NovelToon NovelToon
Cinta Atau Dendam, Suamiku?

Cinta Atau Dendam, Suamiku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Lari Saat Hamil / Anak Genius / Hamil di luar nikah / Pelakor jahat
Popularitas:122.1k
Nilai: 5
Nama Author: Edelweis Namira

Thalia Puspita Hakim, perempuan berusia 26 tahun itu tahu bahwa hidupnya tidak akan tenang saat memutuskan untuk menerima lamaran Bhumi Satya Dirgantara. Thalia bersedia menikah dengan Bhumi untuk melunaskan utang keluarganya. Ia pun tahu, Bhumi menginginkannya hanya karena ingin menuntaskan dendam atas kesalahannya lima tahun yang lalu.

Thalia pun tahu, statusnya sebagai istri Bhumi tak lantas membuat Bhumi menjadikannya satu-satu perempuan di hidup pria itu.

Hubungan mereka nyatanya tak sesederhana tentang dendam. Sebab ada satu rahasia besar yang Thalia sembunyikan rapat-rapat di belakang Bhumi.

Akankah keduanya bisa hidup bahagia bersama? Atau, justru akhirnya memilih bahagia dengan jalan hidup masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edelweis Namira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARGA DIRI YANG TAK ADA HARGANYA

“Habis menjual diri di mana kamu?” 

Thalia menoleh ke sumber suara. Ia baru sampai di ruang tamu. Sosok tinggi menjulang itu kini menatapnya dengan tatapan menusuk. Rahangnya mengetat. Perlahan pria yang sudah lima bulan ini resmi menjadi suaminya melangkah menghampirinya. 

“Aku capek. Lagi nggak mood berdebat sama kamu.” Thalia berkata jujur. Meski rasa lelahnya tertutupi dengan wajah tenang itu, tetapi sorot matanya benar-benar menunjukkan bahwa ia sedang enggan menghadapi pria itu. 

Bhumi Satya Dirgantara - pria berusia 35 tahun itu terkekeh. Senyum tipisnya itu terkesan meremehkan wanita mungil di hadapannya. 

“Capek melayani para pria itu?” 

Thalia tidak terkejut lagi dengan beragam tuduhan Bhumi padanya. “Terserah kamu mau berpikir apa. Aku mau ke kamar.” 

Namun, langkah kaki Thalia kalah cepat dengan cekalan tangan Bhumi. Pria itu menarik tangan Thalia hingga membuat tubuh mungil itu menabrak dadanya. Tangannya juga dengan erat merengkuh pinggang Thalia. Matanya menatap netra lelah wanita itu dengan tajam. 

“Jangan sekarang, Bhumi. Aku sedang-mppht!” Tangan Thalia terus mendorong dada Bhumi agar pria itu melepaskan ciumannya.

Namun, bukannya melepaskan itu, Bhumi semakin gencar menyentuh bibir Thalia. Ia benci cara Thalia memanggilnya dengan nama seperti itu. Wanita keras kepala ini harus diberi pelajaran agar berhenti memancing emosi Bhumi.

Saat melihat Thalia sudah mulai kesulitan bernapas, barulah Bhumi melepaskan pagutannya. Bhumi kembali tersenyum tipis saat melihat kemarahan di mata Thalia. Ia benci Thalia yang tenang. 

“Brengsek!” umpat Thalia sembari mengatur napasnya. 

“Jangan memancing emosi saya, Thalia,” sahut Bhumi tenang. Namun, matanya menyiratkan betapa ia menyukai cara Thalia menatapnya.

Angkuh dan penuh amarah. Bagaimanapun, Bhumi tidak akan membiarkan Thalia hidup tenang. Wanita berambut cokelat gelap ini harus membayar apa yang sudah terjadi lima tahun yang lalu. 

Lima tahun yang lalu, untuk pertama kalinya harga diri Bhumi terasa ditelanjangi oleh Thalia yang saat itu masih menginjak bangku kuliah.

Bhumi tidak bisa memaafkan itu. Terlebih saat mengetahui Thalia dengan tenang menyatakan sudah menghilangkan seseorang yang Bhumi nantikan kehadirannya.

“Kamu memang brengsek! Kamu gila!” umpat Thalia lagi sembari mengusap bibirnya dengan kasar.

Tangan besar Bhumi menahan tangan Thalia. Ia kemudian kembali mengecup bibir Thalia, kali ini lebih lembut. Setelah itu, ibu jarinya mengusap lembut bibir mungil Thalia yang memerah karena ulahnya.

“Jangan memperlakukan kesayangan saya sekasar itu, Thalia. Ingat. Apa yang ada pada dirimu itu sudah menjadi hak saya. Bahkan tubuhmu ini. Jadi, jangan membiarkan mereka terluka sedikit pun.” 

Kedua tangan Thalia mengepal di kedua sisi tubuhnya. Sekuat tenaga ia menahan diri agar tidak meludah tepat di wajah Bhumi saat ini. 

Bhumi mengusap rahang Thalia. Mata tajamnya itu memindai wajah Thalia. “Saya akan bermurah hati kepadamu malam ini. Istirahatlah sekarang.” 

Setelah mengatakan itu, Bhumi segera melangkah menjauh. Kakinya terayun lebih dulu menuju anak tangga. Meninggalkan Thalia yang masih berdiri menatap Bhumi dengan penuh kebencian. 

“Kalau bukan karena Om Danu. Aku tidak akan sudi menginjakkan kaki di sini dan menberikan diriku kepada manusia seperti Bhumi,” gumamnya pelan. Tali tasnya sudah ia remas sekuat mungkin. 

“Jangan terlalu lama di sana, Thalia. Istirahat sekarang. Kecuali kalau kamu memang ingin saya menyentuhmu saat ini juga.” 

Suara berat penuh ejekan itu menyadarkan Thalia. Wajahnya terangkat dan tepat di atasnya, Bhumi sedang tersenyum penuh kemenangan padanya. Setelah itu, barulah Thalia bisa melihat pria itu masuk ke ruang pribadinya.

Thalia tidak punya pilihan sekarang. Keputusan yang ia putuskan beberapa bulan lalu membuatnya harus rela terikat dengan Bhumi. Meski kenyataannya pria tampan itu tak lebih baik dari seorang bajingan. Ia hanya datang kepada Thalia saat dirinya minta dipuaskan. 

...***...

Thalia merasakan ada yang aneh dari lehernya. Hembusan hangat dan sentuhan sesuatu yang kenyal itu membuat Thalia pun terbangun. Tidak hanya itu, ia juga bisa merasakan terdapat tangan lain yang sedang menyentuh tubuhnya. 

Tanpa harus bersuara, Thalia mengenali aroma ini. Aroma memuakkan yang menjadi mimpi buruk bagi Thalia. 

“Sekarang, Thalia. Saya sudah berbaik hati semalam. Sekarang puaskan saya,” ucap Bhumi dengan suara serak tepat di ceruk leher Thalia. 

Pria itu tanpa peduli kemudian meninggalkan tanda kepemilikannya di leher putih Thalia. Sentuhan itu memang membuat Thalia benci setengah mati. Namun, kebencian dirinya pada Bhumi tak lebih banyak benci Thalia pada tubuhnya sendiri. 

“Jangan di situ. Aku ada pemotretan hari ini.” Thalia hendak menghindar agar Bhumi berhenti memberi tanda di lehernya, tetapi tenaganya tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan tenaga tangan Bhumi yang memeluknya erat. 

“Kamu tidak berhak mengatur saya. Ingat, tubuhmu itu milik saya. Sudah saya beli dengan harga yang mahal pada papimu.” 

Thalia terdiam. Mengingat fakta itu membuat hatinya dipenuhi dendam kepada ayahnya sendiri. Kenyataan itu juga yang membuat Thalia menerima saja perlakuan Bhumi padanya. Ia tidak lagi menolak sentuhan suami yang sangat ia benci ini. 

Waktu terus berjalan. Beberapa jam kemudian, barulah Bhumi menjauh dari Thalia. Pria itu segera melangkah ke kamar mandi. Meninggalkan Thalia dengan tubuh polos yang terasa remuk karena sentuhan gila Bhumi. 

Thalia berusaha menggapai pinggiran selimut untuk menutupi tubuhnya. Jika begini, rasanya tidak mungkin ia sanggup melakukan pemotretan hari ini. Thalia lalu berusaha menggapai ponsel yang berada di nakas. Tidak berada jauh dari tempat tidur. 

Namun, sebelum ia berhasil mendapatkan ponselnya, Bhumi lebih dulu menggapai ponsel itu. Ia kemudian memberikannya kepada Thalia. 

“Mandi dulu. Bukannya ada pemotretan hari ini?” 

Thalia mendengus kesal. Ia mengabaikan Bhumi yang masih memakai handuk itu. Thalia tidak menjawab apapun. Jemarinya fokus memberi tahu asistennya bahwa ia mungkin akan sedikit terlambat. 

Saat Thalia sedang fokus, tiba-tiba ia merasa tubuhnya terangkat. Matanya terbelalak karena terkejut. Kini ia sudah berada dalam gendongan Bhumi.

“Turunkan, Bhumi!” pekik Thalia memukul pundak Bhumi agar menurunkannya.

“Kamu harus bersih-bersih sekarang. Biar saya bantu.” Bhumi menjawab tenang. 

“Enggak! Aku nggak mau.” Thalia reflek memeluk selimut yang menutupi tubuh polosnya. “Sana pergi!” 

Bhumi tidak bereaksi apapun. Lagipula tangan mungil Thalia itu tidak akan memberi efek sakit pada tubuhnya. Bhumi memilih abai dengan Thalia yang masih memberontak. 

Sesampainya di kamar mandi, Bhumi segera menurunkan Thalia. Ponsel yang tadi masih digenggam Thalia pun ia letakkan di atas meja dekat wastafel. Saat tangan pria itu hendak melepas selimut yang membungkus tubuh Thalia, tangan mungil itu menepis tangan Bhumi. 

“Aku bisa sendiri. Kamu bisa pergi.” Thalia memalingkan pandangannya ke arah lain. 

Bhumi bisa saja memaksa Thalia. Namun, pagi ini Bhumi harus menjemput Adelia di bandara. Berdebat dengan Thalia akan membutuhkan waktu yang lama. 

“Baiklah. Saya pergi dulu. Nanti Aji akan mengantarkan kamu ke studio.” Bhumi kemudian mengecup kening Thalia dengan lembut  “Jangan lupa minum pil kontrasepsinya,” bisiknya kemudian. 

Thalia memilih diam. Meskipun keinginan untuknya menyumpah serapah Bhumi begitu kuat. 

“Tetap menurut seperti ini, Thalia. Saya suka.” 

Thalia mendengus kesal. Begitu Bhumi keluar kamar mandi, Thalia segera mengusap kasar keningnya. 

“Aku tidak peduli kamu suka atau tidak Bhumi sialan.” Thalia menatap kesal bayangan dirinya dari cermin. Bahunya langsung lemas saat melihat banyaknya tanda merah di leher dan sekitar dadanya. “Bhumi sialan! Aargh…!” 

Tiba-tiba deringan ponselnya membuat Thalia menoleh. Wanita itu menahan rasa sakit di bagian inti tubuhnya. Kakinya terayun pelan. Tangannya segera meraih ponsel yang berdering tersebut.

Barulah Thalia menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga, suara riang dari seberang langsung menyambutnya.

“Mama, Jemia kangen….” 

*

*

*

Hai hai, kembali lagi dengan aku. Semoga gak bosan ya. Kali ini mungkin agak berat ya dari yang biasanya.

Mohon dukungannya ya, Kakak-kakak :)

 

1
Bunda Idza
ternyata sweet juga mas Bhum Bhum....tp tetap belum puas dengan. banyak hal yang belum dijelaskan
next Thor....
Rieya Yanie
cetitanya seru
IceQueen
penasaran sama hadiahnya🤭
Nona aan Chayank
Meskipun ini adalah rencana Bhumi, tapi semoga saja Andra bisa menikahi Adelia...
Rahayu Ayu
ga kebayang gimana Thalia dulu,
Sendirian, di tekan dari segala arah,
Ayah yg di harapkan jadi sandaran bahkan ikut
membuat hancur,.
tapi semoga di ganti dengan kebahagiaan sepanjang hidup Thalia nanti, Bahagia bersama keluarga kecilnya,
Teti Hayati
Please... jangan tinggalin Thalia... justru ini moment penting buat buktiin kesungguhan km Bhumi...
merry
sag si sah tp hsil ngerebut jdi khdarin mu gk pntg x😄😄😄😄
Teti Hayati
Semoga cepet kebongkar... kebucuuuukan ular dua ini...
mama
karna anda mak Lampir makanya gk diksih tau🤣
Paon Nini
Jasmine sopo jarine? 🤪
Edelweis Namira: Kaaak izin revisi yaa🤣
total 1 replies
Paon Nini
aku juga ngak pernah tau jawabannya, karena banyak yg bilang suamiku pendiem, wajahnya ngak ramah tapi kalau sama anak istrinya, ck kita kadang sampai geleng kepala saking seringnya lihat kerandoman dan kekanak-kanakan nya itu bapak2
Paon Nini
hany kamu yang boleh berkata buruk tentang orang lain begitu? dihhh di dunia nyata Banyan bgt manusia kayak gini tau
Paon Nini
ngak tau diri, hasil jerih payah nyolong maksudnya? tadi apa katanya 'papi'? km lupa kalau km anak entah siapa itu del?
Uthie
Nexxxttt 💞
Uthie
semangat terus Thor 😘💞
Teti Hayati
Ayooo papa Bhumi... gak usah ada yg ditutupin lagi, biar mama Tha tau segimana usaha km buat dapetin dia, gak usah gengsi lagi bilang cinta..
atau sekalipun itu kesalahan km., mending Thalia tau semuanya...
Paon Nini
mampus
Paon Nini
lupa dia klo dh ada anak
Paon Nini
nah kan apa kubilang mereka tuh dlu pasangan yg serasi bgt 🤪🥴
Paon Nini
mudah2an aja jemia ngak ketemu orang kasar kayak kamu bum
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!