NovelToon NovelToon
After Love

After Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Ketos
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.

"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"

"Kecuali apa, hm?"

Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.

✧✧✧

Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.

Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.

Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?

*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

♦♦

"Assalamu'alaikum," ucap salam Khaira, begitu memasuki cafe perpustakaan Galaksi.

Itu adalah hal pertama yang dia ucapkan setiap kali dia memasuki suatu tempat, atau berpapasan dengan orang lain.

Sementara saat ini, yang dia masuk adalah sebuah cafe di dalam perpustakaan Galaksi.

"Wa'alaikumsalam," sahut seorang barista yang ada di sana, karena barista itu langsung menyadari kehadiran Khaira.

Khaira langsung melangkah hingga berhenti di depan meja panjang, tepat di tempat costumer yang ingin memesan makanan atau pun minuman.

"Ezar. Ternyata kamu," sahut Khaira, dengan kedua bola matanya yang sedikit memincing, karena terkejut tatakala melihat kembali kehadiran Ezar di sana.

Awal memasuki cafe itu, Khaira belum menyadari jika itu Ezar, karena Ezar beserta beberapa barista lainnya sedang menghadap ke belakang, untuk mempersiapkan pesanan pelanggan.

Begitu dia berdiri di depan meja panjang itu bersamaan dengan Ezar yang membalikkan badan, barulah dia tahu jika Ezar sudah kembali bekerja di sana.

Selama satu minggu ini, Khaira bekerja di Perpustakaan Galaksi tanpa melihat kehadiran Ezar. Bahkan, ini pertama kali Ezar tidak muncul dalam waktu yang cukup lama.

Namun, selama satu minggu ini, Ezar menghilang tanpa kabar. Hal itu tentu saja membuat rekan kerja Ezar merasa heran.

"Ke mana kamu selama seminggu ini tidak ada?" tanya Khaira, penasaran.

Setiap hari, sebelum jam kerjanya di mulai, dia selalu datang ke cafe perpustakaan itu untuk memesan teh.

Hal itu tentu saja membuat dia mengetahui jika Ezar tidak masuk kerja sudah lebih dari satu minggu.

"Gue di rumah sakit, Khai," jawab Ezar, atas pertanyaan Khaira sebelumnya.

Kedua alis Khaira langsung terangkat, begitu mendengar Ezar mengatakan hal itu.

"Rumah sakit? Kenapa sampai ke rumah sakit?" tanyanya, mulai panik.

Tentu saja dia merasa panik dan khawatir, jika temannya masuk rumah sakit tanpa dia tahu apa alasannya.

"Gue kecelakaan pas pulang dari sini," jawab Ezar.

Dia tidak mengatakan secara spesifik penyebab dirinya terluka hingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Hal itu dia lakukan bukan tanpa alasan. Walaupun dia mengatakan secara jujur, bahwa dia dihadang kemudian dikeroyok oleh kelompok geng motor, Khaira pasti tidak akan memahaminya. Justru sebaliknya, Khaira malah akan semakin khawatir padanya.

Masalah geng motor seperti itu sama sekali bukan ranah pembicaraan antara dirinya dan Khaira.

"Kamu jatuh dari motor?"

"Iya. Hal itu biasa terjadi dan sudah jadi resiko umum buat pengendara motor atau pun pengendara lainnya," jawab Ezar, dengan santai.

Dia memberitahu Khaira dengan sikap dan nada bicara yang tenang, supaya Khaira tidak lagi mengkhawatirkannya. Lagi pula saat ini, dia merasa sudah baik-baik saja.

Walupun kesehatan belum benar-benar pulih seperti sebelumnya, tetapi dia sudah bisa melakukan pekerjaannya dengan baik, sehingga dia percaya diri untuk mulai kembali bekerja di hari ini.

"Subhanallah. Aku minta maaf Ezar, aku ga tau kalau kamu kecelakaan," ucap Khaira, sungguh-sungguh.

Rasa prihatin dan rasa bersalah muncul secara bersamaan. Dia benar-benar tidak tahu akan kejadian yang Ezar alami selama satu minggu ini.

"Ga papa, Khaira. Jangan minta maaf, lo ga ngelakuin kesalahan," ucap Ezar, mencoba untuk menghilangkan rasa bersalah yang Khaira rasakan.

Khaira memang tidak bersalah dengan apa yang menimpanya. Sehingga Khaira tidak pantas merasa bersalah seperti itu.

"Aku ga jenguk kamu. Padahal kamu di rumah sakit dalam waktu yang cukup lama," jelas Khaira kembali, mengutarakan rasa bersalahnya.

Ezar tersenyum tipis dibarengi oleh sebuah tawa pelan. "Gue memang sengaja nyembunyiin ini, supaya kalian ga khawatir, apalagi lo."

Dia tahu, jika salah satu temannya itu memiliki rasa empati yang tinggi terhadap sesama. Dia juga tidak paham, kenapa Khaira memiliki rasa empati setinggi itu.

"Kita semua ga ada yang tau kalau kamu kecelakaan. Kenapa tidak ada satu pun yang tahu?" Khaira kembali bertanya, kali ini sedikit menuntut.

Pasalnya, tidak ada informasi apa pun yang dia dengar dari rekan-rekan kerjanya tentang Ezar. Bahkan, dari Kepala Perpustakaan sekali pun, sama sekali tidak ada informasi yang sampai kepada mereka.

"Hanya kepala perpustakaan yang tau. Gue sengaja minta kepala perpustakaan, supaya ga ngasih tau keadaan gue sama kalian," jelas Ezar.

Sistem kerja di Perpustakaan Galaksi memanglah ketat, tetapi tidak sampai membuat para karyawannya merasa tertekan.

Kerat di sini dalam artian disiplin yang tinggi. Sehingga siapa pun yang mengambil cuti di luar jadwal cutinya, maka harus memberikan laporan kepada Kepala Perpustakaan.

Maka dari itu, Kepala Perpustakaan akan tahu ke mana dia selama satu minggu ini.

"Terus kenapa ga ngasih tau kita, Zar?" tanya Khaira, melihat sekilas ke arah Ezar, kemudian dengan cepat mengubah kembali pandangannya menjadi menunduk.

"Gue udah bilang, Khai, kalau gue ga mau buat kalian khawatir," jawab Ezar, mengulang jawaban yang sama.

Khaira langsung menggelengkan kepalanya sambil menghembus napasnya dengan pelan. "Kalau kamu ngasih tau kita, setidaknya kita bisa doa'in kamu, Zar," ucap Khaira kembali.

Ezar kembali tertawa dengan pelan. "Thanks, Khai."

"Untuk apa?" tanya Khaira, heran.

Bahkan dia saja tidak menjenguk Ezar saat sakit, lantas mengapa Ezar sampai harus berterima kasih kepadanya?

Begitulah pikir Khaira.

"Thanks udah perhatian sama gue," jawab Ezar.

Khaira langsung mengangguk pelan.

"Tentu. Sesama teman kita harus saling peduli, Zar."

Ezar ikut mengangguk, sambil menarik kedua sudut bibirnya dengan samar.

Dia merasa bersyukur dipertemukan dengan sosok seperti Khaira, yang selalu peduli terhadap orang-orang yang ada di sekelilingnya.

"Oh, ya. Selama satu minggu itu, kamu sama siapa di rumah sakit?" tanya Khaira kembali.

Sama seperti sebelumnya, dia hanya sekilas melirik ke arah Ezar, kemudian dengan cepat, menundukkan kembali pandangannya.

Hal itu adalah kebiasannya saat berbicara dengan orang yang bukan mahramnya.

Ezar sudah memahami itu, karena ini bukan pertama kalinya dia berbicara dengan Khaira.

"Ada temen-temen gue. Mereka jaga dan rawat gue selama satu minggu ini," jawab Ezar, dengan rasa syukur karena memiliki teman—ralat, sahabat yang sangat baik kepadanya.

Khaira kembali bernapas lega.

"Alhamdulillah. Beruntung banget kamu punya teman-teman yang sangat peduli dan sayang sama kamu."

Alhamdulillah, ucap syukur Ezar.

"Oh, ya. Lo mau pesen apa hari ini?" tanya Ezar.

Dia sampai lupa menanyakan pesannya kepada Khaira, karena terlalu asik berbicara.

Dia hanya mengingat Khaira sebagai temannya, padahal saat ini Khaira adalah pelanggannya.

"Seperti biasa," jawab Khaira, tanpa mengatakan secara spesifik apa pesannya.

Untuk apa dia mengatakan itu secara spesifik, karena Ezar sudah tahu betul hal apa yang dia pesan.

"Siap. Pesanan segera selesai." Ezar langsung menerima pesanan itu.

"Belum juga dibuat, udah bilang segera selesai," ucap Khaira, hingga membuat Ezar tertawa.

Ezar langsung menyiapkan apa yang Khaira pesan. Sementara Khaira disibukkan oleh notifikasi pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.

— Galvin —

Udah mulai kerja?

— Khaira —

Belum. Aku lagi di cafe Galaksi.

— Galvin —

Ngapain?

— Khaira —

Biasa, pesan teh hangat sebelum kerja.

— Galvin —

Kenapa, Gal? Ada sesuatu yang mau kamu sampaikan?

— Galvin —

Nanti gue jemput.

— Khaira —

Oke, kalau begitu. Makasih, Gal.

— Khaira —

Iya. Biasanya juga kaya gitu, kan?

— Galvin —

Hm.

— Khaira —

Ada lagi yang mau kamu sampaikan?

— Galvin —

Ga ada. Gue cuma mau bilang itu.

Beberapa detik Khaira melihat layar chat-nya, tetapi dia tidak kunjung mendapat balasan.

Dia tidak heran lagi akan hal itu, karena sudah terbiasa jika obrolan selalu berakhir padanya.

"Ini pesannya," ucap Ezar.

Khaira langsung mendongkakkan kepalanya kepada Ezar, beralih dari layar ponselnya ponselnya yang dia lihat sebelumnya.

"Makasih, Zar."

Khaira segera meraih secangkir teh itu, setelah sebelumnya memasukkan kembali ponsel itu ke dalam tasnya.

Dia juga sudah membayar pesanannya menggunakan pembayaran non tunai.

"Kalau gitu, aku ke atas dulu ya. Jam kerja aku udah mulai," ucap Khaira, sambil memutar tubuhnya, untuk berlalu pergi, meninggalkan cafe itu.

"Khai, tunggu!" pinta Ezar, begitu Khaira sudah melangkah untuk pergi dari cafe itu.

"Iya, kenapa?" tanya Khaira, yang langsung menghentikan langkahnya, kemudian memutar kembali tubuhnya ke arah Ezar.

Ezar keluar dari meja barista itu, kemudian melangkah ke arah Khaira. Dia menghentikan langkahnya, setelah dia memperkirakan jarak mereka yang hanya tersisa sekiar 50 cm.

Posisinya dengan Khaira tidak terlalu dekat, karena dia tahu, Khaira selalu menjaga batasan.

"Boleh minta nomor telepon lo?" tanya Ezar.

"Boleh," jawab Khaira, tanpa berpikir.

Dia dan Ezar berteman cukup lama, mulai dari dia bekerja di perpustakaan itu. Sehingga dia tidak sungkan lagi memberikan nomor ponselnya.

Lagi pula tidak masalah jika hanya bertukar nomor, barangkali kedepannya mereka saling membutuhkan untuk diminta pertolongan.

Memiliki banyak teman tidaklah salah. Yang terpenting diharuskan memiliki teman yang berkualitas, yang bisa saling menghargai dan menghormati.

Selain itu, mengetahui batasan dalam pertemanan adalah hal yang sangat dianjurkan.

"Kenapa gue baru kepikiran buat minta nomor lo sekarang, ya?" tanya Ezar, sambil tertawa pelan.

"Mungkin karena kita sering bertemu di sini, dan tidak ada juga hal lain yang harus kita bicarakkan selain pekerjaan," jawab Khaira, mengutarakan pendapatnya tentang hal itu.

Memang benar, mereka sudah berteman cukup lama, tetapi sampai saat ini, mereka berdua belum memiliki kontak ponsel masing-masing.

Keduanya hanya bertemu dan mengobrol singkat seperti itu di perpustakaan. Itu pun terjadi karena Khaira datang ke cafe untuk memesan teh hangat favoritnya.

"Makasih," ucap Ezar, setelah menambahkan kontak Khaira di ponselnya.

"Sama-sama," jawab Khaira, selalu ramah kepada siapa pun, seperti biasanya.

"Eh, Khai. Kamu di sini ternyata," ucap Abel kepada Khaira.

Saat dia masuk ke dalam cafe itu, pandangannya langsung tertuju kepada Khaira yang ternyata sedang berada di sana, dengan secangkir teh manis di tangannya.

Khaira bisa saja memesan teh manis menggunakan cup, bukan cangkir seperti itu. Namun, dia lebih suka menikmati teh dari cangkirnya langsung, karena menurutnya rasanya berbeda.

"Kak Abel. Kenapa belum pulang, Kak?" tanya Khaira.

Dia pikir, Abel sudah pulang karena jam kerja Abel sudah selesai sekitar 20 menit yang lalu.

"Kepala perpustakaan minta kakak buat lembur. Katanya pekerjaan sekarang lagi banyak banget," ucap Abel, sambil menghembuskan napasnya dengan pasrah.

Hembusan napas itu bukan karena dia merasa sangat lelah karena lembur, tetapi karena dia hanya memiliki sedikit waktu dengan pacarnya.

Abel mengambil jadwal kerja dari pagi hingga malam, karena dia sudah lulus sekolah.

Tidak seperti Khaira yang harus mengambil kerja part time, karena dia harus membagi waktu antara sekolah dan pekerjaan.

Bekerja di perpustakaan Galaksi adalah impian semua orang yang menyukai ketenangan. Impian bagi semua orang yang menyukai keramaian dalam diam.

"Mmm, sepertinya memang sedang sibuk sekali, apalagi ini akhir bulan. Kepala Perpustakaan minta aku juga buat nambahin jam kerja," ucap Khaira, mengatakan kembali hal yang disampaikan oleh Kepala Perpustakaan.

"Nah, kan!" sahut Abel, menegaskan.

"Yasudah, kakak mau beli kopi dulu, supaya kerjanya tambah semangat," ucap Abel, yang kemudian melangkah ke arah meja panjang, khusus tempat pemesanan.

"Eh, Ezar! Kamu ke mana aja?" tanya Abel.

Dia baru menyadari kehadiran Ezar di sana.

Dia sama seperti Khaira, selama satu minggu ini tidak melihat Ezar berada di sana.

"Gue sakit, Kak," jawab Ezar.

Dia memanggil Abel dengan panggilan seperti itu, karena Abel memang dua tahun lebih tua darinya.

"Sakit? Kenapa kita ga tau? Sekarang keadaan kamu gimana?" tanya Abel.

"Alhamdulillah, sudah baikkan. Syukurlah kalau begitu." Abel langsung bernapas lega.

"Mau pesan apa, Kak?" tanya Ezar, sambil menujukkan buku menu yang disediakan di sana.

"Kopi hitam, sama... nuget!" pesan Abel.

"Selalu ga nyambung," ledek Ezar, sambil terkekeh pelan.

Abel langsung menyambutnya dengan hal yang sama.

Bagaimana Ezar tidak berkata seperti itu, jika kopi hitam digabungkan dengan nuget. Hal itu memang tidak masalah sebenarnya, hanya saja terkesan tidak selaras.

"Enak tau. Cobain makannya," ucap Abel, menawarkan.

"Ngga, makasih," jawab Ezar, yang langsung disambut tawa pelan, dari Abel dan juga Khaira.

Walaupun dibujuk dengan bayaran, Ezar sama sekali tidak mau meminum kopi hitam bersamaan dengan memakan nuget. Hal itu sungguh di luar pemikirannya.

"Mau ke atas sekarang?" tanya Abel, beralih kepada Khaira.

Khaira langsung mengangguk pelan. "Iya, Kak. Pekerjaan aku hari ini banyak banget. Jadi harus segera aku selesaikan, supaya ga terlalu pulang malam."

Abel mengangguk paham.

"Oke, deh, kalau gitu."

"Aku duluan, ya, Kak," pamit Khaira, dan langsung mendapat

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!