Sinopsis Novel – Kelas Penyihir IX B
Rifky adalah seorang anak manusia biasa yang tiba-tiba terjebak di dunia sihir dan masuk ke sebuah sekolah misterius bernama Sekolah Sihir IX B. Di sana ia bertemu dengan Wida, seorang penyihir baik hati yang kemudian menjadi sahabatnya. Bersama Zahira, Oliv, Deni, Rais, Gofirr, dan teman-teman lainnya, Rifky mulai menjalani kehidupan baru penuh keajaiban, latihan sihir, dan petualangan yang tak terduga.
Namun kehidupan di sekolah itu tidak selalu aman. Tiga murid berbahaya, Mila, Diva, dan Eva, diam-diam merencanakan sesuatu yang gelap. Ketika Rifky tanpa sengaja menyentuh sebuah kristal sihir kuno, kekuatan misterius bangkit di dalam dirinya. Kekuatan itu membuat banyak orang terkejut, bahkan kepala sekolah sihir, Nenek Misel.
Kini Rifky harus belajar mengendalikan kekuatan yang tidak ia mengerti, sambil menghadapi ujian sihir, rahasia masa lalu, dan ancaman dari musuh yang ingin merebut kekuatannya. Petualangan, persahabatan, dan misteri besar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifky Hemuto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Serangan Makhluk Bayangan
Ledakan besar yang terdengar dari halaman sekolah membuat seluruh ruangan Cermin Waktu bergetar. Debu halus jatuh dari langit-langit batu.
Semua murid kelas IX B saling menatap dengan wajah tegang.
“Apa yang terjadi di luar?!” tanya Amira panik.
Riski, penjaga sekolah yang berlari masuk, masih terengah-engah.
“Makhluk bayangan… jumlahnya banyak! Mereka muncul dari gerbang hitam di halaman belakang sekolah!”
Wajah **Nenek Misel** langsung berubah serius.
“Secepat ini…” gumamnya.
Ia kemudian mengangkat tongkat sihirnya tinggi-tinggi.
“Semua murid kelas IX B ikut denganku. Tapi ingat, jangan bertindak gegabah!”
Mereka semua segera berlari keluar dari ruangan rahasia itu. Lorong batu yang biasanya terasa sunyi kini dipenuhi suara langkah kaki yang panik.
Ketika mereka sampai di halaman sekolah, pemandangan yang mereka lihat membuat semua orang terdiam.
Di langit sekolah sihir, muncul **retakan hitam besar** seperti portal gelap.
Dari dalamnya keluar makhluk-makhluk aneh berbentuk bayangan.
Tubuh mereka seperti asap hitam, dengan mata merah menyala.
“Makhluk bayangan…” bisik **Gofirr** dengan wajah pucat.
“Ini makhluk yang hidup di dimensi kegelapan.”
Salah satu makhluk bayangan menjerit keras.
“SKRRAAAHHH!!!”
Lalu makhluk itu melompat menyerang para murid.
“Semua bersiap!” teriak **Zahira**.
Ia langsung mengayunkan tongkat sihirnya.
“LUMINA SHIELD!”
Sebuah perisai cahaya muncul melindungi mereka.
Makhluk bayangan itu menabrak perisai dan terpental.
Namun jumlah mereka sangat banyak.
“Ini gila… mereka terus keluar dari portal!” kata **Brayen**.
**Deni** mencoba menggunakan mantranya.
“APIORIS!”
Api kecil keluar dari tongkatnya dan mengenai salah satu makhluk bayangan.
Namun makhluk itu hanya mundur sedikit lalu kembali menyerang.
“Kenapa mereka tidak hancur?!” panik Deni.
Gofirr menjawab cepat.
“Makhluk bayangan tidak mudah dihancurkan dengan sihir biasa!”
Di tengah kekacauan itu, **Candra** malah berteriak sambil membawa sapu.
“WOI! MAKHLUK ASAP! SINI LAWAN AKU!”
Ia memukul salah satu makhluk bayangan dengan sapu.
Makhluk itu hanya melewati tubuh sapu seperti kabut.
“EH?!”
Candra terjatuh.
Semua hampir panik… tapi tiba-tiba terdengar suara besar.
“GRRRRRR!!!”
Tanah bergetar.
Semua menoleh.
Tubuh **Rais** mulai membesar.
Otot-ototnya mengeras dan tubuhnya berubah seperti raksasa.
“Aku sudah bilang… aku bukan penyihir,” katanya dengan suara berat.
“Tapi aku bisa menghajar mereka.”
BOOOOM!
Rais meninju tanah.
Gelombang kuat membuat beberapa makhluk bayangan terpental jauh.
“WOAAAH!” teriak **Aldi** kagum.
“RAIS JADI RAKSASA!”
Makhluk bayangan mencoba menyerang Rais.
Namun Rais menangkap salah satunya dan melemparkannya ke udara.
“Pergi dari sekolah kami!”
Sementara itu, **Wida**, **Zahira**, dan **Oliv** bekerja sama menggunakan mantra cahaya.
“TRI LUMINA!”
Tiga sinar cahaya bersatu dan mengenai portal hitam di langit.
Portal itu sedikit retak.
“Berhasil!” kata Oliv.
Namun tiba-tiba suara tawa terdengar dari atas.
“Hehehe…”
Semua menoleh ke arah atap sekolah.
Tiga sosok berdiri di sana.
**Mila. Diva. Eva.**
Mereka bertiga mengenakan jubah hitam dengan simbol sihir kegelapan.
“Selamat malam, murid-murid kecil,” kata **Mila** dengan senyum licik.
Wajah **Wida** langsung berubah marah.
“Kalian!”
**Eva** tertawa kecil.
“Terima kasih sudah membuka jalan bagi kami.”
Diva menunjuk ke arah **Rifky**.
“Dan akhirnya… kami menemukan yang kami cari.”
Semua murid langsung berdiri melindungi Rifky.
“Kalian tidak akan menyentuhnya!” teriak Zahira.
Mila mengangkat tangannya.
Portal di langit semakin besar.
Makhluk bayangan terus keluar.
“Anak manusia itu adalah **kunci gerbang dua dunia**,” kata Mila.
“Dan malam ini… kami akan membawanya.”
Tiba-tiba sebuah cahaya besar muncul di depan para murid.
**Nenek Misel** berdiri dengan tongkat sihirnya menyala terang.
“Selama aku masih hidup… kalian tidak akan membawa siapapun dari sekolah ini.”
Aura kekuatan luar biasa menyebar dari tubuhnya.
Langit di atas sekolah bergetar.
Mila tersenyum.
“Ah… penyihir tua yang terkenal itu.”
Diva berkata pelan,
“Bagus… ini akan menjadi pertarungan yang menyenangkan.”
Eva menambahkan,
“Apalagi kalau kita menghancurkan sekolah ini.”
Tiba-tiba dari belakang para murid, seseorang maju ke depan.
Itu adalah **Velop**.
Murid yang selama ini selalu menangis dan dibenci banyak orang.
Namun wajahnya sekarang berbeda.
Ia terlihat sangat serius.
“Aku… tidak akan membiarkan kalian menghancurkan sekolah ini.”
Semua murid kaget.
“Velop?” kata Wida bingung.
Velop mengangkat tangannya.
Tiba-tiba simbol sihir bercahaya muncul di udara.
“MANTRA PENYEGELAN!”
Cahaya besar melesat ke arah portal hitam.
BOOOOOM!!!
Portal itu retak besar.
Semua murid terkejut.
“Velop… bisa melakukan sihir sebesar itu?” kata Gofirr tidak percaya.
Mila menatap Velop dengan mata tajam.
“Oh… ternyata ada kejutan kecil di sekolah ini.”
Namun ia tersenyum.
“Sayangnya… itu belum cukup.”
Ia mengangkat tangannya.
Portal kembali terbuka.
Makhluk bayangan semakin banyak keluar.
Nenek Misel menggenggam tongkatnya kuat-kuat.
“Anak-anak… bersiaplah.”
Wida, Zahira, Oliv, Deni, Rais, Gofirr, dan semua murid berdiri dalam satu barisan.
Rifky menatap portal hitam itu.
Ia bisa merasakan sesuatu.
Sesuatu di dalam dirinya… seperti ingin bangkit.
Mungkin… takdirnya memang terhubung dengan gerbang itu.
Dan pertempuran terbesar bagi kelas **IX B** baru saja dimulai.
---