Hara, gadis perfeksionis yang lebih mengedepankan logika daripada perasaan itu baru saja mengalami putus cinta dan memutuskan bahwa dirinya tidak akan menjalin hubungan lagi, karena menurutnya itu melelahkan.
Kama, lelaki yang menganggap bahwa komitmen dalam sebuah hubungan hanya dilakukan oleh orang-orang bodoh, membuatnya selalu menerapkan friendzone dengan banyak gadis. Dan bertekad tidak akan menjalin hubungan yang serius.
Mereka bertemu dan merasa saling cocok hingga memutuskan bersama dalam ikatan (boy)friendzone. Namun semuanya berubah saat Nael, mantan kekasih Hara memintanya kembali bersama.
Apakah Hara akan tetap dalam (boy)friendzone-nya dengan Kama atau memutuskan kembali pada Nael? Akankah Kama merubah prinsip yang selama ini dia pegang dan memutuskan menjalin hubungan yang serius dengan Hara?Bisakah mereka sama-sama menemukan cinta atau malah berakhir jatuh cinta bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizca Yulianah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Pada Pandangan Pertama = Cinta Buta
Jangan sibuk dengan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. 1+1\=2
"Apa lagi?" Hara menghela napas panjang saat mengangkat panggilan di ponselnya. Suaranya pasrah penuh dengan lelah, jenuh, dan jengah.
Ini adalah panggilan ketiganya sejak pagi hari, bahkan matahari belum berada di tengah-tengah.
"Ya kamu itu yang maunya apa?" Suara laki-laki di ujung sana penuh dengan kekesalan dan juga kebosanan.
Hara memijit pelipisnya, kepalanya serasa panas berdenyut. Menatap layar komputer yang penuh dengan deretan angka, di tambah lagi rengekan dari laki-laki di ujung telepon, membuat kepalanya semakin berdenyut parah.
Pusing, mual, jantung yang berdebar. Perasaan yang sudah setahun ini dia rasakan setiap kali nama Nael muncul di ponselnya yang berdering.
"Nanti kita obrolin lagi ya, aku lagi sibuk, deadline kerjaan ku harus selesai siang ini" Hara berusaha merendahkan suaranya, menekan egonya dari sumpah serapah yang ingin keluar dari mulutnya.
"Sok sibuk kamu" Putus Nael dan sambungan telepon pun berakhir.
Hara menghela napas lagi, dengan mata yang masih terpejam dia terus mengusap pelipisnya. Jantungnya masih terus berdebar tak karuan. Memacu peredaran darahnya yang mungkin terlalu cepat hingga menimbulkan nyeri di tengkuknya.
Pikiran Hara mengembara. Orang yang sama, status yang sama, jantung yang sama-sama berdebar cepat, tapi bisa menimbulkan 2 perasaan yang bagai kutub utara dan selatan.
Cinta dan Benci.
Orang bilang perbedaannya tipis, bagi Hara itu hanya bualan orang yang berpikiran sempit. Dan saat ini, dialah orang yang berpikiran sempit itu.
Tapi hidup terus berputar, tidak peduli dengan perasaan apa, kondisi apa, situasi apa yang di hadapi orang-orang yang menjalaninya.
Profesional. Itulah yang harus di lakukan seorang pekerja, dan itulah status Hara saat ini.
Setelah menghela napas panjang lagi, dan menata perasaan serta suasana hatinya. Dia membuka matanya dan bersiap menghadapi deretan angka di program excel miliknya.
Dengan tekad kuat dan semangatnya, dia segera merapikan angka-angka tersebut kedalam tabel, menyusunnya agar mudah di baca oleh orang-orang bertittle akuntan.
Dunia dewasa pekerja yang bahkan tidak memperbolehkannya menikmati sejenak sakit hatinya itu mau tidak mau memaksanya harus berkonsentrasi penuh dengan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
Hara si perfeksionis, begitulah kiranya rekan-rekan kerjanya menjulukinya. Tidak bangga dan juga tidak tersinggung, Hara cukup biasa-biasa saja menanggapi julukannya itu. Baginya sisi dirinya yang seperti itu yang membuatnya memiliki garis besar dalam hidupnya yang dia jadikan pegangan meskipun badai ujian silih berganti mampir di hidupnya.
Dan saat ini, dia sedang berkutat merealisasikan julukannya tersebut. Fokus dan berkonsentrasi penuh dengan apa yang ada di depan matanya. Tangannya dengan terampil sedang memainkan keyboard dan mouse, alat yang membantunya menyusun angka-angka dan memberikannya gaji selama beberapa tahun terakhir.
"Hara" Seseorang menepuk pundaknya pelan. Hara berjengit kaget dan menoleh.
"Istirahat" Si penepuk pundak memberikan informasi. Hara melihat jam tangannya, waktunya makan siang.
"Ok" Hara mengangguk paham dan segera membereskan laporannya, menyimpannya dalam file dan menutup layar komputernya.
"Serius amat sih dari pagi, kan gue jadi sungkan kalau mau malas-malasan" Sinta, si penepuk pundak itu menyandarkan setengah tubuhnya ke meja Hara sembari melipat kedua tangannya.
"Iya nih, deadlinenya siang ini" Jawab Hara sembari tersenyum, kemudian berdiri dan mengajak Sinta untuk pergi makan siang bersama.
"Halah meskipun bukan deadlinenya lu tetep aja serius setiap hari, kok bisa sih?" Tanya Sinta heran. Mereka memasuki pantry yang sepi menuju kulkas 2 pintu besar milik perusahaan tempatnya berkerja.
"Bisa apanya, perasaan biasa aja" Jawab Hara santai, menarik keluar tas bekalnya yang dia simpan di kulkas kantor, membukanya dan mengambil kotak bekalnya kemudian beralih ke microwave yang ada di samping kanannya.
"Biasa lu bilang?" Sinta melakukan hal yang sama sembari menunggu gilirannya untuk memanaskan bekal makan siangnya di microwave.
"Apa perlu gue ajuin survey ke seluruh perusahaan ini, siapa karyawan yang paling serius disini, yakin 1000 persen deh pasti jawabannya elu. Hara si perfeksionis" Jelas Sinta sembari membingkai wajah Hara dengan jari jemarinya.
Hara hanya tersenyum tipis menanggapi julukannya. Bukan hal yang memalukan kan menjadi seorang perfeksionis? Walaupun harus Hara akui itu sedikit mengganggu hidupnya. Dia harus merencanakan setiap detail kegiatannya, resolusinya, rutinitasnya. Setiap menit waktunya tak kan dia biarkan terbuang sia-sia. Apakah salah? Apakah dia terlalu ketat dengan hidupnya sendiri? Apakah ini yang membuatnya tidak bahagia? Tidak bebas? Apakah dia tidak normal?
TIDAK.
Hara segera menipis pikiran negatif itu dari kepalanya. Sisi perfeksionisnyalah yang telah menjadikan dia seperti saat ini. Siswa peraih peringkat pertama sepanjang masa 12 tahun pendidikan dasarnya. Mahasiswa peraih beasiswa penuh dan lulusan dengan predikat magna cumlaud dengan ipk nyaris sempurna di jurusan akuntan publik yang hanya di tempuhnya dalam waktu 3 tahun. Karyawan dengan nilai tertinggi saat tes masuk perusahaan, dan disinilah dia saat ini, menjadi asisten manager termuda sepanjang sejarah perusahaan itu berdiri.
"Kayaknya boleh juga tuh" Jawab Hara bercanda. Dan mereka pun tertawa bersama. Menikmati makan siang yang di hangatkan ulang yang sudah menjadi salah satu bagian dari rutinitas terencana hidupnya.
...****************...
Sebagai pekerja nine to five, Hara hampir tidak pernah lembur. Pekerjaannya selalu selesai tepat waktu. Salah satu manfaat sisi perfeksionisnya.
Hara merapikan mejanya sebelum dia pulang, menyimpan semua hasil pekerjaanya dalam file dan mematikan komputernya. Dia melirik jam tangannya. Jam 5 sore hanya tinggal beberapa menit lagi. Hara meregangkan tubuhnya, merilekskan otot-ototnya yang tegang.
Ponselnya di meja berdering, jantungnya kembali berdebar kencang di iringi rasa berdenyut di kepalanya dan perut yang melilit menimbulkan rasa mual menyesakkan itu.
Nael. Nama yang disimpannya dengan akhiran tanda hati berwarna merah itu selalu bisa membuat jantungnya berdebar kencang.
Cinta dan Benci. Luar biasa bukan?
Hara mengamati ponselnya, mengetuk-ngetukkan jarinya di meja sembari menghitung getaran di ponselnya. Tidak ingin cepat-cepat menjawabnya tapi juga tidak ingin terlalu lama. Menunggu timing yang tepat.
"Ya?" Di getaran kelima Hara menjawab panggilan itu. Menjaga intonasi dan nada suaranya agar terdengar pas, tidak bersemangat tapi juga tidak terdengar jenuh. Sungguh kehidupan yang rumit. Lagi-lagi karena sisi perfeksionisnya.
"Nah kan, kalau aku nggak telepon duluan, kamu mana ada hubungin aku" Suara "pas" Hara di sambut dengan ocehan penuh protes dari Nael. Laki-laki yang sudah menjadi kekasihnya 2 tahun belakangan.
Cinta pada pandangan pertama, seperti di drama-drama.
Hara sedang ada rencana meeting di luar dengan seorang klien di sebuah kafe. Disaat itulah dia bertemu dengan Nael.
Seorang laki-laki yang membuat Hara merasakan jantung berdebar untuk pertama kalinya. Cinta pertama pada pandangan pertama. Romantis? Tentu saja. Dalam masa 21 tahun hidupnya, baru kali ini Hara merasakan rasa itu. Rasa yang tidak di rencanakannya dalam "resolusi 10 tahun mendatang" miliknya.
Nael yang saat itu juga ada janji temu dengan klien, menghampiri Hara.
"Hara?" Tanyanya sopan.
Hara terkesiap, dia segera membetulkan sikap profesionalnya. Berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah laki-laki di hadapannya.
"Ananta Hara" Ucapnya tegas tapi lembut sembari tersenyum.
"Ah ya, Nael" Jawab laki-laki di hadapan Hara sembari menyambut uluran tangan Hara, memperkenalkan diri.
"Maaf terlambat, macet" Memberikan sedikit informasi kedatangannya.
"Tidak masalah, saya juga baru sampai" Jawab Hara sopan.
Nael menarik kursi di hadapan Hara, meletakkan tas kerjanya di kursi di sampingnya.
"Mari duduk" Ajaknya sopan pada Hara yang di sambut anggukan oleh Hara.
"Ibu..." Hara bertanya dengan alis berkerut, harusnya saat ini yang duduk di hadapannya adalah seorang perempuan paruh baya bergaya elegan yang biasanya agak sedikit cerewet. Alih-alih seorang laki-laki dengan setelan kemeja biru muda berlengan panjang yang di padankan dengan jas berwarna coklat muda. Warna old money, begitu para gen Z menyebutnya.
"Saya minta maaf, Ibu Helena hari ini berhalangan hadir, jadi saya yang mewakilinya. Maaf karena tidak sempat mengabarkannya terlebih dulu" Nael menjelaskan asal usul situasinya yang membuat dia harus duduk berhadapan dengan Hara saat ini. Di luar rencana mereka berdua.
"it's ok" Jawab Hara dengan profesional.
"Biasa terjadi" Hara berusaha menyembunyikan rasa gugup dalam suaranya. Bukan karena akan membicarakan perihal keuangan perusahaan, atau karena kali pertamanya meeting di luar tanpa di dampingi managernya, melainkan karena Nael, laki-laki yang duduk di depannya saat ini.
Hara berusaha sekuat tenaga menjaga sikap profesionalnya, di tengah perasaan yang campur aduk yang dia rasakan saat ini. Menjaga ekspresi wajahnya agar sebisa mungkin pertemuan kali ini bisa melancarkan deal antara kedua perusahaan itu.
"Ini laporan keuangannya" Nael mengeluarkan map dari tas kerjanya dan mengulurkannya kepada Hara. Memulai diskusi pekerjaan mereka.
Hara mengamatinya dengan serius. Kali ini fokusnya sudah sepenuhnya teralihkan pada tabel-tabel laporan di kertas yang di pegangnya. Sembari memutar-mutar pena yang ada di tangannya, kepalanya mengangguk-angguk membaca deretan angka-angka itu.
Menelaah setiap informasi yang disajikan angka-angka tersebut untuk kemudian di susun menjadi sebuah rencana kedepannya.
"Saya sudah baca laporannya, tapi untuk keputusan akhirnya saya harus berkonsultasi dulu dengan manager, kebetulan hari ini beliau sedang ada urusan lain. Tapi secepatnya saya akan mengabarkan kepada Ibu Helena" Hara yang telah selesai mengamati laporan itu menyampaikan hasil analisanya kepada Nael.
"Baiklah, tapi untuk hasilnya tolong sampaikan saja ke saya, karena ibu Helena sedang pergi liburan ke luar negeri untuk 2 minggu, dan saya butuh secepatnya keputusannya. Sebelum pergi Ibu Helena sudah menyerahkan masalah ini ke saya" Jelas Nael.
Bingo. Seperti sudah takdir, kejadian yang tidak Hara rencanakan itu berjalan mulus. Benar-benar timing yang sempurna. Cara mendapatkan nomor ponsel cinta pertamanya tanpa harus terlihat gampangan.
"Kalau begitu bisa minta nomor ponselnya? Atau anda mau manager saya saja yang menghubungi anda?" Taktik lainnya agar tidak terlihat gampangan yang di terapkan Hara, tarik ulur.
"Tidak, anda saja bisa menghubungi saya" Jawab Nael. Bak gayung bersambut, Nael menuliskan nomor ponselnya di secarik kertas kemudian memberikannya kepada Hara.
Dan begitulah cinta pertama pada pandangan pertama Hara, dari urusan bisnis menjadi urusan cinta. Seperti di drama-drama.
Kenangan pertemuan pertama mereka yang terlintas di pikiran Hara itupun buyar seketika oleh ocehan penuh protes dari Nael. Hara menghela napas lagi, entah bagaimana sekarang helaan napas Hara menjadi lebih sering ketika berbicara dengan Nael. Sampai-sampai hampir menjadi kebiasaan.
"Ini aku baru mau hubungin kamu, tapi keburu kamu duluan yang telepon" Jawab Hara dengan suara yang berusaha tetap lembut. Demi menjaga hubungan mereka yang sudah 2 tahun terjalin.
"Alasan" Saut Nael dengan marah. Lagi-lagi pembicaraan yang di awali dengan saling tuduh tidak percaya.
"Nael, aku harus gimana lagi sih, kayaknya setiap jawaban dari aku selalu kamu salahin" Hara tetap berusaha menjaga intonasi dan nada suaranya, meskipun batinnya ingin sekali mengeluarkan semua sumpah serapah dan tuduhan penuh ketidakpercayaan balik pada Nael.
"Ya coba kamu pikir sendiri dong, mana pernah selama ini kamu hubungi aku duluan. Kenapa? Apa karena ngehubungin aku itu gak ada dalam rencana dan rutinitas harian kamu? Aku gak masuk dalam resolusi 10 tahun mendatang kamu? Gitu kan?" Cecar Nael tanpa henti.
"Ananta Hara si perfeksionis yang harga dirinya tinggi sekali sampai-sampai ngehubungin pacar sendiri harus di jadwalin dulu" Tuduh Nael sengit.
Hara lagi-lagi menghela napas panjang. Tuduhan dari Nael semakin kreatif dan inovatif serta mengada-ada setiap harinya. Dia heran, darimana datangnya semua pembicaraan toxic ini. Darimana awal mulanya perasaan cinta yang berubah jadi benci ini.
"Nael aku..." Hara berusaha menjelaskan, tapi semua omongannya di potong begitu saja oleh Nael. Sebenarnya kalau Hara mau, dia bisa mendebatnya dengan sengit, tapi untuk apa? Ini bukan ajang debat adu siapa yang benar dan siapa yang salah.
"Hara aku capek, capek dengan sikap kamu, capek dengan sifat kamu, capek dengan hubungan kita. Aku mau kita memikirkan ulang hubungan kita, kayaknya kita butuh waktu untuk sendiri-sendiri" Pungkas Nael setelah berhasil memimpin perdebatan yang melelahkan itu. Berbelit-belit hanya untuk mengakhiri sebuah hubungan.
"Kamu serius Nael?" Tanya Hara yang selama perdebatan hanya menjadi pendengar tanpa bisa membela diri.
"Ya, aku rasa kita sebaiknya putus" Akhirnya tujuan pembicaraan ini terlihat.
Hara terdiam, bingung bagaimana harus menyikapi kata-kata Nael. Perasaan benci yang dia rasakan untuk Nael tidak cukup besar sampai harus di akhiri dengan putusnya hubungan mereka. Benci tapi cinta, cinta tapi benci. Hara sendiri pun tidak bisa mendeskripsikan perasaannya.
Rasa pusing di kepalanya semakin menjadi, mual yang semula hanya ada di perutnya sekarang sudah merangkak naik ke tenggorokannya. Semakin tidak tertahankan.
Tanpa mematikan sambungan teleponnya Hara berlari menuju toilet, dengan buru-buru mencari bilik yang kosong dan memasukinya.
Makan siangnya dan es americano yang belum tercerna sempurna itupun keluar jadi satu, menjadi sebuah cairan menjijikkan yang dia muntahkan ke dalam closet yang ada di depannya.
Tangannya gemetaran mencari tombol flush yang ada di atas dudukan closet, dia memencetnya dan segera air keluar menghilangkan seluruh bukti-bukti perasaan campur aduknya beberapa menit yang lalu.
Setelah puas menguras isi perutnya, Hara terduduk di lantai, dia menyandarkan kepalanya di bilik toilet. Air matanya jatuh bersamaan dengan berhentinya suara flushing dari closet itu.
Beginikah? Pikir Hara, kisah cinta yang dia kira akan bertahan tak peduli seberat apapun badainya ternyata bisa karam juga.
Bukannya tidak pernah memikirkan bagaimana dirinya tanpa Nael, hanya saja Hara terlalu bucin kepada Nael. Jadi setiap kali memikirkan tentang itu, Hara selalu menepisnya dan berusaha mengalah agar hubungan mereka tetap bertahan.
Kalau orang lain bertanya, sebucin apa dirimu? Maka Hara bisa menjelaskan dengan detail sebucin apa dia.
Dari yang menerima dengan lapang dada perbedaan agama dirinya dengan Nael, selalu mengalah setiap kali Nael dan dirinya berdebat, selalu menjemput Nael saat mereka akan kencan, selalu mengiyakan apapun kata Nael meski itu bertentangan dengan hati kecilnya, selalu menerima saat Nael membandingkannya dengan cinta pertamanya yang katanya lebih dewasa dibanding Hara. Dan masih banyak lagi kebucinan Hara yang di luar akal sehatnya.
Hara meringkuk memeluk dirinya sendiri, menangis tanpa suara.
Seharusnya dia tidak berkutat dengan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Apakah berbeda agama bisa bersama? Jawaban yang jelas sejelas 1+1\=2
kasih kesempatan sama Kama dong,buat taklukkin Hara😁😁
menjaga pujaan hati jangan sampai di bawa lari cowok lain🤣🤣🤣
Nggak kuat aku lihat Kama tersiksa sama Hara🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
aku bakalan nungguin kamu yang bucin duluan sama Hara😁😁😁
tiba-tiba banget Pak Polici kirim buket bunga pagi' 😁😁😁😁😁
tapi kenapa tiba-tiba Hara telp ya????