NovelToon NovelToon
Presdir Bucin

Presdir Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / TimeTravel / Contest
Popularitas:876.8k
Nilai: 4.7
Nama Author: Ritsmi

Terlempar kembali pada saat ulang tahunnya yang ke 19 tahun, Deena Prameswari Bakara atau yang sering di sapa Deena itu harus menelan kenyataan yang membuat hatinya bagai tertusuk belati berkarat, perlahan tapi menyakitkan.

Penghianatan, hinaan, dan kehilangan orang terkasih membuat dendam dalam hati tertumpuk, gadis itu bersumpah akan membalas lebih menyakitkan pada mereka yang telah menyakitinya.

Bertemu dengan sosok Hanska Regantara Alzavier, seorang presdir sekaligus mafia kejam berdarah dingin yang dengan menatap matanya saja membuat musuh bergetar. Namun satu hal, Hanska itu bucin jika sudah cinta, possesive setengah mati, membuat yang baca pada ilfeel.

hati-hati gregetan,
mengandung beberapa bawang,
ingin jitak kepala pelakor,
bawaannya kesemsem..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ritsmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kena Kau Bocil

Masih tahan puasa ga, masih ga, masih ga, ya masih lah, masa engga. ^-^

Warning typo. Sebagai manusia biasa, Rhea mengingatkan untuk hati" di jalan, barang kali kesandung typo.

Happy reading ♥️

__________________

Lanjut

"Masalah kuliah, Dee tenang saja, kamu masih dapat meneruskannya sampe lulus dan lanjutkan cita-cita. Kami juga buka orang yang berpikiran sempit." Jelas Rihlah kembali pada topik pembicaraan.

Rihlah menggenggam tangan Deena erat, seolah Ia berharap lebih dengan gadis dihadapannya.

Gadis itu susah payah meneguk ludahnya. Termakan jebakan sendiri.

Ia menatap mata Rihlah yang memancarkan binar penuh harap. Bergantian kearah Hanska seolah meminta pertolongan.

Sedangkan yang dimintai pertolongan hanya mengedikkan bahu acuh.

Rasain, kena kau bocil. Batin Hanska berseru.

Bodohnya Deena, Ingatkan Ia untuk tidak berbicara sembarangan lagi.

Hanska berdehem. "Ma.. sudahlah, hanya salah paham." Tutur Hanska akhirnya. Namun menutupi jika Deena hanya mengada-ada.

Sang mama menatap Deena. Sedangkan yang dilihat tersenyum manis. "Yah sayang banget, padahal mama pengen punya anak gadis." Ucap wanita itu dengan sedih yang di buat-buat.

"Semua anak mama cowok sih, pada sibuk, ga ada yang bisa di ajak shopping, bercerita, dan masak bareng."

"Anak gadis? gampang, tinggal kita buat saja lagi." Serobot Regan tidak peka, dengan makna tersirat yang di ucapkan istrinya.

Rihlah menyipitkan matanya menatap sang suami. mengisyaratkan kata. Diem sayang! Atau aku ngambek kamu ga boleh tidur di kamar.

Dan, Regantara yang melihat itu langsung kicep.

Deena menoleh senang, hal yang paling Ia idam-idamkan. Ternyata orang lain juga ada yang merasa sama.

"Hem.. Dee bakal sering main kerumah mama gimana? Lagian Dee masih terikat kontrak, magang dengan om.." Usul Deena menekankan kata terikat.

Rihlah mengganti raut mukanya seketika, tampak sekali binar bahagia dari mata coklat gelap miliknya.

Begini juga bagus, Ia akan menyusun rencana perjodohan mereka nanti. Begitulah batinnya.

"Hey bocil, bisa tidak panggilanmu itu yang benar." Protes Hanska tidak senang.

"Ah sudah sudah, kami tak mengganggu lagi, mama dengan papa pergi dulu sayang, bye." Lerai Rihlah, menepuk punggung Deena ambigu.

"Dee, inget loh besok main ke rumah, mama ngadain arisan." Deena melihat Hanska dengan tatapan meminta izin. Sang mama melotot kearahnya.

Sedangkan Hanska yang di pelototi, mengembuskan napasnya pasrah. "Iya iya, pergilah." Terlihat Deena tersenyum.

Setelah itu, Rihlah berjalan keluar ruangan terlihat sumringah, sambil menggandeng lengan suaminya.

Tinggalah mereka berdua dalam ruangan itu, seketika bulu kuduk Deena merinding.

Gadis itu menoleh, lalu menyengir. Tampak Hanska sedang menatapnya tajam. "Bagus, apa tadi katamu? aku memaksa menikahimu." Singgung Hanska dingin.

Deena meneguk ludahnya. "A..ampun om." Gagapnya.

Hanska melotot. "Heh, ampun? Apa tadi kau bilang? Om, dasar bocah tengil, sudah berapa kali ku katakan jangan panggil om." Decak pria itu.

"I..iya pak." Cicit Deena.

"Kau harus dihukum. Hukuman pertamamu, panggil aku kangmas dimanapun kapan pun." Putus Hanska mengerjai Deena. Inilah akibat bila Ia suka seenaknya. Batin Hanska.

Deena mengernyit, ada perasaan geli menghampiri hatinya. "Iya K.. ka.. ka..kang" Gagap, Deena tergagap, Ia yakin lidahnya akan keseleo bila memanggil pria itu dengan sebutan Kangmas.

Hanska menaikkan sebelah alisnya menunggu.

"Iya Kang.. mas." Ucap Deena akhirnya. Merasa ada yang mengganjal.

"Apa? Coba ulang lebih keras." Hanska mendekatkan telinganya, seolah Deena akan berbisik.

Terlihat manyun gadis itu. "Iyaa, Kangmas." Jawabnya lebih keras.

"Bagus." Hanska manggut-manggut.

"Hukuman kedua. Arga, bawa berkas perusahaan kedalam." Ucap Hanska, sambil menekan intercom yang terhubung langsung dengan sang tangan kanan.

Setelah mendapatkan izin, masuklah beberapa orang membawa tumpukan berkas-berkas, termasuk Arga.

"Taruh di situ." Ucap Hanska, sambil menunjuk meja sofa.

Tampak meja yang tadi nya hanya berisikan vas bungan indah, telah terpenuhi dengan banyaknya tumpukan map dan kertas.

"Tuan, ini semua berkas selama setahun.

"Sayang sekali ini masih terlalu sedikit." Jawab tuannya. Deena menelan ludah, entah apa selanjutnya. "Tapi boleh juga." Tambah pria itu.

Melihat tumpukan kertas memenuhi meja, dan masih ada lagi 5 box besar berisi file map di lantai. Deena cemberut.

"Ada lagi yang tuan butuhkan?" Tanya Arga.

"Tak ada, kembalilah." Jawab Hanska. Arga pamit keluar.

"Om ini.."

"Hemm!" Hanska mendelik, tanda ada yang salah dengan panggilan Deena padanya.

"Kangmas, buat apa ini?" Tanya Deena meralat.

Hanska bangkit dari duduknya, berjalan kearah sofa. "Inilah hukuman keduamu, urut kan berdasar tanggal dan bulan. Sedangkan yang di box itu, berdasar pendapatan terkecil." Jelas Hanska.

"Tak boleh pulang, jika belum selesai." Tambah pria itu kejam.

Deena manyun pura-pura sedih. "Ini ga kebanyakan Kangmas?" Negonya.

"Oh kurang, akan kupanggil kan Arga untuk menambah hukumanmu."

Deena segera menggeleng kuat. "Jangan kangmas! sudah cukup, akan Dee kerjakan." Serunya cepat, mengambil acak berkas dimeja.

Deena duduk lesehan di lantai, Ia menarik napas dalam. "Dasar om kejam." Gerutunya pelan.

"Aku masih mendengar, bocil." Geram pria itu, Ia berjalan kearah pintu berpahat burung phoenix.

Brakk.

Deena mengumpat pelan.

Ponselnya berdering. Tertera Ale😚 muncul di layar, Deena segera menggeser tombol hijau.

"Halo Dee! Halo." Teriak suara dari sebrang panggilan.

"Iye halo Al, ga usah teriak juga kale." Jawab Deena.

"Lo dimana sih Dee? Ini gue udah nungguin lo dari tadi buat makan siang, laper gue." Rengek Aleta, Deena terkekeh.

"Ya sorry Al, eh entar aku kabarin lagi, urgent." Jawab Deena memutuskan sambungan sepihak, saat mendengar pintu berpahat itu terbuka.

Muncul Hanska dengan set pakaian berbeda dari yang tadi dilihatnya. Saat ini pria itu memakai sepatu hitam, celana bahan hitam, kemeja hitam, kaca mata hitam dan jangan lupakan earphone di telinga kirinya.

Deena sempat terpana, namun tersadar saat pria itu mendekat kearahnya.

"Kangmas mau pergi? lama tidak?" Tanya Deena antusias.

"Apa urusannya dengamu bocil. Ingat, aku pergi kau harus selesaikan ini semua." Terlihat Deena mengangguk.

"Arga, siapkan mobil di basement, aku akan pergi." Ucap Hanska menekan intercom.

Deena menoleh. "Kangmas, boleh tidak, Dee pergi sebentar makan siang dengan teman." Izinnya dengan puppy eyes.

Hanska terlihat memicingkan mata sebentar. "Tak lebih dari sejam." Jawabnya sambil melihat jam. "Sekarang jam 12 kurang 5, jika jam 1 tepat kau belum sampai kantor. hukumanmu akan ditambah. Paham." Jelasnya tanpa mau di bantah.

Deena mengangguk. "Paham kangmas." Tampak Hanska berlalu kearah rak buku setinggi ruangan. Ia menggeser salah satu buku, yang tak sempat Deena lihat buku yang mana.

Terlihat rak dimana Hanska berdiri, berputar terbuka. Pria itu masuk kedalam, tak berapa lama rak kembali tertutup seperti semula.

Deena penasaran, namun Ia masih banyak waktu untuk mencari tahu ruangan apa itu. Sekarang fokusnya adalah makan siang dengan Aleta, dan membereskan berkas dari Hanska.

To Be Continue >>>

1
Ayoen Nian
nih cerita udh SE abad Thor ..knp kagak d terusin sii , padahal pengen banget baca ending ny author ku yg baik hati dan tidak sombong.../Grin/
Ayoen Nian
Luar biasa
Ayoen Nian
aduh Thor...kurang setia apa aku sampe ku baca lagi dari awal ceritanya
Ayoen Nian
untuk kesekian kalee ...kangen dehans ampe baca lagi ini cerita Thor
Ayoen Nian
kapan nih next lagi cerita ny ...pliisss Thor , udh berape purnama nih nungguin cerita deena sama hanska ny
Ayoen Nian
author ku sayang...lanjut lagi ya , jgn bosen
Tri Wati
kok gk up thour ....bagus ceritanya .semangat dong
Edo Kurnia
lanjut thor
Tri Wati
udah setahun deh gk up ya kayaknya thur . kenapa ..... aku pembaca baru suka banget ceritanya . sayang banget klw end nya gantung bikin greget. belo ketemu ortunya dee . trs keluarga bakara belom kena balesnya . bikin aku penasaran
Tri Wati
udah setahun deh gk up ya kayaknya thur . kenapa ..... aku pembaca baru suka banget ceritanya . sayang banget klw end nya gantung bikin greget. belo ketemu ortunya dee . trs keluarga bakara belom kena balesnya . bikin aku penasaran
Tri Wati
baca nya suka banget . maaf thuor klaw jarang komen . tapi terus aku tunggu up nya
Sulis Tyowati
bagus lanjut Thor👍👍
Anya Lya
masih lumayan oke belum tau ending ya memuaskan atw biasa aja
amanda
luar biasa
Gustie Cibby
bukanx Dee minum obat penunda hamil y sblom balas dendam trcapai bee belom mau punya debay
lanjut kak ceritanya
Triple baby belum lahir
epifania rendo
lanjut
epifania rendo
rasakan pelakor
epifania rendo
good dena hempaskan pelakkr
epifania rendo
dasar setan jahat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!