"Ya Allah ... tolong izinkan abah lebaran sekali lagi."
Doa seorang anak di tengah kesunyian malam. Tak banyak yang dia inginkan untuk lebaran kali ini, hanya kebersamaan dengan Abah saja yang dipintanya.
Nur, seorang anak kecil dari keluarga sederhana yang tak banyak mengeluh. Kehidupan yang sulit tak menjadikan Nur menjadi anak yang murung. Ia tetap percaya diri pergi ke sekolah meksipun sepatunya telah rusak.
Kisah sebuah keluarga sederhana di era 90-an. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bermain
Munggah telah tiba, pagi ini mak bersiap pergi ke pasar untuk berbelanja. Tas belanjaan yang terbuat dari anyaman tali plastik telah bersandar apik di bawah jendela.
"Mak, mau ke pasar?" tanyaku sembari menenteng kantong plastik berisi mainanku. Berupa gambar-gambar boneka dan baju-bajunya yang terbuat dari kertas. Kami menyebutnya sebagai putri-putri an.
"Iya, 'kan, mau masak buat munggahan," jawab mak sembari mengenakan kerudung instannya yang sudah lusuh.
"Ikut, Mak!" rengekku sembari memasang wajah memelas pada mak. Wanita lembut itu tersenyum, dan berjalan menghampiriku.
"Nanti aja, ya. Kalau mau beli baju lebaran, baru Nur sama Aceng ikut ke pasar," ucap mak.
Entahlah ... mendengar baju lebaran, hatiku berbunga sekali. Aku mengangguk sambil tersenyum senang. Lalu pergi meninggalkan rumah menemui teman-teman yang sudah berkumpul untuk bermain putri-putri an.
Aku merangkak naik ke atas bale-bale depan rumah tetangga. Anaknya adalah teman sepermainanku. Ada Aceng juga di sana yang sedang bermain kelereng bersama teman-temannya.
Lelah bermain putri-putri an, kami berganti permainan.
"Boy-boy an, yuk!" ajak salah satu temanku. Kami yang sudah bosan bermain putri-putri an duduk di tepi bale-bale dengan kaki menggantung.
"Hayu!" sahutku antusias. Kami beranjak turun dan berjalan ke tempat yang lebih luas.
"Woy! Ikut boy-boy an, gak?" teriakku mengajak sekelompok anak lainnya untuk ikut bermain bersama kami.
"Hayu!" Mereka beranjak dan ikut melangkah mengikuti kami menuju tempat yang sedikit lapang.
"Siapa yang punya bolanya? Ambil, geh!" kataku. Seorang teman berlari ke rumahnya mengambil bola kasti. Bola itulah yang akan kami gunakan untuk bermain.
Sedangkan yang lain, mengumpulkan pecahan genteng dan menyusunnya. Kami membagi menjadi dua kelompok. Ketua tim akan melakukan hompipah untuk menentukan siapa yang akan bermain terlebih dahulu.
"Hompipah alaihum gambreng, mak Ipah pake baju rombeng!" ucap kami bersamaan. Dua buah tangan berhenti berbeda. Yang satu menghadap atas yang satu menghadap bawah. Telapak tangan yang menghadap ataslah yang akan bermain terlebih dahulu.
Aku di tim yang kalah, kami bersiap di posisi untuk menangkap bola yang dilempar kawan guna mengenai lawan.
Pecahan genteng sudah disusun sesuai ukuran. Kami memberikan lingkaran agar saat menyusunnya lagi nanti tidak keluar dari tempatnya.
Lawan kami bersiap melempar bola guna meruntuhkan susunan bangunan yang terbuat dari pecahan genteng itu.
Dan,
Prang!
Bangunan itu runtuh, orang yang berjaga di belakang bangunan dengan sigap menangkap bola dan melemparnya pada kami. Kami akan melempar bola mengenai tubuh lawan satu per satu.
Permainan ini membutuhkan kecepatan, ketangkasan, dan ketepatan. Tim yang bermain harus menyusun kembali bangunan tanpa terkena lemparan bola, maka mereka akan menang.
Cukup melelahkan, kami duduk dengan kaki yang terjulur ke depan. Keringat sudah membanjiri wajah dan seluruh tubuh kami.
Matahari mulai terik, sengat sinarnya begitu terasa di kulit kami yang berwarna sawo matang, tapi ada yang mengatakan jika kulitku putih. Hehe, suka-suka penulis ya.
Kami duduk bersandar di bawah pohon kecapi yang belum berbuah. Merasakan hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah. Ugh ... segarnya!
Adzan Dzuhur berkumandang, aku mengenal suara itu. Itu suara abah. Celaka! Jika sampai abah pulang dari mushola nanti aku belum pulang, bisa-bisa abah memarahiku.
Aku bergegas bangkit dan menghampiri Aceng yang masih asik bermain.
"Ceng, pulang! Abah adzan, tuh!" ajakku pada Aceng. Dia mengumpulkan semua kelereng dengan tergesa. Kami berdua berlari ke rumah secepat mungkin.
Mak sudah sibuk di dapur saat kami sampai di rumah. Aceng menaruh sembarang kelerengnya dan bergegas ke kamar mandi. Entah benar atau tidak cara wudunya, tapi dia mengambil sarungnya secepat kilat dan berlari ke mushola sebelum iqamat. Huh! Selamat!
Usai shalat, aku membantu mak di dapur. Yah ... meski pun tidak banyak membantu, hanya sekedar memotong sayur atau mengiris bawang.
"Mak, nanti malam taraweh, ya?" tanyaku pada Mak yang sedang menumis bumbu. Ayam semur sudah siap di wajan.
Di rumahku masih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Aku dan mak akan mencari kayu bakar itu di hutan.
"Iya, 'kan, besok puasa," sahut mak terus fokus pada masakannya. Sesekali akan memasukkan kayu bakar yang habis dilahap si jago merah hingga keluar dari tungku.
"Ngeriyungnya abis taraweh, ya, Mak?" tanyaku lagi.
"Iya," jawab mak lagi. Yah ... masakan yang sedang dimasak mak akan dibawa ke mushola. Diriungkan.
Para lelaki akan berdzikir dipimpin kyai kampung kami. Setelah itu, nasi yang dibawa ke mushola akan dibagikan lagi pada warga. Kami menyebutnya sebagai berkat.
"Assalamu'alaikum!" Suara abah datang dari mushola bersama Aceng.
"Wa'alaikumussalaam!" jawabku dan mak berbarengan. Aceng berlari ke dapur, menyalami mak dan aku lalu duduk setelah mengambil goreng tempe dan melahapnya. Dia selalu begitu.
Tak lama abah pun datang menyusul, aku menghampirinya meraih tangan yang mulai keriput itu lalu mencium punggungnya.
"Mak tinggal shalat dulu, ya!" pamit mak pada kami semua. Masakan sudah siap semua.
Aku kembali ke rumah dan mengambil Al-Qur'an pemberian abah kemarin. Kucari surat Al-Mulk lalu memberinya tanda.
Aku harus menghafalnya karena besok adalah waktuku untuk mulai menyetorkan hafalan. Kubaca berulang-ulang ayat pertama dan kedua.
Sampai semua kalimat di dua ayat pertama itu memenuhi otakku. Aku menghafalnya dengan cepat.
Abah dan Aceng? Seperti biasa, keduanya pasti sedang bermain di rumah tetangga. Abah selalu bersilaturahmi ke rumah tetangga saat di rumah. Kata abah silaturahmi akan menambah rezeki kita dan memperpanjang umur kita. Insya Allah.
Hingga adzan ashar berkumandang, tak ada yang kulakukan. Hanya bergelut dengan setiap huruf dari surat Al-Mulk.
"Shadaqallaahul-'adhiim!" Kusudahi hafalanku. Kulipat Al-Qur'an lalu menyimpannya kembali.
Aku bergegas mengambil handuk menuju sumur untuk mandi. Abah dan Aceng sudah di mushola. Suara abah selalu menghiasi kampungku jika ia sedang di rumah.
Dari subuh hingga isya, suara adzan abahlah yang selalu mengalun memenuhi kampung.
Aku membantu mak yang sedang membakar sapu yang terbuat dari jerami. Setelah terbakar semuanya, mak menyiapkan sebuah wadah yang mengerucut terbuat dari anyaman bambu. Aseupan kami menyebutnya.
Mak meletakkan sapu jerami yang sudah dibakarnya itu di dalam wadah tersebut. Lalu menempatkan ujungnya yang lancip di mulut botol guna menampung air dari perasan jerami itu.
Keluarlah cairan hitam itu dalam botol, itu yang akan kami gunakan sebagai pengganti shampo. Yah ... kami keramas menggunakan itu. Bukan menggunakan shampo seperti saat ini.
Cukup menyiramkannya pada rambut kering dan menggosok-gosoknya. Maka akan keluar busa seperti shampo walaupun tidak sebanyak shampo masa kini.
Usai shalat ashar, aku membantu mak membungkus nasi di sebuah baskom kaleng besar. Menutupnya dengan daun pisang sebelum menyusun ikan dan oreg di atasnya.
Lalu akan membawanya ke mushola saat taraweh nanti.
Selamat Berpuasa!
Rela tidak beli baju baru mendahulukan keinginan anak2nya.
Ah,sungguh indah masa dulu ya author.
Dan aq skrg ngalamin ngedahulukan keinginan anak dan aku mengerti skrg gmn perasaan orgtua hanya utk melihat anaknya tersenyum tulus ketika ngucapkan kata2 "Terimakasih" dan memeluk kita.
Baru tau setelah punya anak itu namanya celana mambo.. hehehe
dan sangat bermanfaat sekali
untuk saya Thor
👍👍🤩🤩🤩🤩🤩
malahan kebalik beliau yang sering kasih uang ke aku kalau datang ke rumah
katanya, ini buat jajan cucu2nya
Alhamdulillah saya juga masih belajar pakai hijab
padahal anak udah 3😥