti anak sebayanya yang hanya asyik bermain. Ia harus belanja kebutuhan dapur dan rumah. Bahkan ayah selalu menyerahkan uang untuk belanja masak kepadanya. setiap ada kendala ia tak punya tempat mengadu. Tak tahu harus menangis ke siapa. Tapi meski hatinya luka, Rara masih punya satu hal: keberanian.
Keberanian untuk bangun pagi meski tak ada yang membangunkan. Keberanian untuk belajar hidup meski tak ada yang membimbing. Dan keberanian untuk berharap bahwa suatu hari, hidup akan membaik.
Dan sejak pagi itu, langkah kecil Rara dimulai.